TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 180. TABIR YANG TERSIBAK.


__ADS_3

*Kalau kalian nggak percaya orang yang benar benar baik itu ada, coba deh nonton Indosiar. Mungkin yang bikin kalian nggak percaya karena di sekitar lingkungan kalian nggak ada yang begitu kali ya? Kalau boleh tahu dimana kalian tinggal? Neraka kah? Yang tempatnya setan semua, eh.


*Hanya intermezzo, sama sekali tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.


 Kembali ke yang lagi kasmaran.


 Pak Jatmika masih ternganga tak percaya mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Bu Hana, wanita yang kini menatapnya dengan tajam itu terlihat begitu amat sangat membencinya.


"Apa kamu lihat saya begitu? Apa yang saya bilang itu memang benar kan? Sejak dulu saya selalu sial kalau dekat kamu! Nggak pernah ada keberuntungan yang menyertai kalau ada kamu tu." Bu Hana lagi lagi mengungkapkan kekesalannya.


 Lalu meraih kantong berisi barang yang di belinya tadi dan mulai meminum susu pisang dalam kemasan imut seperti yang dia lihat di minum artis utube idolanya.


"Maaf," gumam Pak Jatmika sembari menundukkan kepalanya dalam, tanpa berniat menatap Bu Hana lagi.


 Bukan hanya hatinya yang saat ini sangat sakit, tapi juga kenyataan kalau apa yang di katakan Bu Hana adalah benar.


"Mungkin kamu lupa, tapi saya tidak akan pernah lupa, Jat. Bagaimana kamu sudah merenggut kebahagiaan saya, gara gara kamu saya berpisah dengan Mas Gunawan dan dia harus terpaksa menerima permintaan orang tuanya untuk menikahi wanita lain."


 Bu Hana mulai bercerita, air mata luruh dari sudut matanya. Sedang Pak Jatmika hanya bisa diam, mendengarkan tanpa berniat menyela sedikitpun.


"Andai dulu kamu tidak mengajak saya bertemu, pasti saat ini Mas Gunawan masih hidup. Pasti saat ini kami sudah bahagia hidup bersama, mempunyai anak yang banyak dan tinggal di rumah sederhana di tengah perbukitan impian kami. Tapi apa yang terjadi sekarang? Gara gara hari itu semua impian kami hancur berkeping-keping bahkan kini, aku harus menerima kenyataan di setiap harinya kalau menantuku nyatanya adalah anak dari Mas Gunawan dengan wanita itu, wanita yang di jodohkan dengannya."


"Maaf, maafkan saya Hana ...." hanya kalimat itu yang mampu di ucapkan Pak Jatmika, dari suaranya yang terdengar bergetar tahulah Bu Hana kalau saat ini pria di depannya itu tengah menahan tangis.


 Bu Hana tersenyum miring, di ssedotnya susu pisang di tangannya hingga tandas dan kemudian menegakkan punggungnya menatap lekat pak Jatmika yang masih tertunduk dengan bahu berguncang.


"Apa? Maaf kamu bilang, Jat? Apa maafmu itu bisa mengembalikan semuanya? Menghidupkan lagi Mas Gunawan ku? Mengulang semua yang terjadi sesuai impian kami hm? Tidak kan?" bentak Bu Hana keras, hingga mengundang perhatian orang orang yang saat ini tengah lewat di dekat mereka.


"Sebenarnya apa alasan kamu melakukan semua itu dulu ha? Apa memang benar isu yang mengatakan kalau ....."

__ADS_1


"Iya! Itu benar! Semua itu saya lakukan karena saya mencintai kamu, Hana! Mencintai kamu! Bahkan setelah kamu memilih menghilang dan saya menerima Aminah menjadi istri saya masih tidak bisa berhenti mencintai kamu! Hingga kini ... setelah istri saya meninggal karna penyakitnya rasa itu kembali, tepat saat kamu kembali muncul di pernikahan Halim." Pak Jatmika menjatuhkan tubuhnya yang tadi sempat berdiri untuk menyampaikan maksud nya pada Bu Hana, pundak tegap itu merosot ke bawah berguncang hebat dengan kepala bertumpu pada tangannya.


 Bu Hana tampak terpana, tak di pedulikannya tatapan heran orang orang yang masih berlalu lalang di sekitar mereka.


"Kamu ... kamu pasti bohong kan? Kamu bohong kan, Jat? Itu tidak mungkin ...." Bu Hana tertawa namun matanya menangis, entah apa yang di rasa namun mendadak tangis itu menjadi deras.


 Beberapa saat ke duanya tampak larut dalam irama tangis yang sama, mengeluarkan semua sesak yang meraja di dalam dada.


"Hana," panggil Pak Jatmika setelah beberapa saat kemudian dan tangisnya sudah mulai reda, menyisakan wajah yang sembab dan mata yang memerah.


 Bu Hana mendongak, menatap mata yang sejak dulu selalu menatapnya lembut namun begitu di bencinya itu.


"Berhenti menatap saya seperti itu, Jat. Saya tidak suka," gumam Bu Hana mengusap air matanya yang sudah berhenti mengalir.


"Tapi saya suka, saya ... ingin selalu melihat kamu di setiap membuka dan menutup mata saya, Hana. Mungkin ini sangat amat terlambat, tapi ... percayalah saya masih mencintai kamu. Dan akan selalu mencintai kamu." Pak Jatmika mencoba meraih tangan Bu Hana dalam genggamannya.


 Tapi sudut hatinya yang lain masih mencoba untuk menepis, walau dia sendiri tahu sebenarnya bagaimana perasaannya.


"Maaf, Jat. Saya ... tidak bisa," gumam Bu Hana menepis pelan tangan Pak Jatmika dari tangannya.


 Lalu meraih tasnya dan beranjak meninggalkan Pak Jatmika di sana.


"Saya akan menunggu, dan saya akan terus berusaha membuat kamu akan bisa membuka hatimu untuk saya!" seru Pak Jatmika yang masih bisa di dengar Bu Hana.


 Bu Hana berbalik sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah dengan sedikit mengulum senyum.


****


 Sementara itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pak Zaki." suara pak RT yang menghubungi Zaki via telepon terdengar santer di kamar pribadi mereka karna Zaki menghidupkan pengeras suara ponselnya.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana Pak RT? Ada kabar terbaru?" tanya Zaki yang tengah mengelus punggung Dara yang tampak ikut mendengarkan sembari berbaring.


"I- iya, Pak Zaki. Tapi ... Tapi sebaiknya, Pak Zaki melihatnya langsung saja di kantor polisi." Suara Pak RT tampak bergetar.


 Zaki mendadak merasa panik, dia bangkit berdiri sedangkan Dara ikut bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Baik, Pak RT saya ke sana sekarang."


"Ya ya, Pak Zaki tolong cepat ya, Pak," pinta Pak RT semakin membuat Zaki cemas.


 Zaki langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja, melempar ponselnya ke atas kasur sembarangan dan berjalan menuju lemari untuk mengambil jaketnya.


"Sayang, Mas ke kantor polisi dulu ya. Kata Pak RT ada kabar terbaru," ucap Zaki sembari mengenakan jaketnya dengan tergesa gesa.


 "Ada apa memangnya, Mas? Ini sudah malam loh?" tanya Dara ikut cemas melihat wajah tegang suaminya.


 Zaki mendekati Dara, lalu menjatuhkan sebuah kecupan di keningnya.


"Kamu tenang saja ya, tinggallah di rumah jaga anak anak baik baik ya. Mas akan kabari kamu apapun yang terjadi di sana, mas pergi dulu ya."


 Zaki mengulurkan tangannya dan langsung di cium oleh Dara, setelah memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana dan menyambar kunci mobil zaki langsung keluar kamar dan menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.


"Ya Allah, semoga bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Jaga suami dan keluarga hamba, ya Allah." Dara melangitkan doa setelah kepergian suaminya.


 Di bawanya tubuhnya untuk kembali berbaring, perutnya yang mulai membuncit membuatnya sedikit sulit menemukan posisi yang bisa membuatnya nyaman dalam berbaring.


"Ya Allah, kenapa perasaan ku nggak enak begini ya?" gumam Dara seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2