
“makasih teman-teman.” Ucap Ahreum kala kedua karibnya itu mulai menaiki anak tangga 1 per 1 dengan koper besar yang berada dalam kendali keduanya.
Meski tubuh Nayeon sama kurusnya dengan Hanna namun tidak dengan kekuatan/tenaga yang dimilikinya, tenaganya jauh lebih besar baik dari Hanna apalagi Ahreum. Terbukti sekarang pun yang lebih berperan dalam pengangkatan koper besar itu adalah Nayeon, jika dibandingkan dalam persentase mungkin seperti ini hasilnya 80:20 (80% Nayeon dan sisanya Rihanna 20%) .
Sehingga koper besar yang hampir tak masuk akal bisa terangkat oleh 2 gadis kurus itu kini sudah berada dilantai 12, berkat kekuatan yang dimiliki oleh Nayeon, buah hasil rutinnya berolahraga dan ngegym. Bahkan kekasihnya sendiri pun, rasanya akan kesulitan untuk melakukan pekerjaan yang baru saja Nayeon lakukan.
Begitu ketiganya keluar dari pintu darurat yang menghubungkan tangga darurat dengan lantai 12, Nayeon menarik kopernya sendirian kemudian meletakannya disudut lorong sebelum akhirnya ia pun ikut terduduk dilantai seperti yang sudah dilakukan kedua temannya sedari tadi.
Tampak ketiganya masih mencoba menstabilkan pernafasannya seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahnya karena kepanasan, dan juga keringat yang terus saja bercucuran disekujur tubuhnya yang kelelahan.
Lain halnya dengan Nayeon dan Hanna yang bergulat dengan pengangkatan koper, Ahreum pun ikut berjuang menaiki tangga dengan 1 kakinya yang terkilir dan juga jangan lupa pergelangan tangan Ahreum yang tampak semakin membengkak akibat terlalu banyak tekanan yang ia lakukan pada pergelangan tangannya.
Sehingga membuat Ahreum ikut merasakan lelahnya yang dialami oleh kedua karibnya itu.
“huhh.. haahh.. sepertinya.. aku tak.. akan .. sanggup untuk .. berjalan lagi..” ucap Hanna dengan nafas yang tersendat-sendat seraya mengarahkan pandangannya pada Ahreum yang terduduk disampingnya seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
“aku juga.. huuh.. haah..” respon Ahreum yang sama-sama belum bisa menstabilkan pernafasannya.
“mencari rumahnya besok lagi aja.” Lanjut Hanna lagi seraya menekuk kedua kakinya.
“jangan seperti itu, nanti kau bisa kram, luruskan.” Ujar Ahreum seraya mencoba meluruskan kaki Hanna yang baru saja ditekuknya.
“ahhh, jangan menggangguku ini posisi nyamanku.” Bantah Hanna seraya kembali menekuk kedua kakinya dan menepis tangan Ahreum.
“ciihh!!..” dengus Nayeon yang duduk disebrang keduanya, kemudian memalingkan wajahnya kearah lain begitu mendengar sikap keras kepala Hanna.
__ADS_1
Dan..
Benar saja kedua kaki Hanna tiba-tiba kram yang membuat Ahreum ikut panik karenanya.
“aaww.. awww.. kakiku kram! Awww!!..” rengek Hanna seraya memegangi kedua kakinya dan terus merengek kesakitan, sementara itu Nayeon yang berada dihadapannya tampak tertawa puas dengan penderitaan Hanna akibat dari sikap kerasa kepalanya beberapa menit lalu.
“yak.. yak.. yak.. sudah ku bilangkan tadi luruskan kakimu, kau ini!” panik Ahreum seraya memandangi karibnya itu karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
***
Rumah sakit Haneul Jakarta.
Lebih tepatnya diatap rumah sakit Haneul, saat ini terlihat Ansell dan juga Seno ayah dari Ahreum tengah berdiri didinding pembatas atap seraya mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
Seno menyeruput kopi hangatnya terlebih dahulu sebelum memulai percakapannya dengan sang menantu. “maaf karena kemarin-kemarin om terlalu keras padamu.” ucapnya sesaat setelah meneguk kopi hangat yang berada dalam genggamannya.
“hmm.. om juga ingin meminta maaf padamu atas nama para tetua dahulu, karena sudah melibatkan kau dan putri om hingga menjadi seperti ini. Dan terimakasih karena sudah bersedia menepati janji para tetua dimasa lalu, dengan mengorbankan kisah cinta kalian berdua.
Ini memang terdengar sangat egois, kami yang terus mendorong kalian untuk menjalani pernikahan hanya demi terbebasnya dari jerat janji tersebut. Tapi seperti yang kau tahu, janji adalah janji, sebuah kalimat yang harus benar-benar ditepati. Kami pun tidak bisa berbuat apa-apa karena janji ini dibuat oleh kedua nenek kakekmu dan juga kedua orang tua istri om.
Om harap kau bisa memahaminya, dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Namun jika kau masih juga belum bisa mencintai dan mengasihi Ahreum sebagai seorang suami, hanya 1 permintaan om, tolong kembalikan saja Ahreum pada om. Daripada kau membuat Ahreum terluka dengan melampiaskan kekesalanmu karena ketidakadilan yang terjadi dihidupmu, lebih baik kau kembalikan saja putri om, dan akhiri pernikahan yang tidak kau inginkan ini.” ujar Seno panjang lebar lalu diakhiri dengan senyuman hangat dan tepukan lembut dibahu Ansell, sebelum ia memutar tubuhnya lalu meninggalkan Ansell yang bahkan tak bersuara sedikitpun.
Ansell hanya memandangi langkah lelaki paruh baya itu berjalan menjauhi dirinya kemudian hilang dari pandangannya. Kalimat itu cukup hangat dan juga tulus yang dilontarkan seorang ayah pada putri sulungnya, hingga membuat hati Ansell tersentuh dan tak dapat berkata-kata.
Ditambah mengingat kembali apa yang telah dilakukan dirinya tadi malam ditempat ini pada Ahreum membuat dirinya sangat menyesal dan merasa bersalah, sudah membentak dan juga menyakiti Ahreum hanya karena kecemburuan sesaatnya, padahal itu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang seharusnya bisa diselasaikan tanpa amarah dan tindakan kasar Ansell terhadap istri mungilnya.
__ADS_1
***
Malam harinya.
Aparteman Bougenville, lebih tepatnya dikamar Ahreum nathania, setelah melalui hari yang panjang akhirnya ia pun bisa mengistirahatkan tubuhnya diranjang yang empuk setelah melakukan ritual bersih-bersih dan juga makan malam yang sudah disiapkan sebelumnya oleh bi Ijah di meja makan.
Pintu kamar pun perlahan terbuka, tampak Ansell muncul dari balik pintu kemudian masuk perlahan dengan langkah hati-hati karena tak ingin membuat kebisingan yang akan membangunkan istrinya yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya, seraya melepask jas yang dipakainya dan meletakannya dimeja rias Ahreum.
Ia memandangi sejenak wajah mungil istrinya yang tengah tertidur dengan posisi miring menghadap dirinya, kemudian pandangannya menjalar kearah kedua tangan Ahreum yang tampak terlihat membiru disalah satu pergelangan tangannya.
Yang membuat dirinya lantas bergegas memutar tubuhnya lalu menarik langkah keluar dari kamar Ahreum.
Selang beberapa menit Ansell pun kembali muncul dikamar Ahreum sembari membawa kotak P3K dalam genggamannya, kemudian berjalan mendekati tepi ranjang lalu duduk disamping tubuh Ahreum yang masih dalam posisi awal.
Sebelum membuka kotak P3K dan memulai aksinya, ia mencoba melonggarkan dasi yang melingkar dikemejanya lalu dilanjut melepas kancing dibagian pergelangan tangannya dan menggulung lengan kemejanya hingga sampai siku untuk menyamankan ruang geraknya.
Begitu membuka kota P3K, Ansell mencari salep guna untuk mengempeskan bengkak dipergelangan tangan Ahreum. Diraihnya secara lembut tangan mungil Ahreum kemudin ditaruhnya disalah satu pahanya, dilanjut dengan menekan lembut bagian ujung salep menggunakan kedua jarinya agar yang keluar sesuai dengan kebutuhan.
Dengan gerakan lembut ia mengusapkannya pada pergelangan Ahreum yang bengkak dan membiru akibat cengkraman kuatnya kemarin malam.
Namun tiba-tiba saja setelah beberapa kali olesan lembut Ahreum terbangun dan..
“ooekk.. oeekk..!!” suara seseorang yang hendak mun**ah, membuat Ansell kontan terkejut dan menghentikan aktifitas mengolesnya kemudian menaruh salepnya ke atas lemari kecil disamping ranjang Ahreum.
Bersambung...
__ADS_1
***