TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 119. HALIM NGAMBEK.


__ADS_3

Halim datang ke kantor dengan hati masygul, wajahnya yang di tekuk membuat semua staff lain yang berada di bawahnya takut untuk menyapanya.


"Kenapa itu muka? Kusut banget?" celetuk Zaki yang kebetulan hari ini kembali membantu di perusahaan bapak mertuanya untuk menangani proyek di beberapa tempat.


Halim menghempaskan tubuhnya di atas sofa, lalu meraih sebuah botol berisi minuman soda di sana.


"Ada masalah?" tanya Zaki lagi, kebetulan saat itu Pak Jatmika tengah berada di kamar kecil.


"Nggak," sahut Halim singkat, namun raut wajahnya yang kesal itu sama sekali tidak berbakat untuk bohong.


Zaki hanya tersenyum lalu kembali menepuk pelan punggung Halim seolah memberi semangat, sebelum akhirnya kembali berkutat dengan proposal yang ada di tangannya. Bekerja dengan serius agar hasilnya terbaik untuk kehidupan yang lebih baik.


"Mbak Dara cerewet nggak, Pak?" celetuk Halim tiba tiba sambil menopang dagunya dengan tangan.


Kening Zaki langsung terbuka berkerut mendengar pertanyaan Halim.


"Kenapa memangnya? Ada masalah sama Laila?" cetus Zaki.


Halim mendesah berat, seakan hanya masalahnya yang paling berat di dunia ini.


"Nggak papa, hanya bertanya nggak papa kalau nggak mau jawab juga," sahut Halim senewen.


Zaki semakin heran melihat tingkah asisten pribadi Pak Jatmika itu, tidak ada angin tak ada hujan bisa bisanya malah ngambek sama orang.


"Dara nggak cerewet, tapi menurut saya perempuan wajar saja kalau suka ngomel, hormon mereka berbeda sama kita. Apalagi setelah menikah dan punya anak, sabar sabar saja menghadapinya. Jangan pakai kekerasan karena wanita itu sejatinya ingin di mengerti dan di manja itu saja kuncinya, ah ya dan satu lagi, jangan pernah berpikir untuk membentak mereka karna itu bisa menjadi akhir dari duniamu." Zaki menjelaskan sejauh yang dia tahu tentang rumah tangga .


Halim mendengus kesal alih alih berterima kasih karena sudah di beri tahu.


Zaki hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah absurd asisten mertuanya itu. Entah di tong sampah mana dulu Pak Jatmika memungut makhluk seperti Halim ini.


"Eh, Halim sudah datang?" celetuk Pak Jatmika yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Hemmm," sahut Halim tak peduli, walau kini yang menanyainya adalah orang yang sudah memberinya kehidupan -- gaji --

__ADS_1


Pak Jatmika menoleh pada Zaki, mengangkat dagunya seakan bertanya ada apa dengan si cecurut --halim-- itu. Tapi Zaki hanya menggedikkan bahu tanda tak tahu.


"Gimana? Sudah kamu sampaikan sama Laila tentang rencana kita kemarin?" ujar Pak Jatmika lagi sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.


Halim hanyaa mendengus kesal mendengar Pak Jatmika membahas hal itu.


"Udah!" sahutnya ketus.


Dahi Pak Jatmika secara otomatis bertambah kedutannya, lagi dia menatap Zaki namun pria itu malah terkekeh sambil menutup mulutnya lalu membuang muka ke arah lain.


"Terus?" Pak Jatmika semakin gencar menggoda, entah kenapa melihat wajah Halim yang kesal seperti hiburan tersendiri baginya.


"Ya nggak ada terus terus, gara gara Bos sama ibu saya ... saya malah makin di benci sama Laila," dengusnya.


Pak Jatmika menutup mulutnya yang saat ini sudah menarik sebuah senyum simpul.


"Loh, kok kamu malah nyalahin saya?" tanya Pak Jatmika pura pura tersinggung.


Sadar kondisi --gajinya-- dalam bahaya, Halim langsung berputar untuk mengahadap Pak Jatmika dengan posisi yang benar, sambil mengelap keringat dingin yang tiba tiba bercucuran di keningnya.


Pak Jatmika mencebik, seakan sudah kebal dengan rayuan gombal Halim yang Abal Abal itu.


"Kenapa kamu marah marah begitu?" tanya Pak Jatmika tegas.


Halim langsung ciut nyali di buatnya, entah kemana menguapnya keberaniannya tadi. Yang asalnya juga entah dari mana.


"Eh, nggak kok, bos. Siapa yang marah marah? Nggak ada kok," sahutnya pura pura cengar cengir.


Lagi, pak Jatmika mencebik sedangkan Zaki kini sudah tak sanggup lagi menahan tawanya dan terbahak bahak begitu saja.


"Tuh kan, bos. Pak Zaki aja ketawa nih, nggak ada yang marah marah, bos." Halim berupaya meyakinkan, demi cairnya gajinya bulan ini.


"Tadi saya tanya bagaimana tanggapan Laila tentang rencana pesta pernikahan kalian yang sudah kita bahas kemarin, tapi kamu malah kesannya marah sama sayaa," dengus Pak Jatmika bergantian pura pura ngambek.

__ADS_1


Menyadari posisinya makin terancam Halim gegas berdiri dan berjalan mendekati kursi kebesaran bosnya dan mulai memijit tengkuknya pelan. --ngerayu--


"Ooh Bos nanya itu ya, jadi gini Bos biar saya ceritain ya." kata Halim selembut yang dia bisa, namun Pak Jatmika sudah tak fokus mendengarkan karna terlena dengan pijitan Halim di tengkuknya yang memang pegal.


"Sebenarnya Dek Laila memang lagi ngambek sama saya, bos. Gara gara pas tadi pagi saya coba bahas masalah pernikaha sama dia, terus kan saya tanya warna kesukaannya apa, dia jawab putih. Okelah kan udah, pikir saya mau saya request nanti sama wo nya buat dekorasi pestanya pake warna putih."


"Hemmm," sahut Pak Jatmika menimpali.


"Nah terus," sambung Halim. "Kan pikir saya nggak greget kalau nuansanya putih semua jadi saya tanya lagi, dia suka emas nggak. Dia jawab suka, ya udah pikir saya bantu dekorasinya di mix sama warna emas juga biar mewah. Eh dianya malah marah sama saya, ya saya bingung dong salah saya dimana, bos."


Halim masih memijiti tengkuk pak Jatmika, dengan Zaki yang tampak menahan tawanya lagi di sofa sana. Tapi sekian lama berhenti bercerita tak terdengar lagi sahutan dari sang bos. Pelan pelan Halim mencoba untuk menilik kondisi bosnya, -- apa masih bernafas atau sudah  pindah alam --. Tapi betapa terkejutnya Halim saat tanpa sadar Pak Jatmika mengeluarkan suara ngorok yang luar biasa keras.


"Gggrrrroooooookkkkkk."


"Bos durhaka! Di pijitin malah ngorok, di kira saya lagi ngedongeng apa!" dengus Halim sambil berjalan cepat meninggalkan ruangan Pak Jatmika, di iringi suara ngorok dan suara tawa membahana dari Zaki.


****


"Duh, pusingnya kepala," desah Dara yang saat itu tengah sibuk menyiapkan makan siang di dapur rumahnya.


Kebetulan si kembar sudah pulang dan sedang bermain dengan Elis di ruang tv, membuat Dara bersemangat untuk membuatkan makanan untuk anak dan suaminya yang katanya siang ini akan pulang.


"Mama, nasinya sudah matang belum? Farah lapar," ucap si cantik Farah sambil memegangi perutnya.


Dara tersenyum pada sang putri lalu menyempatkan diri mengelus lembut rambut panjang Farah lebih dahulu.


"Sebentar Mama cek dulu ya, sayang. Farah laper ya, makan pake naget dulu mau? Mama belum selesai ini masaknya," tukas Dara memberi pilihan.


"Mau, Mama." Farah mengangguk hingga poni ratanya bergoyang lucu.


Dara tersenyum lalu meninggalkan Farah menuju ke rice cooker tempat dia sebelumnya memasak nasi.


Tapi baru saja membuka rice cooker yang tombolnya sudah naik itu asap yang menguar membuat Dara mual dan pusing luar biasa.

__ADS_1


"Huueekk ... huekkk." Dara tak sanggup lagi menahan lagi mualnya dan langsung berlari menuju kamar mandi.


__ADS_2