TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 202. GENG JULID


__ADS_3

" Bagaimana, In? Sudah siap? Mejanya sudah ibu taruh di depan pagar. Tinggal di susun saja kue kuenya," ujar Bu Maryam sembari menggendong sang cucu yang baru saja di mandikan olehnya sembari menunggu Indi menyiapkan kue kue yang sejak dini hari sudah di buatnya.


 Indi menoleh dan mengangguk. "Sudah, Bu ini tinggal bawa ke depan saja kok. Makasih ya, Bu sudah mau bantu."


"Iya sama sama, ya sudah ibu mau pakaian baju bayimu dulu ya. "


 Indi kembali mengangguk, dan mengangkat satu persatu kotak plastik berisi kue kue yang sudah tersusun rapi lalu di tata di meja lipat yang kebetulan dia temukan di sudut dapur.


 Setelah semua siap, Indi menatap takjub pada barang dagangannya. Haru menelusup saat teringat dirinya yang sejak dulu di manja kini harus mulai bisa berjuang sendiri demi menghidupi dirinya dan ibu juga anaknya yang masih bayi. Tanpa bergantung pada siapapun jua.


"Sudah siap, In? Ini susui dulu bayimu biar dia kenyang dan tidur. Jadi nanti kalau ada yang beli kamu nggak keteteran. Sini biar ibu dulu yang jagain dagangannya," tukas Bu Maryam sembari menyerahkan si bayi yang matanya berbinar lebar itu ke pelukan Indi.


"Iya, Bu sebentar ya. Indi susuin dedek dulu, nanti kalau ada yang beli harga kue nya satunya seribu saja ya, Bu. Biar untung sedikit asal lancar," pungkas Indi tersenyum.


"Iya, sudah sana. Yang di sini serahkan sama ibu," tandas Bu Maryam senang.


 Indi masuk ke dalam rumah, berbaring di ruang keluarga sembari menyusui bayinya. Sengaja tidak di kamar karna agar lebih mudah mengawasi bayinya nanti.


 Terdengar suara bercakap cakap di depan sana , sepertinya Bu Maryam sudah mendapatkan pelanggan pertamanya. Indi tersenyum simpul di tempatnya saat mendengar Bu Maryam menyebutkan harga walau tidak begitu jelas.


"Semoga dagangan Mama laris ya, Nak. Supaya kita bisa bikin acara tasyakuran kamu nanti," gumam Indi sembari mengelus lembut pipi bayinya yang matanya sudah mulai terpejam karna mengantuk tersebut.

__ADS_1


 Senyum Indi melebar saat melihat bayinya yang mulai gembul itu memejamkan mata dengan perlahan dan masuk ke alam mimpinya. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya si bayi melepaskan ****** asi ibunya dan benar benar lelap.


 Indi mengecup sekilas kening bayinya lalu beranjak ke depan, di sana tampak sang ibu tengah mengibaskan lap kain bersih ke atas kue kue agar tidak di hinggapi lalat.


"Sudah ada yang beli ya, Bu?" tanya Indi.


 "Alhamdulillah, sudah. Walau nggak banyak, kata mereka mau cicip dulu. Semoga saja mereka suka terus langganan ya," sahut Bu Maryam antusias.


 "Alhamdulillah," gumam Indi sembari mengambil satu kursi plastik dari teras lagi dan memilih duduk di dekat ibunya.


 Beberapa saat menunggu, tampak serombongan ibu ibu sepertinya baru saja pulang dari berbelanja sayuran di warung depan. Wajah wajah yang indi kenal sebagai ibu ibu geng julid di komplek tersebut.


"Bu, bagaimana ini ... itukan ibu ibu yang ...."


 Bu Maryam memegang tangan Indi erat m, seolah memberi kekuatan lewat sentuhan tangannya.


"Tidak apa, kali ini kamu tidak salah dan tidak membawa masalah .tenang saja, kita kan hanya cari rejeki di sini mustahil mereka masih mengingat masa lalu itu," beber Bu Maryam mencoba memberi afirmasi positif bagi Indi dan sebenarnya bagi dirinya sendiri juga.


 Indi mengangguk, dan mencoba tenang ketika rombongan ibu ibu julid itu semakin mendekat. Dan lagi lagi yang di dengarnya adalah gosipan mereka yang rata rata isinya membicarakan tetangga mereka sendiri.


"Eeehhh, tunggu jeng tunggu. Lihat deh ada yang jualan kue tuh." salah satu ibu ibu berhenti dan menunjuk meja tempat jualan Indi.

__ADS_1


 Indi menundukkan kepalanya, walau sudah di tenangkan oleh sang ibu tetap saja rasanya masih sungkan bertemu ibu ibu yang dulu kompak mengatainya saat dia ketahuan berselingkuh dengan Fatan tepat di hari pernikahannya dengan Zaki yang harus berakhir hari itu juga.


"Wah, kebetulan sekali . Ada yang jualan kue begini, anak sama suami saya itu doyan banget ngemil kue kue begini, tapi kan kalo mau beli biasanya jauh ke jalan besar sana dulu, kadang suka males. Bagus deh kalau sekarang ada yang jualan di dalam komplek, jadi nggak usah capek capek ke jalan besar dulu kalau mau makan," kekeh salah satu ibu ibu sembari berjalan mendekati meja tempat Indi berjualan yang masih penuh dengan kue kue basah buatannya sendiri.


"Iya, jeng sama saya juga. Apalagi saya kalau ada kue kue kayak begini, rasanya nyaman aja di rumah bisa ngemil hobi sih habisnya. Tapi biasanya mau bikin sendiri, males mau keluar beli apalagi hahaha untung deh ya ada yang mau jualan. padahal kirain saya di komplek perumahan kita ini nggak ada yang mau buat soalnya kan udah kaya semua hahahah."


"Wah apalagi saya, jeng tiap hari rasanya kalo nggak ada makanand di rumah rasanya lemes, nggak bersemangat mau ngapa-ngapain juga. Kalo begini belinya Deket kan tiap hari bisa bersih terus rumah saya semangat kalau bersih bersihnya ada makanan mah."


 Ibu ibu terkekeh-kekeh sembari berjalan berbarengan mendekati meja jualan Indi, memutarinya dan mulai memilih dan melihat lihat setiap kotak plastik yang berisi kue kue di dalamnya. Beberapa ibu ibu malah langsung mencomot kue dan langsung memakannya di saat itu juga sembari memilih kue yang lain.


"Hmmm, enak loh kuenya."


"Eh iya, enak. Saya mau donatnya yang banyakan ah," ucap salah satu ibu ibu yang barusan mencicip donat berbalut gula berukuran mini yang ada di dalam kotak.


"Silahkan, ini plastiknya." Bu Maryam dengan ramah menyodorkan sebungkus plastik kresek bening yang biasa di gunakan untuk menjual kue kue basah seperti itu.


 Saat mendengar suara Bu Maryam sontak beberapa ibu ibu itu menoleh dan menatapnya lekat, seolah tengah mengingat ingat sesuatu. Indi mengigit bibir, sembari berdoa dalam hati semoga ibu ibu ini tidak ingat dengan wajah ibunya dan dia walau dia tahu sepertinya akan mustahil.


"Ini ... bukannya ibunya Mbak Dara ya?" celetuk salah satunya.


 Bu Maryam tersenyum simpul dan mengangguk.

__ADS_1


 "Loh, bukannya ibu ikut anak ibu yang pelakor itu ke kampung antah berantah mantan suaminya Mbak Dara itu ya? Kok ... tiba tiba bisa ada di sini sih?" tanya salah satunya lagi dengan wajah julid, mengompori ibu ibu yang lain yang kini juga melempar tatapan tajam pada Bu Maryam, sedang Indi yang tak menyangka akan menjadi seperti ini memilih berjongkok di bawah meja jualannya sembari merapal mantra, eh doa maksudnya.


__ADS_2