
Sepeninggalan Pak Jamal yang menuju rumah Dara, Bu Zaenab tak tinggal diam di raihnya sebuah koper usang yang berada di atas lemari kayu tersebut. Di turunknnya dengan susah payah dan di bukanya sembari mengusir debu yang berhamburan keluar begitu koper terbuka.
"Uhuk, uhuk." Bu Zaenab terbatuk batuk di buat debu yang tebal itu, setelah debu sedikit berkurang dia tersenyum kala mendapati sebuah bungkusan plastik hitam yang masih rapi di dalam sana.
"Syukurlah," desisnya, lalu tanpa membuang waktu lagi Bu Zaenab mengambil beberapa pasang bajunya dan memasukkannya ke dalam koper.
Dan setelah itu berjalan cepat menuju keluar rumah dengan wajah tegang, takut kalau kalau sang suami sudah pulang dan memergokinya yang hendak kabur dari rumah.
"Huh, enak saja mau di kembalikan semuanya. Untung saja aku sudah antisipasi semalam dengan mengamankan sebagian uang itu, kan setidaknya ada lah hasilnya aku meminta dari keluarga bo doh itu. Hah, sekarang waktunya untuk pergi, sudah tidak ada gunanya lagi aku di sini. Dasar suami tidak tahu di untung ! Sudah bagus aku mau mengurus sewaktu sakit, sekarang malah mau sok baik lagi segala ngembaliin uang yang sudah aku minta dengan susah payah," gerutu bu zaenab sembari terus berjalan menjauh dari rumahnya, sesekali kelapanya berpaling ke belakang untuk memastikan Pak Jamal belum kembali ke rumah mereka.
Setelah beberapa saat berjalan kaki akhirnya Bu Zaenab sampai di tepian jalan besar, dia berencana memesan taksi online dan pergi menuju rumah salah satu anaknya yang kini tinggal di perbatasan kota dengan keluarga kecilnya.
Taksi yang di pesan pun sampai, dan Bu zaenab terburu-buru masuk ke dalamnya meninggalkan rumahnya dan Pak Jamal hanya demi sedikit uang yang kini berada di dalam kopernya.
****
Sementara itu Pak Jamal yang baru saja pulang dari rumah Dara langsung mencari bu Zaenab, istrinya di rumah tersebut. Berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain namun tak kunjung menemukan istrinya dimana pun.
"Astaghfirullah, zaenab. Apa yang sudah kamu lakukan, kenapa kamu sekarang jadi serakah begini, Nab? Aku malu, nab. Aku malu," isak Pak Jamal sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa ruang tamu sembari memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing.
Masih tak percaya kalau istrinya bisa pergi membawa uang yang bukan menjadi haknya, uang yang di minta secara paksa dengan menjual kebaikannya.
"Pergi kemana kamu, Nab? Kamu harus mengembalikan uang itu, itu bukan uangmu," desah Pak Jamal lagi sembari mengambil ponselnya dari atas meja da mulai menekan nomor telepon sang istri.
Tut
Tut
Tut
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan silahkan coba beberapa saat lagi."
Klik
Panggilan terputus begitu saja setelah suara operator terdengar nyaring di telinga Pak Jamal. Tak putus asa, Pak Jamal mulai menelpon anak anaknya yang tinggal satu kota tapi berbeda kecamatan dengannya. Namun hasilnya sama, sebab Bu Zaenab memang belum lama meninggalkan rumah dan tentu belum sampai ke rumah salah satu anaknya.
Setelah meminta anak anaknya mengabarinya jika nanti ibu mereka pulang ke rumah salah satu dari mereka, Pak Jamal mematikan sambungan telepon dan merebahkan tubuhnya ke atas sofa menarik nafas dalam dan memejamkan matanya yang terasa berat.
"Semoga kamu baik baik saja, Nab. Semoga Gusti Allah SWT memberimu kesempatan untuk mengembalikan hak orang lain itu," gumam Pak Jamal sebelum memasuki alam mimpinya, menyudahi drama yang membuat baik fisik dan psikisnya menjadi lelah.
****
Di tempat lain.
" In, ibu mau bicara sama kamu." Bu Maryam mendekati Indi yang saat itu tengah membereskan kotak kotak kue siss jualannya dan memasukkan kue kue yang tidak habis ke dalam piring untuk mereka makan sendiri.
"Ada apa, Bu? Katakan saja, Indi sambil cuci ini ya." tunjuk Indi pada tumpukan kotak plastik dan beberapa perkakas dapur yang kotor di wastafel.
Bu Maryam mengangguk lalu mengambil tempat di kursi meja makan sembari menghadap Indi.
"Ada apa, Bu? Katanya mau bicara? Kok dari tadi malah diam saja?" tanya Indi lagi setelah beberapa saat sang ibu hanya terdiam membisu sembari menatap dirinya dengan tatapan nanar.
Bu Maryam mengambil nafas panjang dan kembali menghembuskannya perlahan. "Ibu takut, in."
Kening Indi berkerut, dia berbalik untuk menatap wajah ibunya yang mulai keriput itu.
"Takut? Apa maksud ibu?"
__ADS_1
Bu Maryam mengangkat wajahnya menatap mata Indi lekat, sorot matanya tampak berkabut.
"Sampai kapan kita akan menyembunyikan dia di sini? Ibu tidak mau kita sampai kena masalah juga gara gara dia, in."
Kali ini ganti Indi yang mendesah, dia lalu menyudahi aktivitas mencucinya dan mengelap tangannya yang basah ke bajunya sendiri. Lalu beranjak duduk di hadapan ibunya.
"Bu, Indi tahu kecemasan ibu. Tapi ... Indi nggak bisa apa apa, Bu. Mas Fatan masih suami Indi. Dia ayah dari putri Indi, Indi yang gak sanggup kalau sampai dia di penjara, Bu."
Bu Maryam membuang pandangan ke arah lain, sorot kecewa tampak sangat jelas di matanya.
"Apa kamu nggak memikirkan akibatnya, In? Kamu dan kita bisa saja juga ikut di penjara karena menyembunyikan seorang buronan!" jerit Bu Maryam frrustasi.
Indi menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan mengigit bibir bawahnya.
"Indi tahu itu, Bu ... tapi ...."
"Tapi apa lagi, Indi? Dia bahkan sudah mengkhianati kamu, dan sekarang malah kamu melindungi dia dengan mengorbankan ibu dan juga putri kamu yang masih bayi, kamu mau kami juga masuk ke dalam penjara hanya gara gara melindungi Fatan?" sentak Bu Maryam dengan nada meninggi.
Indi semakin tertunduk, dia tak berani menjawab pertanyaan ibunya. Ibunya benar, tak seharusnya dia menyembunyikan Fatan yang sudah jelas jelas merupakan salah satu dari daftar pencarian orang yang bahkan sempat masuk ke berita di televisi. Tapi dengan bodohnya Indi malah memintanya tetap di rumah itu, agar tak di tangkap oleh polisi.
"Mas di jebak, In. Tukang mie ayam itu rupanya adalah bandar narkoba, dia bilang Mas cukup antarkan paket yang sudah dia Peking rapi itu ke suatu tempat dan Mas akan di bayar mahal supaya Mas bisa pulang kampung. Tapi rupanya Mas di tipu setelah paket itu sampai Mas bahkan tidak di beri uang sepeserpun namun malah di kejar kejar polisi karna wajah Mas yang tertangkap kamera cctv sewaktu memberikan paket tersebut. Jadi mas yang di kira bandar narkobanya,". terang Fatan kala itu.
Indi yang waktu itu tak ingin mempunyai suami seorang napi langsung berinisiatif untuk menyembunyikan Fatan di rumahnya. Karna takut kelak sang anak akan malu jika orang orang tahu ayahnya pernah masuk penjara.
"Sekarang kamu pilih, Indi. Ibu dan bayimu atau Fatan yang akan tetap tinggal di rumah ini?" hardik Bu Maryam menyadarkan Indi dari lamunannya.
Indi terkesiap terlebih kala melihat Bu Maryam sudah siap dengan menggendong bayinya dengan wajah basah oleh air mata. Tatapan matanya menunjukkan kalau perkataannya tak main main.
"Bu, Bu tolong jangan begini, Bu. Indi mohon jangan beri Indi pilihan sulit." Indi berusaha menggapai ibunya tapi dengan sigap Bu Maryam menjauh hingga indi hanya bisa menangkap angin.
Indi menutup mulutnya dengan tangannya, air mata perlahan membanjiri pipinya.
"Bu, tolonglah. Kasihan bayi Indi, Bu."
Bu Maryam menggeleng. "Kalau kamu kasihan dengan bayimu, sekarang juga usir laki laki tidak punya pendirian itu keluar dari rumah ini, dan minta dia jatuhkan talaknya untukmu supaya kamu terbebas darinya. Ibu sudah muak dengan semua ini, Indi!".
Indi tergugu, tak bisa menjawab perkataan ibunya. Tubuhnya lemas merosot ke lantai, hingga Bu Maryam berpaling dan membalikkan badannya dari hadapannya.
"Baiklah, ibu anggap itu sebagai jawaban. Semoga kamu nggak menyesal dengan pilihan kamu, Indi. Ingat, ibu sudah berusaha memperingati kamu."
Bu Maryam melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sembari menggendong bayi Indi yang untungnya tetap tenang walau sejak tadi Bu Maryam berteriak dan menjerit pada Indi. Bu Maryam mencium kening bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang sebelum mereka keluar dari rumah itu.
Namun ,belum sempat kaki Bu Maryam menyentuh lantai teras sebauh suara menghentikan langkahnya.
"Tunggu, Bu!"
Bu Maryam berbalik, di sana di pintu dapur yang mengarah ke halaman belakang rumah dimana terdapat sebuah gudang yang di gunakan Fatan untuk bersembunyi pria itu berdiri. Dengan wajah penuh sesal menahan kepergian Bu Maryam.
"Jangan pergi, Bu." Fatan berkata lagi, kali ini sembari mengangkat tangannya menahan langkah Bu Maryam.
Bu Maryam mendesah, di tariknya lagi kakinya yang sudah hampir menyentuh lantai teras untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Apa lagi yang kau inginkan? Maaf kami harus pergi, kami tidak mau ikut menanggung akibatnya jika nanti polisi berhasil menemukan keberadaan kamu, biarkan istrimu saja yang akan menerima semua konsekuensinya asal jangan cucuku ini. Dia masih bayi dan tidak tahu apa apa, aku khawatir polisi juga akan membawanya karna ibunya ikut masuk penjara karena menyembunyikan mu."
Fatan menunduk mengusap wajahnya kasar dan menatap Bu Maryam dengan lekat.
"Baiklah, Fatan yang akan pergi, Bu."
__ADS_1
"Mas?" sela Indi sembari berbalik menatap lelaki yang sejujurnya masih menghuni relung hatinya itu.
Fatan menoleh dan mengangguk samar. "Ibu benar, aku tidak tahu diri. Tak seharusnya aku malah datang dan terus menerus membawa masalah untuk kalian. Maaf, maafkan Mas, In."
"Tapi bagaimana kalau sampai polisi itu menangkap mu, Mas?" tanya Indi lagi.
Fatan menggeleng pelan dan perlahan berjalan mendekati Indi lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Indi yang masih meleseh di lantai dan bersimbah air mata. Sedang Bu Maryam hanya melihat semuanya dalam diam, tak berniat untuk bicara lagi sedikit pun.
" Percayalah, Mas akan baik baik saja. Walaupun nanti mungkin Mas akan di tangkap, tapi Mas akan menjelaskan semuanya pada pihak kepolisian semoga saja mereka mau mendengarkan kalau Mas hanya di jebak. Mas tidak tahu kalau isi kotak paket itu narkoba," tutur Fatan sembari menggenggam tangan Indi.
Indi mengangkat wajahnya menatap lekat netra Fatan yang juga mengembun.
"Bagaimana dengan Intan? Tidak bisakah mas meminta bantuannya atau ibunya? Bukannya mereka orang kaya? Mereka pasti akan membantu membebaskan Mas. Mereka bisa menyewa seorang pengacara yang bagus untuk membela Mas."
Fatan menggeleng lagi, menyentuh kepala Indi dengan lembut.
"Tidak, mas bahkan belum bisa menerima Intan sebagai istri. Bagi Mas istri Mas ya hanya kamu, indi. Dan sampai kapan pun Mas nggak akan pernah meminta bantuan dari Intan dan keluarganya, toh mereka juga sudah tidak tahu ada di mana rimbanya sekarang."
Haru menyelimuti hati Indi, kala mendengar perkataan Fatan yang dia tahu perkataan itu tulus dari hatinya. Terlebih tatapan mata lembut yang sudah lama sekali dia rindukan itu kini terlihat begitu tulus menatapnya.
Dengan isak yang masih ada Indi menubruk Fatan dan memeluknya seerat yang dia bisa.
Fatan balas memeluknya, dan sembari menoleh pada Bu Maryam yang ternyata juga sedang melihat mereka.
"Maaf, Bu. Tapi untuk permintaan ibu menceraikan Indi, Fatan tidak akan pernah sanggup, Bu. Fatan mencintai Indi, sangat mencintai Indi dan anak kami. Percayalah, Bu Fatan hanya di jebak."
Bu Maryam mengusap sudut matanya yang berair dan kembali membuang muka tanpa menjawab sepatah kata pun.
Fatan tak memaksa Bu Maryam untuk mengiyakan, tapi dari air muka Bu Maryam, Fatan tahu kalau ibu mertuanya itu tentu sama tak menginginkan anaknya menjadi janda.
Indi melerai pelukannya dan menangkup ke dua pundak Fatan.
" Mas mau pergi kemana? Mas bahkan nggak punya kenalan lagi di kota ini? "
Fatan berusaha menarik senyumnya, lalu menjawil hidung mancung Indi yang merupakan warisan dari almarhum bapaknya.
"Kamu lupa kalau Mas dulu pernah kerja kantoran? Nanti Mas akan coba ke rumah teman teman kantor Mas dulu, siapa tahu salah satu dari mereka ada yang bersedia menampung Mas sementara, atau kalau beruntung semoga ada yang mau berikan pinjaman untuk Mas bisa pulang ke kampung."
Sorot mata Indi memancarkan kelegaan. "Baiklah, Mas semoga semua yang kamu rencanakan bisa berjalan lancar. Aku percaya kamu tidak salah."
Mereka berdiri, dan Fatan berpamitan sebentar untuk mengambil barang barang miliknya yang dia tinggalkan di dalam gudang tempatnya beristirahat sebelum ini.
Fatan kembali dengan sebuah tas yang sudah kotor dan lusuh di pundaknya, kondisinya terlihat sangat mengenaskan ketimbang dulu saat di usir dari rumah Dara karna lebih memilih Indi.
"Bu, Fatan titip Indi dan bayi kami. Tolong jaga mereka sampai Fatan bisa menyelesaikan semua masalah ini dan kembali lagi pada kalian tanpa membawa masalah," tutur Fatan sembari hendak menyalami ibu mertuanya itu.
Tapi Bu Maryam menepis tangannya dan melengos. "Tidak perlu kau beri tahu pun anak dan istrimu akan lebih aman bersamaku, bukankah itu sudah terbukti?"
Fatan mengulum senyum kecil, membenarkan perkataan Bu Maryam.
Lalu dia beralih pada Indi yang masih belum habis menangis sejak tadi. Fatan mengangkat tangannya, mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Mas pamit dulu ya, jaga si dedek baik baik. Mas janji akan secepatnya menyelesaikan masalah ini dan kembali pada kalian," tutur Fatan lembut.
Namun baru saja menyelesaikan ucapannya, mereka di kejutkan oleh suara gaduh yang berasal dari bagian depan pagar rumah.
"Jangan bergerak! Saudara kami tangkap!"
__ADS_1