TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 193. RENCANA


__ADS_3

"Kenapa, In?" tanya Bu Maryam saat ini kembali ke ruang tamu dalam keadaan menangis.


"Nggak papa, Bu. Tapi ... kayaknya kita nggak usah ngerepotin Mbak Dara lagi deh, Bu mending kita cari resepnya di yutub aja ya. " Indi berdalih sambil mengusap lelehan air mata di wajahnya.


 Bu Maryam tampak kebingungan, namun pada akhirnya dia pasrah saja yang hendak di lakukan anaknya.


 Terdengar suara bayi menangis, gegas Bu Maryam beranjak dari tempat duduknya untuk melihat si kecil di kamarnya. Sedang Indi mulai aktif berselancar di aplikasi merah mencari resep kue kue untuk di jualnya nanti.


"Memangnya tadi Dara bilang apa, in?" tanya Bu Maryam penasaran.


 Beliau menghenyakkan tubuhnya di atas kursi sembari memangku bayi Indi yang merengek meminta susu.


 Dengan sigap Bu Maryam memberikan susu yang ada di botol yang sudah di hangatkan di pemanas elektrik sebelumnya hingga bayi itu kini terdiam dan menikmati susunya dengan anteng.


"Nggak papa, Bu mbak Dara cuma lagi nggak bisa aja. Ibu tahu sendiri kan Mbak Dara lagi hamil, pasti banyak nggak bisa nyium bau-bauan begitu, Bu apalagi bikin kue kan pake telur dan segala macemnya," kilah Indi lagi, berusaha menutupi kebenaran kalau Bu Ambar yang melarangnya meminta bantuan Dara.


"Iya juga sih ya, ibu saja dulu waktu hamil kamu nggak bisa nyium bau-bauan kayak gitu. Jangankan bau telur, bau nasi baru mateng aja bikin ibu puyeng." Bu Maryam menimpali sembari menggoyang sedikit tubuh cucunya yang menggeliat karna sudah menghabiskan sebotol susu.


Indi tersenyum simpul melihat sang bayi yang tumbuh dengan sehat, walau terlahir prematur nyatanya anaknya sama sekali tidak membuatnya repot sama sekali dengan semua kebutuhannya. Hanya saja, hati Indi masih miris saat mengingat kenyataan kalau saat ini ayah si bayi sudah memilih menikah lagi dan istri ke duanya cenderung memaksanya untuk terus bersamanya.


 Indi tak lagi memikirkan bagaimana masa depan rumah tangganya dengan Fatan, karna kini baginya bayinya lebih penting ketimbang harus bersaing dengan si gatel Intan. Buang buang waktu.


"Lihat bayimu, In. Cantik sekali seperti kamu waktu masih kecil, kira kira kalau kita bikin acara syukuran buat dia sekaligus ngasih namanya uang kita cukup nggak ya?" gumam Bu Maryam tiba-tiba sembari meletakkan bayi mungil itu ke atas sofa.


"Nanti saja ,Bu kalah usaha kita sudah jalan dan ada hasilnya baru kita adakan aqiqah buat si kecil," tukas Indi yang langsung di angguki setuju oleh Bu Maryam.

__ADS_1


 Bu Maryam membuka bedong yang melilit tubuh si bayi, dan si bayi langsung menggeliat hingga wajahnya merah dan mengeluarkan suara yang lucu.


Ddduuuuuuttttttttt


 Si bayi kentut besar sekali, Indi dan Bu Maryam sontak terbelalak mendengarnya lalu tertawa bersama hingga si bayi kebingungan mendengar mereka.


"Subhanallah, semoga hadirnya kamu akan membawa keberuntungan dan keberkahan dalam hidup Mama, Nak." Indi mengecup kening putrinya gemas.


 Bu Maryam terkekeh. "semoga sehat selalu ya, cucu nenek. Jangan pedulikan Papamu yang tidak bertanggung jawab itu, biarkan nanti Gusti Allah saja yang akan membalas semuanya. Kita rawat saja bayi ini baik baik, in manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bisa bangkit. Kasihan Dara yang sudah banyak membantu kita selama ini kalau kita hanya bisa menadahkan tangan."


  Nasehat dari Bu Maryam meresap ke dalam batin Indi, dia pun setuju dengan apa yang di katakan ibunya. Indi bertekad akan berubah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya agar kehidupan mereka juga bisa menjadi lebih baik, walau mungkin nantinya tanpa kehadiran Fatan. Tak ada lagi yang di harapkan Indi dari nya, Indi sangat tahu bagaimana Bu Sukri dan intan itu juga sudah menginginkan sesuatu. Tak ada yang bisa dengan mudah lepas dari kuasa mereka.


"In, kamu melamun?" tegur Bu Maryam saat tak mendapati jawaban dari Indi.


 Bu Maryam tersenyum, lalu kembali menatap bayi Indi yang tengah menggerka gerakan tangan dan kakinya dengan mata melirik ke sana kemari, sangat lucu dan menggemaskan.


"Bagaimana kalau ... kita buka laundry saja? Kebetulan di belakang kan ada mesin cuci." Bu Maryam memberi ide .


 Mata Indi kembali berbinar, dengan sedikit bersorak dia menjawab perkataan ibunya .


"Wah, iya ibu benar. Di sini kan juga belum ada laundry, adanya di dekat kampus sana. Pasti di sini banyak yang laundry nanti, Bu kan di sini rata rata orang sibuk karna kerja di kantor."


 Bu Maryam mengangguk penuh semangat dan memberi dua jempol pada indi.


"Kalau gitu Indi lihat resep kue dulu, habis itu baru nanti cari tutorial buka laundry buat pemula." Indi meraih lagi ponselnya yang tadi sempat dia letakan di meja.

__ADS_1


. Bu Maryam pun bangkit sambil menggendong bayi Indi. "Ya sudah, ibu juga mau bawa cucu ibu ke teras. Biar cari angin segar, bosan di dalam rumah terus."


 Indi mengangguk dan mulai fokus menatap layar ponsel di depannya, menyimak step by step resep kue dan nasi uduk yang di lihatnya dengan seksama.


"Wah kalau begini sih, Insyaallah bisa. Apa langsung eksekusi aja ya sekalian buat makan malam?" gumam Indi menimbang nimbang.


"Langsung buat aja, In. Sekalian kita cicipi kalau enak besok kita mulai langsung saja jualannya." Bu Maryam yang mendengar gumaman Indi langsung menyeletuk.


 Indi menoleh dan terkekeh pelan. "Iya juga ya, Bu. Ya sudah Indi ke warung dulu ya, beli bahan bahannya.".


"Kamu kuat? Kalo nggak biar ibu aja, kamu jaga si kecil di rumah." Bu Maryam menoleh dengan tatap keberatan.


 "Kuat kok, Bu sudah nggak sesakit kemarin lagi perut Indi. Lagi pula kalau terus terusan di manja nanti malah nggak sembuh sembuh, Bu."


 "Ya sudah kalau begitu,v tapi jangan lama lama ya, In. Kamu tahu sendiri kan warga sini," gumam Bu Maryam memperingati.


 Indi mengangguk, setelah mengambil yang dan payung Indi bergegas menuju warung yang hanya ada satu satunya di komplek perumahan tersebut.


 Beberapa saat kemudian Indi tiba, namun dari kejauhan dia sudah bisa melihat kalau warung itu tengah ramai di kunjungi warga komplek yang rata rata adalah ibu ibu yang hobinya tak lain dan tak bukan adalah menggosipkan tetangganya sendiri.


"Bismillahirrahmanirrahim, ayo kamu bisa, Indi." Indi menyemangati diri sendiri, teringat saat dulu dia di buli semua warga komplek saat ketahuan menjadi selingkuhan Kakak iparnya sendiri.


 Namun saat melangkah semakin dekat rupanya tak ada satu ibu ibu pun yang peduli padanya karna tengah sibuk bergunjing tentang orang lain.


"Iya, masa sudah beberapa bulan menikah nggak hamil hamil, apalagi namanya kalau bukan mandul? Kasihan sekali suaminya, berharap dapat anak banyak malah nggak hamil hamil," ucap salah satu ibu ibu dengan nada judes.

__ADS_1


__ADS_2