
"Sayang kamu ngapain?" tanya Fatan yang sedang menuju kamar mandi dan tak sengaja melihat Dara tengah berjongkok di lantai ruang laundry.
"Ini, Mas. Indi numpahin sabun." Dara memasukkan segenggam bubuk sabun terakhir dan mengibaskan tangannya.
"Ya ampun anak itu, selalu aja nggak pernah bener kalo ngerjain apa-apa," rutuk Fatan sambil menyodorkan sapu di dekatnya pada Dara.
Dara menerima sapu dan mulai membersihkan sisa bubuk sabun yang masih tercecer sedikit.
"Yah, namanya juga dari kecil dia selalu di manja sama ibu, Mas. Jadi ya wajar kalau sampe gede belum luwes ngerjain kerjaan rumah."
"Iya, tapi coba mulai sekarang kamu juga ajarin dia deh, Sayang. Biar agak ringan juga kerjaan kamu di rumah, kalo kayak gini tiap hari? Bisa tua mendadak kan kamunya?" kelakar Fatan.
Dara mendekat ke arah Fatan dan mencubit pelan perutnya. "Jadi aku tua ya, Mas?"
Fatan terjingkat. "Adududuh, sakit Sayang. Ya nggak gitu juga maksud Mas tuh."
"Terus?"
Dara melepas cubitannya dan melengos kesal.
"Duduh, cantiknya istriku ini kalau lagi marah." Fatan menoel dagu Dara genit.
Muka Dara yang semula kesal kini mulai memerah, dia paling tak tahan jika sudah mulai di goda suaminya.
"Apa sih ah?" elak Dara menyembunyikan wajahnya.
Fatan yang gemas segera membawa Dara dalam dekapannya.
"Uhhh gemesin banget sih istriku? Kangen banget deh rasanya berhari-hari loh kita nggak ketemu. Rasanya sekarang liat kamu di rumah tuh adem banget," puji Fatan bertubi-tubi.
Wajah Dara semakin memerah. "Lebay ah, Mas."
Fatan meraih wajah Dara dengan kedua tangannya, dan mengangkatnya sampai wajah mereka berhadapan.
"Mas serius, Sayang. Tadi malam kamu nolak apa bisa kita buktikan sekarang betapa Mas kangen sama kamu?"
Belum sempat Dara menjawab bibirnya sudah di bungkam oleh Fatan. Handuk yang sebelumnya tersampir di bahu Fatan kini melayang jatuh ke bawah kaki mereka.
****
Hari sudah beranjak siang, si kembar sedang di bawa oleh Elis untuk bermain di rumahnya.
Sedang Dara kini tengah duduk santai di teras rumahnya sembari membalas wa dari para karyawan kepercayaannya di butik miliknya.
"Hayo ngapain senyum-senyum?" ucap Indi mengagetkan Dara, sontak Dara memasukkan ponselnya ke sebelah pahanya agar chatnya dengan para karyawannya tidak terbaca oleh Indi.
"Iih chat sama siapa tuh segala pake di umpetin ...." Indi menuding Dara dengan tatapan jahil.
"Ih apa sih, Dek. Cuma temen, kirim chat lucu makanya Mbak senyum-senyum. Kamu kenapa nggak kuliah?" ucap Dara mengalihkan pembicaraan.
Indi memanyunkan bibirnya sambil bertopang dagu. " Huh, gimana mau kuliah dosennya aja sibuk ngurus urusannya yang lain."
"Oh ya? Siapa memangnya dosennya?" tanya Dara penasaran.
__ADS_1
"Mas Zaki." Indi makin memanyunkan bibirnya.
Dara membulatkan matanya kaget. "Apa, Dek? Mas? Sejak kapan kamu manggil Zaki pake Mas? Bukannya dulu manggilnya nama aja?"
Dara tergelak saking tak menyangka, adiknya yang biasa pemilih ini kini bisa di taklukkan oleh seorang Zaki.
"Ahhh, Mbak Dara kok gitu sih. Jangan ketawa dong, Mbak!" Indi menutup wajahnya karna malu.
"Eh, eh, kenapa kamu tersipu gitu sih? Ahahaha wah jangan-jangan?"
Indi membuka wajahnya dan menatap Dara kesal. "Jangan-jangan apa? Awas aja nebak macem-macem!"
Dara mengangkat bahunya. "Dih, apaan? Mbak aja nggak ngomong apa-apa kok."
Indi bangkit berdiri dengan wajah kesal-kesal manja.
"Aahh udah deh, Mbak Dara nggak asik."
Dara justru semakin tergelak melihat tingkah Indi.
"Ecie cieee Mas Zaki, Mamas Zaki, Kang Mas Zaki."
****
Sore harinya.
"Assalamu'alaikum," ucap Elis dan si kembar berbarengan.
Mereka memasuki rumah dengan semangat sambil membawa sekresek buah mangga dan jambu yang mereka ambil dari rumah Elis.
"Mama liat." Fatur dan Farah mengangkat kresek di tangannya masing-masing.
"Waah enak kayaknya itu di bikin rujak, ambil di mana?" tanya Dara mengambil alih mangga dan jambu air itu dari tangan anak-anaknya.
"Dari rumah Mbak Elis," sahut si kembar serentak.
"Dari rumah saya, Mbak. Kebetulan di halaman buahnya lagi lebat, jadi sama Mbak Laila di suruh bawa buat Mbak," timpal Elis sembari membantu Dara mengeluarkan buah-buah itu dan memindahkannya ke baskom kecil.
"Bilang sama Bu guru Laila terima kasih banyak ya, saya senang sekali di kasih buah ini. Kebetulan memang lagi pengen ngerujak," sahut Dara senang.
"Masih banyak, Ma. Di rumah Bu guru Laila," celetuk si kembar yang tengah mencuci tangan di wastafel.
Elis terkekeh mendengar jawaban si kembar. "Iya Mbak, masih banyak sekali di pohonnya. Kalau Mbak sama keluarga doyan nanti Elis bawain lagi, biar Pak Fatan sama Mbak Indi juga bisa cicipin."
Dara mengibaskan tangannya di depan muka. "Sudah itu urusan belakang saja, sekarang kita ngerujak dulu aja ya. Kalian mau kan?"
Elis dan si kembar kompak mengangguk dan membantu Dara menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk membuat rujak.
"Farah lutis aja, Ma," pinta Farah yang tidak begitu doyan pedas.
"Iya Sayang, Farah tolong ambilin gulanya ya kalo gitu. Ada di meja dapur, Farah tau kan yang mana?" tukas Dara yang tengah sibuk mengupas mangga yang masih belum terlalu matang.
Farah mengangguk dan berlalu untuk mengambil toples gula di dapur.
__ADS_1
Prakk, gubrakk..
Suara gaduh tiba-tiba terdengar, seperti bunyi benda-benda ringan berjatuhan.
"Farah?" seru Dara kaget karna mengira Farah mungkin menjatuhkan sesuatu sewaktu mengambil toples gula.
Elis buru-buru berdiri dan melihat ke ambang pintu dapur guna mengecek Farah.
"Ada apa, Ma?" tanya Farah yang berjalan santai sambil memeluk toples berisi gula.
Dara menatap Elis seakan bertanya. Tapi Elis menggeleng menandakan tidak ada apa-apa di dapur.
Bruk
Bruk
Bruk
Suara gaduh itu kembali terdengar, dan kali ini sekaligus dengan dalangnya.
"Aduuuh, susah banget sih?" gerutu Indi yang tampak kesusahan memasang sepatu kets di kakinya yang sebesar lobak.
"Ya ampun, Indi ... jadi yang dari tadi gedubrakan itu kamu?" celoteh Dara sambil geleng-geleng kepala dan kembali meneruskan kegiatan mengupas mangganya.
Indi menoleh sambil cengengesan. "Hehe, cuma jatuhin sapu sama kekuatan aja kok, Mbak."
Dara mengernyitkan keningnya heran. " Apa? Sapu sama ... keluarganya? Maksudnya?"
Indi berhasil memasang sepatunya da berjalan santai menuju ke tempat Dara dan si kembar.
"Iya, keluarganya sapu. Pel, pengki, kemoceng,"
Mata Dara membeliak mendengar pengakuan Indi.
"Terus udah kamu rapihin belum?" jiwa emak-emak Dara tiba-tiba meronta-ronta, sangat tidak suka saat rumahnya tidak rapi.
Berputar di pikirannya bagaimana lelahnya dia sejak subuh buta sampai siang harus membersihkan seluruh rumah yang bagai di tabrak meteor garden.
Indi cengengesan sambil menunjukkan gigi kelincinya dan garuk-garuk kepala.
"Heheh, belum Mbak."
"Ya ampun, Indi ...." Dara mulai berdiri sambil mengomel, hendak melihat kekacauan yang lagi dan lagi di buat adik semata wayangnya itu.
Tin
Tin
Suara klakson mobil terdengar nyaring dari depan rumah.
"Kamu mau pergi, Dek?" selidik Dara menghentikan langkahnya.
Indi kembali cengengesan. "I- iya, Mbak. Boleh kan? Mumpung libur."
__ADS_1
"Sama siapa?"
"Hmmmm sama ... sama...."