TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 117. LAILA NGAMBEK.


__ADS_3

 Halim akhirnya memutuskan pulang ke rumahnya setelah di tinggalkan Laila. Di depan rumah tampak Bu Hana tengah sibuk dengan ponselnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Halim sambil duduk untuk membuka sepatu kerjanya.


"Wa'alaikumsalam, udah pulang kamu?" sahut Bu Hana.


 Halim mengangguk saja tanpa berniat menjawab , sejurus dia melihat ke arah rumah Laila yang siang itu tampak lengang.


"Kenapa mukamu kayak jemuran basah begitu?" tanya Bu Hana sambil menurunkan ponselnya dan fokus menatap sang anak yang tengah melamun.


 Halim menggeleng, masih enggan untuk bersuara.


"Berantem lagi sama Laila?" tebak Hana tepat sasaran.


 Halim mengangguk.


"Mulutmu itu apa udah nggak ada gunanya? Dari tadi di ajak ngomong jangankan jawab, mangap aja nggak! Tak doain bisu baru tahu rasa kamu!" omel Bu Hana sambil beranjak masuk ke dalam rumah dengan di ikuti Halim.


 Bu Hana menghempaskan tubuhnya di atas kasur rasfur yang ada di ruang keluarga, sementara Halim langsung menuju dapur, mengambil sebotol air dingin dan kembali untuk duduk di sebelah sang ibu.


 Merebahkan kepalanya yang pusing di pangkuan ibunya, Halim barulah mulia bercerita.


"Ibu beneran mau Halim nikah?" tanyanya membuka percakapan.


 Bu Hana perlahan mulai mengelus rambut anaknya, walau sering berkata kasar pada Halim namun Bu Hana sebenarnya adalah sosok ibu yang penyayang dan perhatian.


"Kenapa? Kok kayak kamu yang ragu?" Bu Hana balik bertanya.


 Halim menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Laila, kayaknya nggak suka sama Halim, Bu."


"Nggak suka gimana? Emangnya dia bilang apa sama kamu?" Bu Hana mengerutkan keningnya.


"Katanya dia nggak mau ketemu Halim dulu sampe Halim berubah, emangnya Halim harus berubah jadi apa, Bu? Ultramen? Porenjes? Pikacu? Atau siluman labi labi?" dengus Halim sok bijak.

__ADS_1


 Bu Hana menoyor kepala anaknya, mungkin berniat membenahi kabel di kepala Halim yang mungkin konslet atau kendor.


"Kok ibu malah noyor sih, Bu?" protes Halim sambil bangkit dan duduk tegak.


"Ya kamu itu emang sengklek, namanya perempuan itu pengennya di mengerti, Laila sampai ngomong begitu itu pasti kan ada sebabnya. Sekarang kamu jujur, apa yang sudah kamu katakan sama Laila sampe dia marah sama kamu?" ketus Bu Hana sambil menunjuk wajah Halim yang merasa tak bersalah itu.


 Halim menggedikkan bahu.


"Nggak ada, dia bilang Halim keturunan kolongmelarat, terus Halim kejar dia buat jelasin kalau yang dia bilang itu salah, harusnya konglomerat bukan kolongmelarat, kan gitu eh malah marah dia. Nggak tahu Halim juga salahnya dimana," ucap Halim dan dengan santainya malah menghabiskan satu botol air di tangannya.


 Bu Hana langsung mendengus geram mendengar pengakuan Halim, lalu dengan cepat dia bangkit dan menarik telinga anaknya itu.


"Dasar bocah sableng, ayo sekarang juga ikut ibu!"


"Auu, aaaauuu sakit, Bu. Mau kemana sih?" seru Halim sambil memegangi telinganya yang rasanya hampir copot karna di jewer sang ibu itu.


 "Ke rumah Laila, kamu harus minta maaf atau kamu bakalan batal kawin lagi! Bisa rusak impian ibu buat punya cucu lima kalau kamu gagal kawin lagi." Bu Hana berdecak dan langsung menyeret Halim keluar rumah.


 Halim pontang-panting mengikuti langkah kaki ibunya yang secepat kilat menyambar itu, bahkan dia sampai tak sempat lagi memakai sandal saking semangatnya Bu Hana menyeretnya menuju rumah Laila.


 Sesampainya di depan rumah Laila, Bu Hana belum juga melepas jewerannya di telinga Halim. Membuat Halim meringis sambil sesekali menepuk pelan tangan Bu Hana seolah meminta di lepaskan --malu kalau sampai di lihat Laila dalam posisi itu--.


 Tapi Bu Hana yakin Laila ada di dalam karna beberapa saat sebelumnya, dia sempat bertegur sapa dengan Laila yang pulang dengan berjalan kaki.


"Bu, ini lepasin dulu. Halim malu, Bu." Halim mendesak sang ibu, namun Bu Hana malah mendelikkan matanya pada Halim, sampai Halim akhirnya hanya bisa diam dan mengalah pasrah.


"Assalamu'alaikum," seru Bu Hana lagi, masih tetap kekeh memegangi telinga Halim yang kini hanya bisa diam dengan mulut mengerucut.


"Wa'alaikumsalam," sahut Laila dari dalam rumah, di ikuti pintu rumah yang terbuka lebar.


 Terlihat wajah ayu Laila menyembul dari balik pintu, namun Halim langsung gagal fokus saat melihat wajah bidadarinya itu sembab seperti habis menangis.


 Bu Hana sendiri tampaknya juga menyadari itu, tanpa basa basi lagi Bu Hana segera melepaskan tangannya dari telinga Halim dan berjalan mendekat pada Laila.


"Kamu kenapa, Nak? Apa anak bodoh itu bikin kamu sakit hati? Bilang sama ibu, biar ibu kutuk dia jadi belut sawah." Bu Hana membawa kepala Laila dalam dekapannya sambil melirik Halim dengan tatapan mematikan.

__ADS_1


 Halim menelan ludah, otak lemotnya tiba tiba membayangkan sebentar lagi akan ada berita viral tentang seorang manusia yang berubah jadi belut sawah karena di kutuk ibunya. --lebih tepatnya, ibu angkatnya--


"Kita masuk dulu, Bu." Laila menarik diri dari pelukan Bu Hana dan ganti menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah.


  Sebelum mengikuti langkah Laila, Bu Hana masih sempat kembali melempar tatapan tajam pada Halim. Seakan mengatakan kalau ancamannya tadi tidak main main.


 Laila sengaja tidak mengajak Halim untuk masuk, dia hanya melirik sekilas lalu berpura pura seakan tidak melihat Halim di sana.


"Ibu tunggu di sini ya, Laila buatkan minuman dulu," ucap Laila pelan.


 "Tunggu, Nak." Bu Hana mencekal tangan Laila, membuat langkah guru manis itu langsung terhenti.


"Nggak usah repot repot, ibu ke sini cuma mau tahu apa yang sudah di lakukan anakonda bodoh itu sama kamu. Ibu nggak ikhlas kalau sampai dia nyakitin kamu, Nak," ucap Bu Hana penuh kelembutan.


 Sungguh, Bu Hana sudah sangat menginginkan Laila menjadi menantunya karna selain sudah cocok Laila juga mengingatkan dirinya di saat muda dulu. Saat dia untuk pertama kalinya terluka karna cinta, dan akhirnya memutuskan melajang sampai hari tua. Sesuatu yang sangat dia sesali hingga saat ini.


"Sebenarnya, Laila nggak marah sama Mas Halim, Bu. Laila cuma mau Mas Halim lebih peka, nggak plin plan dan asal sradak seruduk aja." Laila mulai menjelaskan.


 Bu Hana tampak mendengarkan dengan seksama.


"Tunggu, tunggu coba kamu jelaskan sekali lagi. Kok ibu kurang paham ya?" tukas Bu Hana.


 Laila mendesah berat.


"Yah, sederhananya sih Laila pengen Mas Halim itu bisa jadi pria romantis kayak di Drakor gitu loh, Bu."


Mata Bu Hana seketika membeliak.


"Apa? Drakor? Oppa oppa ganteng yang bikin hati meleleh itu? Kamu suka juga? Ibu juga suka loh! Apalagi yang dokter sama tentara itu, duh rasanya nonton berulang kali pun nggak bosan," sahut Bu Hana menggebu gebu.


 Laila mengangguk dengan tak kalah bersemangat.


"Iya, Bu. Begitu, bisa nggak ya Bu Mas Halim jadi kayak oppa oppa itu?"


"Bisa! Pasti bisa! Ibu yang atur, kamu tenang aja pokoknya kamu nggak bakalan gagal jadi menantu ibu, lihat aja nanti hasilnya," desis Bu Hana tersenyum.

__ADS_1


 Halim yang kebetulan tengah menguping dari samping rumah karna tadi tak di ajak masuk itu langsung menepuk jidatnya keras.


"Astaga! Ancaman apa lagi ini ya Allah?" desahnya miris.


__ADS_2