TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 205. DUA KISAH


__ADS_3

 Sudah berhari hari sejak mereka pulang dari rumah sakit waktu itu, Laila masih saja murung dan selalu mengurung diri di dalam kamar.


 Tidak mau makan, tidak pergi mengajar ke sekolah bahkan hanya untuk sekedar berbenah di rumahnya pun kadang tidak ia lakukan. Batinnya terguncang, hari harinya dia isi dengan menangis dan terkadang bicara sendiri. Sudah seperti orang yang terganggu jiwanya.


"Mbak, kita makan dulu yuk. Elis sudah beliin kue di komplek atas tadi buat Mbak," bujuk Elis entah untuk yang ke berapa kalinya pagi itu, tapi Laila masih tak bergeming dia diam di tempatnya sembari menatap ke arah luar jendela dimana pohon mangga yang sedang berbunga di tiup angin hingga bunga-bunga nya berterbangan.


 Elis mendesah berat, suasana sepi membuatnya semakin tak nyaman. Biasanya akan ada suara ceria Laila yang menemaninya saat begini. Saat Halim tengah bertugas di puskesmas dan Bu Hana tengah pergi keluar untuk urusannya.


"Mbak, mau sampai kapan Mbak kayak gini? Ini sudah berhari hari, Mbak. Elis capek kalau Mbak masih begini begini saja. Apa Mbak juga nggak kasihan sama Mas Halim dan Bu Hana? Mereka ikut khawatir loh, Mbak lihat kondisi Mbak sekarang," cecar Elis yang sudah kehabisan cara untuk membuat Laila mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.


 Laila bergeming, mengangkat kepalanya dari tumpuan tangannya dan menatap Elis dengan matanya yang sayu.


"Kamu nggak kerja?" tanyanya hanya berupa bisikan.


 Elis menggeleng. "Nggak, Mbak hari ini Mbak Dara bawa anak anak ke rumah Opanya. Jadi Elis libur."


 Laila tersenyum getir, terlebih saat Elis baru saja menyebut kata anak anak seolah ada yang tersetrum di hatinya mengingat mungkin saja dirinya tak akan bisa memiliki anak sampai kapanpun. Laila kembali menunduk, menumpu kepalanya di antaraa ke dua lututnya, bahunya tampak bergetar.


 Entah untuk yang ke berapa kalinya dia merutuki dirinya sendiri, atas takdir yang tak pernah dia minta tersebut. Takdir yang membuatnya ingin mengakhiri semuanya dan pergi dengan almarhum ke dua orang tuanya ke alam baka.


"Mbak, sudahlah. Elis mohon jangan begini terus, kasihanilah kami Mbak kami juga lelah memikirkan Mbak yang terus terusan begini." Elis mulai tak sabar dan tanpa sadar dia meninggikan nada suaranya di hadapan Laila.


 Laila berhenti, mengangkat kepala dan menatap Elis lekat. Matanya yang basah dia hapus dengan cepat.


"Apa Mbak semerepotkan itu, Lis?" tanyanya bersungguh-sungguh.


 Elis terdiam, mengigit bibir dan membuang pandangannya k arah lain.


"Berhentilah menyalahkan diri Mbak sendiri mulai sekarang, hiduplah seperti biasanya, Mbak sebelum semua masalah ini ada. Mbak hanya di vonis sulit, bukan berarti kesempatan untuk punya anak itu hilang sama sekali kan? Selama wanita masih punya rahim, kesempatan untuk bisa punya anak itu masih ada," tegas Elis yang entah mendapat keberanian dari mana mampu menasehati Laila.


. Semuanya dia lakukan bukan sebab dia kesal atau benar benar lelah dengan sikap Laila yang kekanak-kanakan, tapi semata mata karna di amat sayang pada kakak sepupunya itu, dia tak mau sang kakak terus terpuruk dalam masalah yang bukan inginnya juga.


"Mbak tahu kamu benar, Lis. Tapi entah kenapa rasanya semua ini memang salah Mbak. Mbak yang nggak becus ngasih anak buat Mas Halim dan ibu, walau Mbak nggak menginginkan ini tapi tetap saja kenyataannya begini kan? Semua orang juga akan kompak menyalahkan Mbak setelah tahu kenyataan yang sebenarnya ini."


 Laila masih tampak terpukul, belum lagi bulir bening itu kembali jatuh ke pipi mulus ya yang tampak tirus tak terurus. Elis tak tega, hatinya sakit melihat Laila dalam kondisi itu.


Greb


 Elis memeluk Laila erat, di tumpahkannya semua tangis dan sesak yang selama ini dia sembunyikan. Dia juga sedih, dia sakit hati dengan apa yang terjadi pada Laila. Tapi dia bisa apa? Melawan takdir yang sudah di gariskan Tuhan? Sungguh jika pun bisa dia akan lakukan untuk kebahagiaan Laila.


 Puas menumpahkan semua beban rasa di dada, Elis melerai pelukannya. Di tatapnya mata sendu yang dulu selalu berseri itu dengan lekat.


"Sudah ya, Mbak . Berhentilah sedih, dan berjanjilah setelah ini Mbak akan kembali semangat untuk menjalani hidup. Elis akan bantu buat cari obat program hamil herbal yang bagus buat Mbak. Kita akan terus berusaha sampai Mbak bisa dapat garis dua," gumam Elis yang berjanji juga pada sendiri akan sepenuh hati dan sekuat tenaga membantu Laila mencapai impiannya menjadi seorang ibu.


 Dengan penuh haru, Laila mengangguk. Walau belum sepenuhnya yakin bisa menjalani hari-harinya seperti dulu tapi setidaknya dia akan berusaha tidak tampan terlalu terpuruk di hadapan orang banyak. Yang hanya akan membuat orang orang bergunjing buruk tentangnya dan keluarganya.

__ADS_1


****


"Kamu beli kue dimana, Lis?" tanya Laila yang tampak sudah lebih segar setelah mandi dan membersihkan diri lebih dulu.


 Elis tersenyum simpul melihat akhirnya sang kakak mau keluar kamar dan mulai bicara seperti biasanya.


"Di atas, Mbak. Itu yang jualan adiknya Mbak Dara, Mbak Indi dia pulang ke sini loh Mbak. Katanya ada masalah sama suaminya dan sama Mbak Dara di kontrakin bekas rumahnya Bu Leha dulu itu." Elis menjelaskan apa yang dia ketahui pada Laila, agar Laila juga tahu apa yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya.


 Laila tampak manggut-manggut tanpa ingin mendengar lebih jauh, toh dia juga tidak begitu mengenal Indi. Apa lagi saat ini masalahnya sendiri sudah besar untuk apa lagi dia mencari tahu masalah orang lain yang mungkin saja jika di bandingkan tak akan sama besar bebannya dengan yang dia pikul saat ini.


"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari luar pintu rumah, Elis memang sengaja menutup pintu rumahnya karna tak ingin Laila terganggu dengan tetangga mereka yang terkadang kepo dengan urusan mereka.


"Wa'alaikumsalam," sahut Elis sambil mematikan kompor yang sedang di gunakannya untuk memasak mie instan dan bergegas ke depan.


"Eh, ibu? Tumben pagi pagi udah ke sini Bu? Elis pikir ibu pergi keluar," ucap Elis setelah membuka pintu dan mendapati Bu Hana berdiri di sana seng sebuah kantong plastik di tangannya.


 Elis mempersilahkan Bu hana masuk dan melangkah beriringan ke dapur, dimana laila berada.


"Iya, ibu lagi males kemana mana hari ini. Jadinya ya mending di rumah ajalah sama kalian, nonton drakor bareng atau bikin makanan apa gitu ya kan?" kekeh Bu Hana lalu menghenyakkan tubuhnya di atas kursi meja makan.


"Iya, Bu. Cocok banget lah itu, kebetulan Mbak Laila juga udah mau keluar kamar ini." Elis kembali menghampiri kompor dan meneruskan kegiatannya memasak mie instan goreng untuk menu sarapan mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu mau keluar juga, Nak. Kamu tahu nggak betapa cemasnya kami selama ini lihat kami sedih terus," ujar Bu Hana mengelus lengan Laila yang tampak tertunduk, merasa bersalah karna sudah membuat orang orang di sekitarnya cemas.


 Bu Hana mengibaskan tangannya di udara, lalu mendekatkan sebuah kantong plastik yang tadi bawanya ke hadapan Laila.


"Sudah nggak usah pikirin yang sudah lalu, coba ini kamu lihat ibu bawa apa."


 Kening Laila tampak berkerut, namun tak urung di bukanya juga bungkusan yang di bawa Bu Hana tadi.


 "Ini apa, Bu? Kurma muda?"


 Bu Hana mengangguk sambil tersenyum lebar. "Iya, bagus sekali buat program hamil. Kan apa salahnya kalau kita coba dulu ya kan?"


 Mata Laila mendadak mengembun, tak di sangkanya kalau ibu mertuanya ini yang begitu menginginkan seorang cucu bisa begitu sabar bahkan ikhlas membantunya menjalani semuanya bersama. Dan tidak serta merta menyalahkannya karna di sini dia yang bermasalah dengan rahimnya.


 Laila sontak menghambur ke pelukan Bu Hana, tak ada kata yang terucap selain ungkapan syukur yang terus dia gaungkan di dalam hatinya karna telah di beri keluarga yang terus mendukungnya dalam kondisi apapun.


 Bahkan setelah tahu kondisinya yang sebenarnya tak ada satupun dari mereka yang menghujat atau menghinanya. Malah seolah bahu membahu untuk membuatnya sembuh dan bisa segera hamil.


****


Sementara itu.


"Bikin apa hari ini, In?" tanya salah satu tetangga rumah indi yang bernama Bu Sondang, salah satu ibu ibu dari geng julid yang kini jadi pelanggan tetap kue kue dan sarapan pagi Indi yang di beri nama "warung sarapan pagi PELAKOR".

__ADS_1


 Sengaja Indi memberi nama demikian karna orang orang di komplek perumahan tersebut sudah mengetahui tentang dia dan masa lalunya. Namun bukannya malu dan merasa minder, Indi justru menjadikan semua itu sebagai batu loncatan agar usahanya semakin di kenal.


"Kaya biasa, Bu son. Sini di pilih dulu, ngomong ngomong kok tumben Bu son sendiri? Yang lainnya kemana?" tanya Indi sembari mengaduk nasi uduk di dalam termos agar tidak lengket satu sama lain.


 Bu Sondang mendekat dengan wajah masam, mungkin karna semalam suaminya pergi kerja malam dan belum pulang juga. Padahal tadi malam adalah malam jumat, waktunya ritual di mulai, eh.


"Belum bangun kali, kan kamu tahu semalam malam Jumat. Ya pasti masih molor lah jam segini, saya aja yang nggak wong suami saja dapat shift malam. Sebel banget saya jadinya," ketus Bu Sondang sembari mencomot sebuah bolu pandan dan mengunyahnya seperti makan daging biawak.


. Indi tersenyum kecil, semenjak warungnya memakai nama pelakor memang markas ibu ibu julid itu rata rata pindah ke tempatnya jika pagi begini. Dan beruntungnya lagi, mereka akan membeli dalam jumlah yang tak kurang dari sepuluh ribu, maklumlah istri orang kaya semua.


Dan anehnya lagi, setelah berbagi cerita dengan ibu ibu julid itu. Mereka ternyata tak lagi julid, malah turut prihatin dengan nasib Indi yang di duakan setelah melahirkan namun ada juga yang tetap mengatakan kalau itu adalah karma bagi Indi secara terang terangan, tapi Indi tak membalas dan hanya membenarkan saja pendapat itu. Karena ... ya bisa saja memang begitu adanya bukan?.


"Eh, ada bu Sondang? Sendiri aja, Bu?" sapa Bu Maryam yang baru saja keluar rumah setelah memandikan dan memakaikan baju cucunya yang kini sudah tampak cantik dengan balutan dress bayi berwarna pink muda dan pita kecil yang menghiasi kepala kecilnya.


"Eh, Bu mar. Iya nih, ibu ibu lain masih molor kayaknya. Biasa ... habis bertempur semalam, saya aja yang nggak dapat jatah semalam," ujar Bu Sondang malah curhat.


 Bu Maryam terkekeh kecil sembari menatap indi yang juga tersenyum kecil.


"Bu Sondang baru satu malam aja nggak dapat jatah udah uring uringan. Gimana saya, Bu?" kekeh Indi bercanda.


 Bu Sondang membeliak, lalu sedetik kemudian malah tertawa lepas.


"Hahaha kalau kamu itu ya wajar, wong suamimu aja udah di gondol kalong. Gimana mau dapat jatah, jatahnya udah di bagi dua, eh atau malah di bagi tiga sama emaknya sekalian? Kan si Fatan mokondo itu nggak pandang usia kayanya." Bu Sondang terkekeh geli sambil memegangi perutnya yang terasa tegang.


 Indi tertawa geli, tak merasa tersinggung sama sekali dengan kata kata Bu Sondang yang ceplas-ceplos dan terkesan menghina. Karna dia tahu semua anggota geng julid itu memang bahasanya seperti itu, jujur apa adanya bahkan kadang menyakitkan. Tapi rata rata sebenernya ibu ibunya berhati baik dan tak segan menolong sesama anggotanya.


"Iya juga ya , Bu. hahahah. Cuma ya gimana? Mau nyesel juga udah telat, Bu. Jadi ya sudahlah, terima nasib saja saya mah," kekeh Indi lagi tak terpengaruh sama sekali.


 Mereka tertawa lepas bersama, sebelum akhirnya beberpa anggota ibu ibu julid mulai berdatangan dengan wajah yang rata rata sama, muka bantal dan kelelahan dengan ciri khas lingkaran hitam di bawah matanya menandakan kalau mereka kurang tidur.


"Whoooaaalllh, pantes semalam kayak ada gempa. Rupanya sebagian besar penghuni komplek ini pada perang rupanya," sindir Bu Sondang pada teman temannya yang baru datang itu.


"Berisik, bilang aja iri yang semalem jadi janda iya kan?" balas salah satu ibu ibu yang baru Indi ketahui bernama Bu Ratna, wanita cantik yang selalu memakai gelang emas sebesar ulekan cabe kemana mana, maklumlah suaminya anggota dewan jadi mudah saja baginya membeli barang barang mewah begitu. Tapi denger denger sih, Bu Ratna ini jadi langganan teman temannya buat ngutang.


 Bu Sondang melengos, tapi tetap saja walau kelihatannya saling sindir tapi rasa solidaritas ibu ibu julid ini bisa di adu. Miskin satu, hilang semua maksudnya hahahha. Bercanda, heheh.


"Iya nih, capek banget rasanya semalam suntuk sampe subuh nggak di kasih tidur sama suamiku. Maklum besok udah mau ke Lampung, buat ninjau proyek di sana. Jadi buat bekal sekalian katanya," timpal ibu ibu berambut sebahu dengan dandanan ala artis Korea nyasar yang Indi ketahui bernama Nining, suaminya seorang kontraktor yang gajinya ya ... tanya sendiri lah sama yang punya gaji, wong saya aja nggak tahu kok.


 Bu Sondang makin berang, apalagi ingat semalam dia sudah memakai pakaian dinas malam baru yang di belinya secara online mahal mahal tapi malah di tinggal kerja sama suaminya yang seorang pengawas gedung di kota itu. --gedung apanya nanti author cari dulu ya, hehe--


 Baru saja bibir Bu Sondang terbuka hendak membalas ucapan temannya itu, sebab seruan mengangetkan mereka semua terlebih Indi yang matanya sampai membulat lebar melihat seseorang yang kini berada tak jauh dari posisi warungnya.


"Indi, tolong ...."


*Nah Lo? Siapa ya kira-kira?. Temukan jawabannya di episode besok ya heheh. Jangan lupa vote supaya cerita ini bisa terus berlanjut ya, soalnya dukungan kalian sangat di tunggu sama author receh ini. I love yuuu alll

__ADS_1


__ADS_2