
"Tidak! Laila tidak boleh sampai tahu! Elis, tolong jaga rahasia itu sebaik mungkin. Jangan sampai menceritakannya pada siapapun," sela Bu Hana cepat dengan mata memancarkan kekhawatiran.
Elis tercekat, namun secepatnya dia bisa menguasai diri dan mengangguk lemah.
"Baik, Bu. Tentu saja saya pun tidak mau kalau sampai orang lain terlebih Mbak Laila tahu hal itu," pungkasnya pelan.
Bu Hana menarik nafas dalam dan memegang tangan Elis yang berada di atas meja.
"Saya tahu kamu bisa di percaya," gumamnya yang langsung di angguki Elis.
*
"Assalamualaikum," ucap Halim dan Laila berbarengan.
Dua sejoli yang nampak serasi itu melangkah masuk ke dalam rumah Bu Hana dengan bergandengan tangan dan saling tatap penuh cinta.
Dasar bucin.
"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Hana dan Elis yang sejak tadi masih berada di meja makan.
"Lama banget sih? Ngapain dulu tadi, Mbak?" protes Elis yang sejak tadi sudah tak sabar untuk menyantap hidangan buatan Laila yang ada di hadapannya itu.
Laila langsung saling pandang dengan Halim, lalu keduanya kompak tertawa kecil.
"Ada deh," sahut Halim sambil mengacak rambut Elis hingga berantakan.
"Mas!" sentak Elis kesal sambil memperbaiki rambutnya.
"Hahaha, ga usah di rapihin begitu bagus," kekeh Halim sambil mengambil tempat duduk di samping Bu Hana dan Laila di sebelahnya.
"Bodo!" sungut Elis merengut.
"Kok ibu sama Elis belum makan sih? Harusnya makan duluan aja, Bu nggak usah nungguin kita," ujar Laila saat melihat piring di hadapan bu Hana dan Elis masih bersih dan makanan di atas meja belum tersentuh.
"Nggak papa, makan sama sama lebih enak," kilah Bu Hana sambil mengambil gelas teh yang tadi dia buat dan menuangkannya untuk mereka.
"Biar Laila aja, Bu." Laila bangkit hendak mengambil teko teh itu dari tangan Bu Hana.
__ADS_1
Namun secepatnya Bu Hana menjauhkannya dari jangkauan Laila.
"Udah kamu duduk aja, tadi kamu udah capek masak ini biar ibu yang lakukan. Ingat Laila kamu juga anak ibu, bukan pembantu, jadi semua pekerjaan ini kita bagi dua bukan semua jadi tugas kamu, paham?" titah Bu Hana tegas.
Laila mengangguk paham, menyembunyikan selarik senyum di bibirnya.
"Jangan terlalu capek, sayang. Nanti kalo kamu kecapekan makin lama calon cucu ibu bakalan jadinya," seloroh Halim tertawa renyah.
"Nah, betul itu apa kata suamimu." Bu Hana menganguk setuju sembari menghidangkan segelas teh di hadapan Laila.
"Iya Bu, Mas." Laila mengangguk pasrah dengan hati berbunga-bunga, sudah sangat lama sejak terakhir kali dia merasakan perasaan ini. Perasaan di cintai dan di hargai di tengah tengah hangatnya keluarga.
*
Hari beranjak terik, seperti janjinya pada sang istri tadi pagi Halim sudah bersiap di teras hendak mengajak sang istri untuk jalan jalan menikmati waktu liburnya.
"Sayang, Mas ke rumah ibu dulu ya. Mau manasin mobil," seru Halim sambil mengenakan sepatu kets di kakinya.
Tak ada sahutan, namun tak lama tampak Laila muncul dari arah dalam rumah dengan tergopoh-gopoh.
"Ini koreknya, Mas."
"Buat apa, sayang?" tanya Halim tak mengerti.
"Katanya tadi mau manasin mobil," sahut Laila dengan tampang polosnya yang membuat Halim selalu geregetan untuk membawanya ke kamar.
Halim menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Iya, tapi hubungan sama korek apa?" tanyanya lagi, masih belum paham.
Laila malah menatapnya bingung dengan tatapan polos yang super menggemaskan seperti anak kucing yang minta di gendong.
"Memangnya Mas mau manasin mobilnya pake apa? Kan kalau manasin biasanya pake api, Mas."
Halim tertawa ngakak di buat sang istri yang ternyata super polos itu, dia memegangi ke dua pundak Laila dan menunduk menghabiskan tawanya.
"Mas kamu kenapa? Kamu nggak kesurupan kan, Mas? Jangan bikin takut dong, Mas rumah ustad jauh tahu kalau kau di ruqyah," kata Laila cemas sambil mengguncang tubuh Halim keras .
__ADS_1
Halim lekas menangkap tangan sang istri, dan mengecupnya dalam dengan wajah memerah karna terlalu banyak tertawa.
"Sayangku, cintaku, baby, honey bunny ku. Mas tahu niat kamu baik, tapi ya nggak gitu juga , sayang emangnya dimana kamu lihat orang manasin mobil pake api?"
Laila menggeleng bingung. "Enggak pernah sih, denger ada orang mau manasin mobil juga baru kali ini kok. Emangnya nggak butuh api ya, Mas?"
Halim menggeleng dengan senyum menggantung indah di bibirnya yang tipis.
"Nggak, sayangku. Apa kamu mau ikut Mas manasin mobilnya? Jadi nanti kamu tahu dan nggak ngasih korek api lagi, emangnya mau bakar sampah?" kekeh Halim.
"Boleh deh, sebentar Laila ambil sandal dulu ya, Mas."
Halim mengangguk dan membiarkan sang istri masuk ke dalam rumah dan tak lama Laila sudah kembali dengan sepasang sandal yang pernah di belikan Halim untuknya, namun sangat jarang dia kenakan jika tidak untuk bepergian .
"Ayo, Mas." Laila memasukkan kakinya ke dalam sandal flat dengan sedikit hak di bawahnya itu, kakinya yang mulus dan bersih tampak sangat cocok mengenakan sandal itu. ..
Namun sayangnya Laila lebih memilih mengenakan sandal jepit biasa jika di rumah, katanya sayang jika sandal bagus harus sering di pakai takut cepat rusak dan harus membeli lagi. Padahal dia tidak tahu saja kalau suaminya itu bahkan mampu membelikan sandal satu toko untuknya seorang.
"Tunggu dulu, sayang. Selama ini sandal ini kamu simpan dimana sih? Kok Mas nggak pernah lihat di rak sandal?"
Laila tersenyum simpul dan menatap ke arah kaki jenjangnya yang tertutup gamis panjang yang dia kenakan.
"Di dalam lemari baju, Mas. Laila masukin plastik, terus di taruh di dekat sprei. Tapi nggak bikin kotor kok, Mas soalnya sebelum di simpan selalu Laila cuci dan jemur dulu," sahut Laila yang justru takut sang suami mengiranya jorok dan kotor karna menyimpan sandal di dalam lemari pakaian.
Karena bagi Laila, barang pemberian suaminya semua harus dia jaga sebaik mungkin. Selain menghargai Laila juga tidak mau Halim sampai berpikir kalau barang pemberiannya tidak dia sukai.
"Ya ampun sayang, kenapa di simpan sih? Kenapa nggak kamu pakai terus aja? Kamu itu bagus loh pake sandal cantik begitu? Apa kamu mau Mas belikan lagi?" tanya Halim dengan raut tak tega, sebab sang istri hanya mengenakan barang bagus dan cantik saat keluar rumah dengannya sedangkan jika di rumah dia akan mengenakan pakaian dan barang biasa.
Bukan tidak suka, namun Halim hanya merasa gagal menjadi suaminya jika sang istri tidak bisa dia penuhi kebutuhannya bahkan hingga yang terkecil.
"Iya, Mas. Maaf, " gumam Laila menunduk.
"Sudah, jangan merasa bersalah nanti kita beli sandal lagi ya buat kamu pake. Sekalian buat Elis juga," tukas Halim sambil menggandeng tangan istrinya menuju ke sebrang dimana mobilnya berada.
Saat hendak membuka mobil untuk masuk, Halim dan Laila mengurungkan niatnya sebab datangnya sebuah mobil lain dan berhenti tepat di depan rumah Bu Hana.
"Loh, Mas? Itu bukannya mobil bos kamu yang kemarin kan?" tanya Laila heran.
__ADS_1
Halim mengangguk, dia pun sama herannya dengan Laila. Ada apa akhir akhir ini Pak Jatmika jadi lebih sering bertandang ke rumah ibunya?