
"Dasar anak nggak berguna! Kurang ajar!" marah Bu Maryam sambil menuding Dara.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Dara heran.
"Nggak usah pura-pura nggak tau kamu, kamu sengaja kan ninggalin anak-anak kamu di sana sama pengasuh? Supaya Indi keliatan nggak ada gunanya di mata tetangga? Barusan Indi telpon sambil nangis-nangis katanya dia di gunjing tetangga numpang di rumah kamu tapi nggak mau bantu ngurusin anak-anak kamu!" omel Bu Maryam sepanjang rel kereta api.
Dara menepuk jidatnya lelah, sedangkan Pak Bagyo tampak diam tak ingin ikut campur. Walau sebenarnya batinnya sudah sangat tertekan dengan sikap semena-mena istrinya terhadap Dara.
"Jadi ibu marah-marah cuma gara-gara itu? Ibu ini sebenarnya umur berapa sih Bu? Masa perkara kayak begini aja nggak bisa memilah mana yang seharusnya dan nggak seharusnya?"
"Nggak usah sok puitis kamu itu, dasar cari muka!" bantah Bu Maryam tak mau kalah.
Dara menghela nafas lelah, nasi goreng di hadapannya yang tersisa banyak itu kini tak lagi memancing selera.
"Bu, coba Ibu pikir. Kalau semisal Dara ninggalin anak-anak cuma sama Mas Fatan dan Indi di rumah pasti tetangga akan lebih menggunjing, Bu. Apalagi mereka kan bukan mahrom dan tinggal dalam satu atap, walaupun ada anak-anak tetap aja pandangan orang bakalan janggal, Bu. Nah, dengan adanya Elis di sana setidaknya bisa bikin orang-orang nggak begitu negatif thinking lah sama Indi dan Mas Fatan," terang Dara mencoba untuk tidak terpancing.
"Halah, itu pasti cuma bisa-bisaan kamu aja. Indi itu anak baik-baik ya nggak mungkin dia ngelakuin hal-hal di luar batas apalagi sama Fatan, dia pasti ngerti lah kalau Fatan itu kakak iparnya. Itu paling kamu aja yang sok kaya, sok banyak duit segala nyewa pengasuh." Bu Maryam berkacak pinggang.
Dara hanya menggelengkan kepalanya pelan, tak akan ada habisnya jika terus menerus meladeni ocehan Bu Maryam yang memang selalu inginnya menang sendiri.
"Kamu itu ngomong apa tho, Bu? Nggak baik bicara begitu sama anak sendiri. Lagi pula apa yang di bilang Dara itu bener, setidaknya dengan ada orang lain di rumah itu Indi dan Fatan nggak akan cuma berduaan menjaga anak-anak. Mikir, Bu! Jangan cuma menangin ego kamu!" Pak Bagyo akhirnya turut buka suara membela Dara.
Bu Maryam melengos, "huh! Kamu beka terus anak pungut kesayangan kamu ini! Bela terus! Mulai sekarang semua urusan kamu aku nggak mau tau lagi ya, Pak. Biar aja Dara yang urus aku capek!"
Braaakkk
Pintu ruangan di tutup kasar oleh Bu Maryam yang lagi-lagi pergi entah kemana meninggal tanggung jawabnya sebagai istri. Pak Bagyo tampak mengelus dada dan beristighfar berulang kali.
"Sabar ya, Pak. Jangan di ambil hati omongan ibu, ada Dara di sini. Dara yang bakalan rawat bapak sampai bapak sembuh total." Dara mengelus lembut tangan bapaknya.
Pak Bagyo mengulas senyum tipis, "terima kasih ya, Nduk. Kamu memang anak yang berbakti, semoga Allah membalas kebaikan kamu ini berkali-kali lipat."
Dara mengaminkan doa tulus bapaknya dan membiarkan Pak Bagyo kembali menutup mata untuk beristirahat.
"Bapak istirahat aja ya, Dara mau mandi sebentar," tukas Dara sambil berlalu mengambil pakaian ganti dan perlengkapan mandinya untuk di bawa ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan.
__ADS_1
Air dingin menyapu tubuh mulus Dara, membuatkan sedikit menggigil namun merasa segar bersamaan. Namun lagi-lagi jantungnya berdebar kencang dan perasaan gelisahnya semakin menjadi-jadi.
"Sebaiknya aku cepet selesaikan mandi dan langsung sholat, perasaan ku aneh banget daritadi," gumam Dara sambil mempercepat mandinya dan di lanjutkan dengan mengambil wudhu di keran kamar mandi.
Ceklek
Dara membuka pintu kamar mandi dengan perlahan karena melihat Pak Bagyo sudah pulas di pembaringannya.
Perlahan Dara mengambil sajadah dan mukenanya kemudian lekas mengenakannya untuk mulai menunaikan ibadah wajibnya.
"Allahuakbar,"
Dara memulai sholatnya dengan khusu' di iringi suara hujan yang mulai turun rintik-rintik. Dara rebahkan semua beban di dada dan pikirannya dalam sujud panjangnya meminta pertolongan sang Khalik untuk menjaga keluarganya.
Selesai sholat dan berdoa cukup lama, hari sudah semakin larut. Pak Bagyo pun tampak sudah tenggelam begitu dalam dalam tidurnya, tapi Dara masih belum mengantuk sama sekali.
Akhirnya Dara mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk sang suami tercinta yang mulai di rindunya.
00.10
Assalamu'alaikum, imamku.
00.11
Wa'alaikumsalam, makmumku. Gimana di sana? Bapak baik-baik aja kan?
Dara tersenyum melihat pesan balasan Fatan, padahal hanya pesan singkat biasa tanpa ada kata-kata yang terlalu riskan di sana. Tapi rindu yang membuncah walau baru beberapa jam saja tak bersua membuat Dara begitu senang mendapat kabar dari suaminya.
00.13
Bapak Alhamdulillah baik, gimana anak-anak?
Balas Dara yang juga cemas akan kondisi anak-anaknya.
00.15
__ADS_1
(Foto)
Alhamdulillah aman, mereka tidur bareng di ruang keluarga sama Elis.
Dara kembali tersenyum melihat foto yang di kirim Fatan, tampak di sana tubuh Fatur yang tertidur dengan kaki naik ke atas sofa. Dan Farah yang tertidur pulas sambil memeluk Elis di sampingnya.
Karena tak sabar Dara akhirnya memilih melakukan video call, namun anehnya Fatan begitu lama mengangkat teleponnya. Sampai akhirnya nada sambung itu putus karena tak kunjung di angkat.
Perasaan Dara semakin cemas dan kembali mencoba menelepon suaminya dengan panggilan video. Nada sambung kembali berakhir karena tak kunjung di jawab oleh Fatan.
00.25
Kok nggak di angkat, Mas? Kamu tidur? Perasaan belum lama tadi masih balas chat ku?
Akhirnya Dara kembali mengetik pesan untuk suaminya karena merasa begitu khawatir. Dan tak butuh waktu lama pesan itu kembali centang biru dan langsung di balas oleh Fatan.
00.26
Mas lagi di WC, Sayang. Gimana mau angkat video call kamu?
Dara menghela nafas panjang, walau batinnya gelisah tapi dia akhirnya berusaha untuk percaya dengan suaminya karena tak ingin di cap sebagai istri posesif.
00.29
Baiklah, video call aku setelah selesai ya.
Balas Dara di sertai emotikon senyum di akhir chatnya. Fatan membalas dengan sebuah stiker bergambar jempol, dan kembali Dara merenung sambil menunggu panggilan telepon dari suaminya.
"Kalau seandainya benar Mas Fatan dan Indi ... ah aku mikir apa sih? Nggak, nggak, nggak ada lah kayak gitu. Aneh banget aku ini, masa mikir sampai sejauh itu sih. Itu kan nggak mungkin banget lah, haish," gumam Dara sambil mengibaskan tangannya di depan muka.
Tak lama akhirnya panggilan video yang di tunggu-tunggu oleh Dara akhirnya berbunyi, lekas Dara mengangkatnya dan mengarahkan ponselnya ke depan muka agar terlihat jelas.
Tampak di layar ponsel wajah Fatan yang penuh dengan peluh dan kelihatan begitu lelah dengan duduk di kursi kerjanya yang berada di kamar.
"Hai, Sayang. Maaf Mas lama di kamar mandinya, abisnya tadi Indi ngajak makan seblak dan itu pedes banget. Jadi deh malah diare sekarang," ucap Fatan di sebrang telepon.
__ADS_1
Dara tertegun, bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini melainkan pemandangan di belakang Fatan. Yang menampakkan kondisi di kamar mereka yang tampak begitu berantakan dengan sprei kasur yang acak-acakan.
"Siapa yang tidur di belakang kamu, Mas?" tanya Dara spontan.