TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 101. TAMU TAK DIUNDANG 2.


__ADS_3

"Hah, apa mauku? Mudah, cukup kembalikan uang sudah kau terima dari hasil menjual kebun dan rumah peninggalan suamiku, kau tahu? Itu kan bukan hakmu? Kau itu cuma anak titipan, dalam artian ... kau tidak berhak sama sekali atas harta peninggalan suamiku itu," ucap Bu Maryam dengan senyum mengejek.


 Ya, tamu tak di undang itu tak lain dan tak bukan adalah Bu Maryam. Perempuan yang selama ini di panggil


Dara dengan sebutan ibu namun perilakunya sama sekali tak mencerminkan sebagaimana seorang ibu.


 Pak Jatmika berdiri di sebelah putrinya, berniat pasang badan jika Bu Maryam hendak macam macam dengan Dara, pun Zaki dan Bu Ambar yang juga berdiri di sisi Dara yang lain. Belum lagi si kembar yang sepertinya sadar akan situasi dan berdiri di depan sang mama, mencoba melindunginya.


 Para tamu yang melihat mulai berkasak kusuk, namun tak ada yang berusaha melerai kejadian itu. Mereka hanya berbisik bisik sambil saling melempar pendapat.


"Harta yang mana maksud anda, Bu?" tanya Dara tak gentar, bahkan dia sengaja memanggil Bu Maryam dengan sebutan anda, menunjukkan betapa wanita itu tak lagi memiliki arti di dalam hatinya.


 Semua kebaikan yang 'mungkin' pernah di lakukan Bu Maryam padanya, seolah menguap begitu saja jika di bandingkan bagaimana Bu Maryam dulu menyakiti Dara.


 Bu Maryam mencebik, dengan sorot mata mengejek.


"Tcih, beraninya hanya karna banyak yang mendukung. Pengecut!"desisnya sengaja membakar amarah Dara.


 Dara mengetatkan rahangnya dan perlahan melangkah maju melewati ke dua buah hatinya, menunjukkan sikap kalau dia sama sekali tak takut akan kehadiran Bu Maryam yang tiba tiba di acara pernikahannya.


"Katakan, apa maumu, Bu. Bersikap baiklah selama aku masih mengingat siapa dirimu," geram Dara tertahan.


 Matanya tajam menatap langsung ke kata Bu Maryam, namun Bu Maryam seolah kebal dia malah berkacak pinggang sambil melemparkan seringai mengejek di bibirnya yang tebal dan menor dengan lipstik berwarna Oren, sangat jomplang dengan wajahnya yang sawo matang.


"Bukankah aku sudah mengatakan apa mauku tadi? Apa kau tuli? Apa mungkin ... sudah pikun seperti bapakmu yang tua itu?" sinis Bu Maryam semakin menjadi jadi.


 Dara maju hendak menampar mulut Bu Maryam yang menurutnya sudah keterlaluan karna berani menghina bapaknya. Namun Zaki dengan sigap langsung menahan pergerakan Dara agar Dara tidak lepas kendali.

__ADS_1


"Sabar, sayang. Pelan pelan, bukan begitu cara menghadapinya, kalau kamu pakai kekerasan sama saja kamu membuat citra diri kamu ternoda. Tahan ya, sabar." Zaki berbisik di telinga Dara.


 Dan dara sadar, suaminya benar. Jadi dia menarik kembali tangannya yang sudah teracung di udara itu dan memilih melipatnya di dada.


"Untuk apa ibu meminta harta itu? Apa Mas Fatan sudah tidak mampu menafkahi kalian lagi sampai ibu menjadi putus asa?" ejek Dara membalikkan keadaan.


 Bu Maryam terkesiap, dia sama sekali tak menyangka kalau Dara bisa memutar kata katanya.


"Ap- apa maksudmu? Jangan mengada-ada kamu ya!" marah Bu Marya menunjuk wajah Dara.


"Apa maksudku? Harusnya ibu yang lebih tahu bukan? Bukankah sekarang lelaki mata keranjang itu sudah menjadi menantumu, Bu? Menantu yang kalian dapatkan dengan cara licik," tukas Dara tak mau kalah.


"Hah! Lalu apa bedanya dengan mu? Kau bahkan menikah dengan mantan suami adikmu sendiri." Bu Maryam kembali menyulut api yang baru saja padam di hati Dara.


 Zaki yang sejak tadi diam, ikut tersulit kemarahan. Perlahan dia maju mendekati Bu Maryam yang kini tampak kelabakan itu.


 Dara bergantian mendekat dengan tatapan tak kalah mengejek seperti layaknya Bu Maryam tadi.


"Bagaimana, Bu? Apa masih mau berada di sini? Apa urat malu ibu sudah putus?" gumamnya pelan namun menusuk.


Bu Maryam yang kebingungan kembali terpancing melihat Dara yang dengan berani mengejeknya.


"Tentu saja saya masih berani, saya punya harta yang harus saya rebut dari wanita tak tahu malu seperti kamu! Berani beraninya menjual sesuatu yang bukan menjadi haknya. Huh, sungguh memalukan! Untung saja kamu tidak terlahir dari rahim saya, bisa malu seumur hidup saya kalau punya anak tidak tahu aturan seperti kamu." Bu Maryam kembali mengejek.


 Pak Jatmika yang juga tak tahan ikut maju, dia geram sekali hendak mencabik mulut lemes Bu Maryam. Pun dengan Bu Ambar yang tak rela menantunya di perlakukan seperti itu.


"Nah, nah, kan beraninya keroyokan. Masa menghadapi satu wanita tua yang sudah peyot seperti saya saja segala bawa pasukan sih. Nggak malu?" ucap Bu Maryam.

__ADS_1


 Dara sontak menarik pergerakan Pak Jatmika dan Bu Ambar untuk kembali di tempat mereka semula. Walau awalnya menolak tapi Dara bisa meyakinkan mereka kalau dia bisa menanganinya.


"Bu, tolong ibu dengarkan dulu pembelaan saya. Saya tidak pernah menjual ataupun mengakui hak siapapun sebagai milik saya, apalagi itu berupa harta yang anda klaim sebagai harta peninggalan suami anda. Tapi, saya punya bukti kalau semua yang sudah saya jual itu, adalah benar milik saya dan atas nama saya," papar Dara yang sontak membuat Bu Maryam melebarkan matanya.


"Ap- apa? Apa kamu bilang? Tidak bisa begitu dong, jelas jelas orang yang beli itu bilang kalau dia beli dari kamu, Dara! Jadi sudah pasti kalau kamu yang mengambil dan merebut semua harta warisan suami saya itu untuk ke untungkan kamu sendiri. Wanita Munaf*k!" omel Bu Maryam asal.


 Dara mendesah berat, dari sudah menduga sekali akan sangat sulit menangani perempuan sealot Bu Maryam.


"Apa ibu butuh bukti?"


 Bu Maryam melirik sinis. "Ya, tentu dong. Enak saja kamu bicara tanpa bukti begitu, kayak orang bener aja."


 Dara menoleh pada Zaki dan mengangguk. Zaki seolah mengerti dan langsung turun dari panggung pelaminan menuju ke dalam rumah.


 Tak lama Zaki kembali lagi dengan beberapa lembar map di tangannya. Dia memberikannya pada Dara dan Dara menyodorkan map itu pada Bu Maryam.


"Ini, silahkan ibu lihat sendiri."


 Bu Maryam menerima map itu dengan kasar, bahkan sampai menyentaknya. Dara hanya tersenyum sinis melihat kelakuannya yang tak pernah mau kalah itu.


"Pasti ini surat palsu yang kamu buat buat, tcih. Saya sama sekali tidak percaya dengan perempuan seperti kamu," umpatnya sebelum membuka map itu.


"Terserah, tapi lebih baik ibu buka saja map itu. Sepertinya anak TK pun akan tau itu surat asli atau bukan," sahut Dara berdecih.


 Bu Maryam mencebikkan bibirnya dan membuka map itu dengan kasar, hingga mungkin hampir membuatnya sobek.


  Mata Bu Maryam bergerak seiring terbacanya surat itu olehnya, perlahan nafasnya menjadi naik turun tak karuan, dengan mata yang terus melebar dan air mata memenuhi kolam matanya.

__ADS_1


"I- ini, tidak mungkin," desisnya tak percaya membaca isi dari map yang di berikan Dara.


__ADS_2