
"Dara stop!" sela Fatan cepat. "Mas sama Indi sudah nggak pernah lagi berhubungan. Kamu boleh pasang CCTV di mana saja dan perhatikan saja gerak gerik kami di rumah ini. Toh lingkungan kami sekarang cuma di sekitar rumah ini kecuali kamu izinkan kami keluar."
Dara mendesah berat. "Yah, aku cuma meminimalisir kamu dan Indi jadi bulan-bulanan warga. Asal kamu tau, kalau aku itu sedang menyelematkan kalian."
"Tapi tidak dengan mengurung kami semua di dalam rumah kan, Dara? Bahkan si kembar pun lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama Elis sekarang ketimbang di rumah. Kalaupun di rumah mereka pasti langsung di bawa masuk ke kamar. Kamu egois, Dara. Bahkan sekarang anak-anak ku pun kamu jauhkan dari aku. Kenapa kamu jadi seperti ini sih, Dara? Kemana Dara yang dulu yang lembut dan penuh kasih sayang ke aku dan kek anak-anak? Kembalikan Daraku yang itu ku mohon kembalikan!" Fatan jatuh terduduk sambil memegangi kaki Dara.
Tapi Dara yang kesal malah menendang tangan Fatan hingga terlepas dari kakinya.
"Apa kamu bilang, Mas? Kembalikan Dara yang dulu? Kalau begitu, kembalikan juga suamiku yang dulu. Yang sayang padaku dan keluarga, yang selalu berusaha yang terbaik untuk kami, dan yang terpenting ... yang tidak mudah tergoda wanita lain walau secantik apapun yang dia tawarkan. Apa kamu sanggup, Mas?"
Fatan tergugu, dia sadar tak akan pernah bisa mengabulkan permintaan Dara. Tapi dengan cerobohnya malah meminta hal yang tidak mungkin di raihnya lagi dari Dara. Istri sempurna yang sudah dia khianati hingga akhir, dan kini menyesal pun tak akan ada gunanya lagi.
"Dara ... nggak bisakah kita mulai lagi semuanya dari awal? Mas janji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi." Fatan memohon.
Dara menggeleng, tanpa sadar air mata nya ikut jatuh membasahi pipi.
"Kamu bisa janji untuk tidak mengulangi dengan orang yang sama, Mas. Tapi tidak menutup kemungkinan kami akan mengulangi lagi dengan wanita lain."
Fatan menggeleng. "Tidak akan! Mas janji dan Mas bersumpah! Siapapun dia tidak akan Mas biarkan hati ini kembali tergoda."
Dara bergeming, semua drama ini benar-benar membuatnya lelah dan pusing.
"Maaf, Mas. Tapi keputusan ku sudah bulat. Setelah kamu mendapat pekerjaan dan tempat tinggal baru nanti, silahkan keluar dari rumah ini dan kita bercerai. Aku sudah lelah ... aku menyerah dengan semuanya, Mas. Kesalahanmu fatal dan tak terampuni."
"Tapi, Dara ...."
__ADS_1
"Sudahlah, Mas. Kita sudah selesai ... tolong jangan memaksa," ucap Dara sambil beranjak hendak menuju kamar.
Tepat saat Dara baru melangkah hendak pergi, Indi masuk dari luar dengan membawa pel dan ember.
Byurrrr
Air yang di bawanya tumpah mengenai Dara karna jalannya yang tergesa-gesa dan tidak melihat ke depan.
"Astaga, Indi! Kamu jalan pake mata nggak sih? Lihat baju Mbak jadi basah semua! Terus lantainya juga, pokoknya kamu harus selesai kan semua ini dulu." Dara berteriak berang.
Bu Maryam yang sejak tadi berdiam di dapur pun terkejut dan gegas mendekati Indi untuk membelanya dari kemarahan Dara.
"Dara, tolong jangan marahi Indi lagi. Kasian dia, Dara. Kamu akan tau sejak kecil dia nggak pernah ngerjain semua pekerjaan rumah. Dan di sini dia harus ngelakuin semua itu, jadi tolong maklumi kalau dia masih suka salah, Dara. Kan sejak dulu juga kamu yang paling mengerti Indi," bujuk Bu Maryam agar Dara tak melanjutkan kemarahannya.
Tapi sayang seribu sayang, Dara yang sudah tersulut sangat sulit untuk bisa membuatnya luluh.
Emosinya melegak setiap kali Bu Maryam ataupun Fatan mulai bersuara membela Indi. Sudah habis semua kasih sayangnya untuk mereka hanya kemarahan dan rasa jijik yang ada kini.
"Dara ... tolong tenang, Indi pasti nggak sengaja. Biar Mas bantu bersihin semuanya ya," celetuk Fatan sambil mengambil alih ember pel yang sudah kosong itu dari tangan Indi.
Dara memandang semua itu dengan tatapan sinis, bahkan di situasi seperti ini pun Fatan masih tidak sadar dan malah membela Indi di hadapan Dara langsung.
"Yah, kamu bisa bersihkan semua kesalahan yang sudah Indi buat, Mas. Silahkan, kalau perlu sekalian kamu bagi jatah makan kamu pagi ini untuk dia. Karna sekarang aku nggak akan kasih dia makan sampai perasaan ku pilih." Dara berjalan meninggalkan mereka yang terpaku di tempatnya masing-masing.
Mereka tau apa yang Dara katakan bukanlah main-main, hampir di setiap sudut rumah itu kini terpasang CCTV. Bahkan tikus pun akan sangat sulit untuk mencuri makanan di dapurnya. Apalagi mereka.
__ADS_1
"Ah ya satu lagi." Dara berbalik. "Kalian mungkin bisa memberi dia sisa makanan ku yang tidak habis di meja itu, tenang saja aku ikhlas kok. Seperti halnya aku ... mengikhlaskan kamu untuk bisa bersama dia, Mas Fatan."
Semakin terpaku lah mereka mendengarnya, mereka tau kalau sakit hati Dara sudah sampai pada puncaknya. Puncak tertinggi dari halnya mencintai, yaitu mengikhlaskan.
****
Di tempat lain.
"Jadi mereka anak asuhnya keponakan kamu?" tanya seorang dokter tampan pada Laila yang tengah mengawasi si kembar yang bermain di halaman rumah selagi menunggu Elis selesai mandi.
"Iya, Pak dokter. Mereka kembar, dan baru beberapa bulan ini jadi anak asuhnya Elis." Laila menjawab pelan.
Pria itu mengangguk, dia memang sengaja datang ke tempat itu karna di minta oleh seseorang untuk mencari tau perihal bocah kembar yang hanya ada sepasang saja di lingkungan itu.
"Sepertinya mereka lebih sering ada di sini akhir-akhir ini," cetus pria itu sambil menyulut rokok dan menghisapnya dalam.
Pria itu memang menyewa sebuah rumah kecil yang berada di depan rumah Laila, tujuannya ya itu tadi, mencari tau apa yang terjadi dengan si kembar dan keluarganya.
Laila mendesah. "Iya, orang tuanya sedang ada masalah. Jadi ... Mamanya yang minta Elis bawa mereka main di sini. Karna nggak mau kalau anak-anak sampai mendengar perdebatan mereka di rumah."
"Pak dokter ...."
"Ah, panggil saja Halim. Nama saya Halim, jangan panggil Pak dokter terus dong. Kan saya jadi malu," celeguk Halim menutup mulutnya dengan tangan.
Laila tersenyum malu dan mengangguk. "I- iya, Pak Halim."
__ADS_1
Halim tertawa lepas karena lucu melihat wajah malu-malu Laila yang begitu menggemaskan di matanya. Sepertinya misinya kali ini akan berjalan dengan lancar dan tentunya membahagiakan.
(Bos, target sepertinya sedang dalam kondisi rumah tangga yang kurang baik. Untuk info lengkapnya akan saya cari tau lebih dulu) ketik Halim di ponselnya tanpa sepengetahuan Laila yang masih sibuk dengan semburat malu di pipinya.