Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 68


__ADS_3

Begitu Ansell keluar dari pintu utama mereka langsung disambut oleh sebuah mobil yang datang dari arah baseman.


“oke sudah cukup, kau bisa turunkan aku sekarang.” Pinta Ahreum seraya menepuk kedua bahu suaminya itu dan menjauhkan tubuhnya dari dada bidang Ansell.


Namun alih-alih menuruti permintaan gadis mungil itu, Ansell malah semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh Ahreum kembali melekat dengan tubuh kekarnya, yang membuat Ahreum mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa maksud dari tindakan suaminya tersebut.


“kau fikir, kau bisa pergi begitu saja setelah kau memprovokasiku Ahreum!” bisik Ansell lengkap dengan senyum smirknya.



“apa?” sahut Ahreum lengkap dengan kedua matanya yang membulat karena saking terkejutnya.


“yak.. yak.. turunkan aku, bibi, eh tante, eh bu sekretaris tolong akuu!!” Panik Ahreum saat Ansell mulai berjalan menuju mobil, ia mencoba meminta pertolongan pada sekteraris Ansell yang sedari tadi berdiri dibelakang Ansell.


Namun bukannya menolong seperti yang diharapkan gadis mungil itu, wanita yang tengah memegang sebuah tab yang cukup besar itu hanya menanggapinya dengan senyuman nakal.


“biar saya yang mengemudi.” Perintah Ansell kala sang supir yang membawa mobil tersebut turun dan mengahampiri dirinya yang mencoba untuk memasukan Ahreum ke dalam mobil.


“gak.. aku gak mau!” seru Ahreum yang terus berontak, namun apalah daya dirinya hanya gadis mungil yang tidak memiliki cukup kekuatan untuk lepas dari cengkraman lelaki berotot seperti Ansell dirgantara.


Sampai saat Ahreum telah masuk mobil pun ia masih mencoba untuk meminta pertolongan dengan menurunkan kaca jendela mobil dan terus berteriak meminta tolong pada semua orang yang melintas. 


“KUMOHON SIAPAPUN TOLONG AKU, AKU MAU DICULIK OM-OM!!” teriak Ahreum begitu ia berhasil menurunkan kaca jendela dan memunculkan kepalanya keluar untuk sesaat, sebelum Ansell menancapkan gas nya dan keluar dari pekarangan perusahaannya.


*** 


Dilain tempat, lebih tepatnya dikantor polisi.


Tampak Jeno, Rihanna dan juga Nayeon tengah terduduk dibalik bilik jeruji besi, bisa dibilang sebuah penjara sementara sebelum seseorang diadili dan dibawa ke penjara sungguhan.


“bukankah seharusnya pegwai itu memberikan peringatan lebih dahulu sebelum melaporkan kita, ciihh!! Bukannya mencoba meredam pertengkaran malah langsung melaporkan aja ke polisi.” Gerutu Nayeon yang duduk disudut depan dekat jeruji seraya melipat kedua tangannya diatas dada.


“yak! Jangan asal menuduh orang.” Komen Hana yang duduk disudut belakang.


Nayeon pun langsung menanggapinya dengan lirikan mautnya.

__ADS_1


“ayolah hentikan, apa kalian tidak lelah?


Aku bahkan yang tidak tahu apa-apa ikut terseret dan berakhir disini.” Keluh Jeno yang tengah menyandarkan tubuhnya ke dinding.


“justru kaulah yang selalu menjadi pemicunya, bodoh!” balas Hanna lengkap dengan pandangan tajamnya yang mengarah pada Jeno.


“yak! Beraninya kau mengejek Jenoku!” timpal Nayeon seraya bangkit dan siap untuk menghajar Hanna kembali.



“YAK! CUKUP HENTIKAN!” seru seseorang yang baru saja datang.


Membuat Nayeon menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang.


“kak Bennnn!!” seru Hanna seraya bangkit lalu berlari menuju jeruji besi agar bisa lebih dekat dengan lelaki tersebut.


“tolong keluarkan aku kaaak!” rengek Hanna Kembali seraya menggenggam jeruji besi yang menjadi dinding penghalang diantara mereka.


Disusul dengan Jeno yang juga ikut berlari dan menghampiri lelaki tersebut, seperti yang dilakukan Hanna, Jeno pun menggenggam erat jerujii besi itu dan 1 tangannya lagi menjulur keluar untuk meraih tubuh lelaki yang tengah berdiri memperhatikan mereka bertiga.


“kak Benn tolong keluarkan aku juga, aku benar-benar tidak tahu apa-apa, mereka berdua yang menyeretku kesini.” Rengek Jeno layaknya seorang bocah yang tengah mengadu pada kakak lelakinya.


“sebenarnya apa yang terjadi? Apa kalian mencuri?” tanya lelaki yang bernama Bennedict tersebut.


“yak! Kau bercanda, aku tak pernah kekurangan apapun sejak aku lahir!” timpal Jeno dengan nada ngegasnya, karena tidak terima jika dirinya dituduh mencuri.


“apa pegawai café itu yang membuat laporan?” timbrung Nayeon seraya berjalan mendekati yang lainnya.


“apa?” seru Nayeon saat Jeno dan Hanna langsung meliriknya secara bersamaan.


“sudah ku bilang jangan asal menuduh orang yang tidak bersalah.” Komen Hanna.


“sudah.. sudah, kalian hanya bisa keluar jika ada yang menjamin, jadi tunggu saja.” Ujar Ben seraya meninggalkan ketiganya.


“yak.. yak.. kak Bennnn!! Aughh, Si***!! Semua ini karenamu Jeno!” gerutu Hanna seraya mendorong tubuh Jeno hingga membuatnya goyah dan menubruk Nayeon yang tengah berdiri disampingnya.

__ADS_1


“kenapa salah Jeno?! Kau yang duluan mendekatinya!” balas Nayeon seraya memundurkan tubuh kekasihnya dan maju ke depan untuk menghadapi Rihanna.


“sepertinya aku ingin menghilang aja dari muka bumi ini.” Gumam Jeno kala keduanya kembali baku hantam dihadapannya, dirinya hanya bisa pasrah sebab sudah lelah untuk menengahi keduanya.


***


Dihotel XXX, hotel yang biasa Ansell datangi jika terlalu lelah untuk pulang ke kediamannya, karena memang keberadaan hotel tersebut sangatlah dekat dengan kantor KT. Group, hanya membutuhkan sekitar 10 menit saja jika menggunakan mobil.


Semua pegawai hotel dan juga pengunjung lainnya menatap aneh pada lelaki yang tengah menggendong seorang gadis mungil dalam dekapannya. Dengan beberapa pegawai keamanan yang berjalan dibelakangnya untuk mengawalnya sampai ke tempat tujuan.


Kali ini Ahreum tampak terdiam dan hanya menyembunyikan wajah kecilnya ke dalam dada bidang Ansell, ‘jika kau terus berteriak selama perjalanan nanti, ku pastikan kau tak akan bisa berjalan dengan normal kembali, Ahreum. Sebuah kalimat yang mampu menenangkan gadis mungil yang tak berdaya itu.


 


Sesampainya disebuah kamar, tentunya diruangan VVIP yang sudah tak diragukan lagi kemewahan ruangannya.



Ansell membantingkan tubuh mungil istrinya ke atas ranjang besar, lengkap dengan tatapan dan juga senyum smirk yang masih menghiasi wajah tampannya, seolah ia sudah tak bisa menahan dirinya kembali.


“tidak.. maksudku, kau sudah berjanji bukan, Ansell.” Panik Ahreum yang langsung bangun dan duduk diatas kedua kakinya yang ia lipat seraya menatap Ansell dengan raut wajah sendunya, seolah ia tengah benar-benar memohon pada suaminya.


“berjanji? Memangnya apa yang ku janjikan?!” pekik Ansell seraya memegang dagu Ahreum dengan kedua jemarinya dan menatapnya dengan tatapan yang mampu membuat Ahreum semakin merinding.


“pon.. ponselku terjatuh dimobil, aku mere..”


Ahreum menghentikan kalimatnya kala Ansell menarik wajah kecilnya itu ke atas agar bisa lebih dekat dengan wajah Ansell, untuk beberapa saat suasana terasa hening saat keduanya saling melempar tatapan intens, sampai terdengar suara Ahreum yang tengah menelan ludah karena saking takutnya.


Membuat Ansell kembali tersenyum penuh arti, sebelum akhirnya ia mendorong wajah Ahreum ke pinggir untuk kembali menidurkan istri mungilnya itu.


“sebaiknya kau siap-siap, karena aku tak akan mengampunimu!” ucap Ansell seraya meregangkan dasi yang melingkar dilehernya, lalu berlanjut dengan membuka kancing 1 per satu dari bagian paling atas.


“tunggu.. tunggu , kau pernah bilangkan, kau tidak sembarangan tidur dengan wanita.” Kekeh Ahreum seraya kembali bangun dan mencoba untuk bernegoisasi dengan lelaki yang kini tengah bertelanjang dada.


“yak! Kau lupa? Kau itu istriku.” Respon Ansell lengkap dengan gelengan kepalanya, kemudian ia pun membalikan tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Ahreum yang masih terdiam membisu diatas ranjang dengan tatapan kosong, seolah jiwanya telah menghilang seketika.

__ADS_1


Bersambung...


***


__ADS_2