
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Jatmika di depan pintu rumah Bu Hana, Halim dan Laila yang berdiri tak jauh dari sana pun bahkan sampai tak di hiraukannya.
Ceklek
Pintu rumah terbuka, Bu Hana keluar dengan setoples keripik di tangannya.
"Wa'alaikumsalam, mau apa lagi kamu ke sini?" dengusnya saat melihat yang datang adalah Pak Jatmika, entah apa yang sudah di lakukan sebelumnya pada Bu Hana sehingga Bu Hana tampak sangat kesal pada bos anaknya itu.
"Saya mau memberikan ini," gumam Pak Jatmika sambil mengangsurkan selembar kertas berbentuk persegi panjang ke hadapan Bu Hana.
Dengan dahi berkerut Bu Hana mengambilnya, lalu membacanya dengan seksama.
Halim dan Laila yang penasaran akut akhirnya memilih mendekat untuk mengetahui lebih detail apa yang sebenarnya terjadi di antara Pak Jatmika dan Bu Hana.
"Apa? Ini serius? Ini bener?" seru Bu Hana tampak sangat senang.
Bahkan bola matanya tampak membulat sempurna dengan binar bahagia yang tak di buat buat.
Pak Jatmika mengangguk sambil mengulas senyum tipis.
"Apa sih, Bu? Kok kelihatannya senang sekali?" tanya Halim yang ikutan kepo.
Bu Hana berpaling pada Halim dan menunjukkan kertas persegi panjang itu dengan raut wajah bahagia.
"Apa, Bu? Nggak kelihatan. Ibu lupa Halim minus?" desah Halim senewen karna matanya tak mampu menjangkau tulisan di depannya yang kecil kecil seperti semut merayap.
"Ini! Tiket ke Tiongkok!" seru Bu Hana menjelaskan.
"Apa? Ibu mau ke Tiongkok?" seru Halim tak percaya.
Laila bahkan sampai ternganga mendengarnya.
Bu Hana mengangguk cepat lalu kembali fokus pada Pak Jatmika.
"Ini tiketnya asli kan? Bukan rekayasa apalagi hasil fotokopian?" selidiknya sambil menelisik wajah Pak Jatmika yang sejak tadi tersenyum senyum saja.
"Wah, tentu saja asli. Itu saya dapatkan dari teman saya yang bekerja di penerbangan. Lumayan bisa dapat diskon walau nggk banyak," kekehnya.
"Terus ibu berangkatnya kapan?" sela Laila pula, karna dalam hatinya merasa tak rela di tinggal sang mertua terlalu lama. Karna tidak akan ada yang mengajaknya maraton drakor lagi.
Bu Hana mengangkat sebelah alisnya lalu memperhatikan kertas tiket yang ada di tangannya.
"Di sini terjadwal lusa sih, masih ada waktu untuk bersiap siap."
"Ibu pergi ... sendirian?" tanya Laila lagi.
Dahi Bu Hana kembali berkerut, namun sejurus kemudian matanya membulat sempurna saat mendapati Pak Jatmika memegang tiket yang sama.
" Tenang saja, mertuamu akan pergi sama saya."
"Apa?" seru Laila kaget.
__ADS_1
Demikian pula Halim yang tersurut mundur kala mendapati tatapan tak biasa dari Pak Jatmika untuk ibunya.
"Dek, ayo kita pergi. Bukan ranah kita ada di sini." Halim berjalan mundur sambil memegangi tangan istrinya dan menariknya menuju mobil yang sejak tadi mesinnya sudah menyala karna tengah di panaskan itu.
Blam
Blam
Halim menutup pintu mobil setelah dia sendiri masuk ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menjauhi pelataran rumah ibunya.
"Mas kok pergi sih? Lagi seru tahu, Mas." Laila malah melayangkan protes.
Halim mendesah dan mulai memelankan laju mobilnya yang sudah mulai memasuki jalan raya itu.
"Mas belum siap dengan kenyataan ini, dek." Halim menjawab sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kenyataan apa, Mas? Kok Laila nggak tahu?" tanya Laila dengan tampang polosnya yang imut.
Halim menatap sang istri dalam, lalu mengelus kepalanya dari bagian luar Khimar yang dia kenakan.
"Tunggu saja, nanti kamu juga tahu."
"Huh, ya sudah deh."
*
Sementara itu.
"Heh, ini kenapa malah kamu yang mau pergi sama saya? Bikin salah paham anak anak aja tahu nggak," omelnya sambil menuding wajah Pak Jatmika yang tampak tak merasa bersalah sama sekali.
"Ya, tadinya saya pikir hanya mau beli sati tiket. Tapi saya ingat kamu kan perempuan masa pergi sendirian? Makanya saya inisiatif beli satu lagi supaya saya bisa nemenin kamu beli pot keramiknya, kebetulan saya juga mau buat di rumah," cetus Pak Jatmika beralasan.
Bu Hana mendengus kesal, namun tak urung di kantonginya juga tiket itu. Kan sayang kalau di kembalikan, jarang jarang ada yang mau ngasih tiket keluar negri gratisan.
"Tapi kan ya nggak sama kamu juga lah, kita ini bukan muhrim. Kalo mau saya ada temennya siniin tiket kamu, kasih ke menantu saya aja biar dia yang nemenin saya!"
Tapi Pak Jatmika malah menyembunyikan tiket miliknya ke balik tubuhnya dan menggeleng cepat.
"No! Ini belinya pakai uang saya, jadi milik saya. Kenapa saya harus memberikannya pada orang lain sedangkan saya sendiri yang beli?"
Bu Hana tampak mendengus kesal.
"Baik, kalau begitu kita pergi sendiri sendiri saja. Saya nggak sudi jalan sama kamu, jangankan ke luar negeri, ke depan jalan situ saja saya ogah!" omel Bu Hana sambil berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya lalu menutup pintunya kasar.
Brakkk
Pak Jatmika bahkan sampai terkejut karna terkena hempasan angin dari pintu tersebut.
"Huh, untung jantungku nggak pindah tempat," gumamnya sambil mengelus elus dadanya yang berdebar tak karuan.
"Udah sana pergi! Ngapain masih berdiri di sana?. Mana senyum senyum sendiri lagi, udah gila ya kamu?" teriak Bu Hana dari dalam rumahnya, rupanya dia masih mengintip apa yang di lakukan Pak Jatmika lewat jendela DJ samping pintu.
__ADS_1
Pak Jatmika tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangannya.
"Terima kasih ya."
Bu Hana yang paham maksud perkataan Pak Jatmika langsung menyahut.
"Terima kasih!" jeritnya terdengar ketus namun setelahnya selarik senyuman tertarik di kedua sudut pipi Bu Hana.
Pak Jatmika berbalik dan melangkah meninggalkan rumah itu dengan senyum penuh arti.
"Hah, marah saja cantik. Gimana kalau lemah lembut ya?" gumam Pak Jatmika sambil melambaikan tangannya sekali lagi saat menyadari rupanya Bu Hana masih melihatnya dari jendela.
Sontak Bu Hana menutup tirai dan bersembunyi di baliknya.
"Dasar tua Bangka," gumamnya.
Lalu Bu Hana mengambil kertas tiket tadi dari saku bajunya dan menatapnya dengan mata berbinar.
"Tapi ini romantis sih," kekehnya sambil menempelkan tiket itu ke bibirnya dan berjingkrak riang masuk ke dalam kamarnya. Seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta.
****
Kembali lagi ke keluarga Dara dulu.
"Mama, Farah mau pake kayak Mbak Elis juga dong, Ma," rengek Farah pagi itu, sambil menarik narik baju Dara yang tengah mengaduk teh di meja makan.
Dara tampak berpikir sejenak.
"Apa, sayang? Kayak Mbak Elis apa?" tanyanya bingung.
"Itu yang di pake di giginya Mbak Elis, cantik loh, Ma. Boleh ya, Farah pake kaya begitu," rayu Farah lagi.
Mengerti akan maksud putrinya, Dara langsung mensejajarkan tingginya dan tubuh sang putri yang berdirinya harus di bantu penyangga itu.
"Behel gigi maksudnya?"
.
Farah mengangguk cepat, dengan mata membentuk tatapan puppy eyes.
"Memangnya gigi Farah sakit?" tanya Dara lagi, tersenyum manis sekali.
Farah menggeleng kali ini.
"Memangnya kalau mau pake itu giginya harus sakit dulu ya, Mama?"
"Nggak harus sakit, tapi Mbak Elis pakai itu karna mau buat giginya jadi lebih rapi. Kan gigi Farah udah rapi, ngapain lagi di pakaikan kaya begitu?"
Farah tampak mengetuk ngetuk dagunya, yang menjadi kebiasaannya ketika berpikir. Sama persis seperti kebiasaan Fatan dulu.
Saat tengah menunggu jawaban dari Farah, Zaki datang dari ruang tengah sambil membawa ponselnya di tangan.
__ADS_1
"Sayang, katanya Indi mau bawa anaknya ke sini."