TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 213. LAMARAN.


__ADS_3

Saat Elis baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah, dia terkejut dengan banyaknya pedagang makanan yang tiba-tiba mangkal di halaman rumahnya. Tepatnya dibawah pohon pohon mangga yang rimbun menutupi halamannya.


"Astaghfirullah? Ada apa ini?" seru Elis kaget.


Halim yang baru saja muncul dengan bertelanjang kaki hanya diam, matanya tampak memindai keseluruhan pedagang  yang rata rata adalah pedagang jajanan kaki lima yang biasa mangkal di pinggir jalan atau di depan ruko.


"Wah, akhirnya sampai juga!"


Laila berlari bertelanjang kaki menghampiri para pedagang itu, dengan wajah sumringah mulai memilih jajanan yang di jajakan oleh mereka.


"Mbak, ini ada apa?" tanya Elis membuntuti sang kakak.


Laila yang tengah mengunyah sebuah sosis goreng berlumur saus menjawab dengan mulut penuh.


"Mbak pengen makan jajanan begini tapi langsung dari penjualnya, eh langsung di cariin semua sama Mas Halim. Baik banget ya mas Halim? Nanti kamu kalo cari suami yang kaya Mas halim, El enak di manjainnya nggak tanggung-tanggung."


Elis tercengang, sejenak dia menatap ke arah kakak iparnya yang saat ini tengah duduk di dekat penjual minuman Boba yang gerobaknya di dorong ke halaman rumah Laila. Elis tahu penjual Boba itu berjualan di depan minimarket yang berada di luar perumahan dan entah  bagaimana caranya Halim bisa membawa para penjual ini ke rumah.


"Hei, mau ada pasar malam apa gimana ini? Kok rame sekali?" Tegur Bu hana yang baru saja keluar dari rumahnya sembari membawa segelas teh yang rencananya akan dia minum di teras sembari menikmati udara sore.


Melihat banyaknya pedagang makanan di halaman rumah menantunya , Bu Hana mengurungkan niatnya. Di letakkannya gelas berisi teh di atas meja teras dan melangkah menuju halaman rumah Laila.


"Pesan saja, Bu ini semua sudah Halim beli.". Halim memberi tahu sembari memainkan ponselnya dengan santai.


Bu Hana sontak membelalak. "Apa? Kamu beli semuanya?"


Halim mengangguk ringan, seakan apa yang dia lakukan sudah benar.


"Mas kamu yang bener aja? Masa semua ini sudah mas beli?" sambung Elis menatap tak percaya.


"Iya sudah, seriusan boleh tanya sama penjualnya kalo nggak percaya. Kalau nggak begitu apa mau mereka Mas ajak ke sini buat nurutin ngidamnya Laila?" Jawab Halim apa adanya, karna semua itu sejatinya memang keinginan Laila yang sampai di bela belain ngambek asal keinginannya itu di turuti.


Elis dan Bu Hana kompak menatap ke satu penjual sosis dan cilok goreng yang saat ini menjadi tempat tongkrongan Laila. Wanita yang sebelumnya tengah bersedih sambil meniup balon sabun itu kini tampak riang menikmati sosis goreng dan aneka gorengan lain di tangannya. Tak nampak gurat kesedihan sedikit pun di wajahnya, bahkan sisa sisanya pun tak ada.


"Mang? Emang benar yang di bilang kakak ipar saya itu? Semua ini ... sudah dia beli?" tanya Elis pada sang penjual sosis goreng yang tengah sibuk menggoreng dagangannya lagi.


Sembari mengelap keringat yang menetes di keningnya, penjual sosis goreng itu mengangkat jempolnya dengan senyum khas di wajahnya.


"Iya, neng. Bener sekali, semua sudah di borong sama Mas itu makanya saya sama temen temen yang lain mau di ajakin ke sini buat jualin makanannya," pungkasnya sukses buat Elis dan Bu Hana melongo.


Bu Hana melempar tatapan pada Halim yang masih saja asik menikmati es Boba berwarna coklat di tangannya dengan mata tetap fokus pada ponsel di depannya. Entah apa yang di kerjakan, mungkin jual beli saham bangkrut sebagai sampingan.


"Halim? Ini ... Ini ...."


Halim memicingkan matanya. "Nggak papa, Bu sekali kali nyenengin istri.".


"Ya iya sih, tapi ... masa ...."


"Halim nggak habis uang banyak kok,  Bu. Pokoknya asal Laila seneng insyaallah rejeki Halim masih ngalie terus. Tenang saja, bagian ibu udah Halim pisahin kok nggak akan di kurangi." Halim memotong ucapan ibunya dengan santainya, merasa hebat karena sudah bisa mengemban amanah Bu Hana untuk memanjakan Laila dengan baik.

__ADS_1


Bu Hana menggeleng gusar, di dekatinya Halim dan di rebutnya ponsel dari tangannya.


"Kalau ibu lagi ngomong itu di lihat, bukannya malah sibuk sendiri sama hape!" hardik Bu Hana dan mengangkat ponsel itu tinggi tinggi hingga Halim hanya bisa mencebik kesal, merengut tanpa berani melawan.


"Iya iya, Bu maaf."


  Bu Hana berdecak lirih, kala melihat sang menantu dengan gembiranya berjalan ke sana kemari tanpa mengenakan alas kaki menjelajahi satu demi satu penjual kaki lima yang mangkal di depan rumahnya.


"Kenapa, Bu? Kan ibu sendiri yang bilang supaya nurutin semua maunya Laila selama masa pemulihan dia ini biar dia nggak sedih lagi. Tapi ... kok ibu kayak nggak suka gitu sih aku ngeluarin uang buat semua ini?" celoteh Halim sembari berdiri di samping ibunya yang masih menatap Laila.


Bu Hana mendesah pelan, lalu menoleh pada Halim dengan tatapan tegas.


"Karna ini semua kurang banyak, Halim! Kenapa nggak sekalian food court yang ada di supermarket sana kamu bawa ke sini juga?"


Jeng jeng jeng


****


Pagi menjelang, acara tujuh bulanan sekaligus tasyakuran Inara sudah di mulai. Pemilik catering tempat Dara memesan hidangan untuk para tamunya hari ini juga sudah datang dan langsung menyusun semua makanan di meja meja prasmanan di halaman yang sudah di hiasi tenda pesta.


Musik mengalun memeriahkan pesta tersebut, dengan para tamu yang tampak sangat bergembira menikmati semua yang sudah di sediakan si empunya hajat dengan sangat baiknya.


"Ya ampun, Mbak Dara ini makanannya enak banget loh. Ini pesennya dimana sih, Mbak? Cocok ini kalo nanti saya mau ada hajatan juga saya mau pesen di sini juga deh," celetuk salah satu tetangga Dara yang rumahnya berada di sebelah kirinya. Wanita berkacamata yang kerap di panggil Nining itu tengah menikmati hidangan yang di sediakan dengan amat lahapnya.


Dara tersenyum sembari mengelus perut besarnya. "Kalau makanan beratnya dari rumah makan yang ada di dekat simpang sana, Mbak. Kalau kue kuenya ini bikinan adik saya, semuanya dia yang bikin."


"Hah? Serius ini bikinan si Indi, Mbak? Pinter juga ya dia bikin kue begini? Eh tapi, Mbak Dara ... maaf ngomong loh ya, tapi yang saya heran kok bisa Mbak Dara masih mau baik sama si Indi? Secara dia kan udah bikin rumah tangga Mbak sebelumnya hancur gara gara selingkuh sama mantan Mbak di Fatan mokondo itu?" tanya Bu Nining dengan suara agak berbisik, bahkan jarak bicaranya pun menjadi lebih dekat dengan Dara ketimbang sebelumnya.


Dara menanggapi dengan senyum. "Yah, semua orang kan berhak untuk kesempatan kedua, Mbak. Lagi pula saya tahu sekali adik saya kok, insyaallah Indi sudah berubah dan menjadi lebih baik sekarang. Jadi ... apa yang harus saja dendamkan sama dia?"


Bu Nining manggut-manggut, lalu tangannya kembali mengambil sepotong kue lagi dari meja di depannya dan mengunyahnya dengan penuh semangat.


"Iya juga sih, Mbak Dara. Cuma nih kalau saya jadi Mbak Dara, saya nggak akan Sudi menganggap adik seperti itu masih bagian dari keluarga saya. Pastinya sudah saya tendang jauh jauh dan nggak akan pernah mau kenal sama dia lagi, sakit sekali hati saya kalau misal saya ada di posisi Mbak Dara. Tapi ... amit amit deh, semoga nggak akan yang begitu begitu lagi, lihatnya aja trauma saya."


"Amin amin, semoga nggak ada lagi kasus kaya gitu ya, Mbak. Semoga saya yang pertama dan terakhir yang kena kasus tidak mengenakkan seperti itu di sini. Semoga di sini semua suami suami ibu ibu baik baik dan nggak mata keranjang," timpal Dara menyetujui ucapan Bu Nining.


"Amiiin." Bu Nining menyahuti singkat dan kembali sibuk dengan kue di depannya yang sebenarnya sudah habis separuh karna sudah berpindah ke perut Bu Nining yang memang doyan makan itu.


"Dara ayo ke sini," panggil Bu Ambar dari dekat sebuah jeding berisi air kembang yang siap di gunakan untuk menyiram tubuh Dara, sebagai salah satu acara yang akan di langsungkan untuk acara tujuh bulanan ini.


Dara maju, dengan di bimbing Zaki di sampingnya. Membuka kimono yang sejak tadi menutupi tubuhnya yang telah di balut roncean melati segar dan duduk di kursi plastik yang di sediakan di dekat jeding.


Prosesi di mulai, semua mata memandang takjub pada wajah Dara yang demikian berseri kala menjalani semua prosesi tujuh bulanan itu. Hingga puncaknya kala prosesi jual dawet, Dara dan Zaki di buat tercengang kala mendapati segepok uang yang di berikan Pak Jatmika pada mereka untuk membeli dawetnya.


"Subhanallah? Bapak? Ini ... Ini ...."


Dara tak sanggup meneruskan kata katanya, hanya matanya yang menatap tak berkedip pada Pak Jatmika yang tersenyum tulus menunggu gelas es miliknya di berikan.


"Terimalah, nduk. Anggap itu sebagai hadiah untuk calon anakmu dan sebagai ucapan terima kasih bapak karna kamu sudah berbesar hati menerima permintaan bapak tempo hari."

__ADS_1


Dara tertegun, sembari memegang segepok uang yang entah berapa jumlahnya di bakul rotan yang kini di pangkuannya itu.


"Sudah, Zaki siniin gelas esnya. Bapak keburu haus ini," kekeh Pak Jatmika memecah keheningan suasana di antara dia dan anaknya.


Zaki dengan senang hati memberikan segelas besar es dawet yang tampak sangat segar dan manis itu pada Pak Jatmika dan di urutan selanjutnya setelah Pak Jatmika turun naiklah Bu Hana, ibu dari Halim yang memberikan uang untuk Dara juga dalam jumlah yang tak kalah fantastis.


"Bu, ini ... terlalu banyak." Dara mengajukan protes, tapi bu Hana malah mengibaskan tangannya di udara.


"Halah sudah nggak ada yang berlebihan, kamu terima itu atau ibu bakalan ngambek sama kamu dan nggak akan ngizinin Elis kerja sama kamu lagi? Mau kamu? Sudah terima dan gunakan sebaik baiknya, ibu cuma minta doanya semoga menantu ibu juga bisa cepat menyusul kalian bikin acara begini," pungkas Bu Hana sumringah.


Dara mengangguk dan mengamini ucapan Bu Hana, setelah itu Zaki memberikan segelas es dawet yang sudah di tuang Dara ke gelas untuk Bu Hana.


Setelah itu, tiba giliran Laila dan Halim yang naik ke atas panggung, dengan sebuah amplop yang isinya lumayan tebal, mereka turut membeli es dawet Dara.


Sebelum turun, Laila menyempatkan meminta izin Dara untuk mengelus perutnya. Dan Dara merasa tak keberatan karna melihat betapa inginnya Laila untuk segera hamil juga.


"Ya Allah, Mbak. Semoga nular ya, Mbak ... Laila udah pengen banget punya anak juga, bismillahirrahmanirrahim semoga nular ya Allah." Laila memegang perut Dara lalu mengelus perutnya sendiri dengan tangan yang sama.


"Amiiin," sahut Dara tulus.


"Mbak, tolong injek jempol kaki ku, Mbak." Laila membuka sandal yang menghiasi kakinya dan menyodorkan jempol kakinya ke arah Dara.


Dara mengernyit tak mengerti. "Buat apa?"


"Nggak papa, Mbak injek aja. Kalo kata orang tua dulu itu biar nular hamilnya, tolong ya, Mbak mau ya." Laila berkata lirih membujuk Dara.


Akhirnya karena melihat kesungguhan Laila, Dara pun mengalah dan mengabulkan permintaannya untuk menginjak jempol kakinya dengan sentuhan ringan saja.


Setelah itu, Laila mengucapkan terima kasih dan langsung turun dari panggung bersama Halim.


Acara terus berlanjut hingga selesai,  hingga sore menjelang sedangkan acara tasyakuran untuk bayi Indi akan di langsungkan nanti malam sekaligus memotong rambut bayi itu dan meresmikan nama untuknya.


. Di sela waktu hiburan dan istirahat, Dara di temani Indi, Bu Maryam juga Bu Ambar duduk mengitari sebuah meja bundar yang di sediakan oleh pihak EO.  Melihat para pengisi acara yang di sewanya beraksi di panggung sana, bernyanyi dan terkadang di selingi dagelan  dagelan ringan yang mengundang gelak tawa.


Hingga sampai di penghujung hari, kala semua orang ingin beristirahat sejenak sembari menunggu waktu untuk di mulainya acara tasyakuran. Tiba tiba mereka semua di kejutkan oleh suara Pak Jatmika yang rupanya kala itu sudah mengambil alih panggung .


"Selamat sore semuanya, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh." Para tamu yang masih ada di tempat menjawab serentak.


Pak Jatmika dengan senyum khasnya mengembang sempurna menatap seluruh handai taulan yang kala itu masih berada di sana, menunggu dengan tak sabar apa yang akan dia lakukan di atas panggung tersebut.


"Sebelumnya saya ucapkan ribuan terima kasih pada semua tamu undangan yang sudah menyempatkan hadir di acara tujuh bulanan putri kandung saya, semoga kehadiran dan doa yang bapak ibu berikan bisa memberikan semangat dan kebaikan untuk anak dan menantu saya menghadapi hari hari yang akan mereka jalani selanjutnya. Dan semoga saja persalinan anak saya nantinya akan di permudah berkat doa bapak dan ibu tamu undangan sekalian, amin amin allahuma amin."


"Dan untuk maksud dan tujuan saya sekarang berdiri di sini, saat ini saya ingin melamar seorang perempuan yang sejak lama menghuni relung hati saya dan sudah saya bawa juga dalam doa doa saya hingga saya yakin untuk melamarnya saat ini juga. Besar harapan saya dia akan menerima niat baik saya ini."


Semua tamu bersorak riuh, ada yang bertepuk tangan dan bersiul siul riang menyambut kata kata Pak Jatmika yang menyatakan akan melamar seseorang untuk menemaninya mengisi hari tua.


Kira kira siapa ya? Ada yang bisa tebak?

__ADS_1


__ADS_2