
Hari mulai senja, di ufuk barat matahari sudah mulai memerah menandakan lambaian perpisahannya pada umat manusia sekaligus menyampaikan janji jika akan kembali di esok hari.
Tapi tidak demikian dengan manusia, tak ada janji yang benar bener mereka bisa tepati. Seperti Bu Sukri, berjanji untuk kembali lagi tapi justru hanya raganya yang bisa di ratapi. Sedih, itu pasti tak ada yang akan bisa melawan takdir sang kuasa, kecuali menerima dengan tangan terbuka apa yang menjadi garis tangan kita.
Tes
Air mata Pak Sukri lagi lagi jatuh, walau sudah di seka berkali kali masih saja jatuh lagi dan lagi. Tak dia pungkiri, hatinya sangat sedih mendengar berita berpulangnya sang istri yang beberapa waktu lalu bahkan masih membuat amarah membara di dalam dadanya. Tapi kini, saat ini, detik ini semua itu menguap menjadi sesal dan permohonan semoga semua ini hanya mimpi, tapi sayang mimpi itulah kenyataannya.
"Apa masih lama, Kar? Sampainya?" tanya Pak Sukri dengan suara serak, di sampingnya Pak Kardi sejak siang tadi sudah datang dan duduk menemaninya. Sedang istrinya dengan beberapa ibu ibu lain tengah bersiap menyambut jenazah di dalam sana dengan segala keperluannya.
"Kemungkinan sebentar lagi, Suk. Tadi mereka bilang sudah sampai di gapura desa kok. Kan jalan dari gapura ke sini memang agak jelek mungkin jadi sulit dan lama karna itu," sahut Pak Kardi apa adanya.
Pak Sukri manggut-manggut, melempar tatapannya pada orang orang yang sudah sejak sore berdatangan dan sigap membantunya untuk pemakaman almarhumah Bu Sukri yang akan langsung di laksanakan malam itu juga. Karna menurut penuturan polisi yang di sampaikan oleh Pak Kardi kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan lagi untuk di suruh menunggu. Karna posisi tertabraknya yang menyebabkan tubuh almarhumah terseret dan terlindas ban bus.
Air mata masih membasahi pipi tua Pak Sukri, tak bisa di bendung. Dia kembali melempar tatapan pada jalan di depan rumahnya, menunggu dengan jantung berdebar mobil ambulan yang membawa serta istri dan anaknya, lebih tepatnya almarhum istri dan anaknya.
"Suk, sepertinya itu mobilnya," tukas Pak Kardi menunjuk arah jalanan yang berkelok, tampak di sana dua buah mobil beriringan memasuki desa yang lumayan sunyi itu.
Pak Sukri bangkit, dan di topang oleh Pak Kardi karna takut pak Sukri lagi lagi lemas dan jatuh.
"Ya Allah," gumam Pak Sukri nelangsa.
Tak berapa lama mobil mobil itu pun merapat dan berhenti di depan rumah Pak Sukri. Orang orang yang sejak tadi menunggu di depan sana mulai membantu petugas rumah sakit untuk menurunkan brankar dengan sebuah tubuh di atasnya. Pak Sukri tak dapat menahan tangis, kala y tubuh itu masuk melewatinya dengan di angkat oleh bapak bapak yang merupakan rekan sejawatnya a di kampung tersebut.
Jenazah langsung di bawa masuk, karna sejak di rumah sakit sudah di mandikan dan di kafani jadi pihak keluarga tinggal melakukan sisanya saja.
Sebagian besar orang mulai sibuk, beberapa bahkan ada yang langsung berangkat ke pemakaman untuk melihat proses penggalian lubang makan apakah sudah selesai atau belum. Hingga tak ada yang menyadari ketika sebuah sosok tubuh yang tak begitu tinggi naik ke rumah dengan membawa dua buah tas ransel berisi pakaian. Kepalanya tertunduk dalam, dia berhenti di belakang tubuh Pak Sukri masih terpaku menatap jenazah sang ibu.
Pak Kardi yang menyadari kedatangan intan, langsung menepuk pundak Pak Sukri dan memberitahunya akan kedatangan intan.
Pak sukri lekas berbalik, di tatapnya dalam tubuh sang anak yang menghilang hampir dua Minggu lamanya. Tubuhnya yang dulu berisi kini kurus dan kusam, rambutnya berantakan dengan kepala tertunduk dalam.
Pak Sukri meraih pundak Intan, terasa oleh nya kalau putri yang dia besarkan sejak bayi itu gemetar.
"Kamu darimana saja, Nak? Apa kamu tidak tahu bapak kangen sama kamu? Jangan pergi pergi lagi ya, sudah cukup bapak kehilangan bapak tidak mau kehilangan lagi," desis Pak Sukri pelan dan bergetar.
Intan sesenggukan, dan Pak Sukri langsung memeluknya erat sembari menumpahkan tangis yang sejak tadi bercokol di dadanya.
Usai puas menumpahkan tangis masing masing tanpa ada kata yang terlontar sama sekali, Pak Sukri menuntun tangan sang anak masuk ke dalam rumah. Di dalam sana para ibu ibu sudah banyak menunggu, dan telah selesai menutup tubuh Bu Sukri yang sudah di kafani dengan sehelai kain jarik panjang, dan untuk wajahnya di tutup dengan kain putih tipis.
Intan melempar tas yang di bawanya tadi secara sembarangan, dia jatuh melorot di samping jenazah sang ibu terbaring kaku. Air mata kembali luruh, tak dapat di bendung. Di peluknya perlahan tubuh sang ibu dengan pilu, di susul Pak Sukri yang juga duduk di belakangnya, turut memeluk erat tubuh diam dan dingin istrinya yang telah tiada.
"Ibu ... kenapa ibu secepat ini ninggalin intan, Bu? Ibu bilang mau punya cucu dulu dari intan? Tapi kenapa ibu pergi duluan? Kenapa ibu nggak bawa intan sekalian, Bu? Intan sama siapa setelah ini?" bisik Intan di dekat telinga almarhum ibunya.
Pak Sukri yang mendengar perkataan Intan mendesah pilu, selama ini dia memang kurang dekat dengan anaknya itu. Hanya sekedar bertegur sapa biasa atau bertanya hal hal remeh padanya, berbeda dengan Bu Sukri yang selalu menjadi tempat curhat dan teman terbaik untuk Intan.
"Sudah, Nak. Ikhlaskan, sekarang kita sama sama berdoa buat ibumu ya." Pan Sukri menarik tubuh Intan dan memeluknya.
Pengajian untuk almarhum di mulai, pak Sukri mengambil sebuah pashmina dari dalam kamar Intan dan di pakaikannya ke kepala Intan.
Setelah di sholatkan, malam itu juga almarhum langsung di kebumikan, tanpa membuang waktu karna kondisi almarhum yang tak mungkin bertahan lama lagi di udara bebas.
__ADS_1
" Suk, saya pulang dulu ya. Anak saya yang kecil katanya demam, insyaallah besok saya dan istri akan kembali ke sini untuk membantu malam tahlilan tujuh hari almarhum istrimu." Pak Kardi berpamitan pada sahabatnya, yang hanya di jawab anggukan oleh Pak Sukri.
Malam semakin larut, hanya keheningan yang menemani Pak Sukri malam ini. Di dalam kamar tempatnya dulu sering bercanda ria dengan Bu Sukri, kini dia hanya terduduk diam tak ada lagi yang mengajaknya bercanda atau sekedar beradu argumen semata. Hanya hening, dan sesekali bunyi kodok dan jangkrik menemani malam yang sunyi itu.
Pak Sukri mendesah, berusaha memejamkan matanya walau sangat sulit terasa. Bayang bayang Bu Sukri kembali merasuk dan mengganggu tidurnya, hingga akhirnya Pak Sukri menyerah. Dia bangkit, keluar dari kamar karna ingin menyeduh kopi.
"Bapak belum tidur?" sapa Intan yah rupanya juga mengalami hal yang sama dengan sang bapak.
"Hah, iya Nduk. Kamu lagi apa di situ?" tanya Pak Sukri karna mendapati Intan tengah duduk di kusen jendela yang menghadap ke halaman samping rumahnya.
Intan turun, lalu menutup jendela yang dari luar menghembuskan hawa dingin itu.
"Nggak papa, Pak. Cuma cari angin saja," dalih Intan pelan.
Pak Sukri melanjutkan langkah menuju dapur, dapur yang dulu selalu ribut dengan suara Bu Sukri yang tengah memasak atau sekedar beberes di sana kini tampal lengang dan sangat sunyi.
"Bapak inget ibu ya?" celetuk Intan yang rupanya sejak tadi mengikuti langkah bapaknya ke dapur.
Pak Sukri sempat terjingkat kaget, namun cepat dia menguasai diri karna tak ingin sang anak ketakutan.
"Eh, kamu ngagetin bapak saja. Bapak mau bikin kopi, kamu ngapain di sini? Mau ngopi juga?" tanya Pak Sukri terkesan mengalihkan pembicaraan.
Intan menggeleng, lalu menarik kursi dan duduk di meja makan.
"Intan kangen ibu, Pak.".
Pak Sukri yang sedang menjerang air di panci menoleh sekilas lalu kembali menyibukkan diri dengan kopi saset di tangannya, menuangnya ke gelas dan di beri air panas yang sudah mendidih.
"Jangan terlalu bersedih, nanti jalan ibumu jadi berat di sana," pungkas Pak Sukri pelan namun tegas.
"Apa bapak nggak pernah kangen ibu? Sudah lama sejak kami pergi, apa bapak nggak sekalipun punya rasa rindu buat ibu?" celetuk Intan bergetar.
Pak Sukri menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengaduk kopi di dalam gelas. Menarik nafas perlahan lalu membuang pandangannya ke arah lain.
"Sudahlah, tidak ada gunanya membahas itu. Bapak rindu atau tidak, itu biar jadi urusan bapak. Sekarang lebih baik kamu tidur, jangan begadang."
Namun bukannya menuruti perkataan bapaknya, Intan malah berdiri cepat hingga kursi yang dia duduki hampir saja jatuh ke belakang.
"Tega sekali bapak bicara begitu! Padahal selama ini selama kami pelarian, intan sendiri saksinya kalau ibu terus menerus memanggil nama bapak dalam tidurnya . Ibu terus merindukan bapak, ingin bertemu bapak tapi takut kalau bapak akan kalap dan membunuhnya setelah semuanya yang terbongkar. Ibu takut,Pak. Tapi itu tidak pernah mengurangi rasa cinta dan rindu ibu buat bapak. Jahat sekali bapak bilang kalau bapak tidak rindu ibu, " sergah intan kesal, dengan air mata membasahi pipinya dia menatap nyalang wajah sang bapak yang sudah beberapa waktu terakhir tidak dia temui.
Pak Sukri tercengang, menatap mata anak perempuannya yang kini tampak berkilat marah padanya. Namun apa yang salah? Pak Sukri sudah merasa menjawab dengan benar, dan tidak di buat buat.
"Intan nggak nyangka bapak sepicik itu," desis Intan lalu berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar.
Meninggalkan Pak Sukri yang masih tercenung dengan sejuta kebimbangan di dalam hatinya.
****
Siang itu, Indi memutuskan untuk menjenguk Fatan di penjara. Baby Inara kebetulan di bawa oleh sang nenek menuju rumah Dara untuk pergi bermain, sekaligus menemani Dara yang hari ini akan di tinggal si kembar study tour ke kota sebelah.
Dengan membawa sebuah rantang berisi makanan yang di masaknya sendiri, Indi berangkat dengan ojek online yang sudah dia pesan langsung ke kantor polisi.
__ADS_1
Dengan perasaan tak menentu, Indi kini duduk menunggu Fatan di jemput oleh petugas polisi ke selnya. Kabar yang dia bawa, membuat Indi merasa bersalah sendiri saat ini.
"Sendirian saja, In?" sapa Fatan yang baru saja datang bersama seorang petugas polisi yang kini berdiri tak jauh dari mereka.
"Eh, iya Mas. Ini aku bawain makanan buat kamu." Indi menyodorkan rantang yang dia bawa ke hadapan Fatan, namun Fatan hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Kenapa kamu nggak bawa Inara? mas kangen sekali sama dia, gimana kemarin acara aqiqahnya? Lancar?" cecar Fatan bertubi tubi karna begitu penasaran dengan hal itu.
Indi mengangguk cepat. "Alhamdulillah lancar kok, Mas. Tapi aku ke sini karna ada hal penting lain yang mau aku sampaikan ke kamu juga, Mas."
Kening Fatan sontak berkerut, di tatapnya lekat wajah wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.
"Kabar apa?"
Indi mengigit bibirnya sendiri seolah merasa sangat berat untuk menyampaikan kabar tersebut.
"B- Bu ... Bu Sukri ... Bu Sukri ...."
"Ada apa dengan Bu Sukri, In? Apa dia datang lagi ke rumah dan mengganggu kamu juga Inara?" sela Fatan tampak geram.
Indi cepat menggeleng. "bukan, Mas bukan itu."
"Lalu?"
Indi menarik nafas dalam, meyakinkan dirinya sendiri. Toh pada akhirnya kabar ini juga akan sampai di telinga Fatan, entah melalui dirinya atau dari orang lain yang mungkin mengabarinya.
"Bu ... Bu Sukri, me- meninggal, Mas."
Sekilas tampak oleh Indi, Fatan terkejut. Namun tak lama kembali tampak lebih tenang tanpa ekspresi dan respon yang terlalu menggebu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun," gumam Fatan, sebagai mana biasanya jika ada orang yang meninggal dan kabarnya sampai padanya.
Indi yang kebugaran mencoba bertanya, padahal Indi sudah mengira Fatan mungkin akan sangat kaget dan mungkin saja histeris karna meninggalnya Bu Sukri. Tapi rupanya kenyataan yang ada justru kebalikannya.
"Mas, kamu ... kok biasa aja sih?"
"Lalu, Mas harus gimana, In? Toh memang semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati kan?" pungkas Fatan.
Indi mengangguk membenarkan.
Sejenak hening menyapa, menemani mereka dalam kebisuan. Sampai akhirnya suara dering ponsel Fatan yang sempat di bawa Indi membuyarkan semuanya.
"Oh ya, mas. Ini hape kamu, siapa tahu kamu mau mengucapkan bela sungkawa pada Pak Sukri dan ... Intan." Suara Indi melemah di saat menyebut nama intan, bohong jika Indi bilang dia tidak sakit hati pada Intan, namun nyatanya sangat sedikit wanita yang akan biasa saja jika suaminya beristri lagi walau itu karna terpaksa sekalipun.
Fatan menerima ponsel itu, lalu mulai mencari nomor telepon Pak Sukri di sana. Hanya beberapa kali dering saja panggilnya di angkat, dan langsung di sambut oleh suara Isak tangis yang sepertinya berasal dari khalayak ramai.
"Assalamu'alaikum, Halo. Pak Sukri! Pak! Bapak di sana!" seru Fatan karna merasa sesuatu tengah terjadi di sana, dia sengaja menaikkan nada bicaranya agar orang yang mengangkat teleponnya tersebut bisa mendengar jelas.
Namun sayang, di sebrang sana tak Fatan dapati satu jawaban pun dari pertanyaannya. Kecuali suara isak tangis dan beberapa kali suara gemerisik yang entah apa sebabnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Indi kala melihat raut wajah Fatan berubah tegang.
__ADS_1
Fatan menggeleng dan menatapnya lekat.
"Sepertinya ... sudah terjadi sesuatu lagi di sana."