
Dara mendekati Fatur dan membawanya ke dalam gendongan, kepalanya bergerak mengkode Fatan untuk langsung saja berangkat tanpa mempedulikan pertanyaan Fatur.
"Mama ish, kan Fatur lagi tanya Papa. Kenapa papanya di suruh pergi," protes bocah tampan itu sambil berontak dan turun dari gendongan mamanya.
Dara mendesah, sikap anaknya yang satu ini memang lebih keras kepala darinya.
"Ini sudah siang, anak pintar. Papa dan Tante sudah telat buat ke kantor dan ke kampus. Makanya Mama suruh Papa berangkat." Dara mengusap lembut rambut putranya.
"Tapi Fatur mau tau kenapa semalem Papa sama Tante Indi berantem, Mama!" bantah Fatur tak puas.
"Fatur kok bentak Mama sih!" seru Farah yang tak suka cara Fatur bicara keras pada sang mama.
Dara mengelus punggung Farah untuk menenangkannya, mencegah kedua anaknya menjadi bermusuhan.
"Papa sama Tante semalem nggak berantem kok, mereka cuma lagi masak mie Sayang. Dimana berantemnya?" tukas Dara penuh kesabaran.
"Masak mie doang kok gaduh," rutuk Fatur.
"Fatur denger gaduhnya kayak gimana Sayang?" tanya Dara lagi.
Karena tidak melihat sejak awal semalam, Dara pun sebenarnya penasaran apa yang terjadi dengan adik dan suaminya sebelum dia menyusul ke dapur dan mendapati mereka tengah menyantap mie yang ujung-ujungnya sama-sama tidak di habiskan.
"Fatur denger kayak orang jatuh sama suara berantem gitu, Mama," jelas Fatur menerangkan apa yang dia dengar semalam.
"Mungkin itu gara-gara Papa sama Tante kurang hati-hati masak mienya, makanya jatuh. Dan mungkin mereka nggak berantem, suara yang Fatur denger mungkin aja Papa sama Tante Indi lagi diskusi," terang Dara yang merasa kalau penjelasan Fatur tidaklah merambat ke hal-hal yang perlu dikhawatirkan.
Tampak Fatur mengangguk puas, kemudian turun dari kursi menuju ke kamar mandi.
Farah melanjutkan sarapannya, sedangkan Dara justru melamun.
'Semoga memang nggak ada apa-apa sama Mas Fatan dan Indi, mereka saudara ipar. Insyaallah mereka pasti tau batasan, aku nggak boleh lagi mikir macem-macem,' batin Dara.
****
Hari sudah beranjak siang, hujan deras yang mengguyur pun sudah mulai reda walau masih gerimis.
Si kembar sedang sibuk bermain di depan tv di temani Dara yang juga sibuk membaca novel di tangannya.
Triinnggg
__ADS_1
Bunyi ponsel Dara yang diletakkannya di atas meja. Gegas Dara mengambilnya dan menjawabnya setelah melihat nama ibunya terpampang jelas di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Bu." Dara meletakkan novelnya dan menaruh ponsel di telinganya.
"Wa'alaikumsalam, Nduk bapak Nduk! Bapak!" suara Bu Maryam di sebrang telepon, terdengar cemas disertai isakan.
Dara menegakkan punggungnya cepat, turut cemas ketika mendengar suara ibunya yang menangis.
"Bapak kenapa, Bu? Bapak kenapa?" seru Dara panik, sampai membuat si kembar yang tengah bermain melepaskan mainan mereka dan berlari mendekati mamanya.
Fatur dan Farah menatap Dara dengan tatapan penuh tanya, namun dari meletakkan jari telunjuknya di bibir. Memberi kode agar mereka berdua diam.
"Bapak ... bapak jatuh di kamar mandi, Nduk. Terus pingsan, sekarang Ibu lagi bawa bapak ke rumah sakit pake mobil tetangga. Kamu pulang ya, Nduk. Ibu takut bapak kenapa-kenapa," sahut Bu Maryam semakin terdengar terisak di sebrang sana.
"Iya, iya, iya. Nanti Dara telpon Indi sama Mas Fatan dulu ya, Bu. Biar bareng-bareng pulang ke sana," tukas Dara sambil hendak mematikan sambungan telepon.
Namun suara Bu Maryam membuatnya mengurungkan niat.
"Jangan! Nggak usah minta adikmu ikut pulang, dia semalem telpon katanya sudah mulai sibuk sama kuliah dan kerja sampingannya, jangan diganggu biar saja dia fokus. Fatan juga biar saja di sana, anak-anak kan harus sekolah kamu aja yang pulang," titah Bu Maryam seenaknya.
Dara mendesah, sejak dulu ibunya memang tak pernah mau menyusahkan Indi dari segi apapun bahkan terkesan rela di repotkan apapun asal Indi bahagia. Berbeda dengan Dara yang harus selalu menangguhkan urusannya sendiri dan menuruti perintah ibunya.
"Dara! Kamu denger ibu kan? Apa kamu mau bapak kamu kenapa-kenapa kalo kamu kelamaan mikir?" desak Bu Maryam saat tak mendengar jawaban dari Dara.
"Ah, iya iya, Bu. Dara usahakan pulang secepatnya," tukas Dara kembali mengalah, entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Bagus! Ingat kamu sendiri aja. Anak-anak juga biar disana sama Fatan dan Indi, ribet malah kalo kamu bawa kesini," ujar Bu Maryam lagi.
"Iya, Bu." Dara mendesah lelah.
"Ibu tunggu kamu malam ini, jangan terlambat!" Bu Maryam mematikan sambungan teleponnya sepihak tanpa mendengar jawaban dari Dara terlebih dahulu.
Dara mengusap wajahnya lelah, sinkembar yang sejak tadi berada di samping kiri dan kanan Dara mulai mendekat karena penasaran.
Wajah cemas Dara sudah cukup untuk membuat duo kembar itu khawatir. Dan untuk menenangkannya tentu saja dengan masuk ke dalam pelukan mamanya.
"Mama jangan sedih, Farah nanti ikut sedih," lirih Farah sambil mendongak menatap mamanya.
"Iya, Mama. Jangan sedih, bilang sama Fatur siapa yang berani nakalin Mama. Biar Fatur yang kasih pelajaran buat dia," ucap Fatur sambil mengelus pipi Dara.
__ADS_1
Dara tersenyum dan mencium kening anak-anaknya, meresapi kasih sayang luar biasa dari keduanya untuknya.
"Nggak ada yang nakal kok, Sayang. Mama nggak apa-apa, kalian tenang aja ya." Dara mengusap pipi Fatur dan Farah.
"Terus Mama kenapa sedih?" tanya Fatur kritis.
Begitulah Fatur, sebelum mendapat jawaban yang memuaskannya dia tak akan berhenti bertanya.
"Nggak kok, Mama nggak sedih. Siapa bilang mama sedih? Ini Mama senyum." Dara mengembangkan senyum manis di depan kedua anaknya.
"Mama nggak usah bohongin Fatur, Ma. Fatur bisa liat kok tadi Mama sedih," desak Fatur lagi.
"Anak Mama cerewet banget sih," gumam Dara sambil mencubit gemas pipi Fatur.
"Tadi Nenek telpon, katanya Kakek masuk rumah sakit. Makanya Mama tadi cemas tapi Mama nggak sedih kok," imbuh Dara menjelaskan.
Fatur tampak mengangguk berulang kali begitu pula dengan Farah.
"Jadi kita mau pulang ke kampung buat jenguk Kakek ya, Ma?" tanya Farah polos.
Mata bening dan bulatnya menatap Dara penuh harap.
Dara mengelus rambut panjang Farah sambil tersenyum getir.
"Maafin Mama ya, tapi kayaknya kalian nggak bisa ikut kali ini. Mama harus buru-buru soalnya, lagipula kalian kan harus sekolah. Mama nggak lama kok di sana, janji," tukas Dara memberi pengertian.
"Terus kami sama siapa kalau mama pergi?" tanya Fatur pula.
"Kan ada Papa sama Tante Indi yang jagain kalian," sahut Dara.
Fatur mendengus dan menyilangkan tangannya di dada sambil menggeleng keras.
"Nggak bisa Mama, Papa sama Tante kadang kan pulang malem. Terus kalau mereka belum pulang siapa yang jagain kami di rumah?" protes Fatur.
Dara terkesiap menyadari kalau apa yang di katakan Fatur ada benarnya.
"Iya juga ya, terus siapa dong yang bisa jagain kalian di rumah?" gumam Dara bingung.
Dara memutar otak untuk mencari siapa yang kira-kira bisa dia mintai tolong untuk menjaga anak-anaknya selama dia pergi.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah nama terlintas di benak Dara, dengan gigi tonggos yang menjadi ciri khasnya membuat Dara langsung tersenyum riang karenanya.
"Aha, Mama tau. Bagaimana kalau yang jaga kalian ...."