
“maafkan aku kak Benn..” ucap Nayeon ditengah isakannya.
“tidak.. tidak.. bukan permintaan maaf, tapi penjelasan Nayeon, benar kau sudah menyakiti Ahreum?” tegas Bennedict lengkap dengan sorot mata tajamnya yang mengarah pada kaca didepan agar bisa melihat wajah Nayeon yang sudah dipenuhi air amta.
“sudah cukup kak, kita bahas lagi nanti.” Ucap Hanna yang mencoba menengahi diantara Bennedict dan Nayeon.
Melihat Nayeon yang seperti itu membuat Hanna tidak tega dan mencoba menghentikan pembahasan yang akan menyudutkan gadis malang tersebut.
***
1 jam berlalu.
Begitu Ahreum selesai membersihkan tubuhnya, ia pun keluar dari kamar mengenakan piyama tidur berwarna biru tua lengkap dengan outer yang menutupi kedua lengannya.
Tampak Ansell tengah berdiri di samping meja dapur dengan gelas wine yang berada dalam genggamannya dengan pandangan kosong yang mengarah ke balkon luar, dan 1 tangannya yang lain ia masukan ke dalam saku celana piyama tidurnya.
Ahreum pun berjalan perlahan menuju dapur, kemudian membuka lemari pendingin dan diambilnya 1 botol air mineral.
“kau sudah mengobati luka ditanganmu?” tanya Ahreum seraya menuangkan air mineral ke gelas yang berada dimeja makan, lalu meneguknya beberapa kali selagi menunggu respon Ansell.
“luka itu akan sembuh dengan sendirinya.” Gumam Ansell yang kemudian meletakan gelasnya ke atas meja serta hendak menarik langkah meninggalkan Ahreum yang masih menatapnya lekat disamping tubuhnya.
Bersamaan dengan hembusan nafasnya Ahreum menahan lengan Ansell agar tetap diam ditempatnya, lalu meletakan gelas yang tengah digenggamnya ke atas meja. Membuat Ansell memutar wajahnya kearah Ahreum.
“tunggu sebentar, duduklah dulu.” Ucap Ahreum lembut seraya menarik kursi dan mendorong Ansell agar duduk dikursi tersebut.
Meski sedikit kebingungan namun Ansell tidak berniat untuk menolak, ia pun terduduk seraya memandangi tubuh mungil istrinya yang tengah berjalan menuju kamarnya, entah apa yang akan ia lakukan yang pasti ia hanya pasrah menuruti perintah dari istri mungilnya tersebut.
__ADS_1
Tak sampai 5 menit, Ahreum pun kembali dengan membawa kotak P3K dalam genggamannya kemudian bergegas menuju keberadaan Ansell yang tengah menunggu di dapur.
Ahreum meletakan kotak P3K diatas meja bersamaan dengan mendaratnya bokong Ahreum dikursi yang berhadapan dengan Ansell.
“coba kulihat tanganmu.” Ucap Ahreum seraya menarik telapak tangan Ansell ke dalam jangkauannya.
Setelah cukup melihat luka sayatan ditelapak tangan suaminya, Ahreum pun meletakan telapak tangan Ansell sejenak diatas kedua pahanya sementara tangannya sibuk mencari alkohol dan juga kapas guna untuk membersihkan/mensterilkan luka Ansell lebih dahulu.
Sebelum berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu mengoleskan obat merah kemudian menutupnya dengan kain kassa dan plester.
“sepertinya lukamu memerlukan beberapa jahitan, mau ku panggilkan dokter Elios saja?” tanya Ahreum setelah selesai melakukan pertolongan pertama pada luka Ansell, kemudian menatap suaminya tersebut dengan tatapan hangatnya.
“tidak perlu, ini juga sudah cukup.” Ketus Ansell seraya kembali menarik lengannya.
“hmm.. kau ini keras kepala sekali. Lukamu yang sebelumnya aja masih terlihat, malah nambah luka sayatan baru lagi. Kau lapar ngga? Aku mau masak mie.” Kata Ahreum seraya membereskan peralatan kotak P3K kemudian bangkit dari kursinya.
Namun belum sempat Ahreum melangkahkan kakinya, lengan Ansell keburu menahannya, hingga membuat Ahreum kembali duduk ditempatnya.
“maafkan aku, karena aku terlalu lama menemukanmu sampai kau harus menerima banyak luka lebam seperti ini dari lelaki bajingan itu.” ucap Ansell seraya kembali membuka kotak P3K kemudian mengambil sebuah salep didalamnya.
“apa kau memiliki acara besok?” tanya Ansell seraya mengolesi salep ke wajah Ahreum dan pergelangan tangannya yang tampak membiru akibat bantingan yang cukup keras oleh sekretaris Ansell sebelumnya.
“amm.. kurasa aku akan membantu Hanna pindahan.” Respon Ahreum.
“oke, aku akan menemanimu besok.” Timpal Ansell yang kemudian menutup salep dan mengembalikan lagi ke kotak P3K setelah selesai menggunakannya.
“kenapa? memanganya kau tidak ada kegiatan. Ahh iya, besok akhir pekan ya. Kau juga libur.” Celetuk Ahreum dengan diakhiri senyuman cerahnya yang membuat hati Ansell semakin goyah.
“hmm.. aku akan menemanimu besok.” Ujarnya seraya bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju salah satu lemari tempat penyimpanan mie instan.
“kau mau mie goreng atau kuah?” tanya Ansell seraya memutar wajahnya dan menatap Ahreum dengan kedua tangan yang sudah siap untuk mengambil mie instan.
__ADS_1
“mie kuah, biar aku aja, aku juga bisa kok masak mie doang mah.” Seru Ahreum seraya berjalan mendekati Ansell.
“aku aja, kau siapkan mangkuk dan alat makannya aja.” Perintah Ansell.
“oke deh.” Sahut Ahreum yang kemudian langsung bergegas menuju tempat penyimpanan permangkukkan, kemudian menatanya diatas meja tak lupa juga dengan alat makan yang berada disudut meja tidak luput dari pandangan Ahreum, ia pun mengambilnya kemudian meletakannya disamping mangkuk selagi menunggu suaminya memasak mie instan.
“hari senin kau sudah mulai ujian?” tanya Ansell yang kembali mengembangkan obrolan dimalam itu.
“Iya, dan setelah ujian aku mau liburan ke kampung halaman ibuku, hehe. Aku udah janji sama oma mau berkunjung kesana.” Timpal Ahreum seraya berjalan dan berdiri disamping Ansell yang tengah memasukan bumbu ke dalam panci mie instan.
“sendiri? Atau dengan om Seno dan tante Enzy?” tanya Ansell lagi seraya membuang sampah bumbu mie instan ke dalam tempat sampah kecil yang berada didekat kakinya.
“sendiri, amm, oma yang ku maksud adalah oma dari ibu kandungku bukan dari ibu sambungku hehe.” Jelasnya, kalau-kalau Ansell berfikir jika nenak yang dimaksud Ahreum adalah ibu dari Enzy.
“begitu, kurasa sebaiknya selama 1 minggu ke dapan kau tinggal dulu dengan kedua orang tuamu. Hanya selama aku pergi dinas ke Amerika, setelah aku kembali aku akan menjemputmu.” Ucap Ansell.
“dinas, ke Amerika?
Cukup lama sampai 1 minggu.” Respon Ahreum lengkap dengan raut wajah yang tampak sedikit kecewa mendengar berita kepergian suaminya tersebut.
“iya, banyak hal yang harus ku selesaikan disana. Aku gak mau kau tinggal disini sendiri, ga apa-apa kan jika tinggal dengan kedua orang tuamu untuk sementara.” Katanya lagi seraya mematikan kompor gas tanda jika mie instan mereka berdua telah siap untuk dihidangkan.
“bagaimana jika aku ingin tetap disini aja, aku bisa meminta bi Ijah untuk tinggal disini menemaniku.” Tolak Ahreum seraya mengikuti langkah Ansell menuju meja makan untuk meletakan panci mie instan diatas meja tepat diantara kedua mangkuk milik Ansell dan Ahreum.
Mereka berdua pun duduk secara bersamaan.
“hmm, baiklah, nanti aku yang akan minta bi Ijah untuk tinggal disini sementara waktu.” Ucap Ansell seraya memandangi Ahreum yang tengah mengambil mie instan dipanci dan dimasukannya ke dalam mangkuk miliknya.
“oke.” Respon Ahreum lengkap dengan senyuman merekahnya.
“kau.. Tidak membenciku?” tanya Ansell lagi sembari mengambil mie instan ke dalam mangkuknya.
__ADS_1
***
Bersambung...