TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 98. PERTANDA JODOH 3.


__ADS_3

 Halim tampak tengah mengamati pelaminan yang sudah tersusun indah di depan matanya dengan banyak orang yang bekerja untuk membuat semua persiapan itu lebih megah dan mewah dari sebelumnya. Lampu lampu berkelip indah di sekeliling Halim, namun sama sekali tidak membuat pria berusia hampir kepala tiga itu memalingkan wajahnya dari pelaminan nan indah itu.


 Jangan tanya apa yang di pikirkannya, lihat saja adegan di bawah.


"Ekhem! Melamun aja calon suami orang," kekeh Zaki sambil menekuk pundak Halim.


 Halim terjingkat kaget. "Pak Zaki!" serunya dengan mata melotot dan nafas ngos-ngosan.


 Zaki semakin terkekeh melihat ekspresi wajah Halim.


"Mas Halim kenapa? Segitunya ngeliatin dekorasi pelaminan? Kenapa? Mau sekalian duduk di sana juga bareng saya sama dek Dara?"


 Halim tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi salah tingkah.


 "Ah, pak Zaki bisa saja. Sudah batal jadi tukang parkir saja saya sudah Alhamdulillah kok," sahut Halim.


"Lagian kamu katanya cinta mati sama Dek Dara, tapi baru beberapa minggu aja rupanya udah dapat gandengan baru. Mana udah langsung di seriusin tanpa bilang bilang lagi." Zaki menepuk pundak Halim lagi, kali ini sedikit lebih keras hingga Halim meringis.


"Loh, Bapak tau dari mana?" tanyanya heran.


 Zaki mengelus elus pundak Halim yang tadi dia tepuk, bermaksud untuk meredakan sedikit rasa panas dan perih di sana karna tepukannya lumayan kuat.


"Ada deh, sudah sekarang kamu ngaku saja, siapa perempuan beruntung yang bisa menggaet hati kamu itu hm? Bahkan Dara pun sampai tersingkir karenanya?" Zaki bertanya sambil menaaik turunkan alisnya.


 Bukaan Zaki tak cemburu ketika calon istrinya di taksir pria lain, tapi dia justru bangga bisa menjadi satu satunya pria yang di terima oleh Dara dan bahkan sudah akan menjadi suaminya. Zaki merasa sangat beruntung.


"Ah Pak Zaki kepo," sungut Halim sambil melepas rangkulan tangan Zaki dan berlalu menjauh.


 Zaki tidak marah, dia hanya tertawa pelan menatap kepergian asisten pribadi calon mertuanya itu.


 Halim masuk ke dalam rumah, kebetulan saat itu dia berpapasan dengan Pak Jatmika yang hendak keluar untuk melihat dekorasi pesta yang akan di laksanakan lusa itu berbarengan dengan peresmian butik baru Dara yang proyeknya sudah selesai di tangani Zaki.

__ADS_1


"Huh, katanya cinta sama anak saya, rupanya di tinggal lamaran beberapa Minggu aja udah dapat pengganti. Apaan itu? Pleboy cap ikan asin," celetuk Pak Jatmika tanpa menatap Halim.


 Halim tertegun. ' kenapa jadi banyak yang tahu sih?' gumamnya dalam hati sambil menatap Pak Jatmika heran.


"Apa kamu lihat lihat? Saya nggak bicara sama kamu kok," ketus Pak Jatmika sengaja mempermainkan asistennya itu.


"Ta- tapi, bos ...." Halim menggantung kalimatnya.


"Apa? Jangan jangan kamu juga sudah punya gandengan baru ya? Huh, tega kamu gak ngenalin sama saya, kamu anggap apa saya selama ini ngurusin kamu hm?" Pak Jatmika berkacak pinggang, namun hanya orang terdekatnya lah yang tahu kalau saat Pak tua itu hanya sedang bercanda walau wajahnya serius.


 Halim kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil membuat muka ke arah samping, menjauhi arah tatapan bosnya.


"Ini siapa yang jadi ember bocor sih? Padahal saya sama Mbak Laila aja nggak pernah komitmen apa apa kok," desahnya pelan.


"Heh, heh ngomong apa kamu itu? Ngomongin saya ya? Tau aja kalo hari ini saya ganteng karna abis dari salon," kekeh Pak Jatmika sambil menyugar rambutnya yang memang tampak lebih berkilau dan uban uban dusta yang sebelumnya menghiasi kepalanya sudah tak tampak lagi.


"Halah, bos. Kebiasaan deh tingkat kepercayaan dirinya selalu naik begitu," ketus Halim kesal, setiap kali Pak Jatmika mulai menyombongkan dirinya.


"Ya wajarlah saya sombong, saya sebentar lagi mau punya mantu baru, bakalan punya cucu lagi. Keluarga saya makin banyak nantinya, nah kamu, udah pacar nggak punya, gebetan nggak punya, apalagi calon istri, sendirian mulu .... Malu dong sama sandal jepit, mereka aja ada pasangannya, dasar Jodi, jomblo abadi," ledek Pak Jatmika tanpa sedikit membawa bawa asal usul Halim yang hanya tinggal dengan ibu angkatnya itu, karna Halim berasal dari panti asuhan saat dulu bayi dan di ambil oleh wanita yang tak ingin menikah untuk menjadi anaknya.


(Masalah ini nanti kita bahas di bab bab selanjutnya, khusus tentang Halim dan keluarga kecilnya nanti. Tapi inget, nanti hehe)


 Halim mencebikkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca, bisa bisanya bosnya itu malah mengungkit status jomblo abadinya di saat saat seperti ini.


"Saya nggak jomblo," ketus Halim. "Saya punya kok, anu ... itu ... apa namanya, pa- pacar!" katanya percaya diri sambil membusungkan dadanya yang sebenarnya tidak sispek sispek amat itu.


 Pak Jatmika tertawa mengejek. "Halah gayamu, nggak percaya saya kali nggak lihat buktinya."


 Halim tampak kelabakan namun berusaha tak dia tampakkan di depan Pak Jatmika.


"Ah, anu ... itu ... anu ...."

__ADS_1


"Apa? Bilang aja kalau kamu cuma bohongin saya biar di kira laku iya kan?" kekeh Pak Jatmika kasih tak berhenti mempermainkan Halim.


 Baginya melihat wajah Halim yang kebingungan itu merupakan hiburan tersendiri sejak dulu.


"Nggak! Siapa bilang saya bohong! Saya jujur kok, saya bisa bawa buktinya!" Halim menyahut dengan dagu terangkat tinggi.


"Oh ya? Baik, saya mau bertemu sama pacar kamu yang katanya ada itu, hmmm ... bagaimana kalau kamu bawa dia beserta keluarganya sekaligus untung hadir di acara pernikahan anak saya lusa nanti?" tantang Pak Jatmika.


"Baik, saya terima tantangan bos. Tapi ... Saya mau bayaran yang setimpal kalau saya berhasil," tantang balik Halim.


"Oke, saya akan biayai semua anggaran pesta untuk pernikahan kamu dan pacar kamu itu nantinya, bagaimana? Deal?"


"Deal!" ucap Halim sesumbar, padahal dia sendiri belum tau apakah Laila mau di ajak menikah dengannya, sebab selama ini kedekatan mereka hanya sebatas teman bahkan tidak ada yang pernah menyatakan cinta.


 Walau Halim tahu kalau hatinya kini sudah tertambat di wanita lemah lembut bernama Laila.


 Pak Jatmika tersenyum puas dan meninggalkan Halim dalam kebingungan yang kembali melandanya.


"Pak, gimana?" bisik Dara yang sejak tadi menguping dari balik tirai pembatas ruangan.


 Pak Jatmika mengacungkan jempolnya.


"Misi berhasil dengan lancar, besok kita tinggal jalankan rencana selanjutnya untuk membuat jomblo satu itu punya pasangan seumur hidupnya," kekehnya.


"Duh, jadi nggak sabar." Dara meremas ke dua jari jari tangannya.


 Pak Jatmika mengelus rambut putrinya, yang selama ini terpaksa tinggal terpisah darinya. Matanya menatap sendu dengan kumpulan air yang sudah siap untuk jatuh.


"Sudahlah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, cukup fokus pada pernikahan mu saja, nduk. Bapak harap ini akan jadi pernikahan terakhir mu ya," ucap Pak Jatmika tulus.


 Dara mengangguk. "Insyaallah, Pak. Dan Bapak juga jangan lupa untuk memberi hadiah yanh pantas untuk Mas Halim sebagai balas jasanya selama ini setia mendampingi Bapak hingga jadi sesukses ini."

__ADS_1


 Pak Jatmika mengangguk. " Insyaallah, Bapak akan buat dia jadi pria paling bahagia di waktunya nanti."


__ADS_2