
Bu Zaenab menutup hidungnya kala bau busuk yang tak mengenakkan merebak hingga menusuk penciumannya.
Keadaan sekitar yang kumuh dan becek , belum lagi saluran irigasi yang airnya menghitam membuat Bu Zaenab mual luar biasa.
"Bu, ini kita mau kemana ya? Kenapa lewat sini?" tanya Bu Zaenab pada ibu ibu yang tadi di temuinya di kebun karet.
Ibu ibu itu menoleh sekilas lalu kembali fokus berjalan di depan, memastikan kakinya tak menginjak genangan air dan jalan becek yang hampir rata di semua bagian badan jalan.
"Bukannya ibu mau ke rumahnya si Zulfa? Ya lewat sini jalannya."
Jantung Bu Zaenab sontak berdegup kencang, berbagai pikiran macam macam sudah bertengger di benaknya. Padahal dalam bayangannya kompleks perumahan yang di maksud Zulfa adalah perumahan elit seperti rumah mertuanya seperti yang Bu Zaenab tahu saat dulu bertandang ke sana. Namun apa yang ada di hadapannya kini sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam bayangannya.
"Nah, itu dia Bu rumahnya. Kayanya Zulfa masih ada di rumah deh, pintu rumahnya masih terbuka," tukas ibu itu sambil menunjuk sebuah rumah kecil sederhana berbahan permanen dengan cat berwarna pink soft, halamannya tak terlalu luas namun penataan yang apik membuatnya tampak sangat nyaman.
Bu Zaenab masih mengikuti langkah si ibu untuk berjalan menuju rumah itu yang katanya adalah rumah Zulfa, entah benar Zulfa anaknya atau hanya sekedar sama namanya Bu Zaenab jugam masih menerka nerka.
"Assalamualaikum, Zul! Zulfa! Assalamualaikum." Si ibu itu memanggil Zulfa dengan agak keras.
Masih hening, sepertinya si empunya rumah belum mendengar jika ada tamu yang bertandang ke rumahnya.
"Assalamualaikum, Zulfa! Zulfa! Ada ibumu nih!" seru ibu itu lagi, suaranya sangat cempreng hingga sepertinya jika berada di dalam rumah akan pengang karna mendengar teriakannya.
Dan benar saja, tak lama tampak seseorang berjalan dengan langkah kaki di seret sembari membawa sebuah ember berwarna hitam yang sepertinya berisi pakaian yang baru saja di cuci. Namun yang membuat Bu Zaenab salah fokus adalah penampilan perempuan itu yang tampak lusuh dan Kumal, belum lagi pakain yang di pakainya akan lebih cocok di sebut kain lap ketimbang pakaian untuk di pakai.
"Wa'alaikumsalam, eh Bu Tiwi. Ada apa, Bu?" perempuan yang sejak tadi di perhatikan Bu Zaenab mengangkat wajahnya yang masih tampak penuh keringat, senyum di wajah manis itu pun tampak perlahan memudar ketika beradu pandang dengan Bu Zaenab.
__ADS_1
"Ini, Zulfa. Saya ketemu sama ibu ini di perkebunan, katanya dia nyari alamat kamu makanya saya anterin ke sini. Jadi bener ini ibu kamu?" Sahut perempuan yang di sapa Tiwi oleh Zulfa tadi.
Zulfa menarik sudut bibirnya dan tersenyum. "Ah, iya Bu terima kasih ya sudah mau mengantarkan ibu saya ke sini."
"Iya, oh ya tadi katanya ibumu ini habis di rampok, sama ceritanya seperti yang sudah sudah, di rampok dan di tinggal di kebun ujung sana. Saran saya sih mendingan kamu lapor aja ke polisi, Zul. Kasihan ibu kamu," tutur Bu Tiwi yang nada bicaranya cempreng dan lemes itu.
Zulfa kembali mengangguk dan tersenyum, raut wajahnya menampakkan ketidak nyamanan sekarang.
"Iya baik, Bu sekali saya ucapkan terima kasih ya sudah mau mengantar ibu saya sampai ke sini," pungkas Zulfa.
Bu Tiwi mengangguk. "Ya sudah ya, kalau begitu saya mau lanjut nderes dulu." Bu Tiwi berbalik dan langsung melangkah cepat menuju kembali ke perkebunan.
Sepeninggalan Bu tiwi, Zulfa masih mematung di tempatnya. Sementara Bu Zaenab mulai memindai seantero rumah dan juga tak lupa penampilan Zulfa yang sabar berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya jika mereka bertemu. Kini yang ada di hadapannya malah seperti bukan Zulfa, dengan wajah pucat tanpa make up nya juga pakaian yang tampak sama lusuhnya dengan wajah lelahnya.
"Bu? Ayo masuk. Kenapa malah menung di situ?" ajak Zulfa sambil menggandeng tangan ibunya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Zu- Zulfa .... ini- ini benar rumah kamu, Nak? Rumah yang kamu bilang di belikan suami kamu itu?" cecar Bu Zaenab mulai bertanya tanya.
Zulfa duduk di dekat ibunya, matanya menatap miris setiap sudut ruangan yang tak terlalu besar itu. Kemudian dia menunduk, satu tetes air mata tampak jatuh ke pangkuannya.
"Iya, Bu. Ini rumahnya, rumah yang di belikan suami zulfa untuk Zulfa." Zulfa berusaha menarik senyumnya walau kaku terasa, gambaran kepedihan tampak menggantung di sorot matanya sayunya.
"Lalu ... lalu bagaimana dengan rumah yang dulu juga dia katakan untuk hadiah pernikahan kalian itu? Kenapa kamu tidak tinggal di sana? Kenapa malah memilih di sini?" tanya Bu Zaenab masih tak mengerti.
Zulfa tak tahan lagi, dia langsung menubruk tubuh ibunya dan menumpahkan tangisnya di sana. Terisak Isak hingga bahunya berguncang hebat.
__ADS_1
"Zulfa, ada apa Nak? Kenapa kamu menangis?" tanya Bu Zaenab sembari mengelus punggung anak kesayangannya itu.
Setelah beberapa saat, Zulfa sudah mulai tenang dia melepas pelukannya dari tubuh Bu Zaenab dan menarik nafas dalam-dalam.
"Kenapa, nak? Ceritakan lah jika itu bisa membuatmu tenang," ucap Bu Zaenab penuh kasih sayang. Kasih sayang yang hanya dia curahkan untuk Zulfa, namun tidak di bagi juga untuk Ziva sang kakak.
"Se- sebenarnya, rumah itu ... rumah itu sudah di tempati oleh Mas Haris dan istri, istri barunya Bu." Zulfa kembali terisak.
Jlegarrrr
Bak di sambar petir di siang bolong Bu Zaenab sangat terkejut mendengar kabar yang di sampaikan anak kesayangannya itu. Padahal selama ini yang dia tahu tak ada masalah dalam ruang tangga anaknya itu, dan sekarang bagai mungkin anaknya bisa di madu tanpa sepengetahuannya?.
"Ap- apa? Istri baru? Kamu serius? Kamu jangan bercanda begini loh, Nak nggak lucu. Ibu nggak suka, ya nggak mungkinlah suamimu itu menikah lagi, kamu aja masih cantik dan menarik begini kok.". Bu Zaenab mencoba berpikir positif bahwa saat ini dia hanya di prank oleh Zulfa karna ingin memberinya kejutan.
Zulfa menggeleng lemah. "Tidak, Bu Zulfa tidak bohong semua ini nyata. Bahkan sekarang istri baru Mas Haris tengah mengandung anak mereka katanya."
Pedih.
Tentu saja hal itu tengah di rasakan oleh Zulfa, namun dia bisa apa? Dia tak mungkin kembali ke rumah orang tuanya sedangkan dia tahu kalau Bu Zaenab ssangat menyayangi Haris sebagai menantunya. Dia tak ingin membuat orang tuanya kecewa jika mengetahui kondisinya sekarang. Namun hal itu juga tak mungkin dia simpan lebih lama, toh sang ibu sudah datang dan semuanya akan terbongkar setelah ini.
"Ap- apa? Mengandung? Ya Allah, Zulfa. Kenapa nasibmu jadi malang begini, Nak? Padahal harusnya kamu bahagia karna bisaa menikah dengan orang kaya. Oh ya, tapi walau begitu Haris masih memberi nafkah yang cukup kan?" tanya Bu Zaenab yang masih sempat-sempatnya membahas masalah nafkah di kondisi begini .
Zulfa menunduk dalam. "Masih, Bu tapi ... sekarang hanya di jatah satu juta saja sebulan karna menurut Mas Haris sekarang dia tengah butuh biaya banyak untuk mempersiapkan kelahiran anaknya nanti. Makanya Zulfa sekarang mati matian banting tulang jadi tukang cuci gosok juga kadang jadi buruh karet di perkebunan untuk memenuhi semua kebutuhan Zulfa di sini."
Brakkk!
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan, Zulfa? Jangan memutar balikkan fakta seolah kamu saja yang benar!" pekik seseorang yang baru saja datang dari arah pintu, matanya tajam menatap zulfa seolah ingin menelannya hidup hidup.
*Siapa dia? Musuh baru Bu Zaenab kayaknya.