
"Bu, sudah!" seru Indi sambil bangkit berdiri dan menahan pergerakan Bu Maryam.
Bu Maryam terhuyung, melempar tatapan tajam pada Bu Ambar dalam diam.
"Kamu, tolong urus ibumu ini sebelum aku lupa kalau kalian juga merupakan keluarga menantuku." Bu Ambar menatap sinis Indi.
Yang tengah menggendong Inara hanya bisa mengangguk pasrah, dan memegangi lengan ibunya.
"Bu, sudahlah. Lebih baik kita pulang saja, Bu."
Bu Maryam malah menepis tangan Indi. "Nggak! Ibu nggak akan pulang sampai Dara bilang mau menuruti permintaan ibu."
"Astaghfirullah, ibu." Indi mendesah berat dengan tatapan nanar.
Sedang Dara yang sedang menjadi bahan perdebatan malah hanya bisa menatap bingung ke arah dua nenek nenek yang bertengkar itu.
"Kali ini hanya akan mendengarkan saya, dan akan mengikuti perintah saya." Bu Ambar berkata lantang, hingga bayi Dara yang tengah terlelap merasa terganggu dan mulai merengek.
"Cup, cup, cup sayang ...," gumam Dara sembari mengangkat bayinya.
Semua mata menatap ke arah bayi mungil tersebut, Bu Maryam sendiri langsung lekas membantu Dara mengambil bayinya dan meletakkannya di pangkuannya dengan beralaskan bantal.
"Lihat kan, cucu ku jadi bangun gara gara kamu," cibir Bu Maryam pada Bu Ambar sengit.
"Hei, dia juga cucu ku jangan ngaku ngaku kamu ya! Anakku yang membuatnya tahu!" serang balik Bu Ambar tak terima.
Dara dan Indi saling pandang dan mengulum senyum mendengar pertengkaran dua nenek itu.
"Sudahlah, Bu kasihan itu bayinya mau nyusu dulu. Sudah jangan ribut, nanti malah kaget dan keselek bayinya Mbak Dara," ujar Indi sebelum Bu Maryam berkata apa apa lagi.
Bu Maryam akhirnya mengalah, mendesah berat dan diam. Walau sebenarnya hatinya dongkol sekali melihat Bu Ambar yang tak mau mengalah sedikit pun pada nya. Padahal biasanya keluarga lelaki itu tak akan terlalu peduli pada menantunya dan membiarkan saja apa yang akan di lakukan besannya, lah ini kok terbalik.
Dara mulai menyusui anak bayinya, si kembar yang melihat adik mereka di pangkuan sang Mama langsung menghambur dan hendak melihat bersama sama.
"Anak anak, adik bayinya nen dulu ya. Jangan di ganggu ya, lihat saja boleh," tutur Bu Ambar lembut sekali pada si kembar yang mulai jahil memegang megang bedong bagian kaki si bayi.
"Iya, Oma." Si kembar kompak menjawab, dan kini hanya melihat saja dengan antusias tanpa mengganggu lagi.
"Wah, cucu kecil Oma nen nya pinter sekali. Lihat kuat sekali nyusunya, kelihatannya lapar sekali ya," ujar Bu Ambar gemas sendiri melihat cucunya yang dengan bersemangat menghisap makanan pertamanya dari tubuh Dara.
Bu Maryam mencebik. "Harusnya tadi di kasih susu formula saja dulu si Dara kan tadi habis makan bakso sama minum es, pastinya rasa asinya nggak enak. Lihat saja sebentar lagi pasti muntah.".
Mendengar sindiran Bu Maryam, Bu Ambar yang tadinya a sudah baik baik saja kini kembali tersulut emosi.
"Dasar nenek nenek kampungan, kalau ada asi kenapa harus di kasih susu formula? Lagi pula memang apa salahnya Dara makan bakso dan minum es? Lagi pula es yang mana yang kamu maksud? Yang itu? Yang di dalam tong sampah itu? Iya?" sindir Bu Ambar telak.
Bu Maryam gelagapan, namun dia cepat membuang muka ke arah lain agar Bu Ambar tak melihat raut wajah cemasnya karna mulai kehabisan kata kata.
"Kenapa, Bun?" tanya Zaki yang baru saja masuk dan mendengar suara keras ibunya.
Bu Ambar mendengkus keras, di lipatnya ke dua tangannya di depan dada.
"Tuh, mertua angkatmu itu. Ngeyel banget jadi orang , masa dia buang es campur yang kamu belikan buat Dara, kan mubadzir jadinya. Memangnya beli es itu pake daun apa dia pikir?" sindir Bu Ambar pedas.
Bu Maryam akan menjawab lagi, namun cepat di tahan oleh Indi. Indi memelototkan matanya dan memberi isyarat Bu Maryam agar tak membalas. Walau kesal namun akhirnya Bu Maryam menurut dan diam.
"Kan masih ada satu lagi, Bun es nya. Memangnya yang itu di buang kenapa?" tanya Zaki lagi, sambil melangkah ke meja dan mengambil satu gelas berisi es campur lagi dan membawanya ke ranjang Dara.
"Huh, kamu tanya sendiri sana. Bisa bisa bukan cuma Dara tang stress kalo di urus dia itu, tapi bunda juga. Deket sebentar aja bawaannya pengen nampol mukanya mulu." Bu ambar beranjak dan memilih keluar dari ruangan itu dengan bersungut-sungut.
__ADS_1
Zaki menghela nafas panjang, lalu tersenyum pada Dara yang baru saja selesai menyusui bayinya. Kini bayi itu sudah kenyang dan kembali terlelap.
"Sini, sayang. Biar Mas yang taruh ke box nya," pinta Zaki mengulurkan tangannya untuk mengambil alih si bayi dari gendongan Dara.
"Memangnya kamu sudah bisa gendong bayi, Zaki? Nanti kecengklak, masalah lagi." Bu Maryam tanpa tahu malunya menyela, dia kesal karena sejak tadi di suruh diam oleh Indi. Kini kesempatannya untuk bicara setelah Bu Ambar tak ada di sana.
"Insyaallah sudah bisa kok, Bu. Tadi sudah belajar sama bunda." Zaki tersenyum.
Lalu dengan mudahnya Zaki menggendong buah hatinya itu, mencium hidung bangirnya sekilas dan meletakkanya dengan hati-hati ke atas box bayinya.
Sedang Dara kini mulai menikmati es campur yang masih utuh yang tadi di berikan Zaki, Bu Maryam langsung menyindir pedas dengan dalih bicara pada Zaki.
"Kamu itu jadi suami harus tegas Zaki, yang namanya ibu baru melahirkan ibu banyak pantangannya demi kebaikan bayi dan ibunya juga. Jangan asal asalan kalau nggak mau anak kamu nanti yang kena imbasnya. Kamu juga malah ngasih Dara es begitu, nanti kalo bayinya pilek kan kasihan. Jangan biarkan Dara itu egois jadi ibu, nanti anak sakit yang lain juga yang repot."
Zaki menanggapinya dengan tersenyum simpul. "nggak papa, Bu nanti kalo dedek bayi sakit kami yang akan merawatnya sama sama. Nggak akan biarin Dara kerepotan sendirian biar dia juga nggak stres setelah melahirkan. Ibu pasca melahirkan kan paling rentan stress , Bu. Makanya sebisa mungkin Zaki dan bunda akan bikin Dara nyaman dan bahagia biar anak kami juga bahagia nantinya dan nggak gampang sakit pastinya. Makasih atas nasehatnya, Bu. Tapi ... sepertinya ilmu yang benar lebih berguna di sini ketimbang mitos yang belum tentu benar," sahut Zaki terdengar tenang namun langsung menusuk ke hati Bu Maryam.
Bu Maryam berdecak. "Huh, nggak ibu nggak anak sama saja. Ngeyelan, awas aja nanti anaknya sakit bikin ribut orang dan manggil manggil saya buat batuin."
"Insyaallah, nggak bakalan Bu. Saya sama bunda saja cukup kok. Lagi pula di sini ada dokter yang menangani kok," pungkas Zaki membuat Bu Maryam semakin merasa malu dan terpojok.
Tanpa banyak kata, Bu Maryam dengan wajah merah padam langsung keluar dari ruangan tersebut m. bahkan tanpa pamit dan berkata apa apa lagi pada Dara dan Zaki.
Brakkk
Bu Maryam menutup pintu ruangan dengan kasar, hingga menyebabkan bayi Dara dan Zaki yang baru saja tertidur terkejut dan menangis.
Zaki mengambilnya dan mulai menimangnya menjauh, sedangkan Indi cepat cepat mendekati Dara dengan wajah tak enak.
"Mbak, tolong maafin kata kata ibu ya, Mbak. Jangan di masukan ke hati, Mbak tahu sendiri kan ibu itu gimana? Bahkan sampai sekarang aja Indi masih di pantang ini dan itu loh, mbak sama ibu. Atas nama ibu, Indi minta maaf yang sebesar-besarnya ya, Mbak." Indi tertunduk malu di hadapan Dara.
Dara mengulas senyum dan mengangguk. "Iya, nggak papa kok, In. Bukan salah kamu, Mbak juga tahu kok gimana Ibu.".
Dara mencium pipi Inara dan melepas kepergian Indi dengan senyuman, hingga sang adik hilang di balik pintu ruangan yang tadi di banting keras oleh Bu Maryam.
"Lama banget sih!"
Masih terdengar oleh Dara suara Bu Maryam yang rupanya menunggu di depan ruangan, karna tidak bisa pulang sendiri tanpa Indi.
Dara mengulum senyum, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya memakan es campur yang ternyata rasanya sangat enak itu. Sedang di sisi lainnya, Zaki tengah bercengkerama dengan sang bayi di apit dua bocah yang sudah di anggapnya anak kandungnya sendiri itu.
****
Sementara itu.
"Laila! Halim! Kalian sudah selesai belum?" seru Bu Hana dari teras rumah Laila yang pintunya terbuka lebar itu.
Mereka sudah di beri tahu Elis tentang Dara yang sudah melahirkan akan langsung berangkat untuk menjenguknya di rumah sakit. Dimana Elis sekarang juga berada di sana untuk menjaga si kembar.
"Laila! Halim! Buruan!" seru Bu Hana lagi, lebih keras dari yang sebelumnya.
"Iya, Bu sebentar!" Halim menyahut, tampaknya dua sejoli itu masih sibuk berkutat di dalam kamarnya. Entah apa yang mereka lakukan siang siang begini, dasar pengantin baru yang belum naik cetak, eh.
Saat tengah menunggu dua anaknya itu, Bu Hana memilih sibuk dengan ponselnya. Mengecek bisnis properti yang dia lakoni sebagai pengisi waktu luang dengan bekerja sama dengan Pak Jatmika, calon suaminya uhuuyyyy.
Tin
Tin
Suara klakson mobil memecah konsentrasi Bu Hana, di angkatnya kepala menatap ke arah jalan di depannya m. tampak di sana sebuah mobil yang sangat dia kenal terparkir rapi di halaman rumahnya.
__ADS_1
Wajah Bu Hana sontak merona merah, namun dia sama sekali tak berniat memanggil orang yang tengah celingukan di depan rumahnya itu untuk memberi tahu dia ada di depan.
"Eciiieee, yang di jemput calon imam surgawi." Halim keluar sambil melontarkan godaan untuk ibunya, Bu Hana sontak melayangkan tas tangannya ke kepala Halim.
Pleettaaakkkkk
"Hadoh!" Erang Halim memegangi kepalanya yang terasa benjol.
"Rasain! Kualat kamu nanti main main sama orang tua ya!" tuding Bu Hana geram.
"Oalah, rupanya di sini. mas kita kamu masih di rumah. Ayo sudah siap belum? Kita ke rumah sakitnya barengan aja, sekalian beli kado buat cucu kita," sela Pak Jatmika yang tak sengaja mendengar suara Halim tadi, dan langsung menghampiri Bu Hana yang ternyata ada di depan rumah menantunya dengan kondisi yang sudah rapi dan siap berangkat.
Blush
Bu Hana langsung merasakan wajahnya menghangat, terlebih kala suara lelaki yang beberapa waktu terakhir ini terus mengusik tidurnya terdengar langsung di gendang telinga. Rasanya jantung Bu Hana pun ikut bermain genderang saking nervousnya.
Melihat itu, timbul niat jahil di benak Halim. Dengan cepat dia mengeluarkan baju kemeja yang sudah rapi dan mengacak acak rambutnya sendiri yang tadinya sudah di sisir oleh Laila dengan penuh cinta. Namun demi lancarnya acara pendekatan sang ibu dengan pria pujaannya itu, Halim rela menanggung akibat akan di marahi sepanjang hari oleh Laila karena merusak tatanan rambut yang merupakan karyanya itu.
"Oh, belum bos. Kami belum siap, bos sama ibu duluan saja nanti kami menyusul," sambar Halim cepat.
Mendengar itu, Bu Hana langsung berbalik dan matanya sontak membulat sempurna kala melihat anaknya yang tadinya sudah rapi kini jadi seperti gengster dengan rambut dan pakaian yang acak acakan.
Bu Hana mengangkat telunjuknya dengan tatapan penuh tanya dan keheranan.
"Loh, bukannya tadi kamu sudah ...."
"Aahahahah, iya Bu. Halim lupa tadi belum mandi wajib, hahahahh makanya sekarang Halim mau mandi dulu, takutnya nanti malah nggak bisa sholat. Sudah sana ibu sama bos berangkat aja, nanti lama kalo nunggu Halim sama Laila. Biar nanti kami nyusul saja setelah mandi wajib yang ke lima biar sekalian ibu punya cucu kembar juga nanti." Halim terkekeh sendiri dengan wajah sumringah yang sebenarnya di buat buat sih.
Tapi tak di sangka tak di nyana, rupanya setelah akting yang luar biasa dari Halim tadi. Laila yang sudah rapi dengan gamis warna coklat tua dan pasmina coklat susu itu keluar dari dalam kamar dan langsung syok melihat kondisi Halim yang berantakan.
"Astaghfirullah, Mas! Kamu apain rambut kamu ha?. Hasil karya ku selama tiga jam kamu acak acak begitu aja, Mas? Kamu gila ya?" serunya terdengar marah.
Halim nyengir, lekas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Namun sebelum pintu menutup sempurna, dia sempat menyembulkan kepalanya di sela pintu dengan senyum aneh yang bikin yang melihat tidak nyaman.
"Duluan aja, bos. Halim mau eksekusi yang ini dulu biar marahnya hilang. Dadah! Selamat berkencan."
Brakkk
Pintu tertutup sempurna, dan tak lama terdengar suara eksekusi yang di maksud Halim tadi dari dalam rumah.
Plakkkk
Plaaakkkk.
Pletakk
"Hih! Dasar suami nggak ada akhlak! Capek capek di dandanin malah di acak acak. Nih, rasain gamplokan sendok nasi hiaahhhh!"
Paaakkkkk
Ting, Ting, Ting K.O
Pak Jatmika dan Bu Hana yang masih berdiri di depan teras saling pandang, lalu tertawa bersama mendengar semua itu.
.
Setelah itu, entah siapa yang memulai mereka bergandengan tangan menuju ke mobil dalam suasana yang mendadak menjadi romantis. Desau angin yang menerbangkan daun daun mangga yang kering dan berguguran menimpa kepala dua sejoli yang tengah di mabuk cinta ke dua itu. Masa puber yang indah yang kembali hadir setelah menopause, ternyata sama indahnya dengan cinta SMA, eh.
"Setelah ini, kita juga bikin anak kembar ya," celetuk Pak Jatmika membuat Bu Hana sontak menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aaahhhhhh! Tidakkk!"