
Bu Zaenab berlari memburu suaminya yang ternyata berjalan cepat menuju rumah mereka, tak sampai di sana saja Pak Jamal dengan wajah marah tampak masuk ke dalam kamar dan mulai mengobrak-abrik lemari berbahan kayu jati yang menjadi tempat penyimpanan pakaian dan berkas penting mereka, tak terkecuali uang.
"Pak, pak. Ibu mohon dengarkan ibu dulu, ini nggak seperti yang bapak kira." Bu Zaenab menjatuhkan diri di bawah kaki suaminya yang tampak kalap menjatuhkan semua pakaian mereka dari lemari hingga berserakan di lantai.
Bu Zaenab tak kehabisan akal, dia memeluk erat kaki Pak Jamal hingga pria tua yang kepalanya masih terbalut perban itu kesulitan untuk bergerak bebas.
"Lepaskan kaki ku, Bu." Pak Jamal berusaha menyentak tubuh Bu Zaenab agar tak menghalangi pergerakannya.
Tapi Bu Zaenab malah menangis terisak seolah di sini dialah yang paling terdzolimi.
"Huhuhu ... tidak bisakah bapak mendengarkan ibu sebentar saja? Ibu nggak seperti yang bapak kira, ibu melakukan semua ini karna ibu peduli sama keluarga kita!" seru Bu Zaenab memulai drama baru.
Pak Jamal mendesah, berusaha mendapatkan kembali kewarasannya karena tak tega melihat tangis istrinya yang sudah membersamainya sejak dua puluh tahun lalu itu.
"Kau membuatku malu, Bu." Pak Jamal bergeming, menjatuhkan diri ke atas ranjang tidur yang hanya berjarak beberapa langkah dari depan lemari. Sementara Bu Zaenab sudah melepas pegangannya di kaki Pak Jamal.
Bu Zaenab tergugu, mendekat dan kembali memeluk kaki suaminya sembari membaringkan kepalanya ke atas pangkuan Pak Jamal walau Pak Jamal tampak membuang muka ke arah lain.
"Maafkan ibu, Pak ibu terpaksa melakukannya."
"Apa maksudmu terpaksa, Bu? Kamu berbohong demi bisaa memeras keluarga Zaki dan Dara. Padahal mereka sudah begitu baik hati mau membayar semua biaya rumah sakit kemarin dan juga memberi kita yang saku selama di sana. Uang itu bahkan jumlahnya nggak sedikit, Bu masih cukup untuk kuta bertahan selama beberapa Minggu tanpa bekerja. Dan sekarang? Apa yang tadi bapak lihat? Huh? Ibu meminta tambahan uang lagi pada mereka dengan mengatas namakan bapak, Bu? Bapak nggak habis pikir ibu bisa bertindak sejauh itu." Pak Jamal meluapkan semua kekesalannya yang sejak tadi di pendam pada sang istri, Bu Zaenab diam mendengarkan dengan wajah basah penuh air mata hingga membasahi celana sarung yang tengah di kenakan Pak Jamal sebab posisinya yang berebahkan kepala di pangkuannya.
"Ibu, ibu cuma takut kita kekurangan, Pak," Isak Bu Zaenab mencoba membela diri.
"Memangnya siapa kamu bisa langsung menilai Kalau kita akan kekurangan, Bu? Semua sudah di atur oleh Gusti Allah SWT, bahkan sisa uang yang kemarin sempat di berikan Zaki dan Dara masih sangat cukup untuk kita, lagipula sebentar lagi bapak juga sudah sembuh total dan bisa bekerja lagi. Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan, Bu? Kenapa kamu jadi sepicik itu memeras orang lain dengan dalih balas budi?" sentak Pak Jamal marah, benar benar kesal dan tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang semakin menjadi jadi.
Bu Zaenab tak lagi menjawab, hanya tangisannya saja yang masih terdengar sesekali. Dengan perasaaan tak menentu Pak Jamal mengangkat kepala Bu Zaenab dan memindahkannya ke kasur sedang dia sendiri bangkit dan langsung kembali menuju lemari yang sebagian besar isinya kini sudah berpindah ke lantai dengan susunan yang sudah acak acakan.
"Sekarang katakan, Bu dimana uang yang kamu minta dari Dara dan Zaki kemarin."
Bu Zaenab sontak bangkit dengan mata membulat sempurna. "Mau apa, Pak?"
Tanpa menoleh Pak Jamal menjawab. "Akan aku kembalikan lagi pada mereka, itu bukan hak kita. Sangat tidak tahu malu sekali jika sampai memakan uang tersebut sedang sebelumnya keluarga mereka bahkan sudah memberi tanda ucapan terima kasih yang berlebih."
"Tapi, Pak ...."
"Katakan saja ada di mana uang itu! Jangan sampai membuatku semakin marah dan melupakan kalau kamu masih istriku, Bu!" bentak Pak Jamal keras hingga membuat Bu Zaenab terkesiap kaget bahkan sempat mematung beberapa detik karna terkejut.
Untuk pertama kalinya sang suami membentaknya karna lebih membela tetangganya, bahkan dulu sefatal apapun kesalahan Bu zaenab, Pak Jamal hanya akan menasehatinya dengan lembut tanpa kata kata kasar dan keras sama sekali. Hingga sekarang saat untuk pertama kalinya Bu Zaenab mendengar kata kata keras suaminya ia langsung merasa seolah jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.
"Kamu mau mengatakan atau ku lemari ini ku bongkar semua lalu ku buang semua pakaian mu yang ada di dalamnya, Bu? Sudah siapkah kamu pergi dari rumah ini kembali ke rumah orang tuamu? Aku sudah muak, Bu lelah dengan semua sikapmu yang seolah tak bisa lagi di perbaiki itu, aku lelah! Aku capek sekali, bahkan sudah hampir tiba di masa tua kita pun kamu masih belum berubah? Kenapa, Bu? Kenapa?" Pak Jamal mulai ikut tergugu, saking beratnya beban yang ternyata dia pikul sendiri selama ini. Semua menguap hari ini, semua dia keluarkan hari ini di depan istri yang selama ini begitu di ayominya tapi sama sekali tak bisa merubah kelakuannya, sombong, tinggi hati juga suka memanfaatkan orang lain dengan menjual kebaikan suaminya yang sebenarnya di lakukan dengan ikhlas.
__ADS_1
Bu Zaenab termangu, tak berani menjawab barang satu patah katapun. Lidahnya kelu dan hanya bisa memandangi punggung suaminya yang tampak bergetar.
"Kamu hanya diam, Bu? Baiklah jangan salahkan bapak kalau akan bertindak lebih kasar dari ini."
Pak Jamal mulai bergerak, mengeluarkan sisa pakaian yang masih tersusun di dalam lemari dengan kasar dan tak lupa memeriksa setiap lipatannya mencari dimana sebenarnya uang milik Dara dan Zaki yang di minta istrinya berada.
Seluruh pakaian sudah berpindah keluar lemari, masih saja tak di temukan uang itu. Pak Jamal tak habis akal di bukanya laci laci yang ada di sana, hingga akhirnya matanya tertumbuk pada setumpuk uang berwarna merah yang tersembunyi di balik selembar kertas putih kosong.
Di raihnya uang itu tanpa ketinggalan barang selembar pun, kemudian tanpa kata Pak Jamal berjalan cepat keluar dari rumahnya hendak menuju ke rumah Zaki yang tepat berada di sebelah rumahnya hanya berbatasan dengan tembok dan taman kecil milik Dara yang di tanami pohon sereh untuk memasak.
Grekk
Greekkk
Pintu pagar rumah Dara terkunci, Pak Jamal mencoba memanggil sang pemilik rumah dengan berteriak.
"Mbak Dara! Pak zaki!"
Setelah panggilan yang ketiga barulah pintu utama rumah Dara terbuka, dari sana keluar Bu Ambar yang rupanya belum kembali pulang ke rumahnya.
"Ada apa ya, Pak?" tanyanyaa dengan nada datar, sedatar wajahnya yang memang tak merasa punya masalah dengan Pak Jamal, kecuali itu adalah istrinya Bu Zaenab sudah bisa di pastikan kalau Bu Ambar akan memasang wajah horor siap menerkam mangsanya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Bu Ambar membuka kunci pagar lalu menutupnya kembali setelah Pak Jamal masuk. Dia juga sudah mewanti-wanti kepada Dara dan Zaki agar tak lagi membiarkan pintu gerbangnya terbuka begitu saja karna khawatir tamu tak di undang terus merongrong mereka nantinya.
"Pak zakinya masih ada kan, Bu?" tanya Pak Jamal sembari berjalan beriringan dengan Bu Ambar menuju teras rumah Dara.
Bu Ambar mengangguk. "ada, biar saya panggilkan dulu. Bapak silahkan tunggu di sini ya."
Pak Jamal mengangguk, sedang Bu Ambar kembali melangkah masuk ke dalam rumah dan tak lama kembali lagi bersama Zaki yang penampilannya kini tampak lebih rapi karna sudah menyempatkan mandi sebelumnya.
"Pak Jamal?" Zaki duduk di kursi teras yang bersebelahan dengan Pak Jamal, sedang Bu Ambar memilih berdiri di sebelahnya.
Pak Jamal tersenyum sungkan, sembari mengeluarkan gepokan uang dari dalam baju yang dia kenakan dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Zaki.
"Apa ini, Pak Jamal?" tanya Zaki berpura tak mengerti, padahal sebenarnya dia sudah bisa menebak maksud pria paruh baya yang terkenal baik hati tersebut.
"Saya, mau mengembalikan uang yang sudah di pinta istri saya, Pak Zaki. Saya mewakili istri saya, meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Pak Zaki dan Mbak Dara yang pastinya merasa di repotkan oleh istri saya, saya ... benar benar minta maaf untuk itu." Pak Jamal berkata sambil menunduk, masih berat sekali di hatinya kala mengingat betapa tak tahu malunya istrinya saat meminta uang tersebut apalagi sampai menjual namanya dan kebaikannya hingga kesannya Pak Jamal tak ikhlas melakukan itu semua.
"Ya ampun, Pak. Bapak itu aslinya baik sekali kok bisa dapat jodoh kayak si Zaenab itu? Sama sekali tidak cocok," cerocos Bu Ambar yang semakin geram sekali dengan tingkah Bu Zaenab yang sangat berbanding terbalik dengan sang suami.
Pak Jamal diam tak menjawab, membiarkan orang lain menilai seperti apa yang terlihat. Toh menjelaskan sepanjang apapun pada orang yang jelas jelas tak suka hanya akan membuang waktu percuma. Tapi alasan lainnya Pak Jamal diam tentu saja karna apa yang di katakan Bu Ambar adalah benar dan memang kenyataannya begitu, dan Bu Ambar bukanlah orang pertama yang mengatakan hal demikian.
__ADS_1
"Pak?" Zaki menoleh pada Pak Jamal yang terlihat tak nyaman, mungkin karna perkataan ibunya. Begitu pikir zaki, tapi dia juga tak bisa membela karna apa yang di katakan Bu Ambar memanglah benar.
"Maafkan perilaku istri saya, Zak. Saya sendiri merasa malu kalau mengingat kelakuannya." Pak Jamal berkata tanpa mengangkat wajahnya dari posisi menunduk.
"Iya, Pak saya sudah maafkan. Tapi ... kalau sekiranya apa yang di katakan Bu Zaenab memang benar saya akan ikhlaskan uang ini buat bapak, toh memang benar kalau saya dan keluarga punya hutang budi sama bapak. Anak saya yang buat bapak jadi begini, dan sudah sepantasnya kami bertanggung jawab," pungkas Zaki bijak.
Pak Jamal menggeleng cepat sembari menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri .
"Tidak, Zaki! Bahkan uang yang kamu berikan sebelumnya waktu masih di rumah sakit pun masih ada dan masih cukup jika hanya untuk kebutuhan kami. Toh kami hanya tinggal berdua di rumah itu, tidak akan butuh uang yang terlalu banyak."
"Lalu obat bapak?" sela Bu Ambar penasaran.
Pak Jamal tampak mengernyitkan keningnya. "Obat? Obat apa ya, Bu?"
"Ini, Pak Jamal . Sewaktu meminta uang pada kami, Bu Zaenab juga mengatakan kalau uang itu untuk membeli obat buat bapak karna bapak masih sering merasa sakit, bahkan katanya tadi malam bapak sempat kesakitan karna kehabisan obat," terang Zaki melanjutkan perkataan ibunya.
Pak Jamal tampak mengelus dada sambil beristighfar. "Tidak ada, Pak Zaki. Bahkan sudah sejak dari keluar rumah sakit dan obat yang dari sana habis saya tidak pernah lagi mengkonsumsi obat, sebab ya karena saya sudah merasa lebih baik. Cuma untuk melepas perban ini saya masih takut, karna trauma lihat jahitan."
Zaki dan Bu Ambar tampak geleng geleng kepala mendengar kesaksian Pak Jamal. Satu kebenaran lagi yang terungkap dari semua yang ada, memang Bu zaenab benar benar keterlaluan dalam mengarang cerita hanya demi uang.
Tak ingin memperpanjang masalah itu lagi, Zaki akhirnya tersenyum dan berkata sudah memaafkan perbuatan Bu Zaenab padanya dan keluarganya. Membuat Pak Jamal turut lega setelah mendengarnya.
"Kalau begitu ini uangnya saya terima ya, Pak. Tapi nanti semisal bapak butuh dan belum bisa bekerja lagi, bapak bilang saja ya. Nanti saya bisa kasih sesuai yang bapak butuhkan," ujar Zaki dengan senyum lembut, memberikan kepercayaan pada lelaki paruh baya yang menurutnya lebih bisa di percaya ketimbang sang istrinya itu.
"Sudah sudah, itu masalah gampang. Coba kamu hitung dulu uangnya itu, Zaki saya tadi nggak sempat, takutnya sudah ada yang di pakai sama istri saya," timpal pak Jamal kemudian.
Zaki mengangguk, lalu mulai menghitung lembaran lembaran merah di tangannya tersebut dengan teliti. Namun beberapa saat kemudian keningnya mulai tampak berkerut dalam, sembari menghitung ulang lembaran tersebut tapi bahkan hingga lima kali hitung pun jumlahnya tetap kurang dari yang seharusnya.
"Kenapa, Zaki? Apa ... uangnya kurang?" tanya Pak Jamal mulai was was.
Zaki menatap mata tua itu lekat, lalu dengan terpaksa mengangguk karna tak ingin berbohong. Sebab semua harus transparan di sini.
"Astaghfirullah, apa itu artinya uangnya sudah di pakai oleh istri saya?" gumam Pak Jamal lagi lagi hanya bisa mengelus dada.
"Ada berapa yang kurang, Zaki? Coba di hitung baik baik dulu," imbuh Bu Ambar yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Zaki melambaikan uang itu di depannya dengan senyum getir.
"Lima juta, Bun. Totalnya sebelumnya dua belas juta, pertama sepuluh juta dari Zaki dan kemarin Dara bilang dia kasih dua juta. Dan sekarang jumlah uangnya ini cuma tujuh juta saja."
"Astaghfirullah, ya Allah keterlaluan sekali kamu, Zaenab." Pak Jamal bergumam lirih, netra tuanya tampak mengembun sembari menekan nekan dadanya untuk mengurangi sesak yang meradang.
__ADS_1