TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 225. MASIH SAJA JULID.


__ADS_3

"Bayinya yang itu?" tunjuk Zaki pada seorang bayi yang memakai bedong berwarna biru.


Lelaki itu mengangguk dengan sorot mata menatap nanar si bayi yang tampak menggeliat dalam tidurnya.


Zaki tercenung, jika dia tak salah ingat bayi itu adalah bayi yang tadi di amankan petugas rumah sakit setelah katanya hendak di culik oleh bu Zaenab. Kalau benar itu bayinya, itu artinya.


"Apa masnya ini anaknya Bu Zaenab?" tanya Zaki hati hati.


Lelaki itu menoleh, dan sejurus kemudian mengangguk pelan.


"Darimana Mas tahu?"


"Apa masnya juga tahu kalau Bu Zaenab di bawa ke kantor polisi karna tadi membawa lari bayi itu?" tanya Zaki lagi tanpa menjawab pertanyaan lelaki di depannya itu lebih dulu.


Tampak lelaki itu menunduk dan mengangguk pelan, deru nafasnya tersengal seperti menahan sesak di dalam dadanya.


"Iya saya tahu, Mas. Dan semua itu ... juga kami lakukan atas dasar kesepakatan bersama. Ibu sangat ingin segera membawa bayi kami pulang karena istri saya, anaknya terus terusan menangis histeris di rumah. Tapi saya belum punya uang untuk menebus biaya rumah sakit ini, saya .... baru saja di PHK Mas."


Zaki merasa terenyuh, di sentuhnya punggung lelaki itu dan mengusapnya perlahan. Tak ada yang terlontar dari mulutnya, hanya perlakuannya saja yang menunjukkan kalau dia peduli.


"Permisi," ucap seorang petugas ruangan bayi di rumah sakit itu pada mereka.


Sontak lelaki itu dan Zaki mengangkat wajahnya dan menoleh.


"Ya, Mas? Apa asi untuk bayi saya habis lagi? Kalau begitu saya pulang dulu buat ambil," tukas lelaki itu dengan raut panik.


Tapi petugas rumah sakit itu justru tersenyum simpul.


"Ah bukan, bukan begitu, Bapak. Jadi ... mulai saat ini bayi bapak sudah boleh di bawa pulang," ucapnya sumringah.


Zaki dan lelaki itu sejenak terperangah.


"A- apa? Mas nggak salah bicara kan?"


"Ah, tidak Pak. Saya serius, anak bapak sudah boleh di bawa pulang."


Lelaki itu menatap Zaki sekilas, namun Zaki langsung menggeleng karna merasa memang tidak melakukan apapun.


"Ta- tapi saya kan belum membayar ...."


"Oh ya, untuk biaya rumah sakitnya sudah di bayar lunas Pak. Maka anak bapak sudah bisa di bawa pulang. Silahkan kalau mau ambil dedek bayinya sekarang," tandas petugas rumah sakit itu lagi.


Lelaki itu masih tampak belum percaya sepenuhnya.


"Kalau saya boleh tahu siapa yang sudah melunasinya, Mas? Saya ... saya ingin berterima kasih pada orang baik itu."


"Oh, itu. Silahkan kalau bapak mau bertemu, kebetulan orangnya belum pergi."  Petugas rumah sakit itu berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan bayi.


Lelaki itu dan Zaki turut di belakangnya.


"Permisi Tuan, Nyonya. Ada yang mau bertemu," ujar petugas itu ramah.

__ADS_1


Zaki masuk setelah lelaki tadi, dan dia langsung tercengang begitu saja menatap siapa yang dia dapati di ruangan itu.


"Loh? Bapak? Bu Hana? Kalian ..."


Pak Jatmika dan Bu Hana terkekeh kecil dan mengangguk pada Zaki.


"Iya, ini kami. Kenapa kamu ngelihatnya a begitu? Kami kan bukan hantu," kekeh Bu Hana.


Sedang lelaki yang berjalan bersama Zaki tadi , yang ternyata adalah menantu dari Bu Zaenab suami dari anaknya yang tinggal di kecamatan sebelah kini menjatuhkan diri di hadapan Pak Jatmika dan Bu Hana dengan kepala tertunduk.


"Terima kasih, terima kasih Tuan. Terima kasih, Nyonya. saya tidak tahu lagi bagaimana caranya saya berterima kasih, semoga Gusti Allah SWT yang akan membalas semua kebaikan Tuan dan Nyonya. Saya sangat bersyukur sekali akhirnya bisa membawa pulang bayi kami."  Lelaki itu bergumam lirih karna terhalang oleh tangis harunya, sebab pada akhirnya ada juga orang baik yang berkenan membantunya.


Pak Jatmika menepuk pundak lelaki itu, di bantunya lelaki itu duduk di sisinya di sebelah kanan sedang di sebelah kiri ada Bu Hana dalam jarak satu meter.


"Bangunlah, Nak. Sudah tidak usah menangis dan berterima kasih, anggap saja semua ini bantuan dari Yang Maha Kuasa. Berterima kasih lah ke pada- Nya. Kami hanya sebagai perantara saja," ujar Pak Jatmika bijak.


Lelaki itu mengangguk mantap, lalu meraih tangan Pak Jatmika dan menciuminya bertubi tubi sembari mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.


"Katakan, Tuan apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Tuan ini?" ucap lelaki itu memberanikan diri menatap Pak Jatmika.


Namun Pak Jatmika malah menggelengkan kepalanya, dengan senyum di bibirnya dia berkata. "sudah tidak usah di pikirkan, sekarang pulanglah bawa bayimu. Dia pasti sudah rindu berada di rumah, di tengah tengah keluarga yang menyayanginya."


Lelaki itu mengangguk dengan penuh semangat, sekali lagi dia mencium tangan Pak Jatmika dan berterima kasih . Sedang pada Bu hana dia hanya mengangguk sopan dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, yang di tanggapi Bu Hana dengan anggukan dan sebuah senyum simpul.


Selanjutnya lelaki itu di bimbing oleh petugas rumah sakit untuk mengambil bayinya, juga beberapa perlengkapan si bayi yang masih ada di rumah sakit itu turut di bereskan dan di bawa pulang.


"Saya pamit pulang dulu, Tuan Nyonya. Saya yakin istri saya pasti akan bahagia sekali melihat bayi kami akhirnya bisa pulang. Sekali lagi saya haturkan banyak terima kasih, Tuan, Nyonya." Lelaki itu masih berhenti di ambang pintu ruangan dengan bayinya di dalam gendongan kain.


"Baik, pulanglah dan temui istrimu. Sehat sehat dan jaga bayi kalian baik' baik ya,"  tutur Pak Jatmika.


Lelaki itu mengangguk dan berlalu dengan langkah ringan. Setelah itu giliran Zaki yang masuk dan mendekat ke arah bapak mertuanya dan calon ibu mertua tirinya itu.


"Jadi .. .tujuan bapak ke sini itu ...."


Zaki menunjuk ke arah lelaki yang punggungnya masih tampak di sela jendela ruangan itu.


Pak Jatmika terkekeh kecil dan mengangguk. "Iya, mendengar ceritamu tadi bapak jadi kepikiran juga. Makanya bapak langsung memutuskan untuk membantunya, lagipula apa salahnya berbagi kan? Perbuatan baik akan membawa hasil yang baik pula nantinya bukan?"


Bu Hana langsung mengangguk menyetujui ucapan Pak Jatmika, sedang Zaki kini bisa bernafas lega dan ikut tersenyum karena satu masalah sudah teratasi walau pun itu bukanlah masalahnya sendiri. Namun, membantu orang lain yang tengah kesusahan selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi jiwa yang tenang bukan?.


****


Sementara itu .


Bu Zaenab berjalan dengan langkah gontai menuju ke rumah kontrakan anaknya, untungnya perjalanan dari kantor polisi menuju rumah itu tidak lah terlalu jauh.


Setelah di interogasi ini dan itu pada akhirnya Bu Zaenab di bebaskan, terlebih karna banyak orang orang yang mengatakan kalau apa yang di lakukan Bu Zaenab itu wajar karena sudah kehabisan cara untuk bisa menebus biaya rumah sakitnya. Dan untungnya juga tadi ada seseorang baik yang bersedia menjadi penjamin Bu Zaenab sehingga dia bisa bebas.


Bu Zaenab mengusap peluh yang membanjir di pelipisnya, kerudung yang dia kenakan pun sudah basah sebagian hingga membuat tak nyaman. Namun untungnya rumah bercat kuning pudar itu kini sudah tampak di depan mata. Dengan bersemangat Bu Zaenab melangkahkan kaki ke sana, namun langkahnya sejenak berhenti ketika tanpa sengaja telinganya menangkap suara seorang bayi yang sedang menangis.


"Ah, masa sih? Apa perasan ku saja ya? Tapi suaranya nyata sekali loh, apa jangan jangan ....."

__ADS_1


Bu Zaenab bermonolog sendiri sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah kontrakan anaknya yang pertama itu, anaknya yang dulu dengan teganya dia usir dari rumah karna lebih memilih menikah dengan lelaki pilihannya yang kini menjadi suaminya itu. Lelaki yang menurut Bu Zaenab tak sebanding dengan keluarga mereka hanya seorang pekerja serabutan.


Tapi kini terbukti kalau Bu Zaenab hanya bisa pulang ke rumah mereka m, ketimbang ke rumah adik dari sang anak yang saat ini sudah menikah dengan seorang pengusaha mebel yang lumayan sukses. Bu Zaenab yang dulu membanggakan sang adik, kini harus menelan pil pahit karena kenyataannya anak nya yang di banggakannya itu malah tak mau membantunya a di kala dia sedang susah.


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Zaenab di ambang pintu m,  di bukanya pintu yang tak terkunci itu lalu melangkah masuk.


Lagi, suara bayi yang tengah merengek menyapa gendang telinganya. Karna tak ada yang menyahuti salamnya Bu Zaenab pun langsung bergegas melangkah masuk, dan melongok ke kamar putri sulungnya yang memang tak pernah di tutup itu .


"Ya Allah. ..."


Mata Bu Zaenab seketika basah, melihat cucunya yang begitu dia rindukan dan dia perjuangkan kini sudah berada di rumah, dan tengah menyusu dengan lahapnya pada sang anak.


"Eh, ibu sudah pulang? Maaf kami nggak dengar suara ibu, habisnya masih setengah nggak percaya sekarang bayi kami sudah pulang ke rumah," ujar Ziva, putri sulung Bu Zaenab.


Bu Zaenab menggangguk saja ,perlahan kakinya di langkahkannya masuk ke dalam kamar sempit itu.  Kamar yang hanya bisa memuat satu buah kasur nomor satu dan sebuah lemari plastik yang di letakkan di sudut ruangan sebagai tempat penyimpanan pakaian dan barang berharga milik pasangan suami istri itu.


"Bu, Mas Amar sudah berhasil bawa bayi kami pulang. Alhamdulillah sekali, Bu akhirnya kita bisa berkumpul lagi." Ziva menangis haru, di kecupnya kening si bayi yang masih berwarna kemerahan itu dengan penuh kasih sayang.


Sedangkan suaminya yang ternyata bernama Amar hanya mengulas senyum sambil sesekali menyeka air mata yang tak sengaja mengambang di pelupuk matanya.


"Bukan Mas yang bawa bayi kita pulang, dek. Mas hanya melanjutkan , sebenarnya ada orang baik yang sudah bersedia menalangi biaya rumah sakit kita hingga akhirnya bayi kita bisa di bawa pulang." Amar menimpali agar tak terjadi salah paham, sebab sejak tadi dia belum sempat mengatakan hal itu pada Ziva, sebab Ziva yang terlalu senang setelah sang bayi berada di pelukannya.


"Oh ya? Jadi ada orang baik yang sudah menolong kita begitu, Mas? Syukurlah, siapapun orang itu semoga Gusti Allah SWT membalas kebaikannya berlipat ganda," ucap Ziva tulus, yang langsung di Amini oleh Amar.


Bu Zaenab menatap anak dan menantunya itu bergantian, sebenarnya hatinya pun senang cucunya sudah bisa di bawa pulang ke rumah. Namun dia masih penasaran dengan siapa orang yang begitu baik mau menalangi biaya rumah sakit mereka.


"Memangnya siapa orang yang kamu maksud itu, Mar? Kamu kenal orangnya? Tapi kalau kenalan atau teman kamu kayaknya nggak mungkin deh, kan pergaulan kamu cuma seputar tukang ojek sama tukang tambal ban dan penjual sayur di pasar sana. Mana mungkin mereka punya uang banyak untuk mau membantu pria miskin kayak kamu, yang ada mereka takut nanti kamu nggak bisa ganti uang mereka lagi, " ucap Bu zaenab nyinyir.


Sejak dulu Bu Zaenab memang sangat tidak suka dengan Amar, bahkan walau dengan baik hatinya amar mengizinkan Bu Zaenab ikut tinggal bersama mereka, Bu zaenab sama sekali tak bisa berhenti nyinyir pada anak menantunya itu. Kebaikannya semua seolah lenyap hanya karna kenyataan kalau dia orang miskin.


"Ibu ngomong apa sih?" tegur Ziva tak suka,  setiap kali Bu Zaenab mulai berkata julid pada suaminya memang Ziva akan selalu membelanya. Sebab dia merasa dia yang lebih tau akan sifat sang suami ketimbang ibu kandungnya sendiri. Bu zaenab hanya tahu menilai apa yang tampak di luar tapi tak pandai menilai yang ada di dalam. Padahal Amar selalu berusaha baik dan santun padanya, tapi tetap saja di balas tidak menyenangkan.


Bu Zaenab hanya melengos saja, sedangkan Amar lagi lagi mengalah dan tetap mengulas senyum meski tak di pungkiri nya kadang hatinya juga berdenyut sakit mendengar cemoohan Bu Zaenab padanya.


"Coba sini cucu ibu, ibu mau lihat. Semoga saja nanti besarnya dia mirip kamu, nggak mirip lelaki miskin ini. Soalnya takut ketularan miskin nanti," ucap Bu Zaenab masih saja nyinyir.


Ziva hendak membalas ucapan ibunya, namun cepat di tahan oleh Amar. Amar memegang tangannya dan menggeleng, melarang Ziva melawan orang tuanya.


Akhirnya dengan menahan perasaan kesal Ziva menyerahkan bayinya ke tangan bu Zaenab. Tampak Bu Zaenab memindai wajah bayi itu seperti sedang melakukan sidak akan seorang pelaku kejahatan saja.


"Ibu apaan sih ngelihatnya begitu sekali?" tegur Ziva tak suka.


Bu Zaenab mengangkat wajahnya lalu menyunggingkan senyum puas. "Syukurlah wajahnya mirip sekali sama kamu, cantik dan putih. Semoga saja nanti nasibnya nggak semiris kamu, menikah sama laki laki miskin."


"Ibu bicara apa sih? Ini semua nggak ada hubungannya sama mas Amar! Mas Amar itu baik, Bu kenapa itu malah terus terusan judes padanya?" sela Ziva tak dapat lagi menahan kesalnya, Amar dengan cepat menahan Ziva tapi Ziva tak peduli sudah terlalu banyak dia sabar dan bukan perlakuan baik yang dia dapati dari ibunya malah yang ada semakin menjadi jadi saja.


Bu zaenab bukannya mendengarkan, tapi dengan santainya dia malah membuang muka seolah ucapan Ziva tak ada apa apanya baginya. Hanya sebatas angin lalu yang akan hilang seiring waktu.


"Sudah tidak usah protes, sekarang lebih baik kamu telpon adikmu. Bilang kalau keponakannya sudah pulang, minta dia kesini dan bawakan kado untuk keponakannya. Toh dia juga sudah kaya karna suaminya anak orang kaya, pastinya dia akan bawakan kado yang mahal dan berkelas. Sayang saja kemarin dia sedang di luar negri makanya tidak bisa membantu biaya rumah sakit kamu coba saja ada dia pasti kita tidak akan kesulitan sewaktu akan membawa bayimu pulang. Harusnya kamu itu contoh adikmu, cari suami yang kaya dan banyak duitnya ," cerocos Bu Zaenab tanpa henti, dan tanpa memikirkan perasaan menantunya yang saat itu juga turut mendengarkan ucapannya yang tajam.


"Astaghfirullah ibu! Jadi ibu masih saja berpikir begitu? Ibu apa tidak tahu kalau sebenarnya suami Zulfa itu ...."

__ADS_1


*Nah Lo ada apa ya? Kita bikin gimana nih cerita bagusnya biar makin greget? Sarannya dung pemirsa:^


__ADS_2