TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 122. RACUN TETANGGA.


__ADS_3

"Hei! Berani beraninya kamu bilang saya nggak ada otak, kamu itu yang nggak ada otak! Lagi pula kenapa tanaman jelek begini segala di taruh di luar pagar? Mau pamer? Kan jadi ngerepotin orang kalo udah begini, mana motor anak saya jadi lecet lagi." omel seorang wanita yang ternyata adalah Bu Leha pada Zaenab, tetangga Dara yang tempo hari menyiram Halim dengan air.


 Bu Zaenab yang masih tidak terima bunga kesayangannya yang harganya lumayan itu sekarang rusak dan potnya pun jatuh berserakan, dia merangsek maju dan menjambak rambut Bu Leha yang keriting sepunggung itu.


"Dasar retenir nggak tahu diri! Rasakan ini!" serunya sambil menarik rambut Bu Leha kuat kuat hingga si empunya rambut menjerit.


"Aaahhhh, lepaskan! Dasar perempuan nggak tahu adab! Lepaskan ku bilang!"seru Bu Leha sambil memegangi rambutnya yang serasa akan lepas dari kulit kepalanya itu.


 Mendengar jeritan itu Bu Zaenab malah semakin mengeratkan pegangannya di rambut Bu Leha hingga banyak dari helai rambutnya yang kini sudah tercerabut dari akarnya.


"Tidak akan! Sampai kamu mengganti rugi bungaku yang kamu rusak ini tak akan ada ampun buatmu retenir sial*n!" umpat Bu Zaenab masih kekeh dengan pendiriannya.


 Bu Leha meringis kesakitan, namun Hans anaknya yang melihat adegan itu dari samping motor malah hanya diam dengan raut wajah ketakutan. Entah apa yang dia pikirkan hingga tak memiliki keberanian barang setipis tisu untuk menolong sang ibu.


"Hei! Ada apa ini!" seru seseorang yang ternyata adalah Bu Ambar yang keluar dari rumah Dara karna tak tahan dengan suara berisik mereka.


 Bu Zaenab menoleh sekilas, namun gerakannya yang melemah di manfaatkan dengan baik oleh Bu Leha dan dengan cepat wanita bertubuh besar itu menarik rambutnya dari cengkraman Bu Zaenab hingga banyak dari helai rambutnya yang tertinggal di sela jari Bu Zaenab.


"Hih! Menjijikkan! Amit amit!" seru Bu Zaenab sambil mengibaskan tangannya dan mencucinya di keran air depan rumahnya.


"Ada apa ini?" tanya Bu Ambar lagi setelah posisinya cukup dekat dengan tempat kejadian perkara.


 Bu Leha mengibaskan rambut keritingnya ke belakang dengan masih menahan nyeri di kepalanya.


"Ini, Bu! Rentenir aneh itu sudah ngancurin bunga saya dan sekarang malah nolak buat ganti rugi." Bu Zaenab menyela sambil menunjuk wajah Bu Leha yang tampak merah padam.


"Heh! Kamu jangan sembarang bicara ya! Dasar miskin!" sindir Bu Leha tanpa perasaan.


 Mata Bu Zaenab melotot tajam ke arah Bu Leha ,namun seperti di atas angin karna adanya saudara sepupunya yaitu Bu Ambar di sana Bu Leha malah bertingkah seakan tidak bersalah.


"Sudah! Sudah!" seru Bu Ambar cukup kuat hingga membuat duo ibu ibu yang bersikukuh itu langsung terdiam.

__ADS_1


"Apa benar yang di bilang Zaenab itu, Leha?" tanya Bu Ambar tegas.


 Bu Leha menunduk, namun enggan untuk menjawab apapun karna sebenarnya dia pun tahu kalau dialah yang salah karna meminta Hans membawa motor dengan ugal ugalan.


 Bu Zaenab menatap tajam pada Bu Leha, nafasnya tampak naik turun karna kesal dengan tingkah Bu Leha yang aneh itu.


"Leha jawab!" seru Bu Ambar lagi.


 Bu Leha terjingkat kaget, lalu akhirnya mengangguk pasrah.


"I- iya, Mbak. Tapi, tapikan aku nggak sengaja, Mbak. Masa iya harus tetep ganti rugi, namanya nggak sengaja mah." Bu Leha mencoba membela diri, namun malah membuat Bu Zaenab naik pitam.


 Bu Zaenab mengambil seonggok tanah pupuk bunga yang hancur berserakan itu dan melemparkannya pada perut Bu Leha yang menggelambir.


"Heh! Lintah darat! Nggak sengaja kau bilang? Jelas jelas tadi aku lihat sendiri kalau anakmu ini bawa motornya terlalu ke pinggir, kalian tau jalan ini turunan bukannya ngerem malah ngegas, jadilah nabrak kan akhirnya!"


 Bu Leha mendekati Bu Zaenab dan hendak membalas lemparannya tadi, namun lekas di tatap tajam oleh Bu Ambar hingga dia mengurungkan niatnya.


"Kamu jangan fitnah!" elak Bu Leha masih saja mencoba membela diri.


 Melihat itu seketika tubuh Bu Leha lemas, tapi dia masih enggan untuk mengakui kesalahannya.


"Halah, paling juga CCTV mainan. Kamu kan miskin mana mungkin sanggup beli CCTV," sanggah Bu Leha dengan lagaknya yang selangit itu.


.


"Ooh, kalian mau liat langsung buktinya? Tapi kalau begitu saya akan panjangkan kasus ini sampai ke meja hijau! Jangan salahkan saya kalau begitu." Bu Zaenab mulai berang dengan ejekan demi ejekan yang di lontarkan Bu Leha mentang mentang rumahnya lebih kecil ketimbang rumah Bu Leha, maka Bu Leha akan sesuka hati mengatainya miskin. Padahal belum tentu juga Bu Leha ini lebih kaya.


 Bu Ambar tampak memijit pangkal hidungnya yang terasa sakit, lalu dengan bijak mencoba bernegosiasi.


"Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kita selesaikan secara baik baik saja, jangan ada yang main hakim sendiri. Apalagi sampai bawa bawa hukum, kita ini masih tetangga, tidak seharusnya begini."

__ADS_1


 Bu Zaenab mendengus keras.


"Ya, bilang saja saudara ibu satu ini. Punya mulut dan otak itu di sekolahkan jangan cuma taunya mengatai orang, padahal semua orang juga tahu kalau dia itu bisa jadi rentenir hasil ngutang sama keponakannya, anaknya Bu Ambar ini kan?" ejek Bu Zaenab membalas.


 Wajah Bu Leha merah padam, dia tidak terima di katakan demikian namun apalah daya tatapan mata tajam bu Ambar lebih menakutkan baginya hingga dia akhirnya memilih diam seribu bahasa.


"Baiklah, berapa yang harus mereka ganti, Zaenab?" tanya Bu Ambar menengahi agar masalah ini tak semakin melebar kemana mana.


 Bu Zaenab tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Bu Leha meliriknya sinis dengan gumaman gumaman tak jelas dari bibirnya.


"Nggak banyak kok, Bu. Paling cuma lima ratus ribu saja, saya masih berbaik hati tidak menghitung juga harga potnya yang sebenarnya juga mahal itu. Takutnya si lintah darat yang ngaku ngaku kaya ini nggak punya duit lagi," ucap Bu Zaenab menyeringai.


 Bu Ambar beralih pada Bu Leha yang kini tampak melotot kesal.


"Leha, kamu sudah dengar kan? Sekarang, bayar."


 "Ah, apaan harga bunga jelek begitu saja mahal sekali, nggak! Saya nggak mau bayar." Bu Leha menggeleng cepat sambil membuang muka ke arah lain.


"Oooh, jadi nggak mau bayar ya? Nggak mau atau nggak sanggup nih?" sindir Bu Zaenab lagi.


 Wajah Bu Leha kembali merah padam.


"Apaan, saya sanggup kok! Jangan salah kamu ya, uang saya itu di rumah ada sekamar kamu tahu? Bisa kalau cuma mau beli harga diri kamu yang kerdil itu!"


"Wah bagus dong, kalau begitu sekarang bayar! Katanya uangnya satu kamar! Atau mungkin Bu Leha si rentenir yang terhormat dan suka ngaku ngaku kaya ini mau menginap di penjara cuma gara gara nggak sanggup ganti rugi sebuah bunga? Uuh, malu dong ya pasti." Bu Zaenab menadahkan tangan untuk meminta bayaran ganti rugi atas bunganya.


 Bu Leha tampak gelagapan mendengar ucapan bernada ancaman dari Bu Zaenab itu, karna sejauh yang dia tahu anak dari Bu Zaenab itu tengah menempuh pendidikan kepolisian di kota, dan tidak menutup kemungkinan bisa saja dia akan dengan mudah di jebloskan ke dalam penjara.


  Bu Leha menatap sang putra yang sejak tadi hanya diam tak bersuara, matanya menyiratkan kecemasan namun dengan entengnya Hans malah menggelengkan kepala tanda dia juga tidak punya jalan keluarnya.


 Akhirnya Bu Leha mendekat pada Bu Ambar yang masih setia berdiri di sana, dan dengan tak tahu malunya berbisik di telinganya.

__ADS_1


"Mbak, saya pinjam dulu ya uangnya buat ganti rugi bunganya si Zaenab. Saya nggak bawa uang, Mbak ini aja tadi kami ke sini itu mau nyusulin Mbak niatnya ya mau pinjam uang buat bayar token listrik."


  Bu Ambar hanya bisa tercengang mendengar ucapan Bu Leha yang ternyata hanya gaya elit ekonomi sulit itu.


__ADS_2