
Sebelumnya diaparteman Bougenville.
Ahreum keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan mengganti piyamanya dengan setelan casual seperti biasanya. Kaos oversize berwarna merah muda dengan tulisan Dynamite ditengahnya dan celana rok berwarna cream yang menjadi bawahannya.
Tak lupa juga ransel kecil yang sudah melekat dipunggungnya sebagai tempat dari tisu, dompet dan ponsel barunya.
“nona Ahreum mau kemana sampai bawa jaket tebal segala?” tanya bi Ijah kala melihat Ahreum keluar dari kamarnya dengan jaket tebal yang ia taruh sementara dilengannya.
“ahh ini.. aku mau ke area pegunungan bi, mau menemani kakakku memancing. Katanya disana dingin sekali, jadi aku bawa jaket tebal aja untuk jaga-jaga.” Katanya seraya berjalan santai menuju dapur.
Sementara itu bi Ijah terlihat sibuk sekali tengah menyusun hidangan diatas meja.
“bibi sudah sarapan?” tanya Ahreum begitu ia duduk dikursinya setelah meletakan ransell dan jaket tebalnya di kursi yang lain.
“sudah nona, sebelum datang kemari bibi pasti sudah mengisi amunisi hehe, terimakasih atas perhatiannya nona.” Ucap bi Ijah lembut seraya membalikan piring Ahreum agar Ahreum bisa memulai sarapan paginya.
“Ansell sudah berangkat ya?” tanya Ahreum lagi ditengah aktivitasnya menciduk nasi ke dalam piringnya.
“iya sudah nona, jika ingin sarapan dengan tuan Ansell seharusnya nona bisa bangun lebih pagi. hehehee.” Ujar bi Ijah yang masih berdiri ditepian meja dengan menautkan kedua tangan didepannya.
“ahh itu hahahaa.. Jika sedang libur kuliah aku memang jarang bangun pagi. Bibi duduk aja, jangan berdiri terus begitu.” Kata Ahreum lagi seraya menarik kursi yang berada disebelahnya untuk mempersilahkan bi Ijah duduk.
“ahh tidak nona, sebaiknya bibi mulai bekerja sekarang. Selamat menikmati sarapannya nona. Ahh iya, nanti jika sudah selesai, nona bisa tinggalkan saja biar bibi yang akan membereskannya.” Ucap bi Ijah seraya mendorong kembali kursi ke tempat semula kemudian pamit pergi dari tempatnya dan berjalan pergi ke ruang tamu.
“hmm.. oke.” Sahut Ahreum.
Selang tak berapa lama, ponsel Ahreum yang berada dalam ranselnya berdering hingga membuat pandangannya langsung beralih pada ransel yang berada disampingnya itu.
Ia pun menaruh sejenak alat makannya dan mencoba meraih ransel untuk mengeluarkan ponsel yang masih berdering itu.
“halo.” Sapa Ahreum santai disela kunyahannya.
“Ahreum, kapan kau akan kemari?
Kau membiarkan aku mengurus gadis yang tengah patah hati ini sendirian, waahh kau tega sekali.” Gerutunya begitu telfon tersambung ia pun langsung menyampaikan keluh kesahnya.
“tidak bisa sekarang, aku mau menemui kakakku dulu.”
“yak! Apa kakakmu lebih penting sekarang? Disini ada temanmu yang sekarat kau tau.”
__ADS_1
“tentu kakakku lebih penting, hanya orang bodoh yang mempertanyakan hal itu. Lagipula kakakku juga butuh penghiburan, kau tahu alasan Jeno mengakhiri hubungannya dengan Nayeon.”
“sudah pasti karena ada wanita lainnya lagi kan! memangnya apa lagi.”
“orang tua dan kakaknya akan kembali akhir pekan ini. Jeno ingin dia sendiri yang mengakhirinya sebelum ibunya ikut terlibat. Kau tahu kan bagaimana peringai ibunya, bukan hanya sumpah serapah, makian tapi juga dengan tindakan fisik yang bisa saja membuat Nayeon terluka lebih dari sekarang.
Jadi tolong buat Nayeon mengerti dengan situasinya sekarang oke. Hibur Nayeon sebisamu, ku yakin kau pasti bisa mengatasinya.”
***
“ciihh.. menghibur?
Apa dia fikir aku pelawak.” Dumel Hanna begitu sambungan berakhir.
Ia pun meletakan ponselnya ke atas meja, lalu bergegas menuju kamar setelah melakukan percakapan singkat ditelfon dengan karibnya untuk mengecek keadaan karibnya yang tengah dilanda kegalauan tingkat tinggi.
“ayoo bangun Nay, sudah siang.” Hanna berseru diambang pintu sembari menatap lekat ke arah karibnya yang tengah tertidur dengan posisi membelakanginya.
Karena Nayeon masih juga tak bergeming, ia pun berjalan lebih mendekat kemudian menepuk-nepuk bokong Nayeon lembut.
“Nay.. ayoo bangun! Kau mau sarapan apa?” kata Hanna lagi dengan meninggikan nada suaranya.
“aiisshh.. Cepat bangunn!! Hatimu boleh kosong tapi tidak dengan perutmu!!” seru Hanna seraya mencoba mengangkat tubuh Nayeon.
“kau mau apa biar ku pesankan sekarang!” tambah Hanna yang masih berusaha keras membuat tubuh Nayeon beranjak dari ranjangnya.
“tumis babi..” celetuk Nayeon dengan wajah datarnya.
Mereka berdua pun akhirnya keluar dari kamar kemudian berjalan menuju area dapur.
Sementara Nayeon duduk dikursi, Hanna meraih ponselnya kembali untuk mengecek resto online yang menjual babi tumis.
“masih belum ada yang buka Nay, yang lain aja.” Kata Hanna seraya menscroll layar ponselnya untuk terus mencari makanan yang diinginkan karibnya itu.
“bahan-bahan apa yang kau miliki?” tanya Nayeon seraya menatap Hanna yang berdiri ditepi meja.
“kenapa? kau ingin memasak sendiri?” sahut Hanna seraya mengerutkan dahinya kemudian kembali meletakan ponselnya ke atas meja.
“he’em..” Nayeon hanya menanggapinya dengan dehaman sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju lamari pendingin untuk melihat-lihat apa saja yang ada didalam lemari pendingin tersebut.
__ADS_1
“kau yakin?
Seingatku kemampuan memasakmu tidak jauh beda dengan Ahreum.” celetuk Hanna yang langsung dibalas lirikan tajam oleh Nayeon.
“oke.. oke.. kau bebas melakukan apapun, selama tidak membakar apartemanku.” Imbuh Hanna yang akhirnya mengalah dan membiarkan Nayeon melakukan apapun yang diinginkannya.
***
Didalam busway, lebih tepatnya dalam perjalanan Ahreum menuju area pegunungan untuk menemui kakak dan karibnya yang sudah lebih dulu berada ditempat tujuan.
Beruntung kala itu busway tidak terlalu ramai hingga Ahreum pun bisa mendapatkan tempat duduk disamping jendela busway.
Selagi menunggu sampai ke tempat tujuannya Ahreum pun mencoba bersantai dengan menyandarkan tubuhnya ke sudut kursi dan memejamkan kedua matanya sejenak.
Namun tak sampai 5 menit ponselnya berdering hingga membuat dirinya terhentak, kemudian merogoh ponselnya dari dalam ransel yang tengah dipeluknya.
“halo.” Sapa Ahreum seraya membenarkan posisi tubuhnya.
“kau dimana?
Kenapa berisik sekali.” Terdengar suara keluhan yang berasal dari dalam ponsel Ahreum.
“aku dibusway, mau ke pegunungan xxx. Menemani kak Ben yang lagi memancing.” Respon Ahreum.
“bukankah lokasi itu cukup jauh, kau pergi dengan siapa?” tanya Ansell lengkap dengan nada khawatirnya.
“aku pergi sendiri, tapi nanti kan pulangnya pasti diantar kak Ben jadi kau tak perlu khawatir, aku akan pulang sebelum matahari terbenam.” Katanya lagi.
“jika sudah sampai kirimkan lokasimu, aku akan menjemputmu nanti.”
“tidak perlu, kan ada kak Ben.” Kekeh Ahreum seraya melirik ke balik jendela busway untuk memandangi pemandangan disepanjang perjalanan yang dilaluinya.
“kirimkan saja, Ahreum!
Sudah dulu, aku harus menghadiri meeting sekarang. Ingat kirimkan lokasinya.” Tandas Ansell yang langsung mematikan sambungan telfonnya bahkan sebelum Ahreum sempat menanggapinya.
Ahreum hanya bisa menghela nafas kasar seraya memandangi layar ponsel yang sudah berganti ke wallpaper yang bergambarkan foto idolanya Jeon Jungkook BTS dengan pose manyun seolah tengah memberikan sebuah kecupan sexy.
__ADS_1