TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 226. INI KISAH.


__ADS_3

"Halah sudah sudah , tidak usah di perpanjang lagi. Sekarang lebih baik kamu turuti apa kata ibu, telepon adikmu itu dan katakan padanya kalau keponakannya sudah di bawa pulang, lekaslah jangan banyak bicara," tegas Bu Zaenab lalu langsung berlalu keluar kamar sambil menggendong si bayi yang masih terlelap.


 Ziva menarik nafas dalam, menatap suaminya yang tampak mengulas senyum seakan tak terjadi apa apa. Padahal sebenarnya Ziva tahu pastilah hatinya sangat sakit menerima hinaan dari ibunya terus menerus.


 Usai memberi kabar sang adik via wa, Ziva memutuskan menyusul ibunya keluar kamar, dan di dapatinya Bu Zaenab tengah membawa bayinya duduk di teras rumah sembari bercakap-cakap dengannya. Ziva tersenyum, di balik sikapnya yang dingin dan mengesalkan pada sang suami rupanya Bu Zaenab bisa begitu menyayangi cucunya setidaknya Ziva tak akan terlalu khawatir sebab hal itu.


 Ziva melangkah pelan keluar rumah dan duduk di dekat sang ibu.


"Bu, kapan kita mau memberi tahu bapak? Bukankah ini juga kabar gembira buat bapak atas kelahiran cucunya?" tanya Ziva lembut.


 Bu Zaenab menoleh kaku padanya, tatapan matanya tampak menyiratkan keberatan.


"Nanti sajalah, toh bayimu juga baru pulang ke rumah. Tidak usah heboh ingin memberi tahu siapa siapa," ketus Bu zaenab.


 Ziva menghela nafas panjang, mencoba mengontrol perasaannya agar tak terbawa oleh sikap ibunya yang terus terusan membuat emosi.


"Tapi, bukankah tadi ibu juga meminta Ziva memberi tahu Zulfa? Apa bedanya dengan kita juga beri tahu bapak, Bu? Toh bapak juga kakeknya kan?" ucap Ziva kukuh dengan keinginannya.


 Lagi, Bu Zaenab melempar tatapan berang padanya. "Apa kamu mau ibumu ini di marahi habis habisan sama bapakmu? Kamu tidak lupa kan yang ibu ceritakan sewaktu ibu pertama kali datang ke rumah ini? Tidak lupa kan?"


Ziva menggeleng lemah.


"Nah itu, harusnya kamu lebih bisa berpikir panjang jika kamu tidak lupa." Bu Zaenab masih saja marah marah tidak jelas. Hingga membuat bayi ziva yang ada di dalam gendongannya terganggu dan menangis.


"Ini, ambil bayimu dan susui saja sana. Jangan ribet ngurusin hal hal yang sebenarnya bukan urusanmu, lebih baik sekarang kamu fokus saja mengurus bayi ini. Paham kamu?" bentak Bu Zaenab lagi sembari menunjuk wajah Ziva yang tertunduk dengan telunjuknya.


 Ziva hanya bisa mengangguk lemah, tak lagi ingin menjawab ucapan kasar dan tajam ibunya itu. Hingga saat Bu Zaenab melangkah pergi dari rumah kontrakan itu barulah Ziva masuk ke dalam rumah dan menyusui bayinya kembali dengan berderai air mata.


"Dek, kamu kenapa nangis?". tanya Amar yang baru kembali dari dapur usai mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan lauk nya untuk menyuapi Ziva.


 Ziva cepat cepat menghapus air matanya dan menarik sudut pipinya untuk tersenyum.


"Ah, nggak kok Mas. Nggak papa," sahutnya pelan.


 Namun dari suaranya yang serak Amar tahu sang istri pastilah baru saja menangis.


"Tidak apa, sayang kalau kamu tidak mau cerita sekarang. Tapi kamu jangan pernah lupa ya ada mas di sini yang akan selalu mendukung dan menyayangi kamu jga anak kita," pungkas Amar lembut sembari mengelus kepala Ziva dan tubuh anaknya bergantian dengan penuh kasih sayang.


Ziva mengangguk dan tersenyum.


"Ziva pengen telepon bapak, Mas." Ziva berucap lirih agar jika sang ibu mendadak kembali dia tak bisa mendengar suaranya.


 Amar mengangguk. "Boleh, tapi setelah kamu makan dulu ya. Ini tadi Mas ada bikinin orek tempe, kebetulan uangnya tadi cukup buat beli kecap juga. Kamu makan yang banyak ya, Mas suapin habis itu baru kira telepon bapak."


 Ziva mengangguk dengan penuh semangat, lalu mulai makan sembari tetap menyusui bayinya. Walau hanya berlaukkan orek tempe yang tak begitu banyak karna karna harus berbagi dengan suami dan ibunya Ziva tetap makan dengan lahap setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan agar bayinya tidak kekurangan makanan dari asi nya.


"Ya ampun, makanan apa ini. Tiap hari tempe, tiap hari tempe kalau pun ganti gak akan jauh jauh dari tahu dan ikan asin. Astaga, bener bener kayak orang miskin. Gelandangan aja mungkin bisa makan yang lebih enak dari pada ini."


 Lagi lagi suara menggelegar Bu Zaenab terdengar dari dapur, sepertinya wanita paruh baya itu tadi berkeliling rumah dan masuk lewat pintu belakang. Dan saat hendak makan malah hanya mendapati sepiring kecil tempe orek yang hanya berbumbu bawang merah dan putih saja itu.


 Amar yang mendengar itu hanya tertunduk, kemudian di tatapnya piring yang ada di tangannya dengan mata berkabut.


"Mas," gumam Ziva yang mengetahui kegundahan hati suaminya. Di pegangnya tangan pahlawannya itu, dan di genggamnya erat erat sebelum akhirnya mendaratkannya di bibirnya dengan khidmat.

__ADS_1


"Maaf, belum bisa memberi kamu dan anak kita makanan dan tempat tinggal yang lebih layak," gumam amar menahan tangis m.


 Ziva menggeleng pelan, dia meletakkan lebih dulu bayinya di sisinya dan beralih menangkup wajah suaminya dengan mata berkabut pula.


"Apalah gunanya harta kalau kita tidak bersama, Mas? Begini saja Ziva sudah bahagia. Tidak perlu kaya, asalkan Mas setia dan selalu mau berusaha saja Ziva sudah bersyukur. Yang terpenting semua yang Ziva dan anak kita maakan nantinya itu semua adalah uang halal," ucap Ziva membesarkan hati suaminya.


 Amar menyentuh pipi sang istri yang mulai tirus, di tatapnya dalam mata wanita yang begitu setia mendampinginya itu dengan nanar.


"Terima kasih, insyaallah Mas akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa membahagiakan kamu dan anak kita kelak."


Ziva mengangguk dan mengaminkan ucapan suaminya dengan penuh harap.


"Insyaallah, Mas. Kita berjuang sama sama ya," pungkas Ziva.


"Iya, terima kasih sekali lagi bidadari surga ku."


 Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu rumah ziva dan Amar, baru saja Amar hendak membukanya rupanya Bu Zaenab sudah lebih dulu berlari kecil ke arah pintu dengan wajah yang sumringah.


 Amar mengurungkan niatnya membuka pintu, dan lebih memilih kembali ke dalam kamar untuk menyuapi sang istri lagi.


"Siapa, Mas? Yang datang?" tanya Ziva sembari mengambil segelas air yang di letakkan amar di atas nakas dan meminum nya separuh.


"Tidak tahu, Mas baru mau membuka pintu tapi ibu sudah lebih dulu ke depan jadi Mas masuk saja lagi," sahut Amar apa adanya.


Ziva mengangguk dan tak bertanya lebih jauh. "Ya sudah, kita tunggu saja ibu masuk lagi kalau begitu," tukasnya.


 Tak lama terdengar suara bercakap cakap di arah depan rumah di susul suara langkah kaki yang terus menuju masuk ke dalam rumah. Tanpa menunggu lebih lama Bu Zaenab melongokkan kepalanya ke dalam kamar tanpa permisi sama sekali, walau pun kamar itu hanya di batasi sehelai kain tirai tipis tapi bukankah membukanya begitu saja tanpa izin bukankah sama saja tidak sopan.


"Permisi dulu coba, Bu y. jangan asal buka buka aja walau bagaimanapun kan kamar ini ada penghuninya, kalau tadi misal Mas Amar atau Ziva lagi ganti baju gimana? Kanm malu, Bu." Entah untuk yang ke berapa kalinya Ziva menegur Bu Zaenab akan kesalahannya itu, namun entah apa yang membuat Bu Zaenab sangat bebal dan tak pernah menganggap teguran anaknya itu sebagai sesuatu yang perlu di pertimbangkan. Selain angin laluz ucapan Ziva sama sekali tak ada yang membuatnya mengerti, Bu Zaenab selalu saja sesukanya sendiri di rumah anaknya itu.


 Dan seperti kali ini, Bu Zaenab malah melengos ketika mendengar teguran Ziva lagi.


"Halah sudah nggak usah banyak omong kamu, itu adikmu datang cepat belikan makanan atau apa kek untuk menjamunya. Dia bawa suaminya juga itu, suaminya orang kaya kamu jangan lupa dia tidak biasa makan makanan orang kampung. Sudah sana beli dulu, jangan bikin ibu malu." Setelah berkata demikian Bu Zaenab langsung saja pergi tanpa memberikan solusi apapun. Padahal saat itu dia tahu kalau baik Ziva maupun Amar sama sama tidak mempunyai uang lagi selain untuk pegangan makan sehari hari yang harus cukup hingga nanti Amar bisa punya pekerjaan lagi.


Ziva menatap suaminya dengan nanar, kasihan sekali dengan nasib suaminya itu yang selalu di bandingkan dan di bedakan dengan suami adiknya yang memang anak orang kaya itu.


"Mas, kamu ... "


"Sudah, kamu tunggu di sini saja ya Dek. Biar Mas yang beli makanan keluar," sela Amar sebelum Ziva sempat menyelesaikan ucapannya.


"Tapi ... kamu punya uang darimana, Mas? Uang kita kan tinggal lima puluh ribu lagi, kamu sendiri belum dapat kerjaan. Nanti ke depannya kita makan gimana?" ujar Ziva pelan sembari memegang tangan sang suami yang terasa kasar karna terbiasa bekerja keras.


 Amar tak menjawab hanya seulas senyum kecil yang dia hadiahkan untuk sang istri tercintanya, seolah mengisyaratkan agar Ziva tak perlu khawatir.


"Mas pergi dulu ya, kamu baik baik di rumah. Insyaallah Mas nggak akan lama," ujar Amar lembut.


 Ziva akhirnya mengalah, di lepaskannya tangan Amar dengan berat hati. Teriring doa di dalam hatinya agar sang suami bisa di mudahkan segala urusannya.


 Terdengar suara bercakap-cakap sesaat di depan pintu kamar, sebelum akhirnya kehadiran suaminya di gantikan oleh wajah cantik adiknya yang di kepalanya tersemat jilbab cantik yang merreknya terkenal di kalangan para artis dan orang orang kaya.


 Adiknya itu masuk dengan sebuah senyum canggung di bibirnya .


"Mbak, apa kabar?" gumam Zulfa pelan, di raihnya tangan sang kakak dan menciumnya takdzim.

__ADS_1


 Ziva mengulas senyum tulus. "Alhamdulillah, baik kamu sendiri gimana kabarnya? Kok lama sekali nggak main ke sini?" tanya Ziva lembut.


 Zulfa menunduk, sepersekian detik kemudian dia kembali mengangkat wajahnya dengan sedikit kabut di netranya.


"Alhamdulillah baik juga, Mbak. Iya, Mbak maaf ya aku lama nggak main, soalnya suamiku sibuk kerja jadi nggak bisa ngenterin ke sini sering sering, Mbak."


"Oh ya, mana dedek bayinya Mbak boleh Zulfa gendong?" imbuh Zulfa lagi.


 Ziva mengangguk. "Boleh dong, kamu kan tantenya juga." Ziva mengambil bayinya lalu membantu Zulfa menggendongnya dalam dekapan.


 Tampak zulfa sangat bahagia bisa menimang bayi itu, wajar saja karena sudah hampir lima tahun lamanya dia berumah tangga dengan sang suami namun belum sekali pun di beri kepercayaan akan seorang anak. Namun Zulfa bilang jika suaminya selalu menghindar dan tak pernah mau jika di ajak periksa ke dokter atau melakukan program bayi tabung.


"Suamimu mana? Kata ibu tadi kalian datang berdua?" tanya Ziva penasaran, karna sejak tadi tak melihat adik iparnya yang sangat jarang bicara itu, bahkan suara orang bercakap cakap di ruang tamu pun tak terdengar jika memang dia datang dan menunggu di sana bersama sang ibu.


 Zulfa tampak menghembuskan nafas panjang, di ciumnya pipi bayi ziva sebelum mengangkat wajahnya menatap Ziva lekat.


"Dia cuma bisa mengantar sampai depan tadi, Mbak setelah itu langsung pulang lagi ke kantor. Katanya ada meeting penting yang harus di hadiri, entah benar atau tidak Zulfa juga tidak tahu," sahut Zulfa sendu.


 Ziva mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang adik, dari raut wajahnya yang biasanya ceria Ziva sudah bisa memastikan jika adiknya saat ini tengah tidak baik baik saja.


"Apa kalian ... baik baik saja?" tanya Ziva memberanikan diri bertanya.


 Zulfa mengulas senyum tipis dan mengangguk walau tampak kaku.


"I- iya, Mbak."


"Jangan bohong, Zulfa. Walau jarang bertemu tapi Mbak paling tahu kalau kamu sekarang sedang berbohong. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan kan?" cecar Ziva.


 Zulfa tak kuasa lagi menahan tangisnya, dia menyerahkan kembali bayi Ziva pada ibunya dan menangis keras sembari menutupi wajahnya.


"Hei, ada apa ini? Zulfa, kenapa kamu menangis begitu ha?" sergah Bu Zaenab yang datang tergopoh-gopoh dengan sebuah piring di tangannya, tampaknya wanita paruh baya itu tadi belum sempat menyelesaikan makannya saat Zulfa datang dengan di antar sang suami dan baru melanjutkan makannya lagi setelah suami Zulfa kembali pulang ke kantornya.


 Zulfa tak menggubris pertanyaan ibunya, sesak di dadanya menahan bibirnya untuk berucap.


"Heh, kalau di tanya orang tua itu di jawab! Bukannya malah nangis aja nggak jelas!" seru Bu Zaenab kesal.


"Bu, nggak begitu cara bicaranya. Biarkan dulu Zulfa tenang baru di ajak bicara." Ziva menegur sang ibu.


Bu Zaenab melotot pada Ziva ,namun Ziva kali ini tak menurunkan pandangannya dan mengalah pada sang ibu. Dia tetap mengarahkan tatapan tajam pada ibunya hingga akhirnya Bu Zaenab kesal dan memilih pergi dari sana.


"Huh, anak tidak tahu diri. Sudah bagus aku mau menemaninya di sini, ketimbang ibu mertuanya yang tidak tahu apa apa itu sudah makan hati kamu." Bu Zaenab menggerutu sepanjang jalan menuju dapur dan kembali melanjutkan makannya di sana.


Ziva mengelus punggung Zulfa, dan membantu menyeka air matanya.


"Kalau kamu sudah lebih tenang, kita bicarakan ini ya. Mbak tahu kamu kuat, Mbak tahu kamu pasti bisa melewati semua ini," tukas Ziva membesarkan hati Zulfa.


.


Zulfa mengangguk dalam tangisnya, baginya berguncang semakin kuat seiring tangisnya yang tak dapat lagi di tahan.


 Setelah beberapa saat dan dia mulai tenang, Zulfa mulai bercerita pada sang kakak dengan masih terisak isak.


"Se- sebenarnya ... suamiku sudah menikah lagi, Mbak dengan wanita pilihan ibunya. Dan dia lebih sering bersama wanita itu ketimbang aku, dia hanya mendatangiku jika ingin melampiaskan amarahnya saja," adu Zulfa sembari menarik lengan baju panjangnya dan menunjukkan bagian tangannya yang penuh lebam membiru.

__ADS_1


__ADS_2