
Sementara itu di dalam mobil yang dikendarai oleh Ansell, yang juga tengah melaju dengan kecepatan penuh menuju lokasi keberadaan terakhir Ahreum.
Iya begitu dirinya sampai dibandara, ia pun langsung mendapatkan kabar yang tak terduga dari asistennya yang sudah menunggunya didepan pintu masuk bandara.
Kemudian mereka berdua pun bergegas menuju lokasi keberadaan Ahreum dengan bermodalkan signal gps yang tertaut ditablet Abighail.
Mendengar berita mengejutkan tersebut Ansell pun lantas meminta Abi untuk bertukar tempat, sehingga kini dirinyalah yang mengambil kendali mengendarai mobilnya.
Dengan emosional yang semakin membara didalam tubuhnya, Ansell pun sampai berkali-kali mengabaikan lampu merah dan terus melajukan mobilnya tanpa henti, menyalip semua kendaraan yang berada dihadapannya dengan perkiraan yang akurat layaknya seorang pembalap professional.
Disusul tak jauh dibelakang mobil Ansell pun terlihat beberapa mobil lainnya yang mengikuti kemana arah mobil Ansell membawanya. Iya mereka adalah para petugas keamanan yang sekaligus pernah menjadi mantan gangster dulunya.
Meski beberapa kali mobil-mobil mereka melewati para petugas polisi lalu lintas namun mereka hanya membiarkannya, melihat plat mobil yang dikendarai oleh Ansell membuat nyali para petugas polisi tersebut ciut dan lebih memilih untuk membiarkannya saja daripada harus mengejarnya dan menghukumnya karena ugal-ugalan dijalan raya.
Sampai pada tempat kejadian dimana kecelakaan kecil antara mobil yang dikendarai Nayeon dan truck terjadi. Mereka pun menghentikan laju mobilnya serempak.
“SI**ALAN!! Apa-apan ini!” pekik Ansell kala mendapati 1 mobil dengan berlogokan polisi yang terparkir tepat didepan sebuah truck yang memblokir jalannya.
Dengan amarah yang menggebu-gebu Ansell pun turun dari mobil disusul dengan Abi yang menyesuaikan langkah agar bisa berjalan beriringan dengan atasannya itu.
“tenanglah sabar dulu pak Ansell..” ucap Abi yang mencoba meredakan amarah Ansell yang mulai tak terkendali.
Tak ingin tinggal diam semua bawahan Ansell pun ikut turun dari mobil dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi dideapnnya kini.
Belum sempat Ansell dan Abi berjalan terlalu jauh dari keberadaan mobilnya, gerombolan Bennedict keburu datang dari arah lain membuat keduanya pun menghentikan langkah dan melakukan aksi adu tatap selama beberapa detik.
“kukira kau masih diluar negeri?” kalimat pembuka Bennedict pada Ansell yang berdiri tak jauh dihadapannya.
“pak Ansell ba..”
__ADS_1
“aku baru saja mendarat pagi ini. Apa yang terjadi? Dimana Ahreum?” berbagai pertanyaan dilontarkan Ansell lengkap dengan raut wajah cemasnya berharap jika kakak iparnya itu bisa memberikan jawaban atas pertanyaannya tersebut.
“Ahreum dibawa oleh para gangster itu beberapa menit yang lalu. Kita harus cepat, jika tidak, mereka akan membawanya pergi menuju dermaga!” seru Bennedict yang kemudian langsung meninggalkan tempatnya dan bergegas menuju mobilnya.
“singkirkan truck itu!” perintah Ansell pada salah satu anak buanya begitu ia membalikan tubuhnya dan hendak masuk kembali ke mobilnya.
Sementara mereka kembali memasuki mobil masing-masing, salah satu anak buah Ansell bertugas untuk menyingkirkan truck yang menghalangi jalan agar bisa dilalui oleh semua mobil lainnya.
***
Disebuah gudang besar yang jauh dari keramaian pemukiman warga. Terdapat ruangan kecil yang menjadi tempat ketiga gadis disekap, mereka didudukan dikursi dengan tali yang mengikat diseluruh tubuhnya serta lakban yang menempel dimulut mereka, agar ketika ketiganya tersadar tak akan ada teriakan yang akan membuat kegaduhan dalam ruangan tersebut.
“dimana ini..” batin Ahreum ketika ia membukakan kedua matanya setelah sekian lama tak sadarkan diri.
“aaww.. perih sekali.” Ringisnya lagi dalam hati kala luka ditepi pelipisnya tiba-tiba menyengat.
Selang beberapa detik setelah Ahreum tersadar, kini giliran Hanna yang membukakan matanya perlahan ditengah rasa sakit yang dialaminya akibat benturan keras yang didapatnya dari kecelakaan mobil beberapa saat lalu.
“kau baik-baik aja Naa?” tanya Ahreum lengkap dengan raut wajah khawatirnya pada karibnya yang baru saja tersadar. (lewat telepati ceritanya karena kan mulut mereka dilakban)
“nggak, aku gak baik-baik aja, kau tak lihat sekujur tubuhku penuh lebam akibat benturan-benturan tadi aughhh..” dumelnya ditengah rasa sakit yang terus menyengat tubuhnya. (lewat telepati ceritanya karena kan mulut mereka dilakban)
“kenapa kak Ben belum datang juga.” Ahreum kembali membatin.
“mereka pasti datang kok, tenang saja. Kenapa dia belum sadar juga? Dia ga mati kan?!” seru Hanna kala kedua matanya mengarah pada gadis yang berada disampingnya yang masih juga belum sadarkan diri. (lewat telepati ceritanya karena kan mulut mereka dilakban)
“jangan ngomong sembarangan!” seru Ahreum kembali dalam hati lengkap dengan kedua matanya yang membulat.
Karena tak bisa memanggil karibnya tersebut, Hanna pun menggunakan 1 kakinya untuk menendang-nendang kaki Nayeon dengan kasar untuk membuatnya tersadar.
__ADS_1
Benar saja saat beberapa kali Hanna menendang kaki Nayeon, gadis itu pun akhirnya terbangun dan langsung menunjukan reaksi yang berlebihan, karena saking terkejutnya ia sampai celingak celinguk kesana kemari beberapa saat sebalum nyawanya benar-benar kumpul.
Tak bisa diam saja tanpa melakukan apapun, Hanna pun lantas berfikir keras seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk menemukan sebuah benda yang bisa membuatnya terbebas dari tali yang mengikat tubuhnya.
Sementara itu Ahreum tampak mulai emosional kembali karena merasa bersalah telah membuat kedua temannya berada disituasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Melihat air mata Ahreum mulai berderai Hanna pun menendang kakinya seraya mengarahkan sorot matanya ke tempat benda tajam yang berada diatas meja kecil dekat kursi Ahreum.
Tak ada waktu untuk melanjutkan tangisannya Ahreum pun menoleh ke arah samping untuk mencari apa yang dimaksud Rihanna.
“ambil pecahan botol itu lalu gesekan ditalimu!” begitulah kira-kira arti tatapan Hanna pada Ahreum, Ahreum pun menggangguk kemudian bangkit membawa kursinya mendekat ke meja kecil tersebut.
Sementara Ahreum tengah berusaha meraih pecahan botol yang berserakan diatas meja, Nayeon tampak masih menggeleng-gelengkan kepala dan mengerjap-ngerjap kan matanya agar otaknya kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian setelah Ahreum berhasil terlepas dari tali yang menjerat tubuhnya, ia pun langsung melepas lakban yang menempel erat dimulutnya sebelum beralih mencoba melepas lakban dari kedua mulut karibnya, lalu terakhir membukakan tali yang mengikat tubuh Rihanna dan Nayeon.
Namun tampaknya semua tidak berjalan mulus, begitu Ahreum selesai dengan lakban yang menenpel dikedua mulut karibnya. Dan hendak beralih melepas tali yang mengikat tubuh Hanna, tiba-tiba saja pintu terbuka dan salah seorang pria bertubuh besar muncul dari ambang pintu, lengkap dengan tatapan tajamnya yang dipenuhi amarah pada gadis yang tengah berusaha melepaskan tali yang mengikat temannya.
Ahreum pun sontak terkejut dan membulatkan kedua matanya dengan tangan yang mulai gemetar.
“SI***ALAN!! BERANI SEKALI KAU MACAM-MACAM!” bentaknya seraya bergegas berjalan mendekati Ahreum kemudian menarik rambutnya hingga kepalanya pun mendongak keatas.
“BRENG***!!! DASAR HIDUNG BESAR!!” umpat Hanna seraya menginjak kaki lelaki tersebut dengan segenap kekuatan yang ia miliki.
Meski injakan kaki Rihanna tidak begitu berpengaruh pada kaki lelaki kekar tersebut namun tentu saja harga dirinya terluka karena Rihanna telah mengejeknya si hidung besar, sehingga membuat lelaki tersebut beralih memelototi Rihanna sebelum melayangkan tamparan kerasnya.
Hanna tidak tinggal diam, ia pun dengan cepat menghindari telapak tangan lelaki hidung besar dan membuatnya berakhir dipipi mulus Nayeon yang berada tepat disebelahnya.
Dan seketika itu pun Nayeon yang malang kembali tak sadarkan diri.
__ADS_1
***
Bersambung...