TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 97. PERTANDA JODOH 2.


__ADS_3

Hari hari Halim lalui dengan penuh kesibukan, namun semua itu kini tak lagi terasa melelahkan malah menyenangkan. Kenapa? Ya karna sejak sakit 'parah' yang di katakan Laila tempo hari, sejak itu pula kedekatan kembali terjalin di antara mereka.


Saling bertukar kabar ataupun sekedar bertegur sapa saat kebetulan berpapasan di depan rumah saat berangkat bekerja.


(Hari ini juga cantik, jilbab pinknya bagus beli dimana?)


Ketik Halim di ponselnya tak lama setelah sebelumnya berpapasan dengan Laila di depan rumah. Bahkan kini mobil yang di kendarainya belum kunjung berangkat menuju rumah Pak Jatmika untuk menghandle wo yang akan mengatur jalannya acara pernikahan Dara - Zaki nanti.


Kling


Tak lama sebuah balasan masuk ke aplikasi hijau milik Halim, dengan semangat cepat di raihnya ponsel bermata tiga itu dan membaca pesan dari kontak dengan nama 'Mbak Laila' itu.


(Alhamdulillah, terima kasih, Pak dokter. Ini jilbabnya di belikan Elis, kado sewaktu ulang tahun saya kemarin)


Pesan balasan dari Laila, serta merta dahi Halim membentuk kerutan kerutan dalam.


"Ulang tahun? Mbak Laila ulang tahun? Kapan?" desisnya bicara sendiri.


Namun saat tengah asik menerka, ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan telepon untuknya, dengan bersemangat Halim mengangkat teleponnya karena mengira Laila yang menghubunginya.


"Assalamu'alaikum, Mbak. Ada apa ya?" sapa Halim lembut selembut es krim yang sudah meleleh.


"Mbak, Mbak! Gundulmu! Kamu pikir saya perempuan? Mau di potong gaji kamu ya, Halim?" bentak suara di sebrang telepon yang ternyata adalah milik Pak Jatmika.


Halim kelabakan, dia sontak menjauhkan ponsel dengan raut wajah kebingungan.


"B- bos?" panggilnya lagi setelah sejenak menenangkan deru aneh di dadanya yang terkejut.


"Bas, bos, bas, bos! Kamu itu tau nggak ini sudah jam berapa? Dimana kamu hah? Kamu lupa hari ini tugas kamu apa?" sergah Pak Jatmika lagi.


Halim sampai menutup telinganya saking kerasnya suara Pak Jatmika.


"Aduh, iya iya, Bos. Ini juga lagi di jalan kok, sabar kenapa?" keluh Halim tanpa beban sama sekali.

__ADS_1


Saking sudah lamanya ikut dengan Pak Jatmika baginya di marahi seperti itu sudah biasa dan merupakan makanan sehari hari walau kadang masih suka kaget, tapi Halim sebenarnya kebal.


"Apa? Di jalan kamu bilang? Kamu kira saya nggak tau kalo kamu masih di rumah? Kamu mau bohongin saya ya?" ketus Pak Jatmika lagi.


Halim menepuk jidatnya, dia lupa kalau mobil pemberian Pak Jatmika itu punya GPS yang di pasangnya entah dimana. Jadi sangat mudah untuk Pak Jatmika mengetahui posisinya saat ini dari mana saja.


"Haduh,iya iya, Bos. Ini saya otw!" sahut Halim yang juga turut kesal.


"Kamu bentak saya? Sudah berani kamu sama saya sekarang? Dasar anak lebih di ajar!" omel Pak Jatmika namun malah mendoakan baik untuk Halim.


Halim mengulas senyum, begitulah rupa asli Pak Jatmika, beliau walaupun marah namun tak akan pernah berkata buruk sedikit pun. Semarah apapun, Pak Jatmika akan selalu berkata yang baik walau nadanya mungkin terkesan keras dan kasar.


"Ya udah ya, Bos. Saya mau berangkat ini, kalo di apelin terus kapan saya berangkatnya. Bahaya loh, Bos nyetir sambil telponan emangnya bos mau saya kecelakaan terus masuk rumah sakit?" kekeh Halim.


"Dih, amit amit yang ada kamu bakalan ngabisin duit saya aja kalo sampe masuk rumah sakit. Ya sudah sana berangkat, jangan sampai kerjaan kamu mengecewakan, ngerti? Oh ya satu lagi, jangan sampai mobil itu lecet, bawanya pelan pelan aja, mahalan mobil itu ketimbang kamu soalnya," seloroh Pak Jatmika.


Halim mematikan sambungan teleponnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Halim tau, bahkan sangat tahu kalau kata kata Pak Jatmika yang kasar itu tersimpan kasih sayang yang besar di baliknya. Beliau berkata demikian karna tidak ingin Halim sampai celaka, namun gengsi untuk mengatakannya secara langsung.


****


"Assalamu'alaikum," ucap Dara di depan pintu rumah Laila dan Elis. Dia datang bersama si kembar hendak mengundang langsung pengasuh dari anak anaknya beserta gurunya itu untuk datang ke pernikahannya nanti.


"Wa'alaikumsalam," sahut seseorang dari dalam rumah.


Ceklek


Tak lama pintu pun terbuka, dan Laila keluar dari dalam rumah dengan menggunakan jilbab yang sama dengan saat dia mengajar di TK pagi tadi. Sepertinya Laila juga baru saja pulang dari TK, padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Eh, Mbak Dara. Mari masuk, Mbak." Laila membuka lebar pintu  rumahnya dan mempersilahkan Dara dan si kembar untuk masuk.


Namun si kembar yang sudah biasa ke sana malah langsung berlarian menuju kamar Elis tanpa mempedulikan sang Mama.


"Eh, Fatur! Farah! Mau kemana?" seru Dara kaget.

__ADS_1


"Ah, udah biarin aja, Mbak. Biasa lah itu mereka kalau ke sini emang sudah kayak di rumah sendiri," sela Laila menimpali.


Dara mengangguk namun matanya masih awas memandangi tempat si kembar masuk tadi, tak lama dari sana keluar lah Elis yang menggandeng tangan si kembar.


Mereka duduk bersama dan Dara pun menyampaikan tujuannya datang ke rumah Laila.


"Jadi Mbak Dara beneran mau nikah sama Pak Zaki?" cecar Elis dengan mata membulat.


Dara mengangguk malu malu.


"Alhamdulillah, berarti sebentar lagi si kembar punya papa baru. Ya anak anak?" Elis beralih menatap kedua anak asuhnya yang kini sibuk bermain dengan ponselnya.


"Alhamdulillah, kami turut senang ya, Mbak. Insyaallah besok kami akan datang juga buat bantu bantu, apalagi Elis, dia pasti di butuhkan buat jaga si kembar selama acara," timpal Laila tak keberatan saat Dara meminta mereka hadir.


" Eh, nggak gitu Bu Laila maksud saya," sela Dara.


Laila mengerutkan kening, karna setahunya jika ada yang mengundang untuk ke pesta pernikahan seseorang atau orang itu sendiri yang mengundang itu artinya di mintai tolong untuk membantu di saat acara berlangsung.


"Semua sudah di handle wo, ibu guru sama Elis datang aja buat jadi Bridesmaids saya," imbuh Dara dengan senyum manis di bibirnya.


"Wawww, Bridesmaids, Mbak?" seru Elis membulatkan bibirnya.


Dara mengangguk dan mengambil dua paper bag yang tadi dia letakkan di dekatnya. Di paper bag itu sudah tertulis namanya dan Zaki, juga ada nama Elis dan Laila di sisi yang lainnya.


Elis dan Laila menerima paper bag itu dengan takjub, warna dan bahan untuk membuat baju Bridesmaids itu tampak sangat mahal dan mewah, sangat cantik hingga Elis takut untuk memakainya.


"Wah, Mbak ini sih udah setara sama baju pengantin bahannya." Laila bergumam sambil memegang kain di dalam paper bag indah itu.


Elis mengerling pada kakaknya sambil tersenyum simpul.


"Ya Allah, udah ngomongin pengantin aja ini calon pengantin."


"Loh, Bu guru Laila mau jadi pengantin juga?" tanya Dara spontan.

__ADS_1


__ADS_2