TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 159. KEJUTAN.


__ADS_3

Laila memeriksa ruangan demi ruangan hingga akhirnya berhenti di depan kamar Bu Hana, yang pintunya terbuka sedikit itu.


"Bu?" panggil Laila pelan sambil mendorong pintu hingga terbuka.


"Ya Allah, ibu!" seru Laila dengan air mata membanjiri wajah pucatnya.


 Laila mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar dan melangkah masuk, namun karna terlalu gemetar kakinya berhenti melangkah saat baru saja menapaki lantai kamar Bu Hana tersenyum.


 Dung


 Kaki Laila tak sengaja menendang sebuah balon berwarna pink, balon itu terhempas dan melayang hingga ke bawah kaki Bu Hana yang kini tampak tersenyum manis di tengah ruangan.


"Selamat ulang tahun, menantuku."


 Laila menutup mulutnya dengan tangan, mata yang berkaca-kaca akhirnya rembes juga setelah mati matian berusaua dia tahan jatuhnya.


"Ya Allah, ya Allah ... ibu ... ini, ini."


 Laila tak mampu lagi melanjutkan kata katanya, kejutan yang bahkan seumur hidupnya tak pernah dia rasakan kini ada di depan matanya.


"Sekarang, kita tiup lilinnya ya."


 Bu Hana mendekat sambil membawa sebuah kue tart ulang tahun yang sangat indah bentuknya, dengan dekorasi serba coklat yang merupakan kesukaan Laila di tambah lilin dengan angka 25 di atasnya. Manis sekali.


 Bu Hana mendekatkan kue itu ke hadapan Laila, Laila memejamkan mata sejenak setelah berdoa dan membayangkan doanya dia meniup lilin itu dengan semangat.


"Ffuuhhhh!"


Lilin padam, dengan air mata masih berlinang Laila mengambil kue itu dan meletakkannya di atas nakas.


"Terima kasih, Bu."


 Laila menubruk tubuh sintal Bu Hana dan menangis di pelukannya, sedangkan Bu Hana yang terpana hanya bisa membalas pelukannya dan mengusap sudut mata yang ikut berair.


"Terima kasih atas semuanya, Bu. Terima kasih karna sudah menjadi pengganti orang tua yang terbaik untuk Laila, Laila sayang sekali sama ibu."


"Iya, kamu sudah ibu anggap anak ibu sendiri. Sekarang cobalah untuk lebih menyayangi diri kamu sendiri, suami kamu itu punya lebih dari cukup jika hanya untuk membiayai kamu menjadi cantik dan lebih dari ini, kamu harus ssayangi diri kamu sendiri juga, sayang," gumam Bu Hana pelan namun tepat menusuk ke hati Laila.


 Sontak Laila melerai pelukannya, menatap lekat ke arah Bu Hana dengan tatapan penuh tanya.


"Maksud ibu?" lirihnya tak mengerti.

__ADS_1


 Bu Hana hanya mendesah pelan, lalu kembali mengambil kue yang tampak sangat menggiurkan itu dan mengajak Laila duduk di ruang keluarga.


"Kita makan kuenya dulu ya," ucapnya sambil memotong sebagian kecil kue itu dan memberikannya pada Laila.


 Manis, rasa yang sudah lama sekali tak di rasakan Laila semenjak ke dua orang tuanya wafat bersamaan dulu. Sakit yang dia rasakan sangat dalam hingga hanya untuk memakan makanan berbahan dasar coklat saja dia tak mampu, karna pasti akan terkenang ke dua orang tuanya yang selalu memberinya hadiah coklat jika dia berhasil mencapai suatu prestasi.


 Kali ini Laila menepis semua rasa sedihnya, dia memakan kue itu selain untuk menghormati ibu mertuanya yang sudah sangat baik padanya juga karna dia merasa sudah saatnya bangkit dan melupakan semua dukanya, karna kini ada orang orang yang kembali membutuhkan dan menyayanginya sepenuh hati.


"Kuenya enak kan?" celetuk Bu Hana sambil memotong kue lagi dan memasukkannya ke dalam piring miliknya sendiri yang sudah kosong.


"Iya, Bu. Ini enak sekali," sahut Laila sambil kembali memasukkan sesendok kue ke mulutnya.


"Bukankah kue ini mengingatkan kamu pada seseorang, nak?" tanya Bu Hana seolah mengetahui apa yang sejak tadi di pikirkan Laila.


"Uhuk, uhuk."


 Laila terbatuk karna terkejut dengan pertanyaan Bu Hana, matanya memerah walau makanan yang di makannya tidaklah pedas.


"Ini, ini minumlah dulu. Maaf membuatmu kaget," ucap Bu Hana sembari menyodorkan segelas air putih ke hadapan Laila.


"Tidak apa apa, Bu Laila yang minta maaf," gumam Laila setelah menghabiskan setengah gelas air dan merasakan tenggorokannya lumayan lega.


"Kalau begitu ... apa kamu keberatan menjawab pertanyaan ibu tadi?" tanya Bu Hana lagi.


"Apa ibu tahu sesuatu tentang almarhum orang tua saya?" tanya Laila pula.


 Kali ini gantian Bu Hana yang tersentak, namun hebatnya tidak sampai tersedak, karna sedang tidak mengunyah, hehe.


"Ah, ti- tidak. Kenapa kamu berpikir begitu?" jawabnya gugup.


 Laila menangkap raut ke bimbangan di wajah Bu Hana, namun dia tak mempunyai hak untuk memaksakan ibu mertuanya itu jujur akan apa yang di ketahuinya, walau sebenarnya sejak pernikahannya dengan Halim Bu Hana terlihat selalu memasang wajah sedih setiap kali Laila membahas tentang ke dua orang tuanya yang telah tiada.


 Akhirnya Laila memilih menggeleng dan tersenyum simpul.


"Almarhum ke dua orang tua saya, sering memberi saya coklat jika saya jadi juara kelas dulu. Dulu sekali, bahkan saya sudah lupa di momen apa saja itu terjadi," gumam Laila mulai menjawab pertanyaan Bu Hana dengan suara lirih serupa bisikan.


 Namun karna mereka hanya berdua di tempat itu menjadikan suara Laila masih cukup terdengar.


"Apa kamu ... merindukan mereka?" tanya Bu Hana yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban yang gamblang, semua juga akan menjawab dengan jawaban yang sama.


 Laila mengangkat wajahnya dan menghapus sudut mata yang basah, lalu kembali tersenyum simpul.

__ADS_1


" Jika di tanya begitu, pasti jawaban saya hanya satu kan, Bu? Rindu sekali, jika bisa sedetik saja bertemu mereka kembali di dunia ini saya pasti akan senang sekali," sahut Laila lagi.


 Bu Hana merangkul pundak Laila dan menepuknya lembut.


"Lalu ... kalau boleh ibu tahu, apa yang membuat kamu akhirnya menerima Halim sebagai suami kamu padahal kamu sudah sering kesal karna tingkahnya," kekeh Bu Hana mencoba mengalihkan ingatan Laila pada anaknya yang masih saja random walau sudah menikah itu.


 Sebelum menjawab pertanyaan Bu Hana, Laila tersenyum kecil dengan wajah memerah.


"Karna, Laila nyaman bersama Mas Halim. Dan karena ibu juga tentunya,". jawabnya apa adanya.


"Karena ibu?" Bu Hana menatap Laila penuh tanya.


 Laila mengangguk mantab. "Iya, dimana lagi bisa kita temukan ibu mertua yang satu server?"


 Bu Hana sontak tertawa lepas mendengar jawaban polos Laila, memang benar dia sejak awal sudah merasa cocok dengan Laila ketimbang banyak wanita yang pernah di kenalkan Halim padanya yang rata rata sok kemayu dan dandananya seperti memakai topeng. Sangat bertolak belakang dengan Bu Hana yang natural dan tidak neko-neko, jadi dia juga berharap punya menantu yang sama dengannya, yang ke semuanya dia dapatkan dalam diri Laila.


"Bagaimana kalau kamu menginap di sini? Kita rayakan ulang tahun kamu ini dengan marathon drakor baru yang baru rilis itu? Sambil makan kue dan minum soda?" tawar Bu Hana dengan wajah berbinar.


 Laila menghapus jejak air mata di pipinya dengan cepat dan penuh semangat, lalu mengangguk berulang kali dengan binar mata yang sama dengan Bu Hana.


"Kebetulan ibu baru isi kuota Wi-Fi, di jamin seru ini." Bu Hana bangkit untuk mulai mempersiapkan apa apa saja yang di perlukan untuk marathon drakor.


 Mulai dari makanan, tempat yang nyaman, minuman soda dan air putih yang banyak, masker wajah, selimut, dan masih banyak lagi, dan jangan lupakan laptop dan juga stop kontaknya --supaya nggak mati di tengah tengah menonton --.


"Okey, siap!" seru Bu Hana dan Laila yang sudah siap sedia di dalam kamar Bu Hana yang sudah di sulap seperti bioskop.


 Gegas Bu Hana dan Laila masuk ke dalam selimut dan memulai marathon mereka dalam damai.


Sementara itu di tempat lain.


"Hiks ... hiks ... pasti kita di lupain lagi ini, Lis. Kebiasaan Mbak mu itu, kalo udah join sama mertuanya pasti lupa segalanya," gerutu Halim yang terduduk di pojok ruang tamu sambil menutup wajahnya yang basah oleh air mata dengan telapak tangan.


 Di hadapannya tampak Elis yang mati matian menahan tawa melihat Kakak iparnya yang macho itu menangis Karan istrinya tak kunjung pulang.


 Padahal di depan mereka kini sudah tersedia sebuah kue ulang tahun yang bentuknya acak Adul karna Halim memaksa membuatnya sendiri, padahal masak air saja masih gosong segala sok Sokan mau bikin kue, mana resepnya nyontek di yutub dan sukses bikin dapur orang jadi seperti habis kena banjir bandang.


"Ya udahlah, Mas tidur aja. Tahu sendiri Mbak Laila kalo udah sama ibunya Mas itu pasti lupa pulang," kekeh Elis sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


 Setelah sampai di kamar terdengar suara tangisan Halim yang makin keras ketimbang sebelumnya. Elis tergelak.


"Ya ampun, Mbak. Untung deh kamu nggak pulang, kalo pulang aku jamin besok perutmu bakalan murus," kekeh Elis memegangi perutnya yang terasa tegang karena terlalu banyak tertawa.

__ADS_1


Note: *murus : diare.


__ADS_2