TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 220. DEBAT.


__ADS_3

 Bu Zaenab tampak salah tingkah, terlebih rupanya Zaki menatapnya dengan tatapan dalam.


"Ah, emmm ... saya ... saya ...."


"Kenapa, Bu? Ibu mau kembalikan uang saya dan istri saya yang sudah ibu bawa kabur, begitu?" todong Zaki tiba-tiba merasa geram jika teringat kondisi Pak Jamal yang kini malah sering sakit sakitan dan sebagai istri Bu Zaenab malah tidak ada di sampingnya.


 Bu Zaenab tampak terkesiap, dia menunduk dan memainkan ujung jilbabnya dengan salah tingkah.


"Kalau tidak ada yang mau di bicarakan saya permisi dulu, Bu saya harap ibu tahu kabar tentang Pak Jamal yang sekarang sedang sakit dan butuh seseorang untuk mengurusnya," pungkas Zaki tegas lalu kembali membuka pintu mobilnya yang tadi sempat tertutup.


 Baru saja Zaki melangkah Bu Zaenab dengan cepat menahan tangannya, hingga pergerakan Zaki pun berhenti.


"Apa lagi, Bu? Saya buru buru," sambar Zaki mulai kesal.


 "Ah, Zaki ... saya ... saya bingung mau bicara sama kamu bagaimana, tapi ... tapi ... saya butuh uang sekarang," ujar Bu Zaenab gugup, bahkan dia tak berani mengangkat wajahnya menatap Zaki.


 Kening Zaki membentuk lipatan lipatan dalam, semakin yakin kalau istri dari tetangganya memang tidak punya rasa malu, atau mungkin urat malunya sudah putus.


"Terus? Hubungannya sama saya apa?" seru Zaki ketus, sama sekali tidak bersimpati pada Bu Zaenab.


 Bu Zaenab tampak kebingungan menjawab pertanyaan Zaki, dia ******* ***** jemarinya dengan mata mulai berkabut.


"Tolonglah saya, Zaki. Cuma kamu yang bisa menolong saya sekarang, anak saya yang bungsu baru saja melahirkan kemarin lusa tapi anaknya tidak bisa kami bawa pulang karena terkendala biaya, tolong bantu saya Zaki, saya mohon." Bu Zaenab menangkupkan tangannya di dada dengan air mata mulai meleleh di sudut pipinya.


 Zaki membuang muka tak ingin perasaannya tersentuh oleh air mata buaya Bu Zaenab yang sudah biasa dia lihat kala bu Zaenab dengan mudahnya menjual kebaikan suaminya untuk mendapatkan uang secara cuma cuma darinya dan Dara. Dan Zaki tak ingin semua itu terulang kembali.


"Maaf, Bu saya tidak bisa memberi ibu. Yang lima juta yang ibu bawa kabur itu saya yakin akan cukup jika hanya untuk menebus seorang bayi," tandas Zaki berusaha tak kasihan sama sekali.


 Bu Zaenab terbelalak, mungkin terkejut dengan perubahan sikap Zaki yang drastis dan tak lagi tersentuh dengan air matanya yang biasanya selalu membuat orang orang kasihan padanya.


 Tanpa banyak kata lagi Zaki menutup pintu mobilnya, menurunkan kaca dan menghidupkan mesin mobil. Walau Bu Zaenab masih tetap memandanginya dengan tatapan nanar hingga dia menjauh dan hilang di balik tikungan parkiran rumah sakit.


"Ada ada saja," gumam Zaki sambil melirik ke arah spion untuk melihat kondisi Bu Zaenab di sana.


 Tampak Bu Zaenab tengah berlari mendekati seorang wanita yang hendak masuk ke mobilnya lagi, dan jalan ceritanya pasti akan sama seperti yang terjadi pada Zaki, beliau menghiba dan orang yang kasihan akan memberinya uang secara cuma cuma. Karna memang itu tujuannya.


 Tak mau ambil pusing dengan tingkah polah Bu Zaenab, Zaki memilih mempercepat laju mobilnya untuk bisa segera sampai ke warung bakso kesukaan istrinya. Dimana Dara akan selalu mengajaknya ke warung tersebut setiap kali ingin makan bakso.


 Warungnya tampak ramai, maklum saja karna memang rasa baksonya juara dan pastinya porsinya yang tidak pelit menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli dan pelanggan yang sudah lama berlangganan di sana. Tak pernah kecewa dengan rasa dan porsi baksonya terlebih pelayanannya yang ramah menjadi nilai plus bagi warung tersebut.


 Setelah memesan bakso untuk sang istri, Bu Ambar dan juga dirinya sendiri. Zaki duduk di kursi tunggu sembari memainkan ponselnya. Membuka galeri dan melihat lihat foto bayinya yang baru lahir, untungnya tadi dia sempat memfoto foto bayinya sebelum pergi jadi bisa menjadi objek pandangannya di kala penat menanti kepastian dari si Abang bakso, eaaa.


"Anaknya ya, mas?" tanya salah satu pria yang sepertinya juga tengah menunggu bakso pesanannya di buatkan.


 Zaki mengangguk dan tersenyum ramah. "Iya, Mas. Baru lahir beberapa jam yang lalu, ini saya lagi beli makanan buat ibunya."


 Entah keberanian darimana Zaki malah membeberkan semuanya pada pria berwajah teduh di sampingnya itu, yang sejak tadi mengulas senyum getir walau Zaki kurang begitu menyadarinya.


"Masnya beruntung sekali ya," celetuknya. "Saya juga baru punya bayi, tapi ...."


"Tapi kenapa, Mas? Harusnya Mas senang dong baru punya bayi, pasti bawaannya pengen pulang dan main sama si bayi terus kan, Mas? Soalnya saya juga begitu, ini aja rasanya nggak sabar pengen pulang ke rumah sakit dan lihat dia lagi," seloroh Zaki tersenyum lebar.

__ADS_1


 Zaki melempar tatapan pada pria berkulit gelap di sisinya itu, barulah si sadarinya ada sorot pedih dari tatapan matanya.


 Senyum yang di paksanya tersungging itupun tampak menyimpan berjuta luka yang berusaha dia sembunyikan.


"Bayi saya belum bisa dibawa pulang, Mas."


"Loh, kenapa?" tanya Zaki heran.


 Tapi belum sempat pria itu menjawab namanya sudah di panggil karena bakso pesanannya sudah siap.


"Ya sudah, kalau begitu saya duluan ya Mas. Terima kasih sudah mau berbagi cerita sama saya, nanti kapan kapan kita ngobrol lagi kalau ketemu ya," pungkasnya yang hanya bisa di jawab anggukan saja oleh Zaki sebab pria itu tampak terburu buru, ponselnya juga sudah berdering sejak tadi seolah memburunya untuk lekas kembali.


 Tak lama, baksos pesanan Zaki pun siap di buat pula. Tanpa menunggu lebih lama lagi Zaki lekas membayarnya dan bergegas pulang ke rumah sakit, karna sudah di dera rindu pada sang bayi yang wajahnya sangat mirip dirinya itu.


 Mobilnya di pacu dengan kecepatan sedang, sembari bersenandung kecil Zaki menikmati dan tak henti mengucap syukur atas nikmat yang di limpahkan Yang Maha Kuasa padanya kali ini. Sungguh nikmat yang luar biasa sekali bagi Zaki.


 Saat berbelok di tikungan ponsel Zaki tiba tiba berdering, terpaksa Zaki menepikan mobilnya sejenak untuk melihat pesan yang masuk ke ponselnya.


(Mas, beliin es campur juga ya. Kayaknya enak panas panas begini makan es campur. Tolong ya, mas)


 Ah, pesan dari sang istri tercinta rupanya. Zaki tersenyum kecil, lalu kembali menjalankan mobilnya tanpa membalas pesan Dara. Zaki menatap sekitar untuk mencari lapak penjual es campur di sepanjang jalan yang dia lalui itu.


 Dan beruntungnya, tak jauh dari sana sebuah gerai khusus es yang pengunjungnya tak kalah ramai tampak, Zaki lekas berhenti dan memesan beberapa menu yang tampak sangat menggiurkan di matanya. Apalagi di gambar menu itu toping dan isian esnya begitu melimpah, sama dengan yang Zaki lihat di sajikan di meja meja pelanggan. Benar benar membuat air liur terbit hanya dengan melihatnya saja.


 Selesai dengan es campur untuk sang istri tercintanya, Zaki gegas kembali ke rumah sakit secepat yang dia bisa. Di pacunya mobil dengan kecepatan lebih tinggi, namun tetap hati hati.


"Alhamdulillah," gumam Zaki setelah mobil merapat dengan sempurna di halaman parkir rumah sakit. Dengan hati riang Zaki melenggang menuju ruang rawat istrinya. Dan rupanya di dalam sana sudah ada si kembar yang datang bersama Elis, Bu Maryam dan juga indi serta Inara.


"Assalamu'alaikum," ucap Zaki tersenyum ramah pada semuanya.


"Wah, ramai begini maaf Zaki cuma beli makannya pas Pasan buat kami. Soalnya nggak tahu kalau ibu sama Indi mau datang," pungkas Zaki tak enak.


 Bu Maryam mengibaskan tangannya di udara. "Haish, sudah nggak papa ini ibu tadi juga sudah bawa makanan. Ayo di makan sama sama, nggak usah sungkan."


 Bu Maryam menyodorkan sebuah rantang berisi kue basah dan brownies yang dibuat Indi. Si kembar bersorak girang saat Bu Maryam memotongkan brownies coklat itu untuk mereka.


 "Dara mau makan sendiri atau mau bunda suapin? Masih lemas nggak badannya?" gumam Bu Ambar lembut, sembari menuang bakso untuk Dara ke dalam mangkuk yang di bawakan Elis.


"Makan sendiri saja, Bun. Dara kuat kok," sahut Dara tersenyum, dengan di bantu Zaki, Dara duduk bersandar di ranjangnya dan mulai makan.


"Loh? Kok Dara di bolehin makan bakso sih, jeng? Bukannya ibu baru melahirkan itu harusnya di pantang ya?" sela Bu Maryam membuat Dara yang baru saja akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya menjadi urung melakukannya.


 Dara menatap Bu Ambar yang kini juga tampak mulai tak nyaman.


"Kata siapa begitu, Bu?" tanya Bu Ambar melirik Bu Maryam sinis.


 Bu Maryam tampak salah tingkah, namun dia berusaha untuk menutupinya dengan senyuman lebar.


"Ya ... bukannya memang begitu ya, Bu? Ibu yang baru melahirkan itu makanannya harus di jaga, minumnya juga nggak boleh sembarangan harus di takar supaya bayinya nggak kembung dan PD nya nggak bengkak," tutur Bu Maryam panjang lebar.


 Bu Ambar hanya mendesah, meletakan kembali mangkuk baksonya dan meminum air mineral botol yang tadi di bawakan Elis juga.

__ADS_1


"Itu kan menurut ibu, tapi sekarang Dara ini juga menantu saya, Bu. Jadi ... saya memutuskan untuk tidak memberi pantangan apapun pada Dara. Biarkan dia menikmati semua makanan yang di mau sama seperti saat dia tidak hamil dan melahirkan. Lagi pula nggak akan pengaruh kok sama bayinya, wong Dara saja makan bakso bening begitu kok."


 Bu Maryam seolah kehabisan kata kata, namun sebagai orang yang -- merasa -- lebih tua tentu saja Bu Maryam ingin semua nasehat nya di dengar dan di lakukan.


"Tapi kan, Bu ... Dara ini juga anak saya, ya saya juga punya hak dong memberi nasehat sama dia."


"Nasehat? Bukan perintah?" sela Bu Ambar yang sudah tau akan di bawa kemana maksud kata kata Bu Maryam tadi.


 "Ya sebagai anak yang baik tentu saja nasehat orang tua itu harus di lakukan, Bu. Ibu juga pasti mau anak anak ibu begitu kan?". balas Bu Maryam lagi.


"Bu, sudah." Indi mencoba menengahi dengan memegang tangan Bu Maryam memintanya untuk diam.


 Namun Bu Maryam tak mengindahkan, malah menepis tangan Indi dan tetap ingin melanjutkan perdebatannya dengan Bu Ambar. Toh, dia juga merasa punya hak untuk mengatur Dara.


 Bu Ambar tak lagi berminat meladeni Bu Maryam, dia memilih diam dan kembali melanjutkan makannya dengan tenang.


"Dara, kamu makan saja yang enak jangan pikirkan apapun. Semua bebas kamu makan," pungkas Bu Ambar seolah sengaja memancing Bu Maryam untuk kembali menyuarakan pendapatnya.


 Dara mengangguk, lalu dengan tenang kembali menyuapakan bakso bening ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan. Sedang Zaki, dia memilih langsung keluar dari ruangan tadi untuk makan di ruang tunggu.


"Huh, jangan saja nanti anaknya nangis nangis gara gara sakit perut terus memanggil saya suruh bantu mendiamkan," geram Bu Maryam yang merasa tak di anggap , bahkan oleh Dara yang kini tampak sangat senang menghabiskan seluruh isi mangkuknya.


"Sudah tenang saja, itu tidak akan terjadi. Ada saya kok, Bu," timpal Bu Ambar mengambil mangkuk bekas Dara dan meletakannya di atas nakas bertumpukan dengan mangkuknya.


"Bun, Dara mau itu ... boleh?" bisik Dara sambil menunjuk kantong berisi es campur yang tadi juga di belikan Zaki untuknya.


 Bu Ambar mengulum senyum dan mengangguk. "Tapi jangan berlebihan ya, kita bagi dua saja satu tempat itu."


 Dara mengangguk dengan semangat, dan menerima dengan suka ria gelas plastik berisi es campur itu dari tangan Bu Ambar.


"Lolololoh, itu kok malah di kasih es Dara nya? Gimana sih kamu itu, Bu? Ibu yang baru melahirkan itu mana boleh minum es! Nanti bayinya pilek!" omel Bu Maryam, kali ini sambil bangkit berdiri dan langsung merebut gelas berisi es itu dari tangan Dara, membuat isinya tumpah sebagian dan berserakan di lantai.


"Astaghfirullah! Ibu ini kenapa sih? Kok dari tadi kayaknya sewot sekali? Lihat! Sekarang lantainya jadi basah dan kotor! Kalau nanti cucu saya lewat sini dan jatuh gimana?" sergah Bu Ambar berang.


 Bu Maryam tak menunjukkan ekspresi takut sedikit pun, malah dengan santainya dia membuang isi dari gelas plastik itu ke dalam tong sampah yang berada di bawah jendela.


Bruk..


"Nenek, kenapa buang buang makanan? Kan mubadzir jadinya," ucap Farah yang tak sengaja melihat saat Bu Maryam membuang es yang isinya lebih dari separuh itu.


 Bu Maryam tak mempedulikan ucapan Farah, dengan santainya dia malah kembali mendekat ke ranjang Dara yang masih menatap tong sampah itu dengan tatapan nanar.


"Kenapa malah kamu buang ha? Itu anak saya yang beli, dan itu pake uang bukan pake daun ." Bu Ambar marah.


 Bu Maryam melengos kesal, lalu menatap lekat ke arah Dara yang kini mulai meneteskan air matanya.


"Dara, dengarkan Ibu. Kamu itu baru melahirkan, harus sadar dan juga harus sabar menahan nafsu kamu. Ingat ada anak yang kini juga bergantung sama kamu, kamu mau nanti anak kmu sakit perut dan pilek gara gara kamu egois nggak bisa nahan nafsu? Cuma sebentar, Dara paling cuma dua tahun sampai dia tidak menyusu lagi kamu sudah boleh kembali menikmati makanan itu, sabar! Jangan kayak mau mati kalo nggak makan makanan itu sebentar saja. Inget kata ibu dulu, jangan lebay. Makanya dulu itu anak anakmu rewel semua ya gara gara ini, kamu itu lebay."


 Dara semakin merasakan dadanya sesak, dia tak ingin menatap balik Bu Maryam yang kini menatapnya dalam. Dia membuang muka ke arah lain.


 "Kamu ingat terus itu, Dara. Jangan ngeyelan kalau nggak mau ...."

__ADS_1


Pats!


"Nggak mau apa?" seru Bu Ambar geram, menepis tangan Bu Maryam hingga wanita tua itu terhuyung mundur dengan wajah syok.


__ADS_2