
Aparteman Bougenville.
“nona Ahreum.” sapa Abi kala Ahreum membukakan pintu untuknya lengkap dengan senyuman yang tampak sekali seperti dipaksakan, Ahreum hanya terdiam seraya memandangi wajah Abi seakan ia tengah menunggu kelanjutan dari kalimat Abi atau lebih tepatnya maksud dan tujuan dirinya mengunjungi Ahreum tengah malam begini.
“amm.. pak Ansell saat ini akan bermalam dihotel, nona, hotel xxx. Karena besok pagi-pagi sekali pak Ansell ada meeting dengan para investor jadi pak Ansell memutuskan untuk bermalam dihotel agar bisa lebih dekat dengan perusahaan.” Jelasnya panjang lebar seraya menautkan kedua tangannya.
Ahreum terkekeh. “begitu ya?” respon Ahreum yang masih berdiri diambang pintu dan menatap wajah Abi dengan tatapan sinisnya.
“kok beda dengan yang dikatakan Ansell barusan.” Lanjut Ahreum yang membuat Abi kebingungan karena tak mengerti maksud dari perkataan Ahreum.
‘mungkinkah sebelum ponsel Ansell mati dia sempat menghubungi nona Ahreum’ Abi membatin.
“Ansell sih bilangnya mau pulang ke kediamannya, karena jaraknya lebih dekat dengan rumah sakit. Jadi dia mau bermalam disana malam ini.” sambung Ahreum seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan menyenderkan bahunya ke dinding.
“ahh.. begitu ya, iya saya lupa nona, tadi..” ucapnya tergagap seraya menggaruk bagian kepala belakangnya meskipun sebenarnya tidak gatal lengkap dengan senyum palsu yang mendukung kebohongannya malam ini.
“kak Abi bahkan tak tahu dimana keberadaan Ansell?!” tebak Ahreum dengan tatapan intimidasinya yang membuat Abi terhentak dan langsung gelagapan serta berkeringat dingin.
“Ansell tak bisa dihubungi bukan?! Dan dia masih bersama dengan wanita itu.
Kedepannya tolong jangan pernah membodohiku lagi kak Abi. Aku.. tak sepolos atau seramah yang kau kira! Sebaiknya jangan bermain-main denganku.” Kecam Ahreum yang tak hentinya memberikan sorot tajamnya pada asisten suaminya itu.
“maaf.. maafkan saya nona, saya tidak bermaksud untuk membohongi nona, hanya saja saya tak ingin nona memiliki fikiran negative tentang pak Ansell.
Pak Ansell tak mungkin melakukan hal bodoh atau semacamnya, percaya pada saya nona, nona tidak perlu khawatir. Pasti ada alasan kenapa pak Ansell masih belum kembali sampai saat ini saya yakin sekali.” katanya, Abi berusaha mungkin ingin meyakinkan Ahreum jika ini hanyalah kesalahpahaman saja.
“dan alasannya adalah?...” sahut Ahreum.
“mung.. kin saja pak Ansell tidak sengaja ketiduran di rumah sakit nona. Karena pak Ansell belum sempat beristirahat setelah melalui perjalanan yang cukup panjang hari ini. Dan juga pak Ansell bukanlah lelaki yang bisa mengkhianati pasangannya, pak Ansell tak pernah mempermainkan sebuah hubungan, nona tahu sendirikan bagaimana..”
“kak Abi yakin mereka pergi kerumah sakit? Dan bukan ke hotel?” sela Ahreum dengan diakhiri senyum smirknya yang membuat Abi kembali gugup dan menelan ludah.
“bagaimana bisa nona Ahreum berfikiran sepicik itu pada suami nona sendiri. Itu.. itu hanya pemikiran yang tak berdasar nona. Tolong jangan mengasumsikan menurut fikiran negative nona saja, bukankah lebih baik kita menunggu dan bisa menanyakannya langsung ketika pak Ansell tiba.
Daripada menebak-nebak yang belum tentu kebenarannya.” Ujarnya dengan nada sedikit ngegas sebab tidak terima dengan tuduhan keji yang ditujukan pada atasannya.
“kak Abi..
Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana hati seseorang. Bahkan keluarga sekalipun, mereka hanya melihat apa yang ditunjukan dari luar saja, karena yang tahu dan bisa menyelami hatinya, hanyalah dirinya sendiri.
Wanita itu bukan hanya mirip, tapi aku merasa seperti memang Ilona telah bangkit kembali. Kau fikir dia bisa menahannya?
Tidak.. meski mungkin ada sedikit rasa bersalah padaku, tapi kurasa rasa rindunya pada kekasihnya yang telah tiada lebih besar dibanding rasa simpatinya padaku.
Kau melihatnya sendiri bukan ketika dia terbutakan sesaat oleh paras wanita tersebut dan mengabaikanku, jika bukan karena kakakku, aku sudah mati sekarang!
Jadi.. tolong jangan munafik kak Abi. Hal semacam itu bisa saja terjadi pada mereka saat ini, mengingat betapa Ansell mencintainya dahulu bukan tidak mungkin ia juga akan menggangap wanita tersebut sebagai Ilona.” Papar Ahreum, ya sebenarnya Ahreum hanya ingin mencoba berfikir realistis aja sih.
“apa nona akan menyerah begitu saja? Bukankah seharusnya nona bisa mempertahankan pernikahan nona dengan pak Ansell.” respon Abi yang tak ingin menyerah begitu saja pada pernikahan atasannya yang bahkan baru seumur jagung.
“aughh! Kau sangat menyebalkan sekali.” Geram Ahreum yang kemudian memutar tubuhnya lalu menutup pintu dengan sedikit bantingan.
“nona.. dengarkan saya dulu!” seru Abi seraya mengetuk-ngetuk pintu.
__ADS_1
“halo.. dokter Elios!! Bisa tolong datang ke aparteman sekarang juga, sepertinya aku sekarat.”
Mendengar hal tersebut Abi malah semakin panik dan mempercepat ketukan pintunya sembari terus memanggil nama Ahreum dari balik pintu.
“nona.. tolong jangan begini nona.. saya jamin pak Ansell akan pulang sebentar lagi! Pak Ansell tak mungkin melakukan hal bodoh seperti yang nona bayangkan. Saya mohon nona!!” panggil Abi yang semakin menggila kala mendengar jika Ahreum hendak mengundang dokter Elios ke apartemannya.
***
Yuk kita kembali ke Bennedict dan Rihanna sejenak.
“aku ingin ke rumah sakit saja kak, tolong antarkan aku ke rumah sakit jiwa xxx.” Ujar Hanna.
“kenapa? kau takut sendirian dirumah, mau kakak temani?” tawarnya seraya melirik ke arah Rihanna sejenak ditengah fokusnya mencari celah untuk memutar balik mobilnya karena kini tujuan mereka telah berubah.
Rihanna terkekeh mendengar tawaran itu, membuat Bennedict mengerutkan dahinya.
“bagaimana aku bisa mengartikan tawamu itu, Hanna.” Komen Bennedict lengkap dengan 1 alisnya yang terangkat.
“tidak.. haha. Kak Ben.. aku penasaran sekali, apa selama ini kau tak pernah menganggapku sebagai seorang wanita? Aku bukan anak-anak lagi kak.
Kau tak bisa melihat?! aku sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang cukup membuat orang-orang terpsesona melihatku.
Bagaimana kau bisa bicara seenteng itu.” keluh Rihanna seraya mengarahkan pandangannya pada Bennedict sejenak.
“yak! Memangnya apa yang kau fikirkan, kau takut pada kakakmu sendiri hah?!” seru Bennedict dengan nada ngegasnya.
“ciihh.. kakak pantatmu!” umpat Rihanna seraya membuang wajahnya ke arah lain.
“yak! ada apa denganmu, kau aneh sekali.” Protes Bennedict.
“kau tahu bagian yang paling menyedihkan dari cinta yang tak terbalas?” Hanna kembali bergumam dengan pandangan yang mengarah ke balik jendela.
“apa?
Kau dicampakan oleh siapa hah?! Katakan siapa yang berani menolakmu.” Seru Bennedict dengan emosi yang tiba-tiba saja bergejolak dalam hatinya mengetahui jika adiknya itu disakiti oleh seorang pria.
Meski sebenarnya Rihanna tengah menahan rasa sakit didalam hatinya namun mendengar ocehan Bennedict seperti itu membuatnya kembali tertawa. Iya, tertawa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
“hal yang paling menyedihkan dari cinta yang tak terbalas adalah.. ketika kau tak bisa melakukan apapun untuk mencapainya.” Lanjut Rihanna seraya mengarahkan pandangan seriusnya pada Bennedict setelah beberapa saat tertawa dalam rasa sakitnya.
“kenapa?
Apa kau gengsi untuk mengatakannya lebih dulu karena kau wanita. Dengar ya! Sekarang ini sudah bukan jamannya lagi wanita hanya menunggu. Jika kau memang menyukainya seharusnya kau mengatakannya secara lantang, dan buat dia jadi milikmu. Mengerti!”
Lagi-lagi Rihanna hanya bisa tertawa mendengar dukungan moril dari kakaknya itu.
“kau kenapa sih! dari tadi ketawa mulu. Memangnya ada yang lucu? Kakak sedang bicara serius, Rihanna!” pekiknya seraya menghentikan laju mobilnya karena sudah sampai diparkiran depan rumah sakit jiwa xxx.
“tidak.. aku hanya merasa kasihan aja pada diriku sendiri hahaa.”
“apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin kau tertawa saat mengekspresikan perasaan sedih.” Gerutu Bennedict lengkap dengan tatapan julidnya.
__ADS_1
“hmm.. yasudah aku pergi ya, terimakasih sudah mengantarku. Kakak hati-hati mengemudinya.” Pamit Rihanna setelah melepas safety beltnya, kemudian ia pun mendorong pintu mobil dan turun setelah menundukan kepalanya sedikit pada Bennedict sebagai tanda perpisahannya sebelum menutup kembali pintu mobilnya.
Namun sepertinya Bennedict tak ingin langsung pergi, ia masih ingin memastikan adiknya itu benar-benar masuk ke dalam dan bukannya berkeliaran seperti yang selalu Rihanna lakukan sebelum-sebelumnya.
Baru saja beberapa langkah, Rihanna menghentikan langkah kakinya dan membuat Bennedict yang berada didalam mobil pun mengerutkan dahinya.
Rihanna memutar tubuhnya lalu berjalan kembali menuju keberadaan mobil Bennedict dengan langkah cepatnya.
“ada apa? ada yang tertinggal?” tanya Bennedict seraya menurunkan kaca jendela mobilnya begitu Rihanna sampai disamping pintu mobilnya.
“kakak tahu kenapa aku berkencan dengan Jeno saat itu?” ujar Rihanna tiba-tiba yang membuat Bennedict lagi-lagi mengerutkan dahinya karena merasa terkejut dengan pertanyaan yang tak terduga tersebut.
“yaa..karena kau mencintainya?” tebak Bennedict ngasal, setidaknya hanya alasan itulah yang paling masuk akal baginya.
“tidak.. aku hanya ingin membuat kakak cemburu.” Ungkapnya.
“apa?”
“tapi dengan bodohnya kakak malah menyelamatiku, lalu berkencan dengan kak Winter. Aughhh!! Sial.. aku ingin menjambak wanita yang berani merebut kau dariku saat itu. Tapi karena wanita itu adalah kak Winter tak ada yang bisa ku lakukan.
Dan juga, melihatmu bahagia dengan kak Winter saat itu membuatku ikut senang sekaligus sakit.”
“Rihanna..”
“hufftt.. akhirnya aku bisa mengutarakannya juga setelah sekian lama memendamnya, aku lega sekarang, seolah beban dipundakku benar-benar hilang karena aku sudah tak memiliki rahasia apapun.”
Mendengar pernyataan cinta secara mendadak dari seorang gadis yang selalu ia anggap sebagai adiknya sendiri membuat dirinya tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa terdiam dengan pandangan yang masih mengarah pada wajah Hanna yang tengah bergulat dengan bulir air mata yang mulai berderai membasahi kedua pipinya yang mulus.
“kakak tak perlu khawatir, aku baik-baik saja kok.” Katanya lagi seraya menyeka air mata dan sesekali menyedot ingusnya agar tidak mengalir keluar bersamaan dengan bulir-bulir air matanya.
“aku cuma ingin mengungkapkannya aja.” imbuhnya.
“apa kau benar-benar sadar Rihanna?” ucap Benn lengkap dengan raut wajah khawatirnya.
“bagaimana mungkin kau bisa menyukai kakakmu sendiri.” tambah Bennedict yang masih tak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.
“aku sudah lama melupakanmu kok, sudah kubilangkan aku hanya ingin jujur saja padamu, kalau aku pernah menyukaimu dulu. Tapi..”
“tapi apa?”
“boleh aku minta 1 hal darimu. Salah satu impianku yang belum tercapai, aku selalu ingin melakukan hal ini dari dulu.”
“hal apa? Jangan membuat kakak..”
Muacchhh.. 1 kecupan mendarat dibibir sexy Bennedict, yang sontak membuat kedua mata sipit Benn membulat dan mulutnya berhenti mengoceh karena saking terkejutnya.
“hahahaa!! Terimakasih kak Benn.” Ucap Rihanna yang langsung mundur perlahan setelah melakukan aksi nekad pada kakaknya tersebut.
Rihanna melambaikan tangan lengkap dengan senyum merekahnya pada Benn yang masih tampak syock dengan hal yang baru saja adiknya lakukan pada bibir mungil nan sexynya.
“hahahha!! Byeeee kak Bennnn!! SA***N**GEEEE!!” teriak Rihanna penuh percaya diri seraya memutar tubuhnya kemudian berlari kecil menuju pintu utama rumah sakit.
“astaga!! SARANGHAEEE!!” sahut Bennedict yang mencoba membenarkan 1 kata terakhir Rihanna.
Bersambung...
__ADS_1
*Note : sebenernya yang dimaksud Rihanna itu saranghae ya guys, cuma tahu sendirikan Rihanna kalau ngomong suka belepetan gitu hahaha. Saranghae artinya aku mencintaimu yang berasal dari bahasa korea. Thanks.
Karena kemarin ga update jadi aku panjangin sedikit nih ceritanya hehee.