TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 173. TIADA MAAF.


__ADS_3

"Jangan paksa aku, Mama!" Fatur bangkit bediri dan berlari meninggalkan kamar itu.


 Indi langsung terisak di tempatnya, sedangkan Dara memilih mengejar Fatur.


"Tante kenapa nangis?" tanya Farah yang perlahan turun dari tempat duduknya dan mendekati Indi, mengelus pelan tangan Indi dengan tangan kecilnya.


 Indi mendongak, mendapati Farah menatapnya dengan mata bening nan polosnya.


"Jangan nangis, Tante." Fatan berkata lagi, sembari mengulurkan tangan menghapus air mata di wajah Indi.


 Indi semakin terharu, dan tanpa aba-aba di peluknya Farah dalam dekapannya.


"Maafkan Tante, Nak. Maafkan Tante sudah merebut kebahagiaan kalian, maafkan Tante. Tante berdosa sama kalian, Tante minta maaf tante menyesal."


 Farah yang kebingungan hanya membiarkan saja Indi dengan segala ungkapan penyesalannya, setelah di rasa cukup Indi melerai pelukannya dan menatap lekat mata bening keponakannya yang sudah di zoliminya itu.


"Tante ngomong apa? Farah nggak ngerti maksud Tante apa," gumam Farah sembari menggeleng geleng kan kepalanya lucu.


 Indi tersenyum kecil mendengar kepolosan Farah, entah mengapa dia berharap jika saja Fatur sepolos Farah. Tentu saat ini dia tak akan berada dalam kesulitan, tapi nyatanya tak ada yang akan berjalan sesuai keinginan manusia. Semua yang terjadi adalah bagian dari skenario Tuhan dan manusia sebagai bonekanya.


"Tapi kalo Tante minta maaf Farah mau kan maafin Tante?" tanya Indi dengan suara serak khas orang habis menangis.


 Farah mengangguk cepat. "Mau kok, kan kata Mama kalau orang lain minta maaf kita harus mau memaafkan, karna Allah SWT saja maha pemaaf."


 Indi tersenyum lagi, kali ini dengan haru luar biasa yang menyeruak di dalam dadanya.


" Terima kasih ya, sayang. Semoga saja Fatur bisa juga memaafkan tante seperti kamu."


 Farah mengangguk lagi, tangan kecilnya kembali mengambil potongan kue bolu dari dalam plastik dan memakannya perlahan.


"Memangnya Fatur marah kenapa, Tante? Kok nggak mau maafin Tante?" tanyanya lagi.


 Indi terhenyak, bingung harus menjawab apa yang mudah di mengerti Farah.


"Ah ... itu ... hmmmm, itu ...."


 "Loh, Mbak Fatur sama Mbak Dara kemana?".

__ADS_1


 Untungnya saat Indi tengah bingung, Elis masuk sembari mengelap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.


"Ah itu ... tadi Fatur lari keluar, Lis. Terus sama Mbak Dara di kejar." Indi menyahut.


 "Oooh," sahut Elis singkat lalu menjemur handuk kecil itu di jendela dan kembali duduk di dekat Farah.


"Mbak kok tiba tiba ada di sini lagi? Bukannya Mbak pindah ke desa sama ... hmmmm bapak?" tanya Elis yang kebingungan bagaimana menyebut Fatan saat ini, karna ada Farah di dekatnya jadi dia lebih memilih menggunakan kata bapak yang merujuk pada Fatan.


 Mendung lagi lagi tampak menggelayuti wajah Indi, tapi dia mengusahakan tetap tersenyum walau getir.


"Ada beberapa hal yang terjadi, yang memaksa saya akhirnya harus pergi dari rumah sementara ini."


 Elis kembali mengangguk sambil memainkan rambut panjang Farah dengan menyisirnya.


"Tadi Elis lihat di belakang ada bayi, itu ... bayinya Mbak indi ya?" tanya Elis lagi lebih hati hati karna Farah pasti mendengar.


 Indi tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya, padahal usianya belum genap satu bulan tapi sudah dua kali di bawa pergi jauh naik mobil."


 Tiba tiba Farah menoleh menatap Elis yang duduk di belakangnya. "Memangnya ada adik bayi ya Mbak El? Bukannya adik bayinya Mama masih di perut? Apa sudah keluar?" tanya Farah polos.


 Elis terkekeh. "Iya ada, tapi bukan bayinya Mama Dara. Bayinya Tante Indi, emangnya Farah belum ketemu sama adik bayinya?"


 Indi yang lagi lagi kebingungan untuk menjawab pertanyaan Farah hanya bisa tersenyum kecil saja.


"Mbak El, kita lihat adik bayinya yok. Farah pengen cium deh," ucap Farah sambil berusaha bangkit dengan berpegangan tangan Elis, kejadian pemukulan beberapa waktu lalu masih membawa dampak bagi keseimbangan tubuhnya, terkadang Farah masih suka terjatuh tanpa sebab jika tidak berpegangan dengan baik.


"Ayok lah, Mbak juga mau lihat. Boleh kan, Mbak Indi?" tanya Elis meminta persetujuan Indi terlebih dahulu.


 Indi mengangguk senang. " Boleh dong, tentu saja. Yuk kita ke kebelakang yuk.".


 Perlahan Indi bangkit berdiri, Elis yang sedang menggandeng Farah membantunya dengan sebelah tangannya yang bebas.


 Lalu dengan perlahan pula mereka melangkah menuju ke kamar belakang, bekas kamar yang di tempati Indi dulunya saat masih tinggal bersama Dara. Sebelum semua tragedi itu bermula.


"Bu," panggil Indi di depan pintu kamar, lalu membukanya perlahan.


 Tampak di dalam sana, Bu Maryam tengah menggantikan popok cucunya yang terdengar merengek pelan.

__ADS_1


"Wah, ada dedek bayi." Farah berseru kegirangan lalu berjalan cepat sembari menarik tangan Elis.


 Bu Maryam menoleh dan menyambut cucunya itu dengan senyuman.


"Ya ampun, cucu nenek sudah bangun? Duh cantiknya kamu, Nak." Bu Maryam menciumi puncak kepala Farah, sedang Farah langsung duduk di dekat bayi Indi yang mengerjabkan mata menatapnya balik itu.


"Iya, Nenek. Ini bayinya Tante Indi ya?" tanya Farah penuh semangat, tangan kecilnya tampak geram ingin memegang tapi tidak berani.


"Iya, ini bayinya Tante Indi. Cantik kan? Sama kayak Farah?" Bu Maryam menjawab dengan nada senang, sepertinya beliau begitu bahagia berada di antara cucunya tanpa perlu mendengar ucapan julid tetangga toxic.


 Untungnya semalam mereka sampai ke rumah dara hari sudah malam, jadi tidak ada tetangga yang melihat kedatangan mereka. Karna sebenarnya jika sampai melihat sudah bisa di pastikan rumah Dara pagi ini pasti akan ramai dengan tetangganya.


 "Bu, nitip Farah ya saya mau buatkan sarapannya dulu." Elis mendekat pada Bu Maryam.


 "Ah, iya iya silahkan." Bu Maryam tampak tak keberatan.


 Setelah itu Elis berjalan melewati Indi dan menuju dapur, dan mulai meracik sereal dan susu untuk sarapan si kembar yang biasa di siapkan.


Dari arah depan terdengar suara bercakap cakap, Elis sudah bisa menebak kalau itu pasti Dara yang tengah memberi pengertian pada Fatur. Dan beberapa kali mendapat sanggahan dari anak pintar itu.


 Saat tengah menuang susu ke dalam mangkuk, Elis di kejutkan dengan suara Zaki yang tampak baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.


"Lis, bikin sarapan ya?" tanyanya tanpa menoleh.


"Eh, iya Pak Zaki."


"Indi sama ibunya sudah makan?" tanya Zaki lagi.


 Elis menggeleng pelan. "Nggak tahu, Pak tapi kayaknya belum."


"Kamu tolong buatkan sarapan sekalian ya, mereka keluarga kita juga, perlakukan dengan baik ya selama mereka di sini." Zaki bergumam sambil menjemur handuk yang tadi gunakannya di tempatnya. --ini Zaki keluar kamar mandi sudah pakai pakaian lengkap ya --


"Iya, Pak siap." Elis mengangguk paham.


 Setelah itu Zaki melangkah menuju kamarnya tanpa berkata apa apa lagi. Dan di saat itu pula terdengar suara yang cukup besar dari arah depan rumah.


Bruuuaaakkkkkk

__ADS_1


"Tiidaakkkk! Faturrrr!"


__ADS_2