
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok!!!
Gubrak
Gubrak
Bruukk
Bruakkkhhhh!
"Astaghfirullah, gempa bumi, maling, begal, koruptor!" seru Halim terjingkat dari tempat tidurnya saat mendengar pintu rumahnya di gedor sedemikian rupa.
Halim mengucek mata, melirik jendela yang menampilkan suasana luar rumah yang masih gelap.
"Hah, jam tiga pagi? Siapa sih itu? Gedor pintu ga ada akhlak! Kalo maling masa iya segala gedor pintu sih? Apa jangan jangan babi ngeped kebelet berak ya?" gumam Halim menerka nerka.
Gubrak!
Gubrak!
Gedubrakkk!"
Gedoran itu bukannya mereda malah semakin kuat, dengan tergesa Halim turun dari ranjang dengan masih berbalut sarung dan bertelanjang dada.
"Hadoh, bisa habis perabotan ku kalo di sampe di smackdown itu babi ngepet!" serunya gelisah.
"HALIIIMMMMMMM!"
Halim berhenti di tempatnya, tubuhnya menegang dengan jantung berdegup cepat.
"Buset, ternyata yang datang lebih serem dari embahnya babi ngepet." Halim berpegangan pada dinding agar tubuhnya tak oleng.
"Siapa maksud kamu babi ngepet hah? Nggak di buka juga ini pintu jangan salahin ibu kalo rumahmu ibu telanjangi!" teriak Bu Hana yang entah apa maksudnya jam jam sahur malah bertamu ke rumah anaknya sendiri, walau sebenarnya Halim adalah anak orang.
Halim kembali terjingkat kaget.
"Eh buset! Gila itu orang tua bisa denger gila! Itu pintu kan katanya kedap suara," keluh Halim.
__ADS_1
"Ooh bandel ternyata, oke lihat saja jangan salahkan ibu kalau rumahmu ini nanti yang berdiri cuma tinggal pintu ini saja ya," ancam Bu Hana sungguh sungguh karna sudah tak tahan di gigit nyamuk dan agas sejak tadi.
Dasar anak durhaka, masa emak sendiri di biarin sendirian di luar subuh subuh begini.
Cepat cepat Halim menuju pintu dan memutar kuncinya, sebelum rumah yang di belinya dengan uang Pak Jatmika itu ludes rata dengan tanah karena kehebohan ibunya.
Ceklek
"Ampun, nyaii!" seru Halim sambil berlutut di hadapan sang ibu yang datang hanya memakai daster panjang dan pasmina yang di sampirkan begitu saja di kepalanya.
"Heh, Salim dulu kalau ketemu orang tua itu. Kebiasaan kamu ya!" Bu Hana mengulurkan tangannya dan dengan takzim Halim menciumnya seperti hal nya sungkem lebaran.
"Sudah awas kamu, ibu mau masuk. Di kira di luar nggak dingin apa?" omel Bu Hana lagi sambil mendorong Halim dengan kakinya dan melangkah masuk begitu saja.
Halim bangkit menutup pintu dan mengikuti langkah ibunya.
"Lagian ibu ngapain sih jam segini ke sini? Biasanya juga nggak pernah, katanya rumah Halim pasti kayak sarang anakonda." Halim menggaruk tengkuknya mengusir rasa kantuk yang masih menyerang.
Bu Hana berbalik, dan
Cterr
Sebuah raket nyamuk menabrak bibir Halim dengan sukses, hingga jangankan rasa kantuk rasa bersalah di hati tetangganya pun ikut lenyap saking terkejutnya.
"Astaghfirullah! Bu, ini mulut loh Bu. Main setrum aja!" protes Halim sambil memegangi bibirnya yang serasa Jontor.
"Ya ampun, kotor dari mananya sih, ibuku sayang?" Halim berlalu menuju kulkas dan mengambil sebuah batu es untuk meredakan nyeri di bibirnya yang di setrum Bu Hana tadi.
"Ya itu, segala bilang ibu ngatain rumah kami kayak sarang anakonda, kan ibu bilangnya rumah kamu itu kayak kubangan babi." Bu Hana mencoba membela diri namun malah semakin menjatuhkan mental Halim.
Halim cemberut dan memilih menjauh, meninggalkan ibunya menuju kembali ke kamar, percuma melawan sang ibu tak akan ad kata menang yang ada malah semakin kesana ke sini nanti bahasannya.
"Heh, mau kemana kamu?" sela Bu Hana sambil menatap Halim tajam.
Halim berbalik dengan ogah ogahan.
"Ke kamar, Bu. Halim masih ngantuk."
"Terus ibu tidur di mana?"
"Ya di kamar juga lah, Bu." Halim menggaruk kepalanya kesal.
"Kamar mana? Kamu pikir ibu ini cenayang bisa tahu seluk-beluk rumah kamu yang kayak kubangan naga ini?"
Nah kan, udah lain lagi bahasannya. Halim mendengus kesal dan mengambil tas milik ibunya kemudian membawanya ke sebuah kamar yang berada tepat di sebelah kamar yang dia tempati.
"Itu kamar buat ibu, udah ya Halim masuk dulu, Bu ngantuk." Halim berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintunya cepat tanpa mempedulikan ocehan ibunya yang sesekali masih terdengar.
__ADS_1
****
Pagi harinya.
"Halim anakonda!" seru Bu Hana sambil menggedor pintu kamar Halim yang hingga pukul 9 pagi belum juga terbuka, entah apa yang di lakukan penghuninya di dalam sana, semedi barang kali.
Setelah berteriak dan menggedor pintu hampir setengah abad lamanya barulah Halim membuka pintu dengan wajah masih serupa bantal.
"Apa, Bu?" desahnya sambil menguap lebar.
Bu Hana mengibaskan tangannya menghalau bau naga yang di hembuskan Halim. Lalu meremas bibir putranya itu.
"Nggak sopan! Nguap kok di depan orang tua, kamu tahu nggak kalo nafasmu itu bau comberan?" omel Bu Hana sambil mengusap usap tangannya yang bekas meremas bibir Halim tadi ke gorden yang ada di depan pintu kamar Halim.
Halim yang masih bersungut-sungut, sambil memegangi bibirnya yang kembali menjadi korban berlalu kembali masuk ke dalam kamar. Lalu keluar lagi sambil membawa handuk di tangannya dan berlalu begitu saja menuju ke belakang meninggalkan sang ibu yang masih diam terpaku karna tak di tanggapi.
Bu Hana masuk ke dapur, mencari bahan yang sekiranya bisa dia olah menjadi makanan. Namun di kulkas hanya ada beberapa butir telur, mie instan aneka rasa dan juga banyak sekali cola dan junk food.
"Astaga anak( Onda) ini." Bu Hana menepuk jidatnya berulang kali.
Namun tak urung di raihnya juga mie instan goreng dan dua butir telur, lumayanlah untuk mengganjal perutnya yang lapar sejak semalam. Untungnya juga rice cooker tampak menyala, artinya ada nasi di dalamnya.
"Ibu masak apa?" tanya Halim heran, pasalnya semalam setelah dia mencoba memasang gas kompornya malah tidak mau menyala, tapi saat ini tampak kompor itu berfungsi sebagai mana mestinya di tangan sang ibu.
"Masak mie goreng telor, ayo sarapan ada yang mau ibu bicarakan sama kamu." Bu Hana meletakkan dua piring berisi mie goreng di meja makan dan membuka penutup rice cooker.
"Tunggu, Bu jangan di bu ...."
"Astaghfirullah Halim!" seru Bu Hana ketika membuka rice cooker tapi bukan nasi yang di dapatinya, melainkan sebungkus nasi goreng yang entah sejak kapan berada di sana bahkan baunya saja sudah menyebar membuat Bu Hana mual.
Halim nyengir kuda kemudian menutup rice cooker itu cepat dan mencabut stop kontaknya.
"Udah, Bu jangan di bahas dulu ya. Katanya ibu mau bicara sesuatu sama Halim kita bahas itu aja ya, Bu. Ayo Bu," ajak Halim sambil membimbing Bu Hana menuju kembali ke meja makan dan mendudukkannya di kursi.
Bu Hana menurut saja tanpa banyak kata, sejujurnya dia masih syok mendapati semua kenyataan di rumah anaknya.
"Ibu mau bicara kan apa, Bu?" tanya Halim hati hati sambil menyuapkan sesendok mie ke mulutnya.
Bu Hana menghembuskan nafas kasar kuat kuat, demi menetralkan gemuruh aneh di dadanya entah karena kesal atau jengkel dengan tingkah Halim yang random sekali.
"Ibu mau bertemu dengan calon istrimu yang kamu bilang semalam, makanya ibu bela belain datang jam tiga pagi karna nggak sabar, sekarang tolong kamu ajak calon istri kamu ke rumah ini secepatnya," titah Bu Hana tegas.
Halim menelan suapan terakhir mie terenak yang pernah di masak di rumahnya itu, karna biasanya selalu aneh kalau dia masak sendiri.
"Kayaknya itu nggak perlu deh, Bu. Rumahnya aja di depan sana itu kok," sahut Halim polos.
Bu Hana tercengang, dan dengan langkah seribu langsung menuju ke rumah Laila yang ditunjukkan Halim padanya.
__ADS_1