TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 171. KEMARAHAN TAK TERDUGA.


__ADS_3

 Paginya.


"Senyam senyum mulu, awas kesambet." Elis menyindir Halim yang tengah memakai sepatunya di teras.


 Masa cutinya sudah habis, sudah waktunya dia kembali bekerja di puskesmas yang ada di sekitar kompleks perumahan itu.


"Biarin, wleee." Halim balas memeletkan lidahnya pada Elis yang juga bersiap untuk ke rumah Dara, melakoni rutinitas hariannya sebagai baby sitter.


"Lis," panggil Laila yang baru saja muncul dari dalam rumah.


"Ya, Mbak?" Elis menoleh setelah meletakkan sandalnya di bawah tangga.


"Nanti makan siang beli nasi bungkus aja ya, mbak rasanya agak nggak enak badan mau masak.". Laila duduk di kursi teras sembari memegangi kepalanya.


"Oh, iya mbak. Ya udah, Elis berangkat ya assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Laila dengan suara pelan, wajah yang biasanya berseri itu pagi ini tampak pucat.


 Halim yang baru saja selesai memasang sepatunya berbalik dan menyentuh kening istrinya.


"Kamu sakit, sayang? Semalam kayaknya baik baik aja, apa karna terlalu banyak ya rondenya?" kekeh Halim menggoda, teringat olehnya bagaimana permainannya dengan sang istri semalam yang membuatnya hampir lupa diri dan menyebabkan Laila begadang semalaman.


"Nggak tahu, Mas rasanya badan nggak enak. Pegel, capek juga, pusing juga." Laila menjawab bernada keluh.


 Halim mendesah cemas. "Apa Mas izin nggak masuk aja dulu ya, Mas nggak tega ningalin kamu sendiri di rumah kalo lagi sakit gini."


 Laila menggeleng dengan senyum terpaksa di bibirnya.


"Udah, Mas berangkat aja. Laila nggak papa kok, paling juga di bawa tidur sebentar sudah baikan."


"Sudah izin ke sekolah? Hari ini jangan ngajar dulu."


"Iya, sudah Mas. Ya sudah, Mas berangkat gih nanti terlambat, Laila mau istirahat lagi aja."


 Halim akhirnya mengalah dan membiarkan istrinya sendiri di rumah, karna memang kehadirannya di puskesmas sudah di tunggu tunggu oleh rekan rekannya.

__ADS_1


"Mas berangkat ya, kalau ada apa apa telepon aja." Halim melangkah menuju ke samping rumah dimana ada jalan setapak kecil yang biasa dia lalui jika ingin ke puskesmas, karna lebih dekat jaraknya.


 Laila mengangguk dan melambaikan tangan mengantar kepergian suaminya.


Setelah Halim tak terlihat lagi, Laila memutuskan kembali masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuh dan kepalanya yang terasa berat dan tidak enak, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bismillah, semoga bukan penyakit ya Allah. Semoga aja ini tandanya Mas Halim sebentar lagi mau jadi Ayah." Laila menggumam sembari tersenyum kecil, lalu memejamkan mata bersiap mengarungi dunia mimpi.


"I am coming, Chanyeol," bisiknya lagi, setelah matanya terpejam sempurna.


****


Di rumah Dara Zaki.


"Kenapa dia ada di sini lagi?" ketus Fatur saat berbicara dengan Dara di dapur.


 Pernyataan yang mengacu pada Indi dan Bu Maryam yang baru sampai tadi malam ke rumah mereka.


 Dara berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi sang putra. Lalu memegang pundaknnya dengan lembut.


 Fatur melengos dan membuang pandangannya ke arah lain, dengan bibir mengerucut.


"Kenapa Mama bawa dia ke sini lagi? Dia itu orang jahat, Ma." Fatur masih kekeh tidak mau menyebut Indi dengan panggilan yang seharusnya.


 Dara mendesah, memang akan sulit menghadapi Fatur jika dia sudah tidak menyukai sesuatu.


"Sayang, Fatur nggak boleh ngomong begitu. Tante Indi itukan Tantenya Fatur sama Farah juga," bujuk Adara lagi.


"Nggak! Dia bukan tantenya Fatur sama Farah, Tante nggak bakalan ambil Papa dari kita, Ma."


"Tapi kan sekarang Fatur sudah punya Papa Zaki, Fatur sudah punya Papa lagi kan? Jadi salahnya dimana, sayang?" Dara masih berusaha membujuk, putranya yang mempunyai watak keras seperti dirinya itu.


"Tetap saja beda, Mama. Papa Zaki itu Papanya adek bayi yang ada di perut Mama, kalau papanya Fatur sama Farah ya tetap Papa Fatan, Fatur tahu itu, Ma."


 Degh

__ADS_1


Dara tercengang, entah dari mana anak itu mempelajari hal yang bahkan Dara tak berpikir sampai di sana. Semenjak Zaki dekat dengan anak anaknya dia tak lagi berpikir kalau anak anak akan masih mengingat Fatan sebagai papanya.


 Tapi sekarang, nyatanya Fatur membuka semua kebenaran yang bahkan Dara pun ingin melupakannya. Baginya Papa anak anaknya hanya satu, yaitu Zaki. Baik Fatur dan Farah ataupun bayi yang kini ada di dalam perutnya.


"Pokoknya Fatur nggak mau tahu, kalau Tante Indi nggak pergi dari rumah ini. Fatur yang akan pergi!" ancam Fatur sambil berlari menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.


 Dara tercenung di tempatnya, semua yang dia dengar barusan dari bibir mungil anaknya membuat pikirannya kacau. Bagaimana mungkin dia bisa mengusir Indi dan ibunya,m terlebih ada bayi yang datang bersama mereka.


"Mbak," panggil Indi yang ternyata sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu dapur.


 Dara terkesiap dan langsung memasang ekspresi wajah biasa, tak lupa seulas senyum dia pamerkan untuk adiknya itu, yang sudah dia ikhlaskan kesalahannya di masa lalu.


"Eh, In. Kamu mau sarapan? Biar Mbak buatkan dulu ya, kamu kan lagi menyusui pasti bawaannya laper terus kan?" ucap Dara sumringah, sembari meneruskan kegiatannya yang tadi tengah sibuk memotong bawang untuk memasak nasi goreng.


"Ah, mbak bukan itu." Indi menyela, lalu dengan langkah sangat pelan dia mendekat ke arah Dara.


 Raut wajah mendung tampak bergelayut di wajah Indi, tak ada senyum di bibir pucat itu.


"Ada apa, in. Kamu ... butuh sesuatu? Bilang saja," gumam Dara sambil memegang ke dua lengan Indi.


"Mbak sepertinya Fatur tidak suka kami di sini, jadi ... sepertinya lebih baik kalau kami pergi saja, Mbak."


"Apa? Tidak, kamu nggak boleh pergi, Indi. Kamu mau kemana kalau kalian pergi dari sini? Ingat anak kamu, dia masih kecil, kasian dia kalau terus terusan di bawa pindah ke sana ke mari." Dara melayang kan protes.


 Indi mengusap air mata yang merembes di sudut matanya. "Tapi ... Fatur benar, Mbak kami nggak pantas ada di sini. Kami ... kami yang sudah membuat keluarga Mbak hancur, dan merebut Papanya anak anak."


 Indi mulai tergugu, dengan sigap Dara memeluknya erat.


"Tenanglah, Fatur yang emosi sesaat dia hanya anak kecil, Indi. Nanti Mbak akan bicara sama dia, minta maaflah sama Fatur supaya dia bisa menerima kalian. Ingat bayi kamu, jangan egois."


"Nggak, Mbak Fatur bukan seperti anak kecil pada umumnya. Dia menyimpan luka yang dalam karna perbuatan Indi dulu, Mbak. Indi nggak mau semakin menyakiti hatinya dengan ada di sini." Indi masih terisak.


 Dara mendesah berat, bingung juga mana yang harus dia pilih. Tapi mengingat ada bayi yang butuh tempat bernaung yang nyaman, maka Dara harus bertindak tegas.


 Dara menatap Indi lekat, menggamit tangannya lalu membimbingnya menuju ke kamar Fatur.

__ADS_1


"Ayo, Mbak temani kamu minta maaf pada Fatur. Semoga dia mau mengerti dan bisa menerima kalian di rumah ini."


__ADS_2