TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 39. TAK INGIN BERPISAH.


__ADS_3

"Mas, aku akan segera menikah. Tapi ... aku ingin setelah aku menikah nanti kita tetap seperti ini, apa bisa?" tanya Indi getir.


 Fatan segera menoleh menetap Indi lekat, mencari letak kebohongan di matanya yang sayangnya tidak dia temukan.


"Kamu ... akan menikah?"


 Indi mengangguk.


"Apa dengan Zaki?"


 Lagi, Indi mengangguk membenarkan.


 Fatan mendesah, dan kembali membuang muka ke arah lain.


"Mas tidak mungkin melarang kamu, menikahlah ... dan semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu nanti. Dan ... sepertinya lebih baik kita akhiri saja semuanya sampai di sini."


 Mata Indi membelalak lebar, hatinya sakit saat mendengar Fatan justru ingin semua hubungan mereka berakhir. Padahal hati Indi sudah sepenuhnya mencintainya lebih dari pada sekedar seorang kakak ipar.


"Tidak, Mas! kita sudah sejauh ini, bagaimana bisa kamu malah ingin berhenti dan bersikap seolah tidak ada apa-apa antara kita. Aku nggak bisa, Mas! Nggak bisa!" bentak Indi tak terima.


 Fatan tak bergeming, dia diam seribu bahasa mendengarkan semua umpatan Indi yang tak terima dengan keputusannya.


"Kamu sudah menikmati tubuh aku, dan kamu juga orang pertama yang melakukan itu, sekarang ... dengan mudahnya kamu bilang ingin mengakhiri semuanya? kamu masih punya hati nggak sih, Mas?" marah Indi lagi.


 Indi mengguncang tubuh Fatan yang masih terasa ngilu sampai Fatan mengaduh dan terpaksa menimpalinya agar dia bisa tenang.


"Indi tenanglah!"


 Mata Indi berembun, dia tidak rela jika harus berpisah dari Fatan hanya karna dia akan menikah.


"Aku terlalu mencintai kamu, Mas. Aku nggak bisa kalau harus berpisah dari kamu! apa tidak bisa kita tetap seperti ini diam-diam? seperti sebelumnya?" tanya Indi terisak.

__ADS_1


 Fatan menghapus air mata Indi dengan telunjuknya. "Kamu akan menikah, In. Dan kamu tau kan kalau sejak awal hubungan ini memang salah?"


 Indi semakin tergugu karna tidak ikhlas lebih mendominasi hatinya.


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku akan batalkan semua rencana pernikahan aku dan Mas Zaki."


 Indi beranjak hendak keluar dari ruangan tersebut, namun gerakan tangan Fatan yang menahannya ternyata jauh lebih gesit.


"Tidak, In! jangan gegabah, jangan lakukan itu!"


 Indi menepis tangan Fatan kasar.


"Aku bahkan lebih rela kehilangan semuanya ketimbang harus kehilangan kamu, Mas. Walau harus berhubungan dengan sembunyi-sembunyi seperti ini tapi itu lebih baik ketimbang aku harus benar-benar berpisah dari kamu!"


 Fatan mendesah, sejak dulu sangat sulit berhadapan dengan Indi jika dia mulai keras kepala.


"Hah, baiklah. Kita bisa tetap seperti ini, tapi Mas minta tetaplah menikah ... jangan buat siapapun curiga dengan mengambil keputusan besar seperti tadi. Tapi ... kita harus pandai bersikap dan jangan terlalu sering lagi menghabiskan waktu bersama, demi kebaikan kita juga."


"Terima kasih, Mas. Terima kasih," ungkap Indi terharu.


 Walau Indi masih kurang setuju jika harus mengurangi intensitas waktu kebersamaan mereka, namun itu bisa dia pikirkan lagi nanti. Yang terpenting saat ini, dia dan Fatan masih akan terus bersama walau harus bersembunyi di balik status mereka.


 Saat tengah asik terlarut dalam kebersamaan mereka, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba membuat Indi bahkan tak sempat bangkit dari tubuh Fatan yang tengah di peluknya.


"Loh, Mas? Indi? kalian ...."


****


Hari demi hari berlalu, kejadian di rumah sakit waktu itu rupanya tak mampu meluruhkan niat baik Zaki untuk tetap melamar Indi secara resmi.


 Baginya, kepercayaan pada pasangan adalah hal nomor satu, jadi tak ada sedikitpun gosip di luaran yang bisa menggoyahkan niatnya untuk menjadikan Indi sebagai pendampingnya.

__ADS_1


"Udah siap, Dek?" Dara masuk ke dalam kamar Indi untuk melihat persiapan adik semata wayangnya itu.


 Indi yang sudah selesai berdandan dengan memakai pakaian yang di belikan Dara tempo hari itu, kini tampak begitu cantik dan mempesona. Walau dari sisi manapun jika di bandingkan wajah Dara akan tampak lebih berseri dan meneduhkan ketimbang Indi.


"Gimana, Mbak? aku belajar dandan sendiri loh? liat tutorial." Indi mematut dirinya di depan cermin.


 Dara mendekat dan menelisik hasil riasan Indi yang memang tampak flawless dan natural.


"Cantik, tapi ... bukannya tadi di bantuin sama Elis ya?" celetuk Dara.


 Indi terkekeh. " Hummm iya sih, tadi Elis juga ikut bantu ngerapihin dikit. Soalnya aku kan belum mahir banget, Mbak. Lagi pula deg deg an makanya nggak bisa fokus."


 Dara tergelak dan menepuk pelan pundak adiknya itu. "Udah, nggak papa. Begini juga udah cantik kok, pasti nanti kalau Zaki liat kamu dia makin terpesona dan makin jatuh cinta dan kamu. Percaya sama Mbak."


 Indi tersenyum dan mengangguk, dia begitu bahagia hari ini. Mendapat calon suami yang baik dan penuh pengertian, namun masih tetap bisa menjalin hubungan terlarang namun penuh cinta dan gairah dengan kakak iparnya. Dan kini mendapat limpahan kasih sayang pula dari keluarga, kakak dan juga ibunya yang khusus datang dari kampung untuk menghadiri acara lamarannya.


"Hei, kalian lagi ngapain? ayo buruan ke depan! itu calon tunangannya Indi udah datang!" panggil Bu Maryam dari ambang pintu.


 Perempuan paruh baya yang sudah berstatus janda itu tampak anggun dengan gamis cantik yang di berikan Dara untuknya. Serta Dara juga sengaja meminta Elis yang mempunyai bakat terpendam sebegai perias untuk turut merias wajah sang ibu dan membuatnya tampak lebih segar dan berbeda dari biasanya.


Dara menuntun Indi menuju tempat acara, di sana sudah menunggu keluarga mereka juga keluarga dari pihak laki-laki yang ternyata juga sudah datang.


  Sesuai perkiraan Dara, Zaki tampak terperangah saat melihat Indi yang di dudukkan di hadapannya. Dia sampai tak berkedip dan ternganga jika saja sang Bunda tidak menyenggol lengannya.


 Zaki terkesiap menahan malu, sedangkan Bu Ambar- Bunda Zaki justru tergelak sambil berkata. "Biasa ... calon pengantin."


 Ucapan Bu Ambar mengundang gelak tawa semua yang hadir, dan tak berapa lama acara pertunangan sekaligus lamaran itu pun berjalan lancar. Di lanjutin dengan kesepakatan hari baik untuk melangsungkan pernikahan antara Zaki dan Indi, karna Bu Ambar sudah tak sabar untuk menimang cucu.


 Tapi, di sela semua kebahagiaan itu terselip sebuah rasa sedih dan kecewa yang tengah di pendam Dara seorang diri di dalam lubuk hatinya. Kekecewaan yang begitu mendalam yang bahkan baru pertama kali di rasakannya.


"Mbak, kenapa?" bisik Elis ketika tak sengaja melihat Dara meneteskan air matanya dan menyusutnya diam-diam.

__ADS_1


 Dara menatap Elis dengan mata berkaca-kaca. "Mas Fatan, El. Dia ...."


__ADS_2