
"Ahahah, nah kan kualat. Siapa suruh main nyosor aja? Makan dah tuh pintu mobil. Hahaha," ledek Zaki pada wanita berbju ketat itu yang kini tengah meringis sambil memegangi kening dan bibirnya yang terasa Jontor.
"Iishhh, dasar laki nyebelin!" amuknya sambil memukuli pintu mobil Zaki.
Kakinya bahkan menghentak hentak seperti anak kecil meminta mainan.
Zaki tergelak. "Hei hei, jangan di pukuli mobilnya. Nanti kalau sampai lecet atau penyok saya minta ganti loh ya, di dasbor mobil saya ada CCTV nya loh."
Wanita itu langsung berhenti begitu mendengar ucapan Zaki, dan dengan wajah di tekuk menjauhi mobil Zaki walau sempat sempatnya menendang ban mobilnya.
"Mobil jelek aja belagu," desis wanita itu pelan , namun masih bisa di dengar oleh zaki.
"Biarin mobil jelek juga, yang penting bisa bermanfaat dan melindungi dari panas dan hujan di jalan. Dari pada jalan kaki terus nabrak sendiri dan malah minta tanggung jawab?" sindir Zaki sembari menaikkan sebelah alisnya.
Wajah wanita itu tampak semakin di tekuk, bibirnya yang tipis mengerucut dengan tangan bersedekap di dadanya. Membuat PD nya yang sebesar buah melon itu tertekan dan tampak menggiurkan bagi laki laki mata keranjang. Tapi tidak bagi Zaki, melihat pemandangan tak senonoh itu dia malah membuang muka dan masuk ke dalam mobilnya.
"Hei, tunggu," sela wanita itu, dia menghadang mobil Zaki hingga Zaki tak bisa kemana mana karna tak mungkin juga sengaja menabrak wanita itu.
Zaki membuat kaca jendela mobilnya. "Ada apa lagi? Saya kan sudah bilang kalau saya nggak mau tanggung jawab, kan jelas bukan saya yang salah. Saya punya rekamannya apa kamu masih mau berkelit?"
Wanita itu mendengus keras dan beranjak menuju kaca mobil Zaki yang terbuka. Wajah juteknya yang tadi tiba tiba berubah menjadi sayu.
"Jangan pergi, Mas. Kamu harus menolong ku, aku ... kepanasan," bisiknya di sertai ******* yang membuat Zaki malah semakin merinding di buatnya.
Zaki mengeluarkan sebungkus tisu basah dan di ulurkan pada wanita itu.
"Ini, Mbak. Biar dingin, katanya tadi kepanasan kan?"
Wanita itu menatap Zaki heran, baru kali ini ada lelaki yang bukannya tergoda malah memberinya tisu basah.
"Mas ... ayolah, apa kamu tidak tergoda melihat tubuh ku?" rayunya lagi sambil menggoyang kan tubuhnya yang berlemak di sana sini hingga semuanya bergoyang naik turun seperti bola bekel.
Zaki menatap sekilas. "Nggak, Mbak. Terima kasih."
Doenggg
Wanita itu seperti di tampar dengan sebuah nampan perak mendengar ucapan Zaki. Baru kali ini, benar benar baru kali ini ada lelaki yang bisa menolak godaannya. Biasanya para lelaki yang alim sekalipun bisa di goda, walau sekedar memoroti uangnya saja.
Melihat wanita itu kini tertegun, Zaki menutup kaca mobilnya dan perlahan mulai melaju kembali bersama mobilnya.
__ADS_1
Wanita itu kini tampak mengeluarkan ponselnya dari celana pendeknya yang kekurangan bahan itu.
"Halo, misi gagal. Saya minta bayaran lima kali lipat karna anda sudah membuat saya malu bukan main."
Tut
Wanita itu langsung mematikan sambungan teleponnya dan berlalu dari tempat itu.
****
Zaki baru saja sampai di rumah ketika suara teriakan riang si kembar sudah mampir ke gendang telinganya.
"Om Papa!" seru mereka berbarengan, sambil berlari kecil menuruni tangga rumah Zaki. Mereka memang belum di ajari oleh Dara untuk memanggil Zaki Papa, karna belum mendapatkan restu dari bapaknya. Tapi si kembar yang sudah tak sabar berinisiatif sendiri untuk memberi panggilan pada Zaki sedemikan rupa dan Zaki sendiri tidak masalah dengan itu.
Zaki tersenyum dan menyambar bungkusan kecil dengan logo minimarket di depan kompleks perumahan mereka yang berisi beraneka es krim untuk si kembar.
"Assalamu'alaikum, anak anak om. Lihat om bawa apa?" tunjuk Zaki pada kantung plastik yang di bawanya.
Si kembar berebut meminta kantong itu, dan mata bening mereka langsung berbinar begitu melihat isi di dalamnya.
"Es krim!" seru keduanya berbarengan.
Kompak keduanya mengangguk. "Suka sekali, terima kasih Om."
"Sama sama," sahut Zaki dan mengajak si kembar untuk masuk kembali ke dalam rumah menemui Bu Ambar yang kini tengah memasak.
"Assalamu'alaikum," sapa Zaki sambil mendekati bundanya dan mencium tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Wa'alaikumsalam, sudah pulang kamu, Nak?" sahut Bu Ambar lembut.
"Iya, bun. Alhamdulillah semua urusan sudah selesai," jawab Zaki sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol air dingin.
Bu Ambar mematikan kompor karna masakannya sudah matang, dan mulai di pindahkan ke piring.
"Terus gimana? Kamu sudah ketemu sama orang tuanya Dara?"
Zaki duduk di meja makan sambil menuang air dingin ke gelas.
"Sudah, Bun. Dan bunda tau nggak, ternyata bapaknya Mbak Dara itu pemilik perusahaan yang pagi ini bertemu sama Zaki sebagai investor?"
__ADS_1
Bu Ambar berbalik, membawa sebaki lauk yang di masaknya tadi ke atas meja makan. Matanya tampak berbinar.
"Oh ya? Lalu gimana? Lamaran kamu di terima kan?"
Zaki tersenyum kecut. "Belum , Bun. Kata Pak Miko mau di tes dulu. Nggak tau juga Zaki tesnya yang bagaimana, sebab katanya beliau trauma anaknya pernah gagal berumah tangga, beliau bilang dia ingin pria yang akan jadi suami Mbak Dara nanti harus lah orang yang jujur dan berkomitmen."
Bu Ambar duduk di hadapan Zaki dan menggenggam tangannya lembut. Kehangatan kasih sayang seorang ibu begitu terpancar kuat dari auranya.
"Memang sudah sepatutnya begitu, beliau sebagai ayah tentu saja ikut sakit hati jika melihat anak kesayangannya, anak perempuannya di sakiti oleh pria yang bergelar suaminya. Jadi wajar, sangat wajar malah kalau Bapaknya Dara mengingin kan menantu terbaik versinya dulu. Untuk tes itu, apapun bentuknya ikutilah dengan tenang dan ingat pesan bunda. Jadi diri kamu sendiri, ikuti kata hati kamu. Bunda percaya, sangat percaya kalau anak bunda ini adalah pria yang baik."
Seolah mendapat suntikan semangat, Zaki yang tadinya sudah berpasrah jika lamarannya tak di terima kini mulai bersemangat kembali. Di ciuminya tangan bundanya berulang kali sambil mengucapkan terima kasih yang tak terhingga banyaknya.
"Terima kasih untuk semuanya, Bun. Bunda yang terbaik, dan Zaki sangat sayang sama bunda." Zaki berbisik di sela air mata yang turun dari mata yang menatap haru itu.
****
Di kampung.
"Mas, baru pulang? Dari mana aja?" tanya Indi saat mendapati Fatan baru saja sampai di rumah padahal hari sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam.
Fatan tak menjawab dan mendorong tubuh Indi agar menyingkir dari muka pintu.
"Mas, kalau di tanya itu di jawab dong!" seru Indi meninggi, pintu depan di tutupnya dengan kasar.
Fatan berhenti, menghela nafas dan berbalik dengan tatapan tajam.
"Memangnya kenapa?"
Indi terhenyak melihat perubahan Fatan, padahal baru saja beberapa Minggu sejak pernikahan mereka. Harusnya saat ini mereka masih hangat hangatnya sebagai pengantin baru, tapi yang di dapat Indi justru perlakuan Fatan yang dingin dan cuek setiap harinya.
"Mas, kamu kenapa sih? Kok jadi jarang pulang dan kalau pulang pasti isinya cuma marah marah?" tanya Indi mencoba melunak.
Dia sudah lelah bertengkar, dia malu pada tetangga yang setiap hari menggunjingnya dan rumah tangganya yang tak tampak harmonis seperti layaknya pengantin baru.
Bukannya menjawab, Fatan malah mendekat pada Indi dengan tatapan dingin nan tajam. Dalam sekali sentakan dia meraih dagu Indi dan menekannya.
"Bukankah sudah ku katakan dulu? Jangan pernah macam macam dengan warga di kampung ini. Sekarang nikmatlah buah simalakama dari ku."
Indi terkejut bukan main, karna suara yang keluar dari mulut Fatan bukanlah suaranya yang asli. Itu ... suara berat seorang nenek tua.
__ADS_1