
Setelah selesai urusan jalan jalan dan makan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Indi dan Bu Maryam tampak memasuki rumah dengan wajah di tekuk dan masam, Indi malah melempar tas tangan yang di bawanya ke atas sofa dan ikut merebahkan tubuhnya di sana.
"Duh, sumpah ya In. Calon mertua kamu itu kok nyebelin banget sih?" gerutu Bu Maryam sambil mengikuti Indi merebahkan tubuhnya di sofa sambil bersandar santai melepas semua penat dan kesal di dada.
Indi menghela nafas panjang. "Yah, maklum aja lah, Bu. Namanya juga orang kaya mungkin belum terbiasa gabung sama orang biasa kaya kita. Tapi ibu seneng kan aku juga bisa dapetin calon suami tajir kaya Mbak Dara?"
Bu Maryam bangkit dan binar matanya sudah menjelaskan betapa senangnya dia.
"Hooo ya jelas seneng banget lah, In! tapi nanti kamu kalo ngasih Ibumu ini jangan pelit kayak Dara loh ya. Harus inget jasa siapa kamu bisa sampai kayak gini, jangan durhaka kayak Dara yang lupa begitu saja sama ibu setelah jadi kaya." Bu Maryam sengaja mengeraskan suaranya supaya orang yang di maksud tersinggung.
Bu Maryam sepertinya lupa di rumah siapa saat ini dia bernaung.
"Ibu ngomong apa sih? Mbak Dara kan nggak pernah pelit sama kita, Bu. Itu baju yang ibu pake juga kan di beliin sama Mbak Dara, mahal loh itu Bu harganya, liat aja di labelnya kalo nggak percaya," sahut Indi membela Dara.
Bu Maryam mencebik tak suka jika ada yang melawan ucapannya, namun karna itu Indi anak kesayangannya maka Bu Maryam hanya diam tanpa menyanggah ucapannya.
"Loh, Ibu sama Indi udah pulang?" sapa Dara yang baru saja keluar dari kamarnya, tampak rapi dan cantik karna baru saja mandi sore.
"Iya nih, Mbak. Duh capek juga ya ternyata padahal jalan doang loh." Indi memijit kakinya yang terasa kaku dan tegang serta menekan nekan tengkuknya yang terasa kram.
Bu Maryam berdecih sambil membuang muka. "Tcih, jam segini baru keluar kamar ngapain aja seharian? mentang mentang cucuku sekarang di asuh baby sitter leyeh leyeh aja kerjaannya."
"Ibu ngomong apa, Bu?" tanya Dara yang tidak terlalu mendengar gumaman Bu Maryam, namun dari sorot matanya Dara tau kalau Bu Maryam pasti tengah menggunjingnya seorang diri.
"Tau nih, Ibu. Rese' deh," gerutu Indi sambil menatap tajam Bu Maryam.
Yang di tatap hanya melengos seakan tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kamu masak apa, Dara? ibu laper mau makan," celetuk Bu Maryam tak tau malu, padahal baru saja dia menghujat Dara kini malah terang terangan meminta makan pada Dara.
Indi mengerutkan keningnya dalam. "Apa, Bu? makan? bukannya tadi ibu udah makan di mall?"
__ADS_1
Bu Maryam menoleh dan berhenti dari posisinya melangkah menuju dapur.
"Makanannya aneh, ibu nggak suka jadi tadi nggak ibu habisin, Ibu tinggal aja di meja. Mana makannya di liatin begitu sama calon mertuamu, hih jadi makin nggak selera ibu." Bu Maryam begidik membayangkan apa yang di hidangkan karyawan food court tadi padanya.
Seporsi daging sapi dengan bagian dalam yang masih merah, sebagai orang kampung tentu saja Bu Maryam tidak biasa memakan makanan yang belum matang sempurna seperti itu dan membuatnya sampai muntah muntah di kamar mandi mall saking mualnya. Makan daging mentah, bayangkan saja.
"Sudah, Kalau gitu makan aja, Bu. Tadi Dara ada masak gulai cumi isi sama goreng bakwan jagung. Kamu juga, Dek kalo mau makan lagi sana gih," ucap Dara mempersilahkan mereka makan di rumahnya.
Indi menggeleng sambil tetap sibuk memantau ponselnya. Sedang Bu Maryam sudah sejak tadi melesat ke dapur untuk makan.
"Nggak ah, Mbak. Masih kenyang banget soalnya." Indi menepuk perutnya yang masih terasa sangat penuh.
Tak hanya makanan di food court, setiap melewati stand jajanan di mall itu Indi selalu akan berhenti dan meminta Zaki membelikan sebuah untuknya, hanya untuknya karena kedua ibu ibu yang mulai menunjukkan gelagat berseteru itu sama sekali tak tertarik dengan jajanan itu.
Dara mengangguk dan meraih remote TV untuk menghidupkannya.
Kling
Bukan, ini bukan suara TV hidup, tapi suara ponsel Indi yang memberi notifikasi akan masuknya sebuah pesan di aplikasi hijaunya.
Gegas Indi berdiri dan menyambar lagi tasnya yang masih tergelatak begitu saja di atas sofa.
"Loh, kamu mau kemana, Dek? bukannya baru pulang? kok mau pergi lagi?" tanya Dara heran.
Indi nyengir lebar sambil membentuk dua jarinya menjadi huruf V.
"Indi mau keluar bentar, Mbak. Indi lupa ngerjain tugas kampus soalnya."
"Tapi ini udah sore, Dek. Sebentar lagi Maghrib," larang Dara lembut, berharap Indi bisa mengerti dan menurutinya walau sebenarnya dia pun sanksi adiknya itu mau menurut.
Tapi begitulah Indi, sebuah larangan adalah ibarat perintah baginya. Semakin tidak boleh, maka akan semakin gencar Indi mengejar dan melakukannya. Ya ... seperti dia dan Fatan gitu.
"Indi pergi dulu ya, Mbak. Cuma sebentar kok, bilangin ya sama ibu, Mbak." Indi gegas keluar rumah setelah membalas chat yang masuk ke ponselnya dan mengendari motor Dara dengan terburu-buru.
__ADS_1
Dara hanya geleng kepala melihat tingkah adiknya itu yang sudah bar bar semenjak kecil.
"Dasar anak bungsu."
****
Malam tiba, si kembar sudah tidur di temani Elis yang di minta Dara untuk menginap. Namun Indi tak kunjung pulang, padahal Bu Maryam sudah menunggunya sejak tadi bahkan sampai ketiduran di depan televisi.
Dara menyelimuti ibunya dengan selimut tebal yang dia ambil dari kamar, dan berjalan menuju pintu utama untuk mengintip apakah suami atau adiknya sudah pulang.
"Ya Allah, dimana suami dan adikku ya Allah? jaga mereka ya Allah, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada mereka," doa Dara sambil berjalan bolak balik di depan pintu dengan perasaan cemas.
Dara duduk di kursi ruang tamu dan menunggu sambil tangannya memegang tasbih untuk melantunkan zikir agar hatinya ikut tenang. Entah berapa lama Dara berada di posisi itu, sampai akhirnya gerbang depan terdengar terbuka di susul deru motor dan mobil memasuki garasi.
Dara terkesiap dan lekas membuka matanya yang sempat terpejam sesaat karna mengantuk dan kelelahan.
"Alhamdulillah, udah pulang." Dara gegas membukakan pintu untuk suami dan adiknya yang baru pulang entah darimana.
"Alhamdulillah, Kamu udah pulang, Mas? kok tumben larut banget pulangnya?" tanya Dara cemas sambil mengambil alih tas kerja Fatan dari tangannya.
Fatan tidak menghiraukan Dara dan terus saja melangkah menuju kamar mereka.
Indi berjalan masuk dan meletakkan helm di tempatnya, seakan tidak melihat Dara dengan santainya Indi melanggang masuk menuju kamarnya sambil menguap lebar.
"Anak itu dari mana jam segini baru pulang? untung aja ibu tidur, kalo bangun kan bisa kena tausiyah tengah malam," gerutu Dara kesal sambil kembali menutup pintu rumah dan tak lupa menguncinya rapat-rapat.
Dara gegas memasuki kamarnya karna sudah sangat penasaran dengan apa yang di katakan Elis pagi tadi.
"Nah, kebetulan kan Mas Fatan lagi mandi. Sekarang waktunya kita beraksi lagi," gumam Dara sambil mengambil ponsel Fatan yang di letakkannya di atas nakas dan mulai mencari-cari aplikasi yang di lihatnya semalam.
"Nah, ini dia." Dara menekan aplikasi bergambar mesin hitung itu namun saat hendak berselancar di dalamnya mesin itu rupanya malah menampilkan gambar seperti layaknya mesin hitung biasa.
"Biasanya sih untuk masuk ke aplikasinya ada kode kodenya gitu yang cuma si empunya yang tau, Mbak. Yaaa kayak semacam pasword gitu lah." ucapan Elis tadi siang terngiang.
__ADS_1
Dan Dara gegas mengetik sederet angka yang kemungkinan besar adalah sandi pembuka kunci aplikasi tersebut.
"Astaghfirullah, ternyata selama ini ...."