
Dua bulan berlalu, hari demi hari yang sunyi juga hampa di rasa sebagian orang berlalu dalam diam. Kini, semua sudah berjalan sebagaimana apa yang mereka lakukan.
Pagi itu.
"Aaakhhh, Mas! Mas Zaki tolong aku, Mas!" seru Dara dari dalam kamar mandi, niatnya yang hanya ingin mencuci muka dan memakai lulur malah berakhir dengan ngeri karna ternyata air ketubannya tak sengaja pecah saat dia tengah membasuh wajahnya.
Zaki datang dengan tergopoh-gopoh, karna baru saja dari kamar mandi belakang untuk menunaikan panggilan alamnya.
"Sayang! Ada apa ! Kenapa teriak teriak?" seru Zaki cemas, maklum saja ini pengalaman pertamanya menjadi ayah, jadi dia belum banyak tahu apa yang harus di lakukan walau sudah berlatih tapi dalam prakteknya tetap saja bikin parno dan lupa semua hasil latihannya.
"Mas, perut aku sakit banget, Mas. Kayaknya ini sudah mau lahir bayinya," sahut Dara dengan suara gemetar.
Zaki berinisiatif memegangi tubuh Dara, menuntunnya ke atas ranjang dan membantunya duduk.
"Tunggu sebentar ya, Mas panggil bunda dulu," tandas Zaki dan langsung berlalu begitu saja keluar kamar meninggalkan Dara yang masih meringis kesakitan.
Tak lama Zaki kembali dengan sang bunda, Bu Ambar yang memang sejak beberapa waktu belakangan lebih memilih tinggal bersama anak dan menantunya datang dan tersenyum pada Dara.
"Yang sabar ya, Nak. Kita ke rumah sakit sekarang, Zaki kamu bersiap. Siapkan mobil dan bawa koper yang kemarin sudah bunda kemas, setelah itu kembali ke sini bantu Dara masuk ke mobil pula," titahnya.
Zaki mengangguk paham, cepat meraih kunci mobil dan berlalu ke garasi. Sedang Bu Ambar mengambil posisi mengelus bagian tulang ekor dan punggung Dara untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri yang tengah melanda sang menantu.
"Istighfar ya, Nak jangan putus istighfar. Insyaallah kamu kuat ya," ucap Bu Ambar masih terus mengusap punggung dan pinggul Dara.
Dara mengangguk, sesekali masih merintih karna rasa sakit yang luar biasa terus datang dan membuat seluruh persendiannya seolah akan putus.
"Sudah, Bun ayo kita berangkat." Zaki datang dan langsung membantu memapah Dara menuju mobil.
"Sebentar, Zaki . Bunda telpon Elis dulu biar langsung ke sini, anak anak belum bangun soalnya." Bu Ambar berhenti di muka pintu, dan memegang ponselnya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya semua urusan selesai dan Bu Ambar langsung naik ke mobil mengambil posisi tepat di samping Dara untuk kembali memijat tulang ekornya.
"Sudah, ayo cepetan berangkat. Jangan lupa baca bismillah ya," tukas Bu Ambar yang di angguki oleh Zaki.
Tak lama setelah mobil keluar dari pagar rumah, tampak dari kaca spion kalau Elis langsung datang dengan tergopoh-gopoh. Hal itu membuat Bu Ambar lega dan merasa tenang meninggalkan si kembar karna ada yang menjaga. Setelah ini Bu Ambar barulah bisa fokus pada Dara yang kini memeluk tubuhnya entah sadar atau tidak, karna kenyataannya kontraksi melahirkan memang sesakit itu.
"Ke rumah sakit tempat biasa kamu antar Dara periksa saja, Zaki. Agak jauh nggak papa cuma beda lima menit kok dari rumah sakit yang di depan ini," pungkas Bu Ambar tiba tiba.
"Kenapa gitu, Bu? Di sini aja yang dekat, kasihan Dara sudah kesakitan begitu, Bun." Zaki berdalih dengan raut wajah cemas, berkali kali dia menatap kaca spion dalam untuk melihat kondisi sang istri yang memperihatinkan.
"Sudah, turuti saja kata bunda. Jangan membatah," tegas Bu Ambar pula.
Akhirnya karena tak ingin berdebat, Zaki memilih menurut dan menaikkan laju mobilnya menuju ke rumah sakit dimana tempat biasa dia membawa Dara periksa kandungan.
Ckitttt
Mobil berhenti di depan ruang gawat darurat, Bu Ambar keluar memanggil beberapa orang petugas jaga untuk segara membawa menantunya.
"Loh, Mbak Dara? Sudah mau lahiran? Ayo langsung di bawa saja ke ruangan," celetuk salah seorang dokter kandungan wanita yang sering di datangi Dara dan memeriksa kandungannya.
Dokter itu tak banyak cakap, bergegas masuk ke dalam ruangannya dan kembali dengan seragam lengkap untuk membantu pasien partus.
"Apa bapak mau menemani istrinya di dalam?" tanyanya sebelum masuk ke ruangan dimana para perawat tadi membawa Dara.
Zaki menatap bingung pada sang ibu, namun lekas Bu Ambar mendorong bahunya agar mengikuti langkah dokter itu.
"Sudah sana temani istrimu berjuang, bunda mau ke administrasi dulu.".
__ADS_1
Akhirnya Zaki mengangguk walau sebenarnya agak takut juga sebab ini pengalaman pertamanya mendampingi seorang wanita yang akan melahirkan walau itu istrinya sendiri.
"Aaahhh, sakit sekali."
Terdengar suara erangan Dara dari dalam sana begitu pintu ruangan di buka. Dokter wanita yang sebelumnya mengajak Zaki masuk itu langsung mengarahkannya untuk berdiri di samping Dara. Memintanya memberi semangat dan mendoakan sang ibu juga calon bayi mereka yang sebentar lagi akan segera keluar ke dunia.
"Sayang, ini Mas di sini kamu jangan takut ya. Mas akan temani kamu, yang kuat ya, Sayang. Demi anak kita," gumam Zaki di dekat telinga Dara.
Dara meliriknya sekilas dengan wajah yang sudah bersimbah peluh, lalu Dara pun mengangguk di sela menahan sakit di tubuh bagian bawahnya terutama di bagian pinggang.
"Bukannya sudah lengkap, nanti kalau terasa sakit lagi bisa langsung mengejan saja ya, Mbak Dara." dokter yang sering menangani Dara tadi bicara agak keras, hingga Dara mendengarnya dengan jelas di sela kesakitannya.
Tak menunggu lama, akhirnya sinyal cinta itu datang lagi semakin kuat dan membuat Dara tak kuasa menahan keinginan untuk mengejan.
"Iya, bagus Mbak. Benar begitu, ayo tarik nafas lagi, rambutnya sudah mulai kelihatan itu," ucap sang dokter yang hanya seorang diri menunggu di bawah sana. Sementara perawat yang lain tengah sibuk menyiapkan alat alat lain yang akan di gunakan setelah kelahiran termasuk pakaian yang akan di kenakan bayi yang di ambil dari koper yang di berikan Bu Ambar sebelumnya pada mereka.
"Sayang kamu kuat, Anak kita bergantung sama kamu. Semangat ya, sebentar lagi kita ketemu buah hati kita," bisik Zaki lagi memberi kekuatan lebih lagi untuk sang istri.
Tampak sekilas Dara tersenyum sebelum akhirnya sinyal cinta yang lebih kuat dan keras ketimbang yang sebelum sebelumnya datang dan menbuatnya lekas kehilangan rasa sakit yang sejak tadi meraja di tubuh bagian bawahnya.
"Alhamdulillah," ucap sang dokter dengan wajah tersenyum merekah.
"Alhamdulillah, " gumam Zaki pula sambil menjatuhkan kecupan di kening Dara yang masih basah berbulir keringat.
Dara yang tampak kelelahan langsung menutup matanya dan mengatur nafas yang tersengal-sengal, Zaki mengusap peluh di kening istrinya sedang suara tangisan bayi memenuhi ruangan yang tak terlalu besar itu. Zaki meneteskan air matanya tanpa sadar, semua hal yang terjadi di depan matanya hari ini membuat batinnya tersentuh dan semakin mencintai sang istri, yang bahkan rela hampir meregang nyawa hanya untuk melahirkan zuriat yang dia titipkan sembilan bulan yang lalu.
"Pak, ini bayinya sudah di bersihkan. Silahkan kalau mau di azani dulu," ucap seorang wanita muda berpakaian perawat sembari tersenyum ramah.
Di dalam gendongannya seorang bayi mungil yang tampak mengedip ngedipkan matanya padahal tadi masih terdengar suara tangisnya yang melengking sekali.
Dara membuka mata, dan mengulum senyum melihat malaikat kecil yang sebelumnya masih berada di dalam perutnya kini sudah berpindah dan tengah memakai bedong yang kemarin dia belikan satu set di aplikasi orens.
"Azani dulu dia, Mas." Dara berkata lemah.
Zaki menoleh dan mengecup kening Dara sekilas. "Iya, sebentar ya. Mas azani anak kita dulu."
Suster itu membawa si bayi kembali ke dalam box khususnya, dan meletakannya di sana. Sedang Zaki langsung bersiap hendak mengazaninya, setelah berwudhu di kamar mandi rumah sakit sebelumnya.
"Allahuakbar, Allahuakbar ...."
Suara azan dari bibir Zaki terdengar begitu merdu, dokter dan suster yang tengah membersihkan semua sisa partus Dara sempat saling pandang dan tersenyum mendengar suaranya. Begitu merdu dan menenangkan, bahkan bayi yang tengah di azani pun seolah terbuai dengan suara indah ayahnya.
Setelah mengazani bayinya, Zaki lekas kembali ke dekat sang istri. Menatap lekat wajah yang tampak sangat kelelahan itu.
"Terima ya, sayang. Anak kita lahir selamat dan sehat, dia cantik sekali seperti kamu."
Dara tersenyum simpul. "Anak kita perempuan?" tanyanya.
Zaki mengangguk mantab. "Iya, tapi Alhamdulillah wajahnya mirip aku. Kamu kebagian bibirnya aja m, sayang."
Zaki terkekeh kala melihat wajah merengut Dara, wajah yang semula tampak lelah itu kini terlihat lebih segar dan bersemangat.
"Nah kan. Sesuai yang kita prediksi kemarin, bayinya tunggal dan jenis kelaminnya perempuan. Untungnya Pak Zaki bawa Mbak Dara melahirkan di sini, jadi saya sudah tahu apa yang harus di lakukan. Sebab riwayat melahirkan Mbak Dara sebelumnya kan sesar, salut sekali sama Pak Zaki pokoknya," celetuk dokter yang baru saja selesai membersihkan tubuh bagian bawah Dara dan memasang pembalut khusus nifas untuknya.
"Alhamdulillah, terima kasih Bu dokter." Zaki membalas tersenyum.
__ADS_1
*
Sebuah ruangan VIP menjadi pilihan Zaki untuk tempat perawatan istrinya pasca persalinan. Tempat yang nyaman dan tenang, sangat penting untuk seorang ibu yang baru melahirkan agar kondisi mentalnya tetap stabil.
"Subhanallah, cantiknya cucu Oma. Mirip sekali sama papa kamu waktu bayi," celetuk Bu Ambar sembari mengangkat bayi yang baru saja di antarkan perawat itu ke kamar.
Bayi itu menggeliat, terbangun dari tidur lelapnya karna di ciumi oleh sang nenek.
"Bunda, jangan begitu pegangnya nanti jatuh, Bun " Zaki menatap ngeri melihat cara Bu Ambar menggendong bayinya.
Namun anehnya bayi yang masih merah itu tampak nyaman saja dan tidak menangis.
"Haish, kamu itu katrok. Justru di gendong begini bayi itu jadi lebih nyaman karna seperti di dalam perut ibunya," kilah Bu Ambar sambil mengambil bayi yang dia sandarkan di perutnya dalam bentuk m shape itu dan menggendongnya dengan cara biasa.
"Tapi kan Zaki takut jatuh, Bun." Zaki bersungut-sungut sambil mengelus kepala bayinya yang masih sangat jelas terlihat denyutan di sana.
Zaki meringis ngeri melihatnya.
"Bun, itu apa di kepalanya? Kok masih gerak gerak? Apa bayi kita punya kelainan ya, sayang?" cetus Zaki spontan.
Plakkkk
Tanpa ampun Bu Ambar menepuk mulut Zaki, dan membuat Zaki kaget bukan main dengan tatapan tak terima.
"Sembarangan mulutmu itu, ini ubun ubun namanya. Kalau bayi baru lahir emang masih lembut, karna tulang tengkoraknya belum menutup sempurna. Nanti seiring bertambahnya umurnya bakalan nutup sendiri, aneh anak sendiri di bilang kelainan. Bocah edan," gerutu Bu Ambar sambil meletakkan bayi mungil itu ke dalam pelukan Dara.
Dara terkekeh kecil sambil melirik wajah cemberut suaminya, namun yang di tatap malah memasang wajah memelas dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah nggak usah lebai! Diem kamu di situ, atau nggak pergi keluar sana beliin makanan enak buat istrimu. Kasihan tahu, Dara pasti capek habis melahirkan. " Bu Ambar berkata ketus.
"Kamu mau makan apa, Nak? Sebut aja, biar Zaki yang belikan apa aja buat kamu." Kini Bu Ambar beralih bicara pada Dara, dengan nada lembut seperti pada anak sendiri. Zaki merasa di anak tirikan di sini. Namun ingin ngambek takut nanti malah di kutuk jadi malin tak di Kundang. Eh gimana gimana?
"Memangnya boleh makan apa aja, Bun? Bukannya kalau baru melahirkan itu harus di pantang makanannya?" tanya Dara heran, sebab dulu ketika baru saja lahiran si kembar Bu Maryam selalu melarangnya makan ini dan itu karna alasan pantangan. Bahkan air minum pun dia hanya di jatah setengah gelas setiap kali makan dengan dalih takut nanti PD nya bengkak jika kebanyakan minum.
Dan itu pula lah yang menyebabkan si kembar saat bayi sering rewel dan menangis. Belum lagi pantangan pantangan aneh lainnya yang sebenarnya tak masuk di nalar, namun dulu terpaksa dan lakoni Dara karna hanya Bu Maryam yang berkenan merawatnya setelah melahirkan sebab orang tua Fatan sudah berpulang.
"Huh, pantangan pantangan apa ? Nggak ada kalo sama bunda pantang pantang, aneh itu namanya. Ibu yang habis melahirkan itu butuh nutrisi lebih banyak ketimbang sebelumnya. Apalagi sekarang yang di beri makan itu bukan hanya perut kamu, tapi juga bayi kamu. Sudah sebutkan saja kamu mau makan apa, biar Zaki yang belikan ." Bu Ambar berkata tegas.
Dara mengulum senyum. "Kalau begitu, Dara mau bakso bening ya, mas."
Sebelum mengangguk Zaki terlebih dulu melirik ibunya. "Emang boleh, Bun?"
Bu Ambar berdecak. "Ya boleh lah, asalkan baksonya jangan terlalu pedas. Yang berlebihan itu yang nggak boleh. Kalau masih dalam batas wajar tentu saja boleh."
"Ya sudah, Mas belikan dulu ya. Bunda mau makan apa? Biar sekalian," imbuh Zaki.
"Bunda samain aja, kalau ada sih bakso jumbo buat bunda." Bu Ambar terkekeh.
"Huuu kesempatan dalam kelebaran ya, Bun?" gerutu Zaki, namun tak urung langkahnya keluar juga untuk membelikan pesanan istri dan ibunya.
Namun ketika di luar, hendak masuk ke dalam mobilnya Zaki di kejutkan oleh sebuah tepukan tangan seseorang di pundaknya.
"Zaki," lirih seseorang yang menepuk pundaknya tadi.
Cepat Zaki menoleh dan mendapati wajah yang tak asing di belakangnya.
__ADS_1
"Bu Zaenab? Ngapain ibu di sini?" serunya kaget.