Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 50


__ADS_3

Karena saking dekatnya wajah mereka, membuat Ansell tak bisa menahan hasrat untuk mendekati bibir mungil istrinya tersebut ditambah dengan warna pink alaminya yang tampak begitu memikat dirinya.


Namun saat bibir mereka hampir bertemu, tiba-tiba saja Ahreum membuka lebar mulutnya lalu menghembuskan nafasnya tepat dihadapan wajah Ansell. Membuat Ansell spontan menjauh dan hampir memuntahkan sisa makanan yang belum keluar dari pencernaannya.


“oeekk..!!” sementara Ansell tengah bergulat dengan rasa mualnya akibat hembusan nafas istrinya tersebut.


Ahreum malah asyik menertawai penderitaan suaminya itu.


“YAK! Kau mau membunuhku?! Ooeekkk!!..” geram Ansell yang kesal karena diisengi oleh istrinya sendiri, berniat ingin romantisan malah berakhir petaka baginya.


“hahahaa..


Apa kau ingin meniru adegan romantis yang ada dalam drama-drama? Jangan bermimpi, karena alaminya orang yang baru bangun tidur itu nafasnya pasti bau, tahu!” oceh Ahreum, yang kemudian membalikan tubuhnya hendak memulai aktivitas membersihkan deretan giginya.


“HEOL, DAEBAK! Yak!..


Kau yang mengganti bajuku tadi malam?!” tembak Ahreum begitu ia menyadari pakaian yang tengah ia kenakan telah berganti menjadi piyama berwarna pink dari pantulan cermin besar yang berada dihadapannya, ia pun mengarahkan kedua mata tajamnya pada Ansell yang sudah merasa lebih baik dan tidak mual lagi.


“tidak! Bibi yang menggantinya, aku tak ingin merusak kedua mataku dengan melihat tubuh jelekmu itu!” sanggah Ansell yang kembali berjalan mendekati istrinya tersebut.


“astaga! Ya.. ya.. ya.. tubuhku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mantanmu itu yang semok.” Gerutu Ahreum seraya mengambil sikat dan pasta gigi, hendak memulai menyikat giginya.


“apalagi saat dia tidak memakai apapun, akan semakin sedap dipandang bukan?!” Ocehnya lagi seraya terus menggosokan dirinya dan memandangi Ansell dari pantulan cermin besar dihadapannya.


“yak! Apa kau fikir aku lelaki yang seperti itu.” Timpal Ansell yang berdiri disamping Ahreum seraya melipat kedua tangan diatas dadanya selagi menunggu Ahreum selesai menyikat gigi.


“maksudmu?” tanya Ahreum yang belum mengerti apa maksud dari perkataan suaminya tersebut.


“aku bukan pria yang sembarangan bercocok tanam dengan seorang wanita, meskipun dia adalah kekasihku, karena aku berpegang teguh dengan prinsipku, selama belum ada ikatan pernikahan aku tak akan melakukan hal semacam itu.


Aku tak ingin munafik, mungkin hasrat ingin melakukan hal itu pasti selalu ada, tapi aku menahannya karena itulah bentuk rasa hormat dan cintaku padanya.” Ucapnya panjang lebar yang membuat Ahreum tertegun hingga menghentikan aktivitas menyikat giginya sesaat, sebelum akhirnya ia pun meludahkan semua sisa pasta gigi yang bercampur dengan air liurnya ke wastafel.


Kemudian dilanjutkan dengan berkumur untuk membersihkan mulutnya dan diakhiri dengan membersihkan sikat giginya lalu kembali meletakannya di tempat semula setelah dirasa cukup bersih dari sisa pasta gigi yang menempel.


“tapi bagaimana dong, meski sekarang kau sudah menikah, kau juga tak bisa bercocok tanam dengan istrimu tuh!” Respon Ahreum, mengingat pernikahan mereka bukanlah didasari oleh rasa cinta melainkan hanya paksaan dari kedua orang tua mereka masing-masing.


“sepertinya kau harus menundanya sampai pernikahanmu yang kedua.” Tambah Ahreum yang mengakhiri percakapan singkatnya dikamar mandi kemudian keluar lebih dulu meninggalkan Ansell yang diam-diam tersenyum penuh arti dibelakang Ahreum.

__ADS_1


“dari sekian juta wanita yang menginginkanku, hanya kau yang bersikeras menarik diri dariku Ahreum, dan hal itu juga yang semakin membuatku tertarik padamu. Aku sangat penasaran sekali, pernikahan seperti apa yang akan kita jalani ke depannya, apa akan menyenangkan atau malah sebaliknya, hahaa...” Ansell bergumam setelah Ahreum menghilang dari pandangannya, masih dengan senyuman yang tak dapat diartikan oleh kata-kata, bahkan dirinya sendiri pun tak bisa mengartikan perasaan yang kini tengah dirasakannya.


Apakah hanya penasaran ataukah dirinya sudah mulai mencintai Ahreum???


***


Dilain tempat.


Kampus Royal collage of music, lebih tepatnya di kafetaria kampus, tampak Nayeon tengah terduduk santai sembari memainkan ponselnya sedari tadi, dengan sesekali menyedot ice Americano yang ia beli dalam perjalanannya menuju kampus.


“apa yang kau lakukan disini sendirian?” ucap Jeno yang tiba-tiba saja bergabung dan duduk disamping Nayeon yang masih terfokus pada ponselnya.


“Nay..” panggil Jeno kembali seraya menyenggol pelan lengan Nayeon.


“apa sih?! aku hanya sedang melihat-lihat tas aja.” Ketus Nayeon tanpa menoleh.


“kenapa ga beli langsung aja biar sekalian lihat kondisi tas nya, daripada belanja online belum tentu kondisinya sama dengan yang digambar.” Respon Jeno seraya mengambil paksa ponsel yang tengah digenggam Nayeon, kemudian menscroll nya mencoba melihat beberapa tas yang sebelumnya dilihat oleh Nayeon.


“hmm.. kau sendiri kenapa ada disini, memangnya ga ada kelas?” tanya Nayeon sembari meletakan kepalanya dibahu sang kekasih dengan manja.


“ada sih, cuma dosennya sakit jadi kelas pagi dibubarkan.”


Rihanna sudah kembali tuh.” Celetuk Nayeon yang masih tak ingin beranjak dari empuknya bahu Jeno.


“lalu, aku harus bagaimana?” sahut Jeno seraya meletakan ponsel Nayeon diatas meja dan melirik sesaat ke arah kepala Nayeon.


“jujur saja, hatimu pasti sedikit goyah kan, saat kalian pertama kali bertemu di pernikahan Ahreum, aku melihat kedua matamu yang terus saja melirik ke arahnya bahkan disaat aku berada disampingmu, kau masih saja tak bisa berpaling darinya.”


“aku hanya..”


“hanya apa?” tanya Nayeon yang kemudian kembali menegakan tubuhnya dan beralih menatap lekat wajah kekasihnya tersebut.


“hanya sedikit merindukannya.” Ungkapnya seraya membalas tatapan Nayeon dengan sedikit senyuman yang terukir dibibirnya.


***


Berpindah ke rumah sakit Haneul Jakarta.

__ADS_1


Dan lebih tepatnya diruang inap keluarga Baghaskara, setelah melewati malam yang panjang dan menegangkan, akhirnya Enzy sudah berada diruangannya kembali bersama dengan suami dan juga ayah dari suaminya yang masih setia menemani.


“ayah ke kafetaria dulu ya, kau mau ayah belikan apa?” tanya Darren pada sang putra yang masih terduduk dibangku disamping ranjang istrinya dengan posisi tubuh yang bersandar ke kursi dan kedua tangannya dilipat diatas dadanya, dengan kedua mata yang memerah akibat tidak tidur semalaman.


“ahh, amm..” respon Seno yang terhentak dari tidur sesaatnya.


“nasi saja yah, lauknya apa saja yang ada disana, hoaamm..” Lanjutnya lagi yang diakhiri dengan menguap lalu memijat-mijat kepalanya.


“oke.” Timpal ayahnya kemudian pergi berlalu.


 


Kafetaria.


Saat Darren hendak mendorong pintu kafetaria, disaat yang bersamaan pun ada seseorang yang muncul dari balik pintu kaca tersebut.


“pak Darren.” Sapa  Carrisa yang masih mengenakan jas putihnya seraya menggenggam 1 cup es kopi ditangan kanannya sedangakan tangannya yang lain tengah menarik handle pintu.


“ehh, bu Rissa, tugas pagi bu?” balas Darren lengkap dengan senyuman ramahnya, lalu melepas perlahan dorongan lengannya dari pintu kaca tersebut dan berpindah ke tempat lain agar tidak mengganggu beberapa pengunjung yang tengah berlalu lalang melewati pintu tersebut.


Begitu juga dengan Carrisa, begitu Darren mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kafetaria, ia pun langsung menghampiri kakek Darren ke sisi lainnya untuk sekedar melakukan percakapan singkat sebelum kembali dengan aktivitasnya.


“ahh tidak, pak Darren, sebenarnya saya sudah mau pulang, hehe, habis jaga malam, saya minum kopi biar ga ngantuk aja diperjalanan, soalnya rumah saya lumayan jauh hehe.” Sahutnya dengan nada ramah juga senyuman yang tak pernah memudar dari wajah cantiknya.


“ahh begitu yaa.”


“iya pak Darren, ah iya, sepertinya saya juga masih belum bisa menjenguk Enzy pagi ini, bisa tolong sampaikan salam saya pada Enzy ya pak.”


“ah iya tidak apa-apa bu Rissa, menantu saya juga pasti mengerti.” Respon Darren yang langsung direspon sebuah senyuman manis dari Carrisa.


“amm, bu Rissa.” Ucap Darren kembali setelah beberapa saat hening.


“iya pak Darren.” Respon Carrisa.


“terimakasih karena sudah memperlakukan Ahreum dengan baik, dan untuk ke depannya tolong jaga cucu saya Ahreum ya bu Rissa, saya mohon bantuannya. Dan sepertinya ini juga pertemuan terakhir kita, karena saya harus kembali ke Amerika.” Lanjut kakek Darren.


“ahh begitu ya, iya baik pak, pak Darren tidak perlu khawatir, saya sudah mengganggap Ahreum sebagai putri saya sendiri kok, karena dari dulu juga saya sebenarnya ingin punya seorang putri, tapi mau bagaimana lagi takdir berkehndak lain.” Timpal Rissan, dengan sedikit curhatan diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Bersambung...


*** 


__ADS_2