
“apa kau juga melihatnya?” tambah Ansell lagi setelah menambahkan beberapa lauk pauk ke dalam piringnya.
“melihat? Siapa?” tanya Ahreum disela kunyahan pertamanya.
“wanita bergaun hitam yang memegang bucket bunga.” Jelasnya.
“he’emm, kenapa memangnya?” jawab Ahreum.
“bukankah dia terlihat seperti..”
“wanita yang kau selamatkan digedung tua itu.” potong Ahreum.
“apa kau berfikir itu dia?” tanya Ansell lagi dengan raut wajah ragunya.
“he’em.. kenapa?
Kau fikir dia hantunya Ilona? Hahhaaaa!! Kau konyol sekali.” Celetuk Ahreum disela kunyahannya.
“tidak.. kukira itu hanya ilusiku saja.” Sahut Ansell sendu.
“jika dia ilusimu, mana mungkin aku bisa melihatnya kan?
Sudahlah, berhenti memikirkannya, dia hanya bagian dari masa lalumu Ansell. Seharusnya kau hanya fokus padaku bukan? karena aku adalah masa depanmu hehee. Jika kau masih terus melihat ke belakang, mungkin aku akan memikirkan kembali tentang janjiku untuk tetap bersamamu.” Ancam Ahreum yang kemudian tersenyum dalam sorot mata tajamnya.
“apa kau sedang dekat dengan seseorang?” tebak Ansell kemudian menghentikan aktivitas mengunyahnya sejenak untuk membalas tatapan istri mungilnya tersebut.
“amm.. mungkin iya mungkin juga tidak hehee.” Jawabnya ambigu hingga membuat Ansell mengangkat 1 alisnya.
“aku akan jujur padamu, memang ada seorang pria yang mencoba mendekatiku, dia pria yang baik, dan penuh kelembutan dalam setiap tutur kata maupun tindakannya.” Tutur Ahreum seraya masih terus mengunyah makan malamnya.
“Aku mengenalnya sehari sebelum pernikahan kita, ku akui aku memang menyukainya, tapi akal sehatku terus berkata jika itu tidak benar. Meskipun pernikahan kita berlandaskan perjodohan bukan berarti aku bisa mengkhianatimu.
Aku sudah berusaha mengontrol perasaanku sejauh ini Ansell dan tetap melihat ke arahmu. Tapi jika kau terus mendorongku pergi seolah tak membutuhkanku, apa yang harus aku lakukan?” lanjut Ahreum, seraya kembali menciduk sup ayam ke dalam piringnya.
“Tahukah kau cinta segitiga yang paling terburuk?
Cinta segitiga dengan wanita diingatan pria. Jika wanita itu nyata, aku bisa saja mencarinya dan meminta dia untuk pergi dari kehidupanmu dengan berbagai cara. Tapi jika dia terkunci diingatanmu, bagaimana aku bisa mengalahkannya?” ungkap Ahreum panjang lebar seraya menatap lekat kedua manik suaminya sejenak sebelum kembali melahap makan malamnya.
__ADS_1
“maafkan aku..” gumam Ansell pelan seraya menundukan kepalanya karena merasa tak sanggup menatap kedua mata Ahreum secara langsung setelah mendengarkan curahan hati istrinya itu.
“aku mengerti bagaimana perasaanmu, melupakan seseorang yang telah lama bersama bukanlah hal yang mudah. Tapi.. apa kau akan terus hidup seperti ini Ansell?
Aku tahu kau masih menyimpan semua barang peninggalan Ilona disuatu tempat, kau tidak berniat membuangnya. Pakaian, tas, sepatu, perhiasan dan juga make up, dimana kau menyembunyikannya?
Kau tak akan pernah bisa benar-benar melupakannya jika kau saja enggan untuk menutup pintu masa lalumu.” Tambahnya lagi dengan penekanan disetiap kalimatnya.
“oke.. oke aku mengerti, maafkan aku. Aku yang salah karena tak benar-benar berusaha keluar dari bayangan masa laluku.” Ucap Ansell seraya meletakan alat makannya kemudian meraih lengan Ahreum dan mengusap punggung tangannya lembut.
“btw.. kurasa kau harus berhenti makan. Kau sudah menghabiskan 1 mangkuk sup ayam Ahreum, cumi goreng dan tumis tofu. Perutmu bisa sakit nanti.” Lanjut Ansell kala dirinya tersadar jika semua lauk pauk yang ada diatas meja sudah hampir habis oleh istrinya sendiri.
“tanggung tinggal sedikit lagi.” Kekeuh nya yang kemudian mempercepat lahapannya karena merasa sudah selesai dengan keluhannya pada Ansell.
Ansell hanya bisa menggeleng kepalanya dan terkekeh melihat tingkah laku istrinya yang berbeda sekali dengan gadis-gadis lainnya.
Jika gadis-gadis lain mungkin akan menjaga cara makan dan porsi makannya, berbeda dengan Ahreum, ia hanya menjadi dirinya sendiri dan selalu melakukan apa yang dirinya inginkan.
“ahh iya, aku punya banyak simpanan ponsel dilemari. Tapi jika kau mau brand yang lain aku akan menstransfer uangnya ke rekeningmu. Kau bisa membelinya sendiri atau minta Abi untuk membelikannya.” Ucap Ansell seraya membereskan alat makannya lalu meraih gelas yang sudah berisikan air mineral dan meneguknya sampai habis.
“tidak perlu, aku akan memakai ponsel yang ada aja.” Sahut Ahreum setelah melahap suapan terakhirnya.
Apa yang akan kau lakukan besok?” tanya Ansell yang kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menuju wastafel membawa piring dan alat makan yang kotor.
“amm.. masih belum ada tujuan.” Responnya seraya membereskan alat makannya kemudian menyandarkan tubuhnya disandaran kursi selagi mulutnya sibuk mengunyah suapan terakhirnya.
“kenapa memangnya?” lanjut Ahreum yang kemudian meraih gelas yang berisikan air mineral untuk membantu makanannya tercerna dengan baik.
“tidak, hanya aja. Kalau mau main dengan teman-temanmu, pulangnya jangan malam-malam.” Kata Ansell seraya berjalan kembali meja makan dan mengambil piring kotor milik Ahreum.
“biar aku aja yang mencucinya.” Seru Ahreum seraya beranjak dari kursinya kemudian berjalan cepat menyusul Ansell menuju wastafel.
“tidak.. tidak..”
“eeuuuu!!!” Ahreum bersendawa yang membuat Ansell sedikit terkejut hingga meliriknya dengan tatapan aneh. “hehehee.” Melihat tatapan julid Ansell, Ahreum hanya membalasnya dengan cengiran yang membuat Ansell kembali menggeleng kepalanya.
“ayoolah aku juga ingin membantu.” Rengek Ahreum seraya menggesek-gesekan pipinya dilengan kekar Ansell.
__ADS_1
“bereskan aja meja.” Perintah Ansell yang kemudian memulai kegiatan mencuci piringnya.
“ciihh.. padahal aku pengennya disini bersamamu.” Dumelnya pelan seraya melongos pergi dari samping Ansell.
***
Keesokan harinya.
Di aparteman Rihanna.
Waktu menunjukan pukul 10:00 tepat, tampak sang mentari pun sudah hampir menguasai dunia dengan sinarnya yang semakin terik.
Setelah menemani Nayeon berbagi cerita sampai tengah malam pada akhirnya gadis malang itu pun bisa tertidur lelap pada pukul 03:00 pagi, karena saking lelahnya menangis dan meracau.
“ayoo bangun Nay, sudah siang.” Seru Hanna yang baru saja masuk ke kamar setelah menyegarkan tubuhnya dengan beberapa guyuran air dikamar mandi.
Karena Nayeon masih juga tak bergeming, ia pun berjalan lebih mendekat kemudian menepuk-nepuk bokong Nayeon lembut.
“Nay.. ayoo bangun! Kau mau sarapan apa?” kata Hanna lagi dengan meninggikan nada suaranya.
“ahhh.. aku tidak memiliki nafsu makan.” Balas Nayeon malas seraya mengibaskan tangannya tanda jika ia tidak ingin diganggu.
“aiisshh.. Cepat bangunn!! Hatimu boleh kosong tapi tidak dengan perutmu!!” seru Hanna seraya mencoba mengangkat tubuh Nayeon.
“kau mau apa biar ku pesankan sekarang!” tambah Hanna yang masih berusaha keras membuat tubuh Nayeon beranjak dari ranjangnya.
“tumis babi..” celetuk Nayeon dengan wajah datarnya.
***
Area pemancingan xxx.
Tampak Jeno dan Bennedict yang sudah nangkring dikursi yang berada ditepian sungai. Begitu memastikan keberadaan karib dan kakaknya ia pun lantas bergegas menghampiri mereka berdua.
“sejak kapan kau suka memancing?” sapa Ahreum begitu ia mendudukan bokongnya dikursi yang berada diantara Jeno dan Bennedict yang memang sebelumnya sudah dipersiapkan untuk dirinya.
Ahreum pun menatap lekat ke arah Jeno yang tengah bersandar dikursinya selagi menunggu pancingannya bereaksi.
__ADS_1
“aku hanya menemani kak Ben aja.” Sahutnya santai seraya memasukan kedua tangannya ke dalam jaket tebalnya karena memang suasana disana sangat dingin sampai jika kita bicara ada asap tebal yang keluar dari mulut.
Bersambung...