
Usai Ansell membersihkan tubuhnya, ia pun keluar dari kamar mandi dengan setelan casual seperti celana cargo pendek dan kaos oversize berwarna hitam.
Dengan pandangan tajam dan 1 tangannya yang masih mencoba mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia lagi-lagi dibuat kesal karena istrinya kembali muncul dihadapannya lengkap dengan baki yang berisikan bubur kemudian diletakannya diatas nakas.
Namun kali ini Ansell hanya menghembuskan nafas kasarnya dan tetap berjalan menuju ranjangnya. Tak memperdulikan apa yang dilakukan istri mungilnya itu yang bahkan masih tampak kacau dengan gaun hitam yang dipakainya tadi malam.
“kau sudah mandi. Aku menaruh bubur dan obat disini untukmu.” Ucap Ahreum disertai senyum getirnya.
Ansell tak menjawab ia hanya terduduk dipinggir ranjang lalu meraih ponselnya yang diletakan disamping bantal.
Perlahan Ahreum mendekat dan berdiri dihadapan Ansell, lalu mencoba mengambil alih aktivitas Ansell yang tengah mengosok-gosok handuk kecil dirambutnya dengan 1 tangannya.
Meski awalnya ragu karena takut Ansell ngamuk lagi, namun kali ini ia tampak lebih tenang, ia pun membiarkan Ahreum mengurus rambut basahnya, sedang ia tengah fokus pada layar ponselnya.
“Apa kau tak memiliki harga diri Ahreum.” gumam Ansell disela kesibukannya mengutak-atik layar ponselnya.
Ahreum menghentikan gerakan tangannya untuk sesaat kala mendengar kalimat tersebut. Kemudian melanjutkan kembali seolah tidak ada yang terjadi.
“kau fikir bisa menggoyahkan diriku hanya dengan kau tetap diam dan menerima perlakuan kasarku. Tidak.. rasa belas kasihku sudah tidak ada untukmu.” Lanjut Ansell dengan penekanan disetiap tutur katanya.
“Aku hanya melakukan tugasku sebagai istri.” Respon Ahreum yang tetap berusaha menguatkan dirinya.
“Sekasar apapun perlakuanmu, atau seberat apapun jalanan yang ku lalui untuk bisa bersamamu. Meski jalanan itu dipenuhi ladang ranjau sekalipun aku akan tetap melewatinya.” Tutur Ahreum kembali yang malah membuat Ansell terkekeh dan menurunkan ponselnya lalu menatap kedua mata istrinya yang kemerahan lantaran terlalu banyak menangis.
“Apa?!
Ladang ranjau? Hahaaa.. kau pandai sekali merangkai kata-kata membuat orang terlena dengan ketulusan palsumu. Sudah cukup, sebaiknya kau pergi.” Ansell menepis kasar kedua tangan Ahreum dari kepalanya.
“baik. Kuharap kau makan buburnya meski aku tak yakin rasanya akan sama seperti yang bi Ijah buat, tapi setidaknya kau harus makan untuk meminum obatmu.
Jika kau membutuhkanku, aku ada diluar.” Ucap Ahreum yang kemudian undur diri dari kamar suaminya.
Melihat kondisi tubuh istrinya yang dipenuhi luka lebam dan juga goresan disekujur tubuhnya, membuat hati Ansell merasa ikut tersayat.
Tak dapat dipungkiri meski mulutnya selalu mengucapkan kalimat kasar, berbanding terbalik dengan hatinya yang masih sangat-sangat mencintai Ahreum.
Mungkin karena rasa cinta yang mendalam itu membuat kekecewaannya sungguh tak tertahankan.
***
Malam harinya.
__ADS_1
Setelah seharian berada dikamar Ansell pun keluar untuk mengisi perutnya. Karena bubur yang dibuatkan Ahreum pada pagi dan siang hari sudah tercerna dengan baik dalam perutnya.
Ya meskipun tidak seenak buatan bi Ijah, namun ia tetap menghabiskannya tanpa tersisa.
Ansell keluar dengan mangkuk dan gelas kotor yang berada dalam genggamannya.
Ia melihat Ahreum tertidur dengan posisi terduduk disofa sembari menyilangkan kakinya, tampak jelas sekali luka goresan yang disebabkan oleh serpihan kaca lampu ditelapak kakinya. Yang membuat bagian terdalamnya merasa tersengat melihat kondisi memilukan istrinya itu.
Tak hanya itu kedua tangannya pun terlihat melepuh, akibat siraman air panas pagi tadi.
Ansell menghela nafas panjangnya sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju area dapur untuk meletakan mangkuk dan gelas kotor.
Sebelum mulai aksinya untuk memasak makan malam, Ansell memilih kembali ke kamarnya lebih dulu untuk membawa kotak P3K yang tersimpan dilemarinya.
Ansell melempar kotak P3K itu ke samping tubuh istrinya yang tengah terlelap dalam posisi tidur tak biasanya.
Sontak Ahreum pun terbangun karena hantaman keras kotak P3K yang mengenai kakinya.
Tanpa sepatah kata Ansell pergi begitu saja menuju dapur.
Sementara itu Ahreum terlihat mengamati kotak P3K itu dengan tatapan terharunya. Karena meski sedang marah Ansell tetap perduli padanya.
“kau mau masak? Biar aku saja.” Seru Ahreum seraya hendak turun dari sofa.
Kau tetap disana!” tegas Ansell yang membuat Ahreum pun kembali terduduk dan menghela nafasnya.
Selagi suaminya tengah memasak makan malam, ia pun kembali menonton siaran televisi yang sebelumnya ia tinggalkan tidur karena saking ngantuknya.
Serta mulai mengobati luka-lukanya dengan peralatan P3K yang diberikan oleh Ansell sebelumnya.
Ditengah kesibukannya didapur, Ansell mencuri-curi pandang melihat apa yang tengah dilakukan Ahreum diruang tengah.
Sesekali gadis itu tampak tersenyum ke arah benda pipih besar yang ada didepannya, tertawa dan juga merenggut seakan tengah mengekspresikan kondisi hatinya.
Selang beberapa menit kemudian masakan telah siap dihidangkan dan disantap, sementara Ansell tengah menikmati makan malamnya sendiri dimeja makan, Ahreum hanya bisa menatap lirih ke arah suaminya seraya beberapa kali menelan salivanya.
Walau hasratnya ingin sekali nimbrung dan makan malam bersama dengan Ansell, ditambah aroma masakan Ansell yang membuat perutnya terus berlomba meminta makan. Namun mau bagaimana lagi dirinya tidak ingin merusak nafsu makan suaminya dengan kemunculannya.
Ia pun hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian membaringkan dirinya disofa sembari masih memperhatikan siaran tv yang tengah berlangsung dihadapannya.
Usai menyantap makan malamnya, Ansell pun lantas meninggalkan area dapur dan kembali ke kamarnya dengan membawa 1 gelas yang berisikan wine.
__ADS_1
Mendengar pintu kamar Ansell berbunyi, sontak Ahreum bangun dari tidurnya dan menatap punggung Ansell yang menghilang setelah pintu kamarnya tertutup.
“hmm..” lagi-lagi Ahreum hanya bisa menghela nafasnya kemudian bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur, berharap Ansell menyisakan makan malam buatannya untuk gadis malang yang sedari tadi sudah menunggu diruang tamu.
“wuaaahh.. “ seru Ahreum dengan 2 bola mata yang berbinar lantaran meja makan tersebut dipenuhi hidangan lezat yang membuatnya meneteskan air liurnya.
Ia duduk penuh antusias bersamaan dengan tangannya yang menciduk segala macam hidangan dan diletakannya ke dalam piringnya.
“Enaaakk banget, lebih enak dari buatan bi Ijah, para chef dikediaman mama dan juga bibi dirumahku, heheee. Ternyata bukan cuma tampan dan pintar tapi dia jago masak juga. Bagaimana mungkin ada orang dengan paket lengkap seperti suamiku.” Oceh Ahreum ditengah asyiknya melahap makan malam buatan suaminya yang super duper lezat, sembari menggoyang-goyangkan kepalanya sesekali begitu melahap suapan demi suapan ke dalam mulut mungilnya.
Sementara itu dari balik pintu kamar, terlihat Ansell tengah menempelkan telinganya dipintu kamar mencoba menangkap samar-samar seruan bahagia istrinya yang tengah menikmati makan malamnya sendirian.
“Apa yang ku lakukan.” Ansell bergumam kala tersadar apa yang tengah dilakukannya saat ini.
Ia pun lantas menarik langkah menuju balkon kamarnya masih dengan gelas yang berisikan wine dalam genggamannya.
Ansell menghembuskan nafasnya seraya memperhatikan jalanan sekitar yang dipenuhi kendaraan berlalu-lalang. Ia memasukan 1 tangannya ke dalam saku celana piyamanya sembari menyesap seteguk wine yang mampu membuat dirinya merasa lebih baik.
Tak lama kemudian ia mendengar pintu balkon yang menghubungkan kamarnya terbuka, sontak kedua matanya melirik sedikit ke belakang, bersamaan dengan mendaratnya pelukan hangat dari belakang tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan?!” ketus Ansell masih dengan nada dinginnya, tadinya ia ingin melepas paksa pelukan Ahreum, namun melihat kedua tangan Ahreum yang terbalut kain kassa membuatnya mengurungkan diri dan hanya membiarkannya.
“Maafkan aku, aku yang salah. Tolong maafkan aku Ansell.” ucap Ahreum lirih seraya mengeratkan pelukannya.
Mendengar kalimat yang terdengar sangat tulus itu membuat pertahanan Ansell terkikis dan hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, alih-alih melontarkan kalimat kasar atau menjauh kembali dari keberadaan istrinya.
Ia hanya membiarkan Ahreum terus memeluknya erat sementara pandangannya tetap mengarah lurus ke depan.
“Apa kau tak memiliki kalimat lain selain, meminta maaf.” Sahut Ansell usai menyesap kembali winenya.
“Aku.. mencintaimu..” sambung Ahreum seraya memunculkan kepalanya disamping tubuh kekar suaminya dan mencoba menatap wajah suaminya dari bawah, lantaran tinggi mereka yang terpaut cukup jauh sekitar kurang lebih 15 cm.
“ciihhh!!
Sudah ku bilang jangan ucapkan kalimat omong kosongmu itu.” tukas Ansell dengan lirikan tajamnya.
“tapi aku gak bohong.” Ahreum bergumam seraya menempelkan kembali pipinya ke punggung lebar suaminya.
__ADS_1
***
Bersambung…