
"Bagaimana pembukaannya? Lancar?" tanya Dara pada salah satu anak buahnya yang dia tugaskan untuk memgurus pembukaan cabang baru buktinya itu.
"Alhamdulillah lancar, Bu. Sekarang tinggal menunggu para tamu datang untuk acara gunting pita saja di sana.
Ya, Dara memang mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di rukonya sebelum acara pembukaan pagi ini. acara itu pun hanya di lakukan oleh para anak buahnya saja di ruko dan tidak mengundang siapapun bahkan Dara sendiri tidak hadir karna tidak ingin membuat orang di rumahnya tau akan perihal butik itu.
"Ayo kita ke sana," titah Dara sambil kembali masuk ke mobil di ikuti karyawan wanitanya itu.
"Coba telepon yang lain, tanya bagaimana kondisi di sana." Dara memberi perintah lagi, yang langsung saja di turuti oleh Vania, karyawan kepercayaannya itu.
Vania menelpon rekannya yang mengurus pembukaan butik baru dan segera setelah mendapat informasi Vania memberi tahu Dara.
"Mereka bilang di sana penuh sesak dengan pelanggan yang sudah tidak sabar, Bu. Sepertinya antusias masyarakat akan butik baru kita kali ini pun tinggi," celetuk vania ikut senang dengan pencapaian bosnya itu.
Vania sudah lama bekerja dengan Dara, bahkan sejak Dara masih awal sekali merintis usahanya. Jadi, bisa di bilang Vania yang paling tau bagaimana tangguhnya Dara dalam membangun usahanya tersebut.
Dara memarkirkan mobilnya di pelataran yang tersedia, sesuai perkataan Vania ternyata di halaman depan butik yang bahkan belum buka itu sudah di penuhi oleh orang-orang yang hendak melihat-lihat koleksi pakaian di butiknya.
"Wah, lebih rame dari yang Nia bayangkan, Bu." Vania keluar dak langsung menuju kerumunan itu.
Merangsek ke depan dan meneriakkan sesuatu, sampai orang-orang yang berdiri di depan sana mulai berpencar dan membuka jalan untuk Dara melewati mereka.
'anak itu memang selalu bisa di andalkan. Sepertinya cocok untuk memberinya naik gaji bulan ini,' kekeh Dara di dalam hati.
Acara gunting pita di mulai, Vania memberikan sebuah gunting yang sudah di hias pita cantik pada Dara, dan setelah hitungan mundur Dara langsung memotong pita yang menghalangi pintu butik hingga terputus.
Sorak sorai terdengar riuh, dengan berebutan para pelanggan itu berdesakan masuk dan mulai mencari pakaian yang mereka sukai.
"Pemburu diskon sejati semua kayaknya," kekeh Vania sambil ikut berdiri di sebelah Dara yang menatap takjub pada lautan manusia yang tengah memilih baju di butiknya yang bahkan baru saja di buka.
"Haish, biarlah. Karna kalo nggak ada mereka nggak mungkin kan kita bisa buka cabang kayak begini? Diskon itu kan ya daya tarik tersendiri, Nia."
__ADS_1
Dara menyahut dengan hati senang.
Sungguh tidak menyangka kalau dia kini bisa sampai di titik ini, padahal saat memulai Dara sempat takut karena modal yang dia punya itu sangat terbatas. Namun lihatlah, bahkan butik besar yang sudah mulai di kenal di sekitar itu kini sudah bisa membuka cabang baru. Yang tak kalah mewah dan nyaman dengan butik pusat.
"Permisi," seorang pria mendadak mendekati Dara dan Vania. Wajah tampannya sudah bisa menjelaskan kalau pria itu berasal dari kalangan berada.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa di bantu?" tanya Vania mulai menjalankan tugasnya saat di butik, melayani tamu yang datang baik membeli atau tidak tetap layani dengan baik.
Pria itu menoleh ke dalam di mana banyak sekali orang tengah berjubelan untuk memilih pakaian.
"Saya butuh satun stel jas berwarna abu, dan juga ... sepertinya sekalian saya harus cari pakaian santai untuk dir rumah. Apa kalian bisa mencarikannya untuk saya?" tanyanya serius.
Vania mengangguk paham."baik, Tuan. Silahkan duduk dahulu biar saya yang carikan barang yang Tuan mau."
Pria itu mengangguk dan tersenyum. Sepeninggalan Vania, Dara mengajak pria itu untuk duduk di sofa tunggu yang memang sengaja dia letakkan di sana. Untuk beristirahat jikalau ada pembeli yang tak sanggup berdiri terlalu lama atau untuk alasan lainnya.
Dara mempersilahkan pria itu duduk, dengan memberi tanda dengan gerakan tangannya.
"Halim, nama saya Halim."
Kening Dara sejenak berkerut, namun kembali seperti semula setelah dia menepis prasangka yang baru saja menghampiri benaknya.
"Baiklah, Tuan Halim."
****
Intip dulu di kediaman Dara.
Si kembar baru saja di ajak ke rumahnya oleh Elis. Dan kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Bu Maryam untuk bicara tentang rencananya itu.
"Ada apa sih, Bu? Kok tiba-tiba aku di suruh ke sini?" tanya Indi kesal, matanya masih tampak mengantuk mungkin karena baru saja bangun.
__ADS_1
Heran sekali dengan anak itu, padahal matahari sudah bersinar terik dan suasana di dalam rumah terkadang menjadi lumayan pengap, namun dia masih saja bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman.
"Halah, diem kamu! Sini buruan! Keburu si Dara pulang lagi nanti. Emang kamu mau makan nasi sisa dia lagi?" ancam Bu Maryam yang langsung bisa membuat indi kicep.
Indi menghempas tubuhnya ke kursi dengan wajah cemberut. Di hadapannya sudah ada beberapa menu sarapan sederhana yang dibuat ibunya, namun anehnya Indi sama sekali tidak berselera untuk menyantapnya padahal perutnya lumayan lapar. Mungkin bawaan masih ngantuk kayaknya.
"Tunggu di sini! Jangan kabur kamu ya, in. Ibu mau ke tempat Fatan dulu bangunin dia," ujar Bu Maryam sembari bergegas menuju ke belakang rumah.
Kenapa belakang rumah, padahal katanya mau membangunkan Fatan. Ya tentu saja, karna sekarang Fatan di beri tempat tidur dan tinggal di gudang belakang oleh Dara. Dara tidak Sudi masih seatap dengan Fatan walau untuk urusan makan dan mandi Fatan masih melakukannya di rumah utama. Namun jika akan tidur maka dia kan masuk ke gudang Tus tersebut.
Tok
Tok
Tok
Bu Maryam mengetuk pintu, dan menyerukan nama Fatan. Anak itu pun sebelas dua belas dengan Indi sama-sama mulai hobi bangun siang, padahal saat masih adem ayem bersama Dara, Fatan selalu bangun pagi dan ikut sholat berjamaah di masjid, lalu setelah itu berangkat bekerja. Namun sayangnya kini semua itu hanyalah tinggal kenangan. Biarlah di simpan untuk jadi pengalaman dan pelajaran.
Ceklek
Pintu gudang terbuka, Fatan keluar dengan tubuhnya yang penuh dengan debu. Sepertinya Fatan tidak menyapu terlebih dahulu lantainya sebelum digunakan untuk tidur. Padahal Dara memberikannya kasur lantai untuk alas tidur namun sepertinya memang dasar Fatan saja yang manja tidak mengurus dirinya sendiri.
"Ikut ibu, ibu mau bicara." Bu Maryam berucap ketus kemas segera berlaku meninggalkan Fatan yang masih terbengong melompong karena nyawanya yang belum berkumpul.
Setelah menunggu sebentar untuk Fatan mencuci muka dan menyikat giginya, dia langsung ikut bergabung dengan Bu Maryam dan Indi di meja makan.
"Ada apa, Bu?" tanyanya heran.
Bu Maryam menarik nafas sejenak kemudian mulai bicara dengan hati-hati.
"Begini, ibu sudah bicarakan ini sama Dara. Dan ibu mau tanya sama kalian berdua, apa kalian mau menikah?"
__ADS_1