
Mobil yang di kendarai Fatan dan intan juga Bu Sukri sudah melaju meninggalkan garasi rumah itu.
Indi mendesah panjang, batin yang bimbang membuat dia lebih banyak diam. Hening meraja beberapa saat lamanya, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bu Maryam kembali ke ruang tamu setelah meletakkan bayi Indi yang sudah kembali terlelap di kamar, sekaligus membawa sebuah nampan berisi minuman untuk mereka semua.
"Jadi ... bagaimana keputusan kamu, in? Setelah tahu semuanya?" tanya Dara membuka percakapan kembali, setelah menenggak teh hangat yang di bawakan Bu Maryam untuk membasahi tenggorokannya.
"Entahlah, Mbak rasanya semua terlalu rumit. Mungkin sementara Indi akan tetap di sini, sampai semua lebih tenang." Indi berkata lirih, senyum getir dia ulas karna rasanya untuk berkata demikian pun dia tak berhak.
Dara manggut-manggut, lalu kembali diam. Perutnya terasa lelah dan kram saat ini, mungkin karna setelah lama waktunya baru kali ini dia kembali marah marah sampai membuat kepalanya terasa meledak.
Dara menyandarkan punggungnya di sandaran, sembari menghembuskan nafas panjang.
"Fatan memang keterlaluan." Bu Maryam mulai menggeram, baru kali ini wanita tua itu berani mengutarakan isi hatinya setelah beberapa lama hanya bisa memendamnya seorang diri..
"Keterlaluan begitu juga anakmu mau loh, Bu. Malah dulu rela merebutnya dari Dara." Bu Ambar menyanggah, degn sedikit seringai di bibirnya.
Masih tersisa sedikit dendam di hatinya akan kejadian yang telah lalu itu, tak akan mudah menerima semua penghinaan yang di lakukan Indi dan Fatan dulu terhadap keluarga mereka. Bahkan hingga berbulan bulan lamanya mereka masih menjadi baha gunjingan masyarakat karena apes.
Bu Maryam diam, bukan tak berani tapi apa yang di katakan Bu Ambar memang benar adanya . Lagi pula kalau nekat melawan Bu Ambar, akan fatal akibatnya terlebih melihat badan Bu Ambar yang lumayan berisi dan tubuhnya sendiri yang kurus karna tertekan banyak masalah membuat Bu Maryam akan berpikir ribuan kali untuk adu otot dengan Bu Ambar.
"Akhirnya kamu merasakan juga kan, Indi? Bagaimana rasanya saat suami sendiri berkhianat di depan mata? Masih mending ini yang jadi lawan mainnya orang asing, coba kamu pikir perasaan Dara dulu saat tahu selingkuhan suaminya itu kamu, adiknya sendiri? Yang bahkan sampai sekarang pun masih saja di sayangi nya? Hih kalau saya jadi Dara udah nggak mau lagi saya itu kenal sama kamu dan keluarga kamu, apalagi ngasih bantuan. Hih jadi kesal saya," omel Bu Ambar malah terpancing emosi.
__ADS_1
Dara mengulurkan tangannya mengelus punggung Bu Ambar, masih dalam posisi bersandar di sofa.
"Sudah, Bun yang sudah lalu biarlah berlalu. Kita fokus saja sama yang ada sekarang, lagipula kalau nggak ada kejadian itu kan belum tentu sekarang Dara jadi menantu bunda, dan belum tentu juga bunda jadi mertua Dara."
Bu Ambar berdecak. "Iya juga sih."
Indi masih menunduk, tak berani menjawab apa apa. Dia sadar semua memang terjadi karna kesalahannya, dan walau tak ada yang tahu tapi dia menyesali itu semua, sangat.
"In, kamu tenang saja di sini ya. Nanti kalo ada apa apa atau orang-orang itu balik lagi teriak aja, insyaallah warga pasti bantu kamu kok. Mbak mau pamit pulang dulu ya, kalau bisa selesaikan masalah kalian baik baik, mbak tadi mau tanya lebih jauh sama Mas Fatan rasanya nggak sopan sebab dia sudah bukan siapa-siapa mbak lagi. Jadi kalau nanti kamu sudah lebih tenang sebaiknya kalian lekas selesaikan masalah kalian ya." Dara mengelus lembut lengan Indi.
Indi mengangguk pelan. "Iya, Mbak terima kasih Mbak sama Bu Ambar sudah mau bantu mengusir mereka tadi. Jujur saja kalau mereka tetap di sini Rasanya rumah ini seperti neraka, Mba."
Indi tersenyum kecil dan mengangguk, lalu tanpa aba-aba menarik tangan Bu Ambar dan menciumnya takzim.
"Terimakasih ya, Bu sudah mau nasehati Indi. Insyaallah Indi bakalan berusaha jadi lebih baik lagi dan nggak akan ulangi kesalahan yang sama dengan yang dulu."
Bu Ambar sempat terkejut dengan perlakuan Indi, namun dia cepat mengontrol ekspresinya walau senyum tipis tak lepas dari bibirnya.
"Ya sudah, baik baiklah di sini tapi ingat jangan pernah menyusahkan menantu saya. Dia sudah sangat baik sama kalian, jangan ngelunjak," ujar Bu Ambar dengan nada sedikit lebih lunak ketimbang sebelumnya walau kata katanya masih sama ketusnya.
"Bunda," gumam Dara menegur ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Nggak papa, Mbak yang Bu Ambar bilang benar semua kok. Sebisa mungki Indi dan ibu nggak akan nyusahin Mbak, sudah terlalu banyak bantuan yang Mbak kasih ke kami. Ke depannya biar kami urus sendiri," sela Indi lembut.
Dara mendesah pelan.
"Nah, itu bagus. Sadar diri," celetuk Bu Ambar lagi, tak peduli tatapan Bu Maryam yang mulai tak mengenakkan.
"Ya sudah, Mbak pamit ya. Kamu hati-hati di sini, sering sering main ke rumah kalau lagi senggang ya." Dara menimpali.
Indi mengangguk dan mengantarkan kepergian Dara dan Bu Ambar hingga muka teras.
Setelah Dara dan Bu Ambar tak terlihat lagi, Indi gegas menutup pintu pagar rumah dan tak lupa menguncinya. Trauma akan kedatangan Fatan dan intan yang tiba tiba dan langsung menyelonong masuk tanpa permisi karna Indi tak pernah mengunci gerbangnya. Sebab takutnya jika Dara tiba-tiba bertamu dan dia sedang tak bisa cepat membukakan pintu gerbang.
"In, ibu mau ngomong sebentar ." Bu Maryam menghentikan Indi yang ingin melangkah menuju kamar guna melihat bayinya.
"Ada apa, Bu? Indi mau lihat si kecil dulu," tandas Indi sembari melanjutkan langkah menuju kamar yang sebelumya di tempati Fatan dan Intan dengan cara merebut tentu saja.
Setelah memastikan bayinya masih terlelap dengan kipas angin yang menyala karna kamarnya hanya punya satu jendela kecil sebagai ventilasi , Indi kembali ke ruang tamu dengan langkah pelan lalu duduk di dekat sang ibu yang tampak resah.
"Ada apa, Bu? Kenapa ibu gelisah begitu?" tanya Indi sembari mengelus jemari tua ibunya.
"Tadi, kamu bilang mulai sekarang kita akan berusaha sendiri untuk ke depannya. Tapi, ini kota besar Indi, apa yang mau kita lakukan untuk bisa menyambung hidup. Uang pinjaman yang dulu di berikan Dara hanya tersisa tak seberapa, paling hanya cukup untuk makan kita dan keperluan anakmu sampai akhir bulan ini. Setelah itu kita harus bagaimana?" gumam Bu Maryam dengan nada gelisah.
__ADS_1