
Dooorrrr!!! Benar saja, bunyi tembakan itu pun terdengar nyaring begitu keduanya telah berhasil menghindari saat-saat kritis.
Melihat itu Ansell pun lantas melepas paksa pelukan wanita bergaun putih berlumur darah itu, kemudian bergegas menuju keberadaan istri dan kakak iparnya.
“kau baik-baik saja, Ahreum?” tanya Ansell seraya menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Ahreum.
“pertanyaan yang bodoh! Bagaimana dia bisa baik-baik saja disaat dirinya hampir tertembak!” geram Bennedict seraya bangkit dari duduknya.
“MEREKA MASIH ADA DILUAR, CEPAT TANGKAP!” perintah Bennedict pada anak buahnya.
“tetap disini, kakak yang akan mengantarmu pulang!” tegas Bennedict pada Ahreum yang masih terduduk dibawah dengan tatapan kosongnya sebelum ia pergi menyusul anak buahnya yang berlarian keluar untuk menangkap sang penembak itu.
Melihat Ahreum yang tampak terkejut dengan hal mengerikan yang baru saja menimpanya, Ansell pun lantas membawa tubuh mungil Ahreum ke dalam dekapannya seraya mengusap bagian kepala belakang Ahreum dengan lembut.
“maafkan aku Ahreum..” gumam Ansell penuh penyesalan sebab untuk sesaat ia telah dibutakan oleh seorang wanita yang bahkan tak jelas identitasnya.
Sementara itu tak jauh dari keberadaan Ansell dan Ahreum, wanita tersebut tampak tengah memperhatikan sepasang suami istri itu dengan tatapan tajamnya seolah ia tak suka jika lelaki yang baru saja dipeluknya kini malah pergi ke wanita lain.
“ayo nona, ambulannya sudah datang.” ucap Bianca yang telah kembali bergabung, ia pun mencoba merangkul wanita bergaun putih tersebut dan mencoba mengajaknya berjalan, namun wanita itu menepisnya secara kasar dan malah berlari kecil kearah Ansell.
“kau bisa menemaniku ke rumah sakit? Aku takut jika meraka akan kembali dan membawaku lagi.” Katanya lengkap dengan raut wajah memelasnya.
“maaf, tapi kau bisa mengandalkan polisi untuk hal itu.” sahut Ansell yang kemudian membantu Ahreum untuk berdiri.
“aku mohonn aku sangat takut sekali!” lirihnya seraya memegangi erat lengan Ansell serta kedua matanya yang hampir mengeluarkan bulir air mata membuat bagian kecil dari diri Ansell kembali goyah.
Bukan, bukan karena air mata itu atau rasa simpatinya melihat kondisi tragis tubuh wanita tersebut, melainkan karena wajah itu, iya parasnya yang mengingatkannya kembali pada wanita yang pernah sangaat dicintainya selama bertahun-tahun lalu.
Sehingga membuat pertahanan dirinya pun runtuh dalam sekejap, kemudian ia pun perlahan melepaskan genggaman tangan mungil istrinya dengan pandangan yang mengarah pada wanita misterius itu seakan tengah mencoba menimbang-nimbang apa yang harus dirinya lakukan disituasi seperti ini.
“kumohonn, aku sudah tak tahan, luka ini sangat menyakitkan..” lirih wanita itu seraya mengeratkan genggaman tangannya berharap jika Ansell akan memilih dirinya.
Ansell mengarahkan pandangannya pada istrinya untuk sesaat kemudian menepis genggaman wanita bergaun putih itu dan kembali beralih pada Ahreum yang masih terdiam tak bersuara.
“ayo kita pergi bersama.” Ajak Ansell seraya memegangi kedua bahu Ahreum dan menatapnya lekat.
“tidak, aku akan pulang saja.” Ucap Ahreum seraya melepas kedua tangan Ansell dari bahunya.
“aargghh..” ringis wanita itu seraya memegangi bagian pinggang yang dipenuhi rembesan darah kemudian tak sadarkan diri seketika, membuat Ansell terkejut lalu kembali beralih padanya.
Sedangkan Ahreum hanya bisa terdiam dan memandangi hal yang sangat menyakitkan bagi hatinya tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
Ansell bergegas mengangkat wanita tersebut lalu menggendongnya ala bridal dan pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang masih berdiri tak bergeming.
Tak lama setelah kepergian Ansell dan wanita bergaun putih tersebut, Bennedict pun datang menghampiri adiknya yang tengah berjalan sendirian.
“dimana Ansell? kenapa kau sendiri?!” tanya Bennedict seraya memandangi wajah adiknya yang sendu setelah ditinggal pergi sang suami karena lebih memilih wanita bergaun putih tersebut.
Ahreum hanya tersenyum ke arahnya tanpa berkata apa-apa.
“apa dia sudah gila! Berani sekali..” pekik Bennedict seraya hendak menyusul kemana Ansell pergi, namun tentu saja Ahreum tak menginginkan hal itu terjadi, Ahreum menahan lengan Bennedict dan menggeleng kepalanya.
“aku lelah kak, bisa kau menggendongku?” ucapnya lengkap dengan senyum getirnya.
Bennedict pun menghela nafas kasarnya untuk sekedar meredam amarahnya. Sebelum memutar tubuh dan menurunkan tubuhnya agar Ahreum bisa naik ke punggungnya.
“apa kau mengenal wanita tadi?” tanya Benn ditengah perjalanannya keluar dari gedung.
“tidak.” Sahut Ahreum pelan.
“lalu apa Ansell mengenalnya?” pertanyaan itu terus berkembang, karena Bennedict merasa ada yang tidak beres disini.
“tidak.” Katanya lagi yang membuat dahi Bennedict berkerut.
“lalu kenapa dia begitu perduli pada wanita itu, bahkan sampai meninggalkan istrinya sendiri?! Kakak rasa dia bukan tipe lelaki seperti Jeno.” geram Bennedict yang tak terima dengan perlakuan adik iparnya itu pada adik perempuannya.
“wajah?” ulang Benn karena Ahreum menghentikan kalimatnya sejenak.
“wajah itu sangat mirip sekali dengan mantan kekasihnya yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Mungkin itu yang membuatnya tak bisa mengabaikannya. Kurasa dia bukan hanya sekedar mirip, Ilona benar-benar seperti bangkit kembali.” Cerita Ahreum panjang lebar seraya menggesek-gesekan pipinya dibahu Bennedict untuk mencari posisi ternyamannya.
“omong kosong macam apa itu, mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali.” Celetuk Bennedict seraya menarik handle pintu mobilnya, kemudian memutar tubuhnya dan mendudukan adiknya dikursi mobil.
“dimana kedua temanku?” tanya Ahreum begitu terduduk dikursinya.
“biar saya yang nyetir, kau duduk dibelakang saja Bianca.” Perintah Bennedict pada anak buahnya yang telah siap menghidupkan mesin mobilnya.
“baik pak.” Sahut Bianca seraya bergegas keluar dari mobil dan pindah ke kursi belakang.
Begitu Bianca pindah ke kursi belakang, Bennedict pun menutup pintu mobil sebelum menarik langkah menuju kursi pengemudi.
“Rihanna dan Nayeon ada di mobil Abi, kau tak perlu khawatirkan mereka, kau khawatirkan dirimu sendiri aja.” Kata Bennedict yang kemudian menyalakan mesin mobil dan bersiap melajukan kendaraannya.
“nona yakin gak akan kerumah sakit dulu, saya rasa luka ditubuh nona juga cukup serius dan butuh perawatan lebih internsif.” Ujar Reno seraya menyembulkan kepalanya dari belakang.
__ADS_1
“aku baik-baik aja kok kak Reno. Makasih sudah mengkhawatirkanku.” Sahut Ahreum dengan senyum manisnya diakhir.
“duduk yang benar!” tukas Bennedict seraya mendorong kepala Reno ke belakang dan menjauhkannya dari adik kesayangannya itu.
“eyyyt, masih saja kaku seperti itu, kita kan sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, kita sudah jadi temankan nona Ahreum.” tambahnya seraya kembali menyembulkan kepalanya agar bisa melihat wajah Ahreum dengan jelas.
“i.. iyaa.. hehe.” Respon Ahreum.
“kembali ke tempatmu Reno!” tegasnya lengkap dengan lirikan mautnya, sebab ia sensitive sekali jika ada lelaki yang ingin menggoda adik perempuannya.
“oke.. okee.. huhh, galak banget sih.” celetuknya seraya menarik tubuhnya dan duduk dengan tenang dipojokan.
“sssttt, diamlah, kau hanya membuat nona Ahreum merasa tidak nyaman.” Timbrung Sanchez yang duduk ditengah, diantara Bianca dan Reno.
“hhehe, engga kok kak Sanchez, aku ga pernah merasa tidak nyaman berada didekat kalian. Sekali lagi terimakasih ya sudah menemukan kami dan menyelamatkan kami bertiga.” Respon Ahreum seraya menengok ke belakang lengkap dengan senyuman ramahnya.
Mendengar keluhan anak buahnya itu Bennedict hanya bisa berdecak kesal serta menggelengkan kepalanya kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan didepannya.
“sudah jangan ramah-ramah pada mereka, nanti baper lagi mereka.” sambar Bennedict seraya membenarkan posisi wajah Ahreum untuk mengarah lurus ke depan kembali.
-----
“bukannya kita akan mengantar nona Ahreum dulu ke kediamannya pak, kok malah ke kantor polisi?” ucap Bianca seraya memandangi jalanan dari balik jendela mobil.
“kalian bertiga pergi lebih dulu aja, mulai proses introgasi, saya akan menyusul setelah mengantar adik saya.” Ujar Bennedict seraya menghentikan laju mobilnya didepan pintu masuk utama kantor polisi.
“baik pak!” seru ketiga bawahannya yang kemudian langsung bergegas keluar dari mobil.
***
Sesampainya di baseman aparteman tempat tinggal Ahreum dan juga Ansell. Bennedict pun turun terlebih dahulu dan segera bergegas menuju pintu lainnya untuk membukakan pintu.
“aku bisa berjalan sendiri kok kak, lebih baik kakak pergi aja.” Ucap Ahreum yang tengah melepas safety beltnya.
“tidak, kakak akan menggendongmu sampai ke aparteman.” Kekeuh Bennedict.
Ahreum hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian turun dari mobil.
Beep.. beep.. suara pintu mobil terkunci, Bennedict memutar tubuhnya kemudian menurunkannya seperti yang dilakukannya sebelumnya agar Ahreum bisa dengan mudah naik ke punggungnya.
“ada yang ingin kakak katakan?” gumam Ahreum pelan namun terdengar jelas sekali ditelinga Bennedict.
__ADS_1
“2 lelaki yang sekarat diruangan tempat kalian disekap, itu perbuatanmu kan, Ahreum?!” tebak Bennedict.
Bersambung...