Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 88


__ADS_3

Keesokan paginya di aparteman Bougenville.


“pagi tuan Ansell.” Sapa bi Ijah yang tengah menyiapkan sarapan diatas meja begitu melihat Ansell putra majikannya itu keluar dari kamarnya seraya mengancingkan kancing dibagian pergelangan tangannya dan berjalan menuju dapur.


Ansell hanya membalas dengan senyum tipis kemudian mengarahkan pandangannya kearah pintu kamar Ahreum sejenak.


“amm.. nona Ahreum sudah berangkat tuan tadi pagi-pagi sekali.” Kata bi Ijah seolah sudah tahu apa yang tengah Ansell cari.


“begitu ya, pagi sekali.” Komen Ansell seraya mendudukan bokongnya dikursi dan mengarahkan pandangannya ke beberapa hidangan yang tersedia di meja makan.


“amm.. tuan..” panggil bi Ijah saat Ansell hendak mengambil sepotong roti panggang yang berada dihadapannya.


“iya bi.” Sahut Ansell singkat seraya mengoles roti tersebut dengan selai coklat.


“apa ada yang terjadi diantara tuan dengan nona Ahreum?” lanjut bi Ijah dengan nada suara ragu-ragu karena takut menyinggung perasaan Ansell.


Ansell menghentikan aktivitasnya sejenak seraya melirik kearah bi Ijah yang tengah berdiri tak jauh dari keberadaannya, menunggu penjelasan lebih lanjut dari wanita paruh baya tersebut.


“tadi.. bibi lihat nona Ahreum tergesa-gesa sekali, ditambah nona Ahreum membawa ransel yang cukup besar tuan. Apa mungkin nona Ahreum..” bi Ijah menghentikan kalimatnya bersamaan dengan kedua mata Ansell yang membulat mendengar berita yang cukup mengejutkannya.


“apa?!” seru Ansell seraya menjatuhkan pisau kecil dan roti panggang yang berada dalam genggamannya hingga menghantam piring membuat bi Ijah sontak terkejut.


“sudah berapa lama dia pergi?” tanya Ansell seraya bangkit dari kursinya dan mengurungkan niatnya untuk menyantap sarapan paginya.


“1 jam yang lalu tuan.” Jawab bi Ijah.


“kenapa bibi ga membangunkan saya?!”  seru Ansell lengkap dengan nada kesalnya, kemudian ia pun menarik langkah menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang ia letakan diatas meja kecil yang berada disamping ranjang.


Tampak jemarinya sibuk sekali mengutak ngatik ponselnya, sebelum ia mendekatkan ponsel ke telinganya. Kemudian menunggu panggilan itu tersambung dengan harap-harap cemas seiring dengan nada panggil yang terus berdering tak juga diangkat oleh sang penerima.


“apa dia pulang ke rumah orang tuanya.” Gumam Ansell setelah beberapa kali mencoba menelfon namun tak juga diangkat oleh istrinya itu, ia pun menyerah dan hanya menatap layar ponsel yang tengah menampilkan sebuah foto cantik nan mungil istrinya.


Tak ingin berlama-lama dengan fikiran negative yang belum tentu benar, ia pun bergegas menyambar jasnya yang tergantung disudut kamar, kemudian memakainya seraya berjalan cepat keluar kamar.


“tuan sudah mau berangkat?” tanya bi Ijah yang kini sedang membersihkan lantai dengan menggunakan vacuum cleaner.

__ADS_1


“tidak sarapan dulu tuan?” lanjut bi Ijah saat Ansell tidak menghiraukannya dan malah terus memacu langkah kakinya keluar dari aparteman seolah ia benar-benar tidak mendengar suara yang memanggilnya.


“hmm.. anak muda jaman sekarang memang aneh, kalau cinta ya katakan aja cinta, giliran ditinggalin baru bertindak hufft.” Dumel bi Ijah saat Ansell sudah menghilang dari pandangannya, ia pun menggeleng kepalanya sebelum kembali melanjutkan tugasnya.


***


Di baseman.


Seperti biasa sudah ada Abi yang menunggu di mobil untuk mengantar atasannya itu menuju kantor.


“lacak keberadaan Ahreum sekarang!” perintah Ansell begitu ia mendudukan bokongnya dikursi disamping kursi pengemudi.


“ada apa lagi?” tanya Abi lengkap dengan kerutan didahinya, seolah masalah diantara pasangan suami istri tak ada habisnya.


“tak perlu banyak tanya! Lakukan sekarang!” sentak Ansell yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keberadaan istrinya tersebut.


Abi pun menghela nafasnya sejenak seraya meraih tablet yang disimpan didashboard mobil untuk melaksanakan perintah dari atasannya itu.


“nona Ahreum ada dikampus sekarang.” ucap Abi seraya menunjukan titik GPS dari ponsel Ahreum pada Ansell yang tampak gusar sedari tadi.


“sudah kan, tidak perlu menyusul nya ke kampus? Kita ada meeting dengan perusahaan Airlangga pagi ini. Kau harus fokus, jika tidak, pak Andrew akan mengembalikanmu lagi ke cabang Amerika.” Tambah Abi, yang mencoba untuk menyadarkan atasan sekaligus karibnya itu untuk tetap fokus pada pekerjaannya saat ini.


“mungkin isinya buku-buku, laptop dan semacamnya, karena dari yang ku tahu pekan depan akan ada ujian akhir semester. Positif thinking aja.” Sahut Abi seraya menyalakan mesin mobilnya.



“bagaimana aku bisa berfikir positif, setelah apa yang terjadi kemarin.” Ansell kembali bergumam seraya menaruh tablet ke tempat asalnya kemudian dilanjut dengan memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing tiba-tiba.



“setelah meeting selesai aku akan mencarinya. Jadi sebaiknya untuk saat ini kau fokus saja dulu pada pekerjaanmu.” Ucap Abi yang mencoba memberikan ketenangan pada Ansell yang masih terlihat gelisah.


"lagian, udah tau cinta, pake berlagak main taruhan segala, gengsi di gedein giliran ditinggalin kalang kabut." dumel Abi dalam hati.


***

__ADS_1


Diseberang kampus, lebih tepatnya di toko serba ada, Ahreum tengah terduduk seraya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan nyaman sementara itu ransel besarnya ia letakan dikursi yang berada disampingnya.


“huhhh.. padahal kelasku masih lama, tapi mau bagaimana lagi aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya untuk saat ini.” gumamnya seraya memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat.


“apa yang harus ku lakukan, aku merasa dunia ini sudah mempermainkanku beberapa kali..” gumamnya lagi seraya menegakan tubuhnya kemudian membuka matanya dan hendak mengambil botol air mineral yang berada diatas meja, namun..


“astaga!!” kaget Ahreum saat ia mendapati sosok yang tak asing tengah terduduk diseberangnya seraya menatapnya lekat lengkap dengan senyuman merekahnya.


“dokter Elios! Ngagetin aja, udah berapa lama dokter disitu?” tanya Ahreum seraya meraih botol air mineral kemudian membukanya dan meneguknya beberapa kali selagi menunggu respon dari Elios.


“dari saat kau bilang apa yang harus ku lakukan, kau punya masalah? Dan kenapa wajahmu keliatan banyak memar begitu?” tanya Elios lengkap dengan raut wajah khawatirnya.


“setiap manusia didunia ini tentu mempunyai masalah dokter, tidak ada yang tidak mempunyai masalah.” Sahutnya seraya menutup botol air mineralnya kemudian meletakannya kembali ke tempat semula.


Dan ini, rahasia hehee.” Tambah Ahreum seraya menunjuk wajahnya dengan diiringi tawa renyahnya.


“apa mungkin Ansell yang melakukan hal itu?” tebak Elios.


“eyyy.. ya enggalah, meskipun Ansell tidak seramah dokter, tapi dia tidak pernah memperlakukanku dengan kasar kok.” Sahut Ahreum.


“ammm.. apa dokter pernah mengalami hal menyedihkan, seperti dipermainkan oleh seorang wanita gitu?” lanjut Ahreum seraya meletakan kedua tangan dan menyondongkan tubuhnya kearah Elios.


“tentu saja pernah, memangnya siapa orang yang tidak pernah patah hati didunia ini.” sahut Elios seraya ikut meletakan kedua tangan diatas meja.


“benar juga sih.” respon Ahreum dengan diakhiri helaan nafas kasarnya, kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi untuk mendapatkan posisi duduk ternyamannya.


“apa mungkin.. kau sudah tahu alasan Ansell bersedia menikah denganmu, itu hanya sebagai pelampiasan karena kekasihnya yang telah tiada. Bukan karena dia menyukaimu.” tebak Elios.



“hmm.. kalau itu, dari awal pun aku udah tahu kisah cintanya dengan Ilona, bukan hal yang mudah memang untuk melupakan seseorang yang selama ini bersama dengan kita. Tak apa jika memang Ansell tidak menyukaiku, karena pernikahan ini pun terjadi karena perjodohan bukan karena keinginan kita berdua.” Ungkap Ahreum seraya kembali menghela nafasnya.


“lalu, apa yang sebenarnya terjadi Ahreum? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu.” Papar Elios yang tak hentinya menatap istri dari keponakannya itu.


__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2