TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 100. TAMU TAK DIUNDANG.


__ADS_3

*(Sudah bab 100\, waktunya kasih kejutan)*


 Pagi itu, matahari bersinar cerah cahayanya menembus hingga ke bagian dalam rumah Pak Jatmika yang sudah di hias sedemikian rupa untuk tempat berlangsungnya ijab qobul yang sebentar lagi akan di laksanakan.


 Para tamu undangan sudah berdatangan termasuk tukang siomay yang pernah menemani Zaki saat menunggu Pak Jatmika, akhirnya dialah yang di tunjuk Pak Jatmika untuk menjadi tukang parkir. Dengan bayaran yang sesuai tentunya, bahkan anak anak dan istrinya pun ikut hadir di acara tersebut.


 Semua tampak berbahagia, terlebih Zaki yang kini tengah berada di sebuah kamar dengan bundanya. Bersiap untuk segera keluar dan melaksanakan ijab qobul yang sejak lama sudah di tunggunya.


"Duh, tampannya anak Bunda ini," goda Bu Ambar sambil membenahi letak dasi berwarna putih di leher Zaki.


 Zaki tersenyum canggung, di dahinya tampak mengalir beberapa tetes keringat.


"Zaki kok deg degan ya, Bun?" kekeh Zaki mengusap keringat dingin di keningnya.


 Bu Ambar tersenyum lembut, sambil menepuk kedua pindak putra semata wayangnya itu.


"Baca bismillah, sebentar lagi kamu akan kembali jadi seorang suami, dan bahkan sekaligus seorang ayah. Bunda harap kali ini, nggak ada lagi drama seperti pernikahan kamu yang sebelumnya. Bunda yakin, Dara perempuan baik baik, dan insyaallah kamu nggak salah pilih. Semangat ya, Nak."


 Zaki mengangguk dan mencium tangan bundanya terlebih dulu sebelum memenuhi panggilan seseorang yang di urus untuk memanggil Zaki, karna acara ijab qobul sudah akan di mulai.


 Zaki duduk sendiri di depan penghulu, di depannya juga sudah duduk Pak Jatmika yang tampak gagah dengan balutan jas berwarna hitam dan peci hitam yang senada. Beberapa orang saksi termasuk Halim juga sudah duduk di tempat yang di sediakan, setelah beberapa saat menjelaskan barulah acara inti ijab qobul itu di mulai.


"Saudara Zaki, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Adara Hadiningrat binti Jatmika Hadiningrat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 250 gram di bayar tunai." Pak Jatmika melantunkan kalimat ijab dengan tegas dan mantab sambil menjabat tangan Zaki.


 Zaki menarik nafas panjang sejenak sebelum dengan lantang menjawab dengan kalimat qobul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Adara Hadiningrat binti Jatmika Hadiningrat dengan mas kawin yang tersebut, tunai."


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu pada ke empat orang yang duduk di sisi kiri dan kanan Zaki.

__ADS_1


"Sah!" seru mereka dan para tamu yang lain berbarengan.


"Alhamdulillah," ucap Pak Jatmika dan orang orang yang berada di depan meja ijab qobul itu sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.


 Setelahnya penghulu membacakan doa untuk ke dua mempelai yang baru saja sah itu. Dan tak lama tampak Dara yang sudah di dandani cantik keluar dari kamar dengan di apit oleh Bu Ambar dan Laila.


 Mereka mengantarkan Dara hingga ke tempat di sebelah Zaki, dan mendudukkannya di sana. Membentang sebuah kain indah berwarna putih di atas kepala ke dua mempelai.


 Zaki tersenyum manis, sedangkan Dara tampak malu malu saat Zaki memasang sebuah cincin kawin di jari manis Dara dan mengecup keningnya lembut. Dara memejamkan mata meresapi kecupan halalnya itu, setelah beberapa lama akhirnya dia kembali merasai perasaan itu selain dengan Fatan.


"Papa!" seru si kembar yang tiba tiba berlari dari arah belakang dan langsung duduk di pangkuan Zaki dan Dara.


 Di belakangnya Elis tampak mengikuti dengan wajah panik.


"Mbak, maaf." Elis mendesis sambil menatap Dara tak enak.


 Setelah serangkaian prosesi sudah di lalui, kini mempelai di arahkan untuk ke spot foto indoor lebih dulu untuk mengambil foto dengan keluarga dan teman dekat, tak ketinggalan si kembar yang selalu saja ingin ikut dalam setiap foto yang di ambil oleh para fotografer itu.


"Selamat ya, Nduk. Akhirnya kamu mendapatkan suami yang insyaallah lebih baik ketimbang mantan suami mu dulu, bapak yakin karena bapak sendiri yang sudah mengujinya. Selamat ya," ujar Pak Jatmika setelah sesi foto bersama selesai.


 Dara menggangguk dan serta merta memeluk tubuh tegap Pak Jatmika.


"Terima kasih, Pak. Selama ini bapak sudah peduli sama Dara dan anak anak, mungkin kalau nggak ada bapak, Dara mungkin masih bingung sekarang harus bagaimana," tukas Dara merendah.


Padahal sejak sebelum bertemu kembali dengan Pak Jatmika usaha Dara termasuk sudah sukses. Dara hanya ingin bapaknya merasa berharga karna sudah membantunya untuk mengembangkan usahanya yang kini semakin terkenal itu.


 Setelah beberapa saat kembali mengambil foto dan menerima ucapan selamat dari kerabat dan teman dekat, Dara dan Zaki di arahkan untuk berganti pakaian dengan kostum selanjutnya di satu kamar yang sama, yaitu kamar pengantin yang sudah di hias sedemikian rupa.


Di kamar pengantin, beberapa kali juga fotografer mengambil gambar kedua memperlihatkan di atas ranjang berhiaskan bunga bunga indah dan cantik itu. Kemudian di lanjutkan oleh sang mua yang kembali sibuk mendandani Dara.

__ADS_1


"Sebenarnya istriku ini walau nggak di dandani setebal itu juga bakalan tetap cantik kok, ya kan Mbak?" kekeh Zaki sambil menatap Dara dari pantulan cermin.


"Iya, Mas. Mas beruntung bisa menikah sama Mbak Dara, sudah cantik wajahnya cantik pula hatinya. Dimana lagi mau cari paket komplit kaya begini, Mas?" sahut Mbak MUA sambil terkekeh namun tetap fokus mendandani Dara yang urung berkata apaa apa itu.


 Sepasang pakaian adat Jawa hijab sudah menempel sempurna di tubuh Dara yang langsing dan singset. Selanjutnya mereka di arak ke depan untuk prosesi selanjutnya yaitu temu manten.


 Sebuah prosesi sakral yang di lalui para pengantin bersuku Jawa yang sangat sarat akan makna. (Untuk lebih jelasnya silahkan cek yt, author takut mau tulisnya takut ada yang salah dan bikin salah paham).


 Setelah serangkaian proses yang di abadikan oleh banyak kamera dan mata itu, Dara dan Zaki pun di arak oleh Pak Jatmika menuju ke pelaminan menggunakan kain berwarna merah dan putih yang di lilitkan di belakang tubuh mereka.


 Kemudian Pak Jatmika melepas kain itu setelah kedua mempelai sampai di atas pelaminan, di ikuti oleh si kembar yang seakan tak mau berpisah dari Dara dan Zaki sebagai papa barunya walau sebentar saja.


 Para tamu yang berdatangan mulai naik ke panggung pelaminan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat secara langsung ke pada ke dua mempelai, tamu yang sangat banyak sampai Dara dan Zaki tidak bisa mengingat wajahnya a satu persatu karna kebanyakan adalah kolega bisnis sang bapak.


"Capek nggak, dek?" tanya Zaki di sela padatnya tamu undangan, namun yang naik ke pelaminan sudah mulai berkurang.


 Dara tersenyum dan menggeleng lemah, walau sebenarnya kakinya sudah mau patah rasanya berdiri dengan sandal pengantin yang lumayan licin itu.


 Berbagai jenis kado dan buket mulai dari yang hingga bunga ukuran besar sudah tersusun rapih di tepi kursi pelaminan, Zaki menggeser salah satu kado berukuran jumbo sedikit dan membantu Dara untuk duduk.


"Mas pijitin ya," ujar Zaki yang tak sempat di tolak Dara, jadi Dara hanya bisa pasrah ketika Zaki mengangkat sedikit bagian bawah gaun berwarna hitam itu dan membuka sandal pengantin dari kakinya.


 Dara merasa lega, ketika semilir angin membelai kaki telanjangnya yang berada di pangkuan Zaki dan di pijit pelan itu. Rasanya semua kelelahan yang tadi di rasakannya hilang menguap entah kemana karna perhatian yang tulus dari suaminya.


"Wah, wah, wah enaknya pengantin baru di pijitin. Kayak ratu aja," celetuk seseorang yang sudah beberapa waktu terakhir tidak lagi nampak di hadapan Dara.


 Dara terkejut, menurunkan kakinya dari pangkuan Zaki dan berdiri menantang.


"Apa maumu?" sentaknya.

__ADS_1


__ADS_2