
Malam sudah tiba, suara tawa si kembar sudah kembali terdengar di seantero rumah. Elis pun senang anak asuhnya sudah kembali ke rumah, jadi dia bisa kembali bermain dengan si kembar sembari menyuapi mereka makan.
Di meja makan sudah ada Dara, Zaki dan Bu Ambar yang tengah menikmati makan malam bersama. Walau hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring saja tanpa suara. Tapi sesekali terlihat sekali kalau Zaki sering mencuri pandang ke wajah Dara yang tampak malu malu.
"Bunda sudah selesai," ucap Bu Ambar mengangetkan Zaki yang lagi lagi tengah memandangi Dara.
Dara mengangkat wajahnya, dan Zaki lekas menunduk seakan fokus dengan makanannya.
"Nambah lagi, Bun. Kenapa sedikit sekali makannya?" ucap Dara menawarkan.
Bu Ambar menggeleng sopan. " Nggak usah, Dara. Tadi di rumah bunda juga sudah ngemil, jadinya perut bunda nggak begitu lapar. Gimana kalau kita langsung ke inti acaranya saja?"
Zaki berdehem memperingatkan ibunya. "Dara bahkan belum selesai makan, Bun."
Bu Ambar terkekeh, sedangkan Dara tampak memelototkan matanya karena mendengar Zaki yang kini mulai tak lagi memakai embel-embel Mbak di depan namanya, namun langsung menyebut namanya saja.
"Ya sudah, Dara kamu habiskan dulu makanan kamu. Setelah ini kita bicara ya, bunda mau ke depan dulu lihat si kembar kalian jangan lama lama loh ya, bunda tunggu di depan." Bu Ambar meninggalkan kursinya dan beranjak menuju ruang keluarga dimana si kembar dan Elis berada sedang menonton kartun.
Dara dan Zaki yang di tinggal berdua di meja makan kini tampak tertunduk malu, bingung dan kikuk tak tahu harus melakukan apa.
"Si- silahkan di habiskan dulu makanannya, Dara." Zaki mempersilahkan, dengan gugup tentunya.
Dara mengangguk sungkan, dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan hati hati.
"Kamu juga, ayo nambah lagi aja. Jangan malu malu, anggap aja ...."
"Iya, aku udah anggap rumah ini rumah ku sendiri kok. Toh nantinya kalau lamaranku di terima aku bakalan ikut tinggal di sini bareng si kembar ya kan?" sela Zaki kepedean.
Tawa Dara menyembur hingga nasi yang ada di dalam mulutnya tersembur keluar.
Zaki cepat memberinya minum, karna takut Dara tersedak. Setelah menghabiskan satu gelas air, Dara akhirnya bisa lebih tenang.
__ADS_1
"Ya ampun, Zak. Pede mu itu loh," kekeh Dara sambil melanjutkan makannya lagi dalam suasana yang lebih cair dan tidak setegang tadi.
"Pede dulu nggak papa, Dar. Buat menyiapkan hati kalaupun nanti di tolak kan setidaknya pernah merasakan sedikit waktu bersama dengan gembira seperti ini. Jadi selama hidup ini nanti aku nggak akan menyesal." Zaki melanjutkan makannya pula sambil bercerita.
Dara hanya geleng-geleng kepala dan tetap melanjutkan makannya hingga nasi di piringnya tandas. Setelah itu, mereka menyusul Bu Ambar ke ruang keluarga, Dara membawakan senampan cemilan juga teh hangat untuk menemani obrolan mereka.
"Mama," panggil si kembar yang kini mulai tampak mengantuk.
"Iya, sayang?" Dara mendekati anak anaknya setelah meletakkan nampan di atas meja.
Si kembar memeluk Dara dengan tubuh dan mata yang sayu.
"Ngantuk ya? Kita tidur sekarang ya," ucap Dara yang langsung di angguki oleh si kembar yang memang sudah mengantuk sejak tadi itu.
Dara menggendong ke dua buah hatinya itu di kiri dan kanan tangannya, seakan tak ada beban sama sekali saat dia mengangkat tubuh keduanya sekaligus. Padahal Zaki saja sampai terperangah melihat Dara ternyata mampu melakukan itu.
"Bun, Zak. Sebentar ya, sayaa nidurin anak anak dulu. Silahkan di minum teh nya, saya tinggal sebentar ya." Dara berlalu membawa anak anaknya setelah mendapat anggukan dari Bu Ambar.
"Bu, Mas ... ayo silahkan di minum," tawar Elis membuka percakapan karna sejak sepeninggalan Dara tadi ibu dan anak itu malah tampak lebih banyak diam.
"Ah, iya iya terima kasih ya, Nduk." Bu Ambar berucap walau sebelumya tampak sedikit kaget.
Zaki juga tersenyum dan mengambil secangkir teh hangat dan meminumnya bersama Bu Ambar. Seketika kehangatan menyeruak dan memenuhi dada hingga perutnya, terasa menenangkan sekali. Zaki dan Bu Ambar saling pandang dan melempar senyum saking nyamannya meminum teh itu.
Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya tampaklah, Dara keluar dari dalam kamar si kembar dan menutup pintunya dengan perlahan.
Kriiieeetttttt
Ceklek
.
__ADS_1
Setelah pintu tertutup, barulah Dara menuju kembali ke sofa dan bergabung bersama mereka semua di sana yang sudah menunggunya dengan tak sabar.
"Si kembar sudah tidur?" tanya Bu Ambar membuka percakapan.
Dara mengangguk. "Iya, Bun. Maaf ya lama, tadi mereka minta di bacain dongeng soalnya."
Bu Ambar mengangguk mengerti, dan setelah semua di rasa siap barulah dia menanyakan perihal lamaran Zaki tempo hari.
"Bagaimana, Dara? Seminggu sudah berlalu sejak waktu yang di berikan Zaki. Kami berharap sekali malam ini kamu sudah bisa memberikan jawaban untuk itu, tidak perlu menerima jika memang hanya akan menjadi beban untuk kamu. Tapi, kami harap jawaban kamu sedikitnya bisa memuaskan," papar Bu Ambar membuka percakapan.
Dara mendengarkan dengan seksama, menunduk dan memandang cincin dan gelang yang kini melingkar indah di tangannya. Perkataan Zaki seminggu yang lalu tentang cincin dan gelang itu kembali terngiang di telinganya, entah Zaki ingat atau tidak yang jelas Dara menjalankan amanatnya sesuai yang dia sampaikan. Kalau Zaki ingat harusnya dia sudah tau jawabannya Dara.
"Dara?" panggil Bu Ambar karena Dara tak kunjung menjawab, Dara mengangkat wajahnya dan menatap Bu Ambar juga Zaki bergantian.
Zaki turut memandangnya dengan tatapan lembut dan tidak menuntut, senyumannya dia pamerkan seakan mengatakan tak perlu merasa terbebani.
"Jawaban saya untuk lamaran itu ... ada di sini," sahut Dara sambil mengangkat tangan kanannya yang terdapat cincin dan gelang yang merupakan pemberian Zaki.
Mata Zaki melebar, sontak bayangan akan kejadian beberapa hari yang lalu itu memenuhi benaknya. Sedangkan Bu Ambar malah tampak kebingungan.
"Itu ... bukannya gelang keluarga yang bunda kasih ke kamu lewat Zaki? Maksudnya apa?" tanya Bu Ambar tak mengerti.
Dara tak menjawab dan hanya tersenyum penuh arti, masih sambil memandangi gelang dan cincin yang tampak indah sekali di tangannya. Elis saja sampai terpana melihat kilauannya yang tertimpa cahaya lampu.
Karena tak mendapat jawaban dari Dara, Bu Ambar beralih pada Zaki yang kini matanya tampak berair dan berbinar dalam satu waktu bersamaan.
"Zak, ini ada apa toh?" tanyaa Bu Ambar semakin penasaran.
Zaki menatap lekat wajah bundanya, dan segaris senyuman lebar terbentuk di wajahnya yang biasanya selalu dingin dan datar itu.
"Gelang dan cincin itu, pertanda kalau Dara menerima lamaran aku, Bun."
__ADS_1