TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 130. MENGUSIR SAUDARA TOXIC.


__ADS_3

"Tunggu dulu, Tante. Ini ... ini sepertinya ada salah paham," pungkas Dara dengan raut wajah menampakkan keberatan, apalagi setelah melihat sendiri bagaimana sikap Hans sebelumnya.


"Salah paham bagaimana sih, Dara? Kan benar tadi kamu yang ajak Tante sama Hans buat masuk ke rumah ini kan? Ya berarti itu kamu sudah mengizinkan secara tidak langsung kalau kami boleh menumpang di sini," tegas Bu Leha lagi masih berusaha membenarkan pendapatnya.


 Bu Ambar memegang kepalanya, lalu mendudukkan diri di kursi meja makan sambil menghembuskan nafas kasar.


"Begini nih kalau otaknya dapet nyicil, atau jangan-jangan itu otak boleh ngutang juga?" gumam Bu Ambar geram.


 Tapi sepertinya yang sedang di geramkan malah tampak tak acuh, bahkan terkesan pura-pura bodoh.


"Aduh, maksud saya itu bukan begitu, Tante." Dara mulai pusing juga oleh tingkah Bu Leha yang berputar-putar.


 Tapi Bu Leha dengan cepat malah mengibaskan tangannya dan menyela ucapan Dara.


"Haduh, udahlah Dara. Toh kami ini juga keluarga kamu sekarang, kenapa perhitungan sekali sih? Udahlah, terima saja kami di sini kenapa?" ketusnya tak tahu malu.


"Heh, ngomong apa kamu barusan, Leha?" bentak Bu Ambar kembali terbakar emosi.


 Bu Leha tampak menciut, dia tak berani bersuara jika sudah Bu Ambar yang bicara.


"Sudah kubilang supaya jangan seenaknya kan! Kamu itu masih mendinh sudah di kasih makan sama menantuku, sekarang ngelunjak pula minta tinggal bersama di sini, otak kamu itu ada isinya atau nggak sih hah?" amuk Bu Ambar lagi lagi menunjuk nunjuk wajah Bu Leha yang pias.


"Ta- tapi kan cuma kalian saudara yang kami punya, Mbak. Kalau bukan minta tolong sama kalian terus sama siapa lagi? Kan Mbak sendiri tahu rumah kami sudah di sita warga buat bayar hutang." Bu Leha tampak memasang wajah memelas.


 Tapi Bu Ambar tak terpengaruh, bahkan dengan santainya dia berdiri dan berjalan mendekati Bu Leha yang semakin tertunduk sambil masih memeluk kepala Hans.

__ADS_1


"Kamu dengar ini baik baik ya, Leha.


Rumah kamu mau di sita, mau di jual, mau di rubuhkan sekalipun itu sama sekali bukan urusan saya ya. Dan perlu kamu ingat, nggak ada keluarga yang hanya datang saat butuh dan ngelunjaknya kayak kamu. Jadi, lebih baik sekarang kamu bawa anak kamu ini pergi sebelum ku panggil polisi!" sentak Bu Ambar lagi karna sudah sangat sangat geram dengan tingkah Bu Leha yang tak pernah tahu diri itu.


"Tapi, Mbak." Bu Leha masih mencoba membujuk, namun Bu Ambar langsung mengangkat tangannya sebagai tanda tak ingin lagi mendengar ucapan Bu Leha.


"Pergi, atau ku panggil warga lagi supaya mereka mengejar kamu dan anak kamu ini lagi sampai ke neraka." Bu Ambar berbalik dan mengangguk pada Zaki, memberi sisanya untuk di selesaikan sang anak.


"Zaki ...." Bu Leha beralih pada Zaki, dengan ke dua tangan tertangkup di dada, dia berusaha memohon untuk bisa mengambil hati keponakannya itu.


Zaki melengos.


"Sudahlah, bude. Nggak usah drama, sekarang juga keluar dari rumah kami. Istri ku mau istirahat."


 Tapi Bu Leha masih saja tak beranjak, bahkan kini dia dengan tak sopannya berjalan cepat menuju Dara dan memegangi tangannya.


 Mendengar itu, Dara langsung saja menarik tangannya dari pegangan Bu Leha. Tatapannya seolah menyiratkan kegeraman yang tertahan di hatinya saat menatap mata Bu Leha yang di penuhi air mata buaya itu.


"Maaf, Tante. Tapi kenapa aku harus bujuk Mas Zaki dan Bunda supaya ngizinin Tante tinggal di sini?" tanya Dara pura pura tak tahu maksud wanita paruh baya di depannya itu.


"Ya kan Zaki itu suamimu, Dara. Dan dia yang memegang kuasa dan kendali di rumah ini kan?" ucap Bu Leha seenak udelnya sendiri.


"Kata siapa begitu?" sela Zaki ketus sambil berjalan mendekat ke arah Bu Leha.


 "Ya, memang harusnya begitu kan, Zaki? Biarpun istri yang kaya sebelum menikah, tapi setelah menikah dan punya suami tentu semua hartanya jadi milik suaminya kan?" ucap Bu Leha semakin seenaknya.

__ADS_1


 Dara menatap Zaki seakan meminta penjelasan, atau lebih tepatnya penegasan dari Zaki tentang apa yang dia pikirkan tentang rumah tangga mereka.


 Zaki yang langsung tanggap mengerti maksud istrinya, dan segera saja dia menegaskan pada Bu Leha, agar ibu ibu yang otaknya kurang sekilo itu bisa berpikir lebih jernih.


"Begini ya, bude. Bagi Zaki, semua yang istri Zaki punya sebelum menikah ataupun sesudah menikah dengan Zaki itu semua adalah murni miliknya, nggak ada hak Zaki di sana. Tapi berbeda sama Zaki, setelah menikah semua harta dan apapun yang Zaki miliki setelah menikah dengannya di dalamnya ada hak istri dan anak anak. Zaki harap bude bisa paham dan minta di jelaskan ulang, soalnya bude sudah membuang waktu kami terlalu banyak. Sekarang silahkan bude bawa anak bude keluar. Dan urusan kita selesai."


 Dara tersenyum puas mendengar jawaban tegas Zaki, sebagai istri tentu memiliki suami seperti Zaki adalah idaman semua wanita. Termasuk Dara, dia merasa sangat beruntung bisa menikah dengan Zaki walau dulunya Zaki adalah suami dua jam sang adik yang kini sudah menikahi mantan suami Dara yang ternyata tak lebih dari penikmat warisan orang tua semata, jadi saat warisan itu habis mereka harus rela terlunta lunta karna tak punya keahlian dan pekerjaan.


 Kembali ke Bu Leha dan Hans, tanpa banyak kata lagi Zaki segera menarik tangan Bu Leha untuk menuju ke luar rumah, di ikuti Hans di belakangnya yang hanya menurut saja seperti kerbau di cucuk hidungnya. Tak bersuara ataupun protes, seperti orang yang tak berpendirian.


"Zaki, Zaki tolong jangan usir Tante, Zaki. Kami mau tinggal di mana?" Bu Leha terpontang panting mengikuti langkah Zaki yang cepat, hingga beberapa kali dia hampir saja terjungkal jika saja Zaki tak memeganginya dengan erat.


 Bu Ambar mengikuti mereka dari belakang dengan seringai puas di wajahnya, sementara Dara memilih untuk berhenti di ruang tamu dan duduk di sana karna terasa perutnya mulai tegang, mungkin karna terlalu stress sebab Bu Leha tadi.


"Nah, sekarang silahkan bude pergi. Tinggalkan rumah kami dan Zaki harap bude tidak kembali lagi. Sudah cukup selama ini kami selalu di manfaatkan oleh bude. Sekarang tidak lagi, bude cukup semuanya. Anggaplah semua uang yang sudah bude pinjam dari Zaki itu sudah lunas, tapi tolong ... tolong sekali, bude jangan pernah lagi muncul di hadapan kami, kami ingin hidup tenang," pinta Zaki dengan tangan merapat di dada, sudah terlalu lelah dirinya berhubungan dengan Bu Leha yang selalu saja membuat masalah di tengah keluarganya. Dia ingin tenang, ingin terbebas dari semua itu sekarang juga .


 Bu Leha jatuh terduduk di jalanan tepat di depan rumah Zaki, kebetulan saat itu cuaca sedang terik membuat aspal menjadi lumayan panas. Hans masih setia berada di belakang ibunya, masih saja tak berkata ataupun melakukan apa apa hanya diam mendengarkan semua seperti orang cengo.


"Zaki, tapi ...."


"Hei, Leha! Kamu masih tidak dengar apa yang di katakan anakku tadi? Jangan sampai benar'ku panggilkan polisi supaya masalah hutang piutang kamu dan Zaki itu di usut sekalian di meja hijau ya!" Bu Ambar memelototkan matanya geram.


 Bu Leha lagi lagi menciut, dan akhirnya mau mengalah untuk pergi dari sana walau dia sendiri belum tahu harus kemana. Rumahnya yang selama ini dia tinggali sudah di pasangi segel dan di kunci dengan rantai besar di pagarnya untuk mencegahnya masuk kembali sampai rumah itu nanti laku terjual untuk melunasi hutangnya pada Bu Hana dan para warga lain.


Namun baru saja berjalan beberapa langkah, Bu Leha dan Hans kembali di cegat oleh rombongan yang kemarin sudah mengejar mereka hingga terpaksa bersembunyi di dalam got dan terpaksa tidur di emperan toko orang supaya tidak menjadi sasaran amukan warga.

__ADS_1


"Nah, di sini rupanya kamu, Leha. Akhirnya ketemu juga, " ucap pemimpin rombongan itu sinis.


__ADS_2