
Malam harinya.
Aparteman Rihanna, ketika Rihanna membuka pintu apartemannya, dia sudah mendapati Nayeon tengah berdiri disamping kaca jendela ruang tamu sembari menggenggam segelas wine. Ia menatap kemunculan pemilik aparteman tersebut serta kekasihnya yang berada 1 langkah dibelakangnya.
“Apa yang kau lakukan disitu?” tanya Rihanna seraya berjalan mendekati Nayeon yang terlihat tidak baik-baik saja.
“kau sendiri, habis darimana?” Nayeon malah nanya balik dengan tatapan tajamnya seakan menyiratkan sesuatu yang membuat Rihanna mengerutkan dahinya.
“bukankah aku sudah bilang sebelumnya, aku pergi liburan bersama kak Abi, kenapa?
Kau marah karena aku tidak mengajakmu,” tebak Rihanna, ya setidaknya alasan itulah yang bisa difikirkannya ketika melihat raut wajah penuh amarah Nayeon.
“Ciihhh!!
Sudah cukup aku dicampakkan oleh Jeno, haruskah kalian membuangku juga!!” pekik Nayeon seraya melempar gelas yang tengah digenggamnya ke sembarang arah hingga membuat suara pecahan yang begitu nyaring ditelinga.
Bergeges Abi bergabung diantara keduanya kemudian memundurkan tubuh Rihanna, takut jika tiba-tiba Nayeon hilang kendali dan menyerangnya.
“tenanglah, apa maksudmu Nay?!” timpal Rihanna yang kemudian mendorong sedikit tubuh Abi agar dirinya bisa melihat dengan jelas wajah berapi-api Nayeon.
“Apa aku tidak ada artinya bagi kalian berdua hah?!
Apa karena kini kau sudah kembali, Ahreum pun membuangku begitu saja?!
Selama ini aku hanya diam saja, ketika kau dan Ahreum merencanakan sesuatu dibelakangku, aku seperti orang bodoh saat kalian membicarakan hal yang tak ku ketahui, tapi bukankah ini sudah keterlaluan?!
Bagaimana mungkin kau menyembunyikannya dariku saat Ahreum terluka parah sampai masuk ke rumah sakit!!
Apa aku juga tak boleh berada disana dan menemaninya?! Kalian berdua benar-benar jahat sekali, kau tahu!!
Jika menginginkan aku pergi seharusnya kalian katakan saja, tak perlu bersikap sejahat ini padaku, seolah aku hanya sebuah patung yang tak berarti bagi kalian berdua.
Tidakah cukup hanya Jeno yang menyakiti diriku, haruskah kalian juga melakukan hal yang sama,” sembur Nayeon, ia menumpahkan semua uneg-uneg yang selama ini hanya dipendamnya.
“tidak, bukan begitu Nay, tolong dengarkan aku dulu!” bantah Rihanna yang mencoba mendekati Nayeon, namun Abi keburu menghentikannya lantaran takut ada serpihan gelas yang berserakan diarea Nayeon berdiri.
“nona sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik oke, jangan…”
“KAU JUGA SAMA!! bukankah sudah ku bilang hanya panggil namaku saja, apa kau masih tak menganggapku sebagai temanmu!!” serang Nayeon kembali yang kini beralih menatap tajam mata Abi.
“Aiisshh!” dengus Rihanna seraya menyikut kasar lengan Abi karena bukannya meredakan amarah Nayeon yang tengah meledak-ledak, ia malah menambah kemarahannya.
“I.. iya.. maaf Nay, maaf karena aku belum terbiasa, aku janji akan…,”
“Sudah cukup!!
Baik!! Aku akan pergi darisini, dan dari kehidupan kalian juga, terimakasih untuk semua yang kau lakukan untukku selama ini,” tandas Nayeon yang kemudian menarik langkah cepat, namun baru saja 2 langkah ia tiba-tiba meringis kesakitan karena tak sengaja menginjak serpihan gelas, hingga membuat Rihanna dan Abi pun panik.
“Aduuhh!! Hikksss….”
__ADS_1
“Nay!! Cepat bawa dia ke sofa,” perintah Hanna pada kekasihnya.
Abi pun langsung mengangkat tubuh Nayeon dan membawanya duduk di atas sofa.
“Arrgghhh!!” ringis Nayeon sembari memegangi kakinya lantaran pecahan beling it uterus menyengat telapak kakinya.
Rihanna terduduk dilantai sembari memperhatikan kedua kaki Nayeon yang mulai dipenuhi rembesan darah segar.
“tolong bawakan pinset, piring kecil dan air panas,” perintah Rihanna kembali pada kekasihnya masih dengan tatapan fokusnya pada kedua kaki karibnya.
“tidak perlu!
Aku bisa mengatasinya sendiri,” pekik Nayeon yang masih merajuk pada Rihanna.
“Kau tahu kan kesabaranku setipis tissue dibagi 2 Nay, jika kau berontak, aku akan mematahkan kakimu, mengerti!” balas Rihanna yang tak kalah ganasnya hingga membuat nyali Nayeon seketika menciut.
PLAAKK!! Setelah beberapa detik hening, entah apa yang Nayeon fikirkan, tangannya menggeplak kepala Rihanna hingga membuat Rihanna terdorong ke belakang.
“HHehheee!!” melihat karibnya yang tersungkur ke belakang membuat Nayeon tertawa lantang ditengah dengusan kesal Rihanna yang mencoba kembali bangkit.
“Oke, aku akan membiarkanmu kali ini,” kata Rihanna seraya kembali meraih telapak kaki Nayeon untuk mengecek area mana saja yang tertancap serpihan gelas.
“hanya kali ini?” sahut Nayeon dengan muka songongnya.
“Iyalah! Kau fikir aku akan membiarkannya jika kau melakukannya lagi!” geram Rihanna seraya mengangkat wajahnya dan menatap tajam karibnya yang masih cengengesan itu.
“Oke terimakasih,” respon Rihanna yang kemudian mengalihkan perhatiannya pada sebuah wajan yang berisikan semua kebutuhan Rihanna, yaitu mangkuk berisikan air panas, pinset, dan sebuah piring kecil untuk menaruh serpihan gelas yang sudah dikeluarkan dari telapak kaki Nayeon nantinya.
“Ahh iya, aku tak menemukan kotak P3K, dimana kau menaruhnya?” tanya Abi yang kembali bangkit setelah meletakan wajan disamping tubuh Rihanna.
“Aku menaruhnya dilaci meja riasku,” katanya seraya meraih pinset kemudian mencelupkannya ke dalam air panas sebelum ia gunakan untuk mencabut serpihan gelas yang menusuk telapak kaki gadis malang yang sedari tadi terlihat meringis kesakitan.
“Ahh, oke.” Respon Abi yang kemudian kembali masuk ke dalam kamar setelah mendapat pencerahan mengenai keberadaan kotak P3K yang tak berhasil ditemukannya beberapa saat lalu.
“Arrrgh!!” ringis Nayeon kala serpihan-serpihan gelas tersebut ditarik perlahan oleh Rihanna.
“gausah manja, kau sendirikan yang membuat ulah,” ketus Rihanna disela aktivitasnya.
PLAAKK!! Lagi-lagi dengan santainya Nayeon menggeplak kening Rihanna hingga membuat dirinya kembali terdorong ke belakang.
“YAK! APA KAU SUDAH GILA?!” sentak Rihanna yang sudah mencapai batasnya.
“Sssstttt! Sudah malam, kau akan membangunkan tetangga di unit sebelah,” ucap Abi yang keluar dari kamar lalu kembali bergabung diruang tamu bersama keduanya, dengan membawa kotak P3K.
“Hhheheee!!” bukannya takut dengan amarah karibnya ia malah terlihat tertawa kegirangan.
“Aiiisshhh! Sial!” umpat Rihanna yang kembali pada posisinya dan melanjutkan aktivitasnya meski sudah berulang kali diperlakukan kasar oleh karib yang menjengkelkan itu.
“Kau sudah makan?” tanya Abi seraya mengarahkan pandangannya pada Nayeon.
__ADS_1
“Belum, karena Hanna bilang mau pulang hari ini, jadi aku menunggu kalian datang untuk makan bersama,” sahut Nayeon seraya membalas tatapannya.
“Kau belum makan dari pagi?” timpal Rihanna yang kemudian beralih mengambil kotak tissue yang berada diatas meja, dilanjut dengan mengambil beberapa lembar tissue kemudian mencelupkannya ke dalam air yang sudah tidak terlalu panas dan mentap-tap kannya ke telapak kaki Nayeon, guna membersihkan noda darah yang menempel dikulitnya.
“Iya,” jawab Nayeon.
“Oke, kalau begitu aku akan memasak, ada bahan makanan kan didapur?” lanjut Abighail, ingin memastikan lebih dahulu sebelum menarik langkah ke dapur.
“He’em, tadi pagi Franky belanja bahan makanan, mungkin dia sudah menaruhnya dilemari pendingin,” sahut Nayeon lagi.
“Oke,” respon Abi yang kemudian bergegas menuju dapur untuk memasak makan malam.
“Franky ngga memasak untukmu tadi pagi?” tanya Rihanna lagi.
“tidak, dia harus bergegas menemui adiknya, katanya mau ngurus administrasi kuliah adiknya,” sahut Nayeon seraya menyandarkan punggungnya ke bantal kursi.
“Ahh gitu, dimana dia kuliah?” Rihanna mencoba mengembangkan percakapan diantara keduanya.
“di Universitas xxx kudengar dia sangat pintar sampai mendapat beasiswa penuh,” papar Nayeon.
“ehh.. tunggu, kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu, kita kan lagi slek!” sambung Nayeon yang kembali dengan nada merajuknya.
“Aissshh!! Kamvret!!” umpat Rihanna sepelan mungkin sembari meredam amarah yang nyaris tak terkendali.
Usai membersihkan noda darah, Rihanna berpindah meraih salep dan mengoleskannya ke telapak kaki Nayeon.
“Nay..” panggil Rihanna lembut.
“hemm..” Nayeon menanggapinya dengah dehaman.
“Apa kau sangat menyayangi Ahreum?” tanya Rihanna seraya mengangkat wajahnya dan menunggu respon yang diberikan Nayeon.
“pertanyaan macam apa itu?
Tentu saja aku menyayanginya, aku sudah berteman dengannya selama bertahun-tahun, bahkan aku sudah menganggap dia sebagai kakak perempuanku sendiri,” kata Nayeon penuh percaya diri seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.
“Bagaimana Ahreum menurutmu?” Rihanna kembali mengajukan pertanyaan yang membuat Nayeon tampak kebingungan.
“Ya.. ya dia baik, dia gadis yang ceria, supel, mudah bergaul dengan siapapun, dia bahkan rela mengorbankan perasaannya sendiri saat aku berkencan dengan Jeno, yang jelas karakternya jauh lebih baik darimu,” tutur Nayeon dengan diakhiri sindiran pedas untuk Rihanna.
“Tapi Nayeon…,
Lamanya waktu yang kau habiskan bersama dengan seseorang, tidak selalu menjamin kau sudah mengenalnya dengan baik, terkadang dia hanya akan menunjukan sisi yang ingin ditunjukan padamu saja.
Bukan karena dia masih belum mempercayaimu atau kau tidak berharga baginya, hanya saja…, mungkin dia takut kehilanganmu begitu kau mengetahui sisi lainnya yang tak pernah ia tunjukan padamu,”
...****************...
Bersambung...
__ADS_1